Reaksi China Terhadap Peningkatan Kehadiran Militer AS Di Pasifik

04 Juni 2012 17:24:49 Dibaca :

Pernyataan Menhan AS,Leon Panetta yang akan meningkatkan kehadiran armada lautnya sampai 60 persen di kawasan Asia Pasifik disikapi Beijing dengan sangat hati-hati ,namun akan lebih waspada terhadap strategi Gedung Putih tersebut.

Dalam konteks ini China sebagai raksasa ekonomi dunia saat ini,tentu saja perlu memiliki kemamapuan militer yang setara juga untuk menunjang kemajuan ekonomi dan politiknya di kawasan halaman depan negeri tirai bambu itu.

Apalagi China masih mengklaim perairan Laut China Selatan,serta beberapa pulau dikawasn itu yang kini diklaim juga oleh Filipina,Jepang,Korea Selatan yang merupakan negara-negara yang sejak lama sudah terikat kerjasama militer dengan Washington.

Selain itu politik" satu China" yang dilakukan Paman Sam dan sekutunya tidak bisa dipercayai oleh Beijing, karena dalam persepsi rejim komunis terbesar dunia itu apa yang dilakukan AS,Inggris, Perancis tersebut hanya merupakan taktik imperialis untuk memecah belah China sebagaimana mereka lakukan pada abad -abad sebelumnya dahulu.

China tentunya tidak pernah melupakan bagaimana Barat menganeksir berbagai wilayahnya,sehingga China terpotong-potong oleh kerakusan Barat.Negara Tirai Bambu China pernah dijajah oleh mereka dalam waktu bersamaan,seperti Jepang, Jerman,Inggris,Perancis dan juga AS disaat Beijing lemah tak berdaya.

Pada zaman dahulu China dibombardir dengan candu sehingga generasi China tidak berdaya sama sekali utuk mengusir beberapa penjajah dari negerinya,sehingga terjadi pemberontakan Boxer yang ditindas juga oleh koalisi  dengan sangat kejam.Sejarah bagi China sangat penting,untuk mengingatkan kekeliruan masa lalu yang tidak akan diulanginya lagi.

Sekarang China sudah menjadi negara kuat dalam bidang ekonomi,politik dan juga militer yang tentu saja tidak mau dipermainkan oleh AS,Inggris,Perancis ,Jepang dan bangsa lainnya.Negara Tirai bambu China harus dihormati seperti halnya juga bangsa lainnya yang di hormati oleh Beijing.

Dalam rangka menjaga kedaulatan dan kemerdekaannya,China sangat mewaspadai soal kehadiran AS yang demikian pesat kehalaman depannya,laut China selatan.Kemunafikan Barat terhadap China senantiasa menjadi kajian Beijing,supaya tidak terjebak kedalam permaian licik mereka.Dalam masalah Taiwan misalnya,Beijing menganggapnya sebagai propinsi yang membelot yang pada suatu saat kedepan akan disatukan kembali dnegan daratan China,induknya.

Namun demikian hal itu senantiasa ddihalangi oleh AS,Perancis dan Inggris dengan menjual berbagai jenis mesin perangnya  kepada Taiwan.Masalah tersebut belum juga tuntas,bahkan sengketa negeri China dengan negara-negara pesisir Pasifik kini mulai dicampuri oleh Paman Sam dan sekutunya.

OLeh karenanya,Letnan Jenderal Ren Haiquan Senin 4 Juni 2012  mengatakan,bahwa masalah peningkatan kehadiran militer Paman Sam di kawasan Pasifik itu bukanlah dianggap ssebagai bencana.Akan tetapi hal tersebut dilakukan AS karena terdorong oleh krisis ekonomi  yang terjadi di AS sendiri,ujar pejabat tinggi militer China kepda Reuters .

Tanggapan Beijing terhadap kehadiran Washington di perairan Pasifik sejak lama sudah diperkirakan akan menimbulkan konflik kepentingan di kawasan,baik karena lintasan itu sangat penting bagi AS juga disinyalir kawasan perairan itu juga kaya dengan minyak dan gas.Selain itu kawasan Asia Pasifik relatif lebih aman dari krisis Euro,sehingga diperkirakan kawasan tersebut akan mengalami kemajuan pesat kedepan.Sekarangpun sudah mulai dirintis oleh negara-negara seperti China,India,Jepang,Korea Selatan, Malaysia, Vietnam, Filipina , Sinagpore,Thailand dan kemungkinan juga Indonesia.

Seiring dengan itu pula terjadi peningkatan anggaran pertahanan negara-negara tersebut,dan dengan peningkatan kehadiran AS hal ini akan lebih mendorong lagi negara bersangkutan untuk memperekuatkan dirinya.Kawasan Asia Pasifik pula menyimpan potensi konflik yang besar yang setuiaop saat bisa saja meledak ,seperti di Semenanjung Korea yang masih ditambah dengan konflik -konflik kecil yang bisa juga membesar,jika tidak segera bisa diselesaikan secara damai .

China menghendaki penyelesaian masalkah tersebut tidak dicampuri oleh negarfa asing,apalagi AS dan sekutunya.Tetapi Beijing menghendakinya suapaya masalah sengketa territorial hanya duselesaikan oleh negara-negara Asia sendiri,bukan oleh negara-negara bekas penjajah mereka dahulu.Sebagai negara besar ,China sekarang sedang menjalin kerjasamanya dengan ASEAN dalam berbagaiu hal yang bisa saling menguntungkan.Dan sekiranya negara-negara semacam AS ikut nimbrung dalam masalah-masalah bangsa Asia ,maka hal tersebut di khawatirkan tidak akan tuntas bahakan sebaliknya bisa lebih besar dan sangat berbahaya bagi kawasan tersebut.

Kemungkinan saja persepsi China dalam masalah Asia,biarkan diselesaikan saja oleh bangsa-bangsa Asia sendiri tanpa campur tangan Eropa.Sementara beberapa negara Asiapun semakin akrab dengan China,yang membentuk pasar bersama dan tidak mjustahil pula akan memberlakukan sistem mata uang bersama,yang mulai dirintis oleh Jepang,China dan Korea selatan karena mereka tidak mau lagi tergantung dengan dolar AS yang merupakan simbol imperialis Barat.Jika dahulu Presiden AS,James Monroe mengkampanyekan politik"America for the American"maka sekarang tidak ada salahnya sekiranya negara negara benua Asia juga mengkampanyekan konsep politiknya:"Asia fo the Asian"tentunya bukan sebagai pakta militer,tetapi sebagai wadah untuk mensejahterakan bangsa-bangsa Asia.

teuku.muhammad nurdin

/teuku.muhammad

Sebagai guru sejarah yang suka membaca dan menulis apa saja yang berguna bagi semua.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?