PILIHAN HEADLINE

Power Point Bukan Papan Tulis, Inilah Cara Gunakan Power Point!

18 Maret 2017 13:58:45 Diperbarui: 18 Maret 2017 19:07:20 Dibaca : Komentar : Nilai : Durasi Baca :
Power Point Bukan Papan Tulis, Inilah Cara Gunakan Power Point!
Sumber Gambar : Decoding Success | empowerlounge.com

Saya sebenarnya termasuk orang yang malas kalau disuruh presentasi memakai Power Point. Presentasinya saya suka, tapi bikin Power Point-nya itu saya yang malas. Itu sebab, saat suatu hari saat salah seorang dosen saya meminta kami untuk mempresentasikan diri kami di depan kelas, sayalah satu-satunya mahasiswa yang menceritakan diri saya tanpa Power Point. Sedangkan seisi kelas pada kreatif-kreatif. Mereka menghiasi Power Point mereka dengan foto, quotes, hingga video --- Biar kelihatan “nge-Agnes Monica” dengan citra “Dream and make it happennya” kali ya. Tapi memang jadi bagus kok. Saya terkagum-kagum dibuatnya.

Lalu saya pun beralibi, ”Saya nggak pakai Power Point ya, masa sih kita harus pakai Power Point untuk mempresentasikan diri kita, itu artinya kita nggak mengenal dengan baik diri kita sendiri.” Setelah pembukaan yang penuh dusta itu, saya pun mulai mempresentasikan diri saya. ”Hkmm, kenalin nama gue Boris, gue single terhormat, dan gue lagi nyari cinta sejati.”

Beberapa pengalaman dengan Power Point juga sering saya alami saat di kelas. Ada dosen yang menggunakan slide bawaan kampus yang membosankan. Semua isi Power Point-nya tulisan, tulisan tok! Panjang-panjang lagi. Kenapa tidak sekalian pakai Microsoft Word atau papan tulis saja! Tapi ada juga seorang dosen saya yang amat kreatif. Dia membuat sendiri slide mengajarnya, slide-nya itu keren banget. Colorfull, lucu, up to date, dan memang enak dipandang mata. Proses belajar-mengajar pun jadi asyik.

Pernah juga saya agak berdebat dengan teman saya saat kerja kelompok. Teman saya itu ingin agar semua tulisan mengenai sejarah yang menjadi topik kami dimasukkan di slide awal Power Point. Saya sendiri tidak setuju untuk pembahasan sejarah cukuplah satu kata besar “sejarah” lalu diikuti tahun dsb, dalam bentuk grafik atau apa pun, tapi yang jelas tidak ditulis semua di slide Power Point. Coba perhatikan gambar di bawah ini, kira-kira mana yang lebih menarik dan lebih cepat memberi pemahaman saat kita tengah melihat seseorang melakukan presentasi:

Contoh Slide Presentasi Before After
Contoh Slide Presentasi Before After

(Klik disini untuk melihat sumber gambar dan penjelasan yang lebih komplit soal membuat slide presentas)

Tentu kita semua sepakat bahwa gambar yang di sebelah kanan jauh lebih atraktif dan menarik. Tapi lihat gambar yang di sebelah kiri tentu membosankan bukan?

Namanya juga sudah Power Point, artinya kita harus menampilkan poin-poinnya saja, poin-poin yang memiliki kekuatan, poin-poin yang dapat menguatkan argumen dan membuat presentasi kita menjadi lebih hidup. Sepeti perusahaan desain pembuat logo yang mencoba menyederhanakan gagasan, visi misi, dan filosofi sebuah perusahaan ke dalam logo kecil yang sederhana, begitu jugalah harusnya cara kita menerjemahkan berbagai gagasan ke dalam Power Point.

Kenapa saya malas mengerjakan Power Point? Karena saya termasuk orang yang lemah secara visual. Saya bisa menikmati berbagai bentuk visual, tapi kalau disuruh bikin, imajinasi saya lemah, saya tak punya kreativitas dalam bidang ini --- saya tahunya cuman ngomentarin aja.

Power Point itu digunakan untuk menyajikan berbagai hal dalam konsep visual: gambar, foto, video, grafik, dan lain sebagainya. Lalu kenapa banyak orang yang memaksakan diri untuk membuat tampilan Power Point dengan tampilan: segala kalimat yang ingin dia sampaikan? Jawabannya cuman satu, itu karena mereka tidak menguasai materi yang ingin mereka sampaikan.

Sekarang kalau semua hal yang ingin kita sampaikan kita tulis di Power Point ---dengan polos dan hanya kata-kata--- kenapa tidak sekalian suruh saja para pendengar kita membaca sendiri! Hal begini banyak banget saya temui di antara mahasiswa. Masih banyak mahasiswa yang tak paham konsep presentasi dan mengawinkannya dengan slide pada Power Point. Presentasi dengan Power Point, bukan berarti presentasi sambil membaca Power Point. Dalam banyak literatur, Steve Jobs dan Jeff Bezos sang pendiri Amazon adalah dua sosok yang anti terhadap Power Point. Bagi mereka orang yang menggunakan Power Point adalah orang yang tak menguasai materi yang ingin mereka sampaikan.

Mungkin saat itu mereka melihat bahwa karyawan-karyawan mereka presentasinya memanfaatkan Power Point bercita rasa text book. Kering, membosankan, dan bikin kening pendengar mengkerut --- tentu ini hanya sekadar tebakan saja ya. Okelah, kita tak perlu seekstrem Steve dan Bezos, tapi tetaplah menguasai materi sekalipun memakai Power Point.

Berikan celah antara sajian Power Point dan apa yang ingin kita sampaikan. Saat dengan menarik inti dari materi kita tertera pada Power Point, yang kita ucapkan adalah eksplorasi dari keseluruhan materi. Orang presentasi itu akan menarik kalau dia mampu berbicara sekaligus berinteraksi dengan audiens. Lah kalau pandangan kita fokus ke layar dan hanya baca slide, itu bukan presentasi namanya.

Manfaatkanlah Power Point untuk menyajikan data yang bersifat analitik: perbandingan, progres, peningkatan, dampak dsb. Atau menyajikan data yang bersifat konseptual seperti, kategori, pengelompokkan, dsb. Power Point bukanlah aplikasi Office dari Microsoft yang diperuntukkan untuk menampilkan sesuatu yang bersifat naratif. Power Point bukan Microsoft Word atau papan tulis untuk menulis sesuatu dengan panjang lebar.

Kekuatan Microsoft Word terletak pada Word: kata. Kekuatan Power Point ada pada kata yang telah didesain antara yang satu dengan yang lainnya sehingga setiap slide saling berhubungan. Coba tonton video presentasi Hermawan Kartajaya, salah seorang pakar marketing Indonesia yang telah menginternasional.

Saat dia mempresentasikan prediksinya dia menyajikan layar presentasinya dalam bentuk konsep. Itu sebab dengan sering memakai Power Point kita juga dilatih untuk menjadi seorang konseptor. Menceritakan kalau ---misalnya--- Jakarta macet karena begini, dan solusinya begini dalam bentuk kata sih gampang. Hasilnya kita butuh berlembar-lembar kertas untuk menjabarkannya satu per satu. Tapi coba jabarkan hal itu dalam bentuk konsep di Power Point, dalam satu slide, dengan hanya beberapa kata dibantu gambar, grafik dsb.

Tentu tidak mudah bukan? Tapi bagaimana kita mau menerjemahkan teori ke dalam model atau konsep kalau kita tak memahami dengan baik materinya. Itu sebab kuasailah materinya lebih dulu, lalu terjemahkan dalam konsep di Power Point dan kemudian presentasikan dengan menarik. Ingat Power Point itu bukan papan tulis.

Bandung, 18/03/2017

Boris Toka Pelawi (Bang Bo)

/tokapelawi

TERVERIFIKASI

Lovers But Not Expert|Instagram boris Toka Pelawi|fb:Boris Toka Pelawi|Email Toka.boris@yahoo.com Pelawi.boris@gmail.com
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.
LABEL humaniora

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana