TJIPTADINATA EFFENDI
TJIPTADINATA EFFENDI profesional

Lahir di Padang,21 Mei 1943

Selanjutnya

Tutup

Humaniora highlight

Yang Kita Anggap Sepele,Boleh Jadi Bagi Orang Lain Sangat Penting

16 Februari 2017   19:49 Diperbarui: 16 Februari 2017   20:09 340 15 11
Yang  Kita Anggap Sepele,Boleh Jadi Bagi Orang Lain Sangat Penting
ilustrasi : demi bertemu dengan sahabat sahabat,tidak jarang kita harus menempuh perjalanan jauh. sama halnya ketika kami khusus datang dari Australia,hanya untuk dapat bertemu teman teman di acara Kompasianival /foto dokumentasi pribadi


Bilamana,bagi kita,, ikatan kekeluargaan dan  persabahatan itu sangat  penting, maka salah satu caranya adalah dengan  mengujunginya. Sebuah kunjungan adalah bukti,bahwa bagi kita, ikatan kekeluargaan dan hubungan persahabatan itu penting, Untuk mana,tidak jarang harus menempuh perjalanan jauh,bahkan menyeberangi sungai,hanya untuk dapat menemui sahbat sahabat kita.

Mengunjungi sahabat,,bukan lantaran kita membutuhkan bantuannya, melainkan hanya datang untuk menengoknya. Disinilah nilai nilai sebuah persahabatan menjadi semakin memiliki nilai tersendiri .Kepentingan setiap orang berbeda, tergantung dari sudut pandang hidupnya. Ada yang menilai dari sudut yang berbeda,tapi esensialnya kira kira sama.

Berbeda Dalam Menilai

Bagi kita,mungkin saja selembar uang kertas Rp.10.000 rupiah, tidak ada artinya,tapi boleh jadi bagi orang lain, sangat penting. Sebaliknya, apa yang bagi kita sangat penting dan ditunggu tunggu, bisa jadi bagi orang lain merupakan masalah sepele,yang tidak menjadi perhatiannya. Hal ini tidak hanya sebatas hubungan antar keluarga dan sahabat kita, melainkan menyangkut hubungan antar sesama.

Bagi yang sudah pernah merasakan hidup menderita, pasti sudah merasakan hal hal semacam ini. Misalnya ,menengok orang kaya memberikan dua tiga butir telur untuk sarapan anjing peliharaannya. Sementara kita sendiri,sebutir telur,dapat dijadikan sambal,untuk dimakan bersama anak istri. Atau menengok sisa makanan yang dibuang dari restoran, padahal masih sangat layak dimakan, kita hanya dapat menangis diam diam.

Bagi mereka ,sisa makanan itu tidak ada harganya, maka dibuang karena kekenyangan makan. Disisi lain, kita yang sedang hidup dalam kekurangan,berkata dalam hati, andaikata diberikan kepada kami alangkah nikmatnya. 

Hal ini, bukan hasil imaginasi, tapi benar benar merupakan sepotong jalan hidup yang pernah kami lalui. Bahkan pernah kami menunggu Om kami,yang berjanji mau datang menengok putra kami yang tergolek sakit di gubuk kami,tapi hingga tengah malam ,Om kami tidak tampak. Keesokkan harinya, ketika ketemu dan saya sampaikan bahwa kami menunggunya hingga larut malam,hanya dijawab enteng oleh si Om:" Oooo ya ya,,maaf, Om lupa,maklum sangat sibuk ya" dan terus berlalu,meninggalkan luka dihati kami.

Berjanji itu Sangat Mudah,Menepatinya Tidak Selalu Mudah

Berjanji itu sangat mudah.Cukup dengan membuka mulut dan mengatakan :" Ok.saya datang"Hanya butuh tiga kosa kata saja,yakni : Ok- saya  dan datang.Tetapi menepatinya tidak semudah mengucapkannya.Bahkan terkadang menjadi sangat rumit dan sulit.

Kalau janji mau datang,kerumah tetangga disebelah,ya tentu saja sangat gampang,Cukup buka pintu ,berjalan beberapa langkah dan sudah tiba dirumah tetangga. Akan tetapi bila janji akan datang itu,jaraknya cukup jauh dari lokasi kita,maka janji yang diucapkan hanya dengan 3 kosa kata,ternyata butuh disiplin diri dan ketetapan hati untuk menepatinya.

Mengingat antara kediaman kita dengan rumah yang dituju,bisa saja terjadi kemacetan di jalanan atau mungkin saja hujan lebat dan banjir. Demi untuk menepati janji,semua halangan harus ditempuh. Agar kita jangan mendapatkan stempel : "mudah berjanji,tapi tidak bisa menepatinya".

Sepotong Pengalaman Pribadi Lainnya

Kalau diawal saya tuliskan,bagaimana rasanya ketika Om kami tidak menepati janjinya, mau datang menengok putra kami yang terbaring sakit,kini justru janji kami yang dijadikan taruhannya.

Dua tahun lalu, kami berjanji pada tante kami di Penang ,Malaysia,untuk hadir dalam acara ulang tahun ke 90. Kami cuma mengucapkan empat kosa kata,ketika putri tante kami menanyakan tentang kehadiran kami. "Baik,kami akan datang"

Tetapi dalam penerapannya,ternyata tidak semudah ,seperti yang kami perkirakan. Bukan masalah tiket,tapi berhubungan dengan jadwal kami yang sudah tersusun untuk kegiatan di tanah air. Yang baru terpikir setelah janji diucapkan. Nah,untuk menarik janji dan mengatakan :"Mohon maaf,kami tidak jadi datang ,karena bla bla bla....",sungguh kami tidak tega. 

Apalagi tante kami, yang di Penang,sudah seperti orang tua  kami sendiri. Karena sewaktu kami di Medan,selama dua tahun,kami numpang tinggal gratis dirumah tante. Masa iya di hari ulang tahunnya yang ke 90 kami tidak datang karena berbagai alasan? Usia 90 tahun yang merupakan hal yang patut disyukuri,oleh seluruh anggota keluarga,termasuk kami.

Maka ,kami memutuskan ,akan tetap hadir,sesuai janji,walaupun kami harus menyusun ulang kembali jadwal kegiatan kami di Indonesia,yang tadinya sudah di persiapkan. Pada saat saat seperti ini,sangat terasa sekali,bahwa menepati janji itu,terkadang menjadi sangat rumit dan membutuhkan ketegasan dari diri kita.

Apa Yang Bagi Kita Tidak Penting, Bisa Jadi  Bagi Orang Lain Sangat Penting

Sewaktu pulang kampung ke Indonesia, kami  pernah berjanji untuk mengunjungi sahabat yang sakit di daerah Pasar Minggu. Ternyata sepanjang perjalanan macet dan kami baru tiba setelah hampir tiga jam perjalanan dari Kemayoran . Karena rumah sahabat kami agak jauh kedalam gang, maka taksi diminta menunggu selama satu jam.
Ternyata ,kedatangan kami sudah ditunggu tunggu ,bukan hanya oleh sahabat kami,tapi juga oleh keluarganya.

Mereka sangat gembira menengok kami tiba dan langsung menyambut kami. Bayangkan seandainya,kami dengan alasan macet dan sebagainya,tidak jadi datang,betapa amat sangat mereka sekeluarga akan kecewa.

Karena, kuatir ketika pulang, kami akan repot menelpon taksi,karena rumah sahabat kami bukan dipinggir jalan raya,maka sopir taksi kami minta menunggu di sana. Setelah puas berbincang bincang dan menghibur semaksimal mungkin,kami pamitan pulang kerumah.

Setibanya di apartement kami di Kemayoran,  angka di argo, tertulis Rp.320.300.—(tiga ratus duapuluh ribu ,tiga ratus rupiah). Jumlah yang lumayan,hanya untuk mengunjungi satu sahabat saja. Tapi inilah konsekuensi logis dari sebuah janji yang sudah diucapkan.Namun kami senang, karena janji sudah ditepati. Janji 

Yang Tidak Ditepati Akan Mengakibatkan: 

  • rasa kekecewaaan pada  orang lain 
  • menciderai hubungan Persahabatan/ Kekeluargaan
  • memudarkan rasa hormat  terhadap diri kita 
  • menimbulkan rasa tidak dihargai bagi yang menunggu

 Karena itu jangan pernah berjanji,bila tidak bisa ditepati. Berjanji berarti berhutang. Dan setiap hutang ,apapun bentuknya, harus dilunasi.
Tjiptadinata Effendi