PILIHAN HEADLINE

Minimnya Lagu Anak yang Bisa Digunakan dalam Pendidikan Karakter

19 April 2017 07:33:58 Diperbarui: 19 April 2017 16:57:06 Dibaca : Komentar : Nilai : Durasi Baca :
Minimnya Lagu Anak yang Bisa Digunakan dalam Pendidikan Karakter
kids2-58f732f4f27a61c31a4ba5ee.jpg

Penguatan Pendidikan Karakter (PPK)

Dalam pemerintahan era Jokowi-JK, telah dirancang agenda program prioritas yang digagas guna menunjukkan prioritas jalan perubahan menuju Indonesia yang berdaulat secara politik, serta mandiri dalam bidang ekonomi dan berkepribadian dalam kebudayaan. Kesembilan program yang bernama Nawa Cita tersebut salah satu pointnya adalah merevolusi karakter bangsa melalui pendidikan. Secara lebih jelas berikut ini kutipan point ke delapan dari Nawa Cita tersebut :

Melakukan revolusi karakter bangsa melalui kebijakan penataan kembali kurikulum pendidikan nasional dengan mengedepankan aspek pendidikan kewarganegaraan, yang menempatkan secara proporsional aspek pendidikan, seperti pengajaran sejarah pembentukan bangsa, nilai-nilai patriotisme dan cinta Tanah Air, semangat bela negara dan budi pekerti di dalam kurikulum pendidikan Indonesia. 1

Tugas pokok dan fungsi (tupoksi) point ke delapan dari Nawa Cita tersebut tentu saja dijalankan oleh Kemendikbud (Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan) yang merupakan kementerian dalam PemerintahIndonesia yang menyelenggarakan urusan di bidang pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan masyarakat, serta pengelolaan kebudayaan.2

Kemendikbud dalam melaksanakan Nawa Cita tersebut salah satu programnya yaitu mengeluarkan gerakan PPK (Penguatan Pendidikan Karakter) yang tahun ini sudah dimulai dengan percontohan di 540 sekolah tingkat SD dan SMP 3. Kemendikbud juga telah menetapkan 18 nilai utama dalam pendidikan karakter yakni relijius, jujur, toleransi, disiplin, kerja-keras, mandiri, demokratis, ingin-tahu, semangat-kebangsaan, cinta-tanah-air, menghargai-prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta-damai, gemar-membaca, peduli-lingkungan, peduli-sosial, dan tanggung-jawab. 4Dalam gerakan PPK tersebut ada 3 pilar yang dijadikan penguat, yaitu sekolah, keluarga dan masyarakat.

Hubungan Pendidikan dengan Kebudayaan

Dalam mendidik, pendidikan dan kebudayaan tidak bisa dipisahkan. Keduanya berkesinambungan dan saling mendukung satu sama lain. Hal ini bisa terlihat dari tulisan Hasan Langgulung: Dilihat dari sudut pandang individu, pendidikan merupakan usaha untuk menimbang dan menghubungkan potensi individu. Adapun dari sudut pandang kemasyarakatan, pendidikan merupakan usaha pewarisan nilai-nilai budaya dari generasi tua kepada generasi muda, agar nilai-nilai budaya tersebut tetap terpelihara. 5.

Salah satu unsur kebudayaan adalah kesenian. Kesenian yang paling dekat dengan anak sejak kecil adalah musik yang berupa lagu anak. Sejak sebelum mendapatkan pendidikan formal, lagu adalah bentuk pendidikan dini yang dilakukan orang tua dan keluarga sebagai salah satu pilar yang paling dekat dengan anak. Coba kita ingat, lagu Nina Bobo, bahkan sebelum anak bisa berbicara pun, orang tua sudah pasti selalu menyanyikannya setiap anak hendak tidur, bukan ?

Dalam lagu anak-anak yang bisa kita ingat selalu diselipkan pendidikan secara tak langsung. Dalam liriknya terkandung nilai-nilai moral yang disampaikan pencipta lagu tersebut. Ketika mendengarkan lagu, secara tidak langsung anak-anak belajar menyerap kata dan belajar berbahasa. Selain itu anak-anak belajar memaknai maksud lagu tersebut.

Menurut Timothy Wibowo (2013)6 manfaat dari musik adalah:

  • Musik menstimulasi bagian otak anak yang berhubungan dengan membaca, matematika dan juga perkembangan emosional anak. Anak akan lebih cepat menghafal huruf a, b, c atau angka melalui musik anak daripada menyuruh menghafalkan secara langsung membaca, matematika, dan juga perkembangan emosional anak. Anak akan lebih cepat menghafal huruf a,b,c atau angka melalui musik anak
  • Musik melatih ingatan anak. Belajar lagu atau musik sesuatu yang menyenangkan untuk anak-anak, ingatan tentang lirik lagu atau nada musik cepat dihaflakan oleh anak-anak. Dengan musik, ingatan anak terbiasa atau terasah dengan baik melalui cara yang menyenangkan untuknya.
  • Musik mmbantu perkembangan anak dalam hal social. Menikmati music bersama-sama dengan teman-teman yang lainnya menjadi saat yang menyenangkan. Permainan music kecil bareng sekeluarga di saat-saat santai, membuat si kecil belajar bekerja sama dalam satu team, belajar bersosialisasi serta mengembangkan kemampuannya mengikuti aturan-aturan kecil di dalam permainan musik.
  • Musik melatih anak mengekspresikan perasaan dan empati anak. Melodi yang bahagia membuat si kecil menari-nari dengan senang, meodi lembut menenangkan si kecil, melodi yang menghentak bisa membuat si kecil takut. Berbagai jenis ekspresi emosi ditunjukkan denan musik, anak akan secara otomatis belajar tentang eskpresi musik.
  • Musik mengembangkan kreatifitas sejak dini. Anak-anak bisa menjadikan barang apapun menjadi sumber musik untuk mainan mereka. Anak-anak juga bisa belajar menyanyi, menari, bergerak aktif sesuai dengan alunan musik yang didengar.


Minimnya Referensi Lagu Anak Jaman Sekarang

Keluarga adalah lingkungan terdekat bagi seorang anak, terutama ayah dan ibu. Sebagai fungsinya, pendidikan karakter bisa dilakukan sejak anak dalam usia dini oleh kedua orang tuanya. Salah satunya dengan mengajarkan bernyanyi dan memperdengarkan lagu anak-anak. Namun, jika kita lihat sendiri orang tua terutama bagi seorang ibu sangat kesulitan jika diminta memutarkan lagu anak-anak. Karena lagu anak-anak pada masa sekarang sangatlah minim referensinya bahkan tidak populer. Semua lagu sepertinya hanya diciptakan hanya untuk orang dewasa. Maka sangat sering sekali terjadi anak usia SD sudah menyanyikan lagu-lagu orang dewasa bertema cinta dan roman picisan. 

Tengoklah ajang pencarian bakat untuk anak-anak, pernahkah juri ataupun penyelenggara meminta anak membawakan lagu anak-anak? Mungkin tidak pernah, padahal niat baiknya sangat positif yaitu untuk mengembangkan bakat dan keterampilan anak dalam olah vokal, tapi pada kenyataannya justru mengurangi karakter anak itu sendiri. Di mana seusia anak-anak yang seharusnya dididik disiplin, tenggang rasa, tepa selira, budi pekerti, sopan santun, cinta alam, cinta Tuhan, sayang pada binatang, sayang pada teman, saling menolong sudah dicekoki dengan hal-hal berbau roman picisan. 

Coba perhatikan di sekitar kita, jika anak-anak sedang mendengarkan lagu atau menyanyi, apa lagu yang sering mereka dengar dan nyanyikan? Pasti lagu-lagu dewasa baik lagu dalam negeri maupun luar negeri seperti Raisa, Rizky Febian, Tulus, Rihanna, Bruno Mars, Lenka bahkan sampai lagu-lagu dangdut koplo yang kita tahu sendiri bahwa terkadang liriknya bermakna jorok. Dan akibatnya adalah anak-anak menjadi dewasa sebelum waktunya. Bahkan sudah menjadi lauk-pauk kehidupan masa kini jika anak SD sudah mengerti apa itu pacaran. Miris dan sungguh sangat disayangkan. Mari kita lihat data statistik penduduk Indonesia berikut ini :

Sumber : 2016 © Databoks, Katadata Indonesia dari sumber asli BPS (Badan Pusat Statistik)
Sumber : 2016 © Databoks, Katadata Indonesia dari sumber asli BPS (Badan Pusat Statistik)

Menurut data statistik di atas bisa disimpulkan bahwa negara kita memiliki jumlah anak-anak usia 0-14 tahun lebih kurang 70 juta jiwa. Jika anak sebanyak itu sudah dewasa sebelum waktunya hanya gara-gara lagu, maka bagaimana nasib bangsa ini? Bukankah bangsa ini memerlukan bibit unggul yang memiliki karakter kuat sebagai anak bangsa untuk mewujudkan cita-cita bangsa yang termaktub dalam Pembukaan UUD’45.

Saya sendiri masih ingat, ketika saya kecil tahun 90’an. Saya dan teman-teman tidak pernah hafal dan tahu lagu-lagu orang dewasa karena pada masa itu lagu anak-anak sungguh sangat banyak dan setiap hari diputar di acara Tralala Trilili, acara yang memutarkan lagu anak-anak. Dan juga ada Cilukba, juga acara yang memutarkan lagu anak-anak. 

Setiap hari kami punya referensi lagu anak-anak baru dan hits dari dua acara televisi tersebut. Walaupun dulu belum secanggih sekarang yang tinggal membuka Youtube atau aplikasi musik lain untuk memutar lagu malah harus membeli kaset pita, namun kaset lagu anak-anak banyak sekali dijual di toko kaset. Maka dari itu saya dan teman-teman pada waktu masih anak-anak tidak mengenal apa itu cinta dan pacaran. Bahkan, pacaran adalah hal yang sangat tabu dan sensitif sekali pada masa itu. 

Berbeda dengan sekarang, ketika saya mendengar keluh kesah teman-teman saya yang sudah memiliki anak usia PAUD dan SD karena anak-anak mereka sudah berbicara mengenai “suka”, “cinta”, “pacaran” dan lebih hafal lagu Cita CitataSakitnya Tuh Disini daripada lagu anak-anak sekarang yang walaupun minim sekali tapi masih ada seperti lagu milik Romaria Malu Sama Kucing dan Naura di album Langit yang Sama.

Pernah baru-baru ini, saya diminta oleh om saya untuk mencarikan lagu anak-anak untuk anaknya yang masih SD kelas satu. Ternyata sulit sekali menemukannya dan kalaupun ada saya rasa jumlahnya tidak sebanyak sewaktu dulu. Sehingga, saya mengunduh lagu-lagu anak-anak tahun 90’an untuk sepupu saya tersebut. Dari pengalaman ini saya merasakan sendiri bagaimana sulitnya mencari referensi lagu anak.

Dengan minimnya lagu anak-anak di industri musik Indonesia, lantas bagaimana orang tua harus mengajarkan pendidikan karakter yang bisa dipelajari dari lirik lagu anak-anak?

Oleh karena itu, diperlukan tanggapan dari pemerintah untuk mendorong perkembangan musik atau lagu anak. Misalnya saat pelajaran kesenian musik saat test bernyanyi, anak harus menyanyikan lagu anak-anak bukan diperbolehkan menyanyi lagu dewasa. Pemerintah bisa juga dengan mengawasi ajang pencarian bakat anak-anak dengan memberikan ijin tayang jika memenuhi syarat yaitu saat penjurian anak-anak harus menyanyikan lagu anak-anak bukan lagu dewasa. 

Pemerintah bisa juga lewat televise milik negara, TVRI, memutarkan acara berisikan lagu anak-anak di jam-jam anak biasanya menonton televisi. Mendorong munculnya pencipta lagu anak-anak dengan awards bergengsi dalam kategori pencipta lagu anak-anak. Dan masih banyak lagi yang lainnya. Dengan demikian, peranan orang tua sebagai salah satu pilar penguat pendidikan karakter yang terdekat dengan anak bisa menjalankan fungsinya dengan baik. Semoga kedepannya, pemerintah bersama dengan Kemendikbud bisa bersama-sama memperhatikan perkembangan lagu anak sebagai salah satu cara membangun karakter anak bangsa.


Daftar Pustaka

  1. Nawa Cita 9 Agenda Prioritas Jokowi-JK
  2. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia
  3. Cerdas Berkarakter Kemendikbud
  4. http://www.nu.or.id/post/read/55601/pendidikan-karakter-dan-revolusi-mental
  5. Langgulung, H. Asas-Asas Pendidikan Islam, H. Husna. Jakarta,19987 dalam http://hadirukiyah.blogspot.co.id/2010/07/hubungan-kebudayaan-dengan-pendidikan.html
  6. Wibowo, Timothy. 2013. Membangun Karakter Sejak Pendidikan Anak Usia Dini, diunduh dari http://www.pendidikankarakter.com/membangun-karakter-sejak-pendidikan-anak-usia-dini

Tary Wilujeng

/tarywilujeng

TERVERIFIKASI

Hobi makan suka jajan kebiasaan ngemil cita-citanya langsing | Pemulung kata Penikmat senja Pengeja renjana
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana