PILIHAN

Orang Sakit Tidak Mungkin Sembuh, Hanya dengan Pegang Resep Dokter

21 Maret 2017 00:42:38 Diperbarui: 21 Maret 2017 01:13:46 Dibaca : 381 Komentar : 13 Nilai : 19 Durasi Baca :
Orang Sakit Tidak Mungkin Sembuh, Hanya dengan Pegang Resep Dokter
orang sakit,tidak bisa sembuh,hanya dengan pegang resep dokter saja, ilustrasi gambar : koleksi pribadi


Orang Sakit ,Tidak Akan Sembuh,Hanya Dengan Memegang Resep Dokter

Orang yang menderita gangguan kesehatan,tidak akan sembuh,hanya dengan memegang atau menyimpan resep dokter di tangannya. Walaupun mungkin saja resep tersebut di tulis oleh  seorang Professor yang sangat ahli di bidang kedokteran.Jalan untuk mencapai kesembuhan adalah dengan menebus resep tersebut atau dalam bahasa to the pointnya adalah membeli obat sesuai resep yang diberikan.Jelas obat tidak gratis,butuh uang dalam jumlah yang terkadang nilai nomimalnya sangat fantastis.

Membeli obat dengan harga yang mahal,bukanlah berarti,pasti akan sembuh. Bisa saja, terjadi ,kendati sudah mengeluarkan dana yang tidak sedikit,ternyata setelah mengonsumsi obat sesuiai resep,ternyata harapan untuk meraih kesembuhan tetap saja belum menjadi kenyataan.

Kalau orang berpikir,:"seandainya saya tidak sembuh,maka uang yang di dapat dengan susah payah atau mungkin saja harus menjual motornya,untuk membayar harga obat,akan terbuang sia sia,bila ternyata kemudian tidak sembuh,"dan tidak jadi membeli obat,maka sudah jelas ia tidak dapat mengubah kondisinya,hanya dengan mengantongi resep ataupun mungkin merendam resep obat dan minum airnya.

Analogi Sederhana

Analogi sederhana ini,tentu bukan untuk dijadikan bahan humor ataupun lelucon,melainkan agar dengan mudah mengena dan menyentuh ,untuk menjadikan kita manusia yang open minded.Kita semuanya  tentu sangat setuju ,bahwa pikir itu adalah pelita hati. Karena melakukan sesuatu hanya semata mata karena terdorong oleh emosional,biasanya hanya  akan berakhir dangan penyesalan yang mendalam.Akan tetapi,terlalu banyak berpikir, terlalu banyak pertimbangan, menjerumuskan  orang pada situasi menjadi peragu.

Ragu untuk mengambil sebuah keputusan,karena kuatir akan akibat dari konsekuensi logis,yang akan timbul,akibat dari keputusannya. Bilamana dibiarkan berlarut larut, maka secara tanpa sadar ,telah mengiring orang kedalam situasi, dimana ia tidak lagi berani mengambil keputusan dan bersikap apatis atau menyerah pada keadaan

Hal ini menjadi salah satu penyebab,mengapa kebanyakan orang yang sukses meraih cita cita hidupnya,bukanlah orang yang titelnya berlapis lapis,melainkan orang biasa biasa saja,tetapi memiliki mentality yang luar biasa. Berpikir cepat dan tepat dan berani mengambil tindakan untuk berbuat sesuatu. Memahami,bahwa setiap aksi,pasti akan menyebabkan timbulnya reaksi.

Tahu dan mengerti bahwa niat untuk mengubah nasib,diperlukan tindakan ,Tindakan akan mendatangkan tantangan dan resikonya adalah sukses atau gagal. Disinilah mentality seseorang diuji,Orang yang membiarkan dirinya terbelenggu oleh mata rantai :"berpikir meluilu" ,tidak akan mampu berbuat sesuatu. Karena tidak memiliki keberanian untuk menghadapi tantangan hidup.Setiap keputusan selalu mengandung dua hal : harapan dan kegagalan. Jadi ada resiko,tetapi kita harus berani mengambil resiko,jika ingin maju.

Perahu Tidak Ada Gunanya Kalau Tidak Dimanfaatkan untuk Belayar

Ibarat sebuah perahu yang berlayar di samudra harus siap untuk menghadapi badai dan gelombang, untuk bisa sampai ketempat tujuannya.Karena itu ,resiko itu harus diambil. Perahu yang aman dari resiko adalah yang ditambatkan di demarga,tetapi semua orang normal pasti tahu,bahwa bukan untuk itu perahu dibuat.

Begitu juga betapapun hebatnya,sesorang,bila selama hidupnya tidak pernah berani melangkah untuk melakukan sesuatu untuk mencapai cita cita hidupnya,maka ia tak ubahnya,bagaikan sebuah perahu yang sejak dibuat,hanya ditambatkan didermaga,hingga lapuk dimakan waktu dan berakhir tanpa makna.

Dalam penerbangan, 20 Maret,2017

Tjiptadinata Effendi

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.
LABEL humaniora

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana