Menanggapi Tulisan Adek Afi dan Kak Gilang

20 Mei 2017 15:03:46 Diperbarui: 20 Mei 2017 15:19:46 Dibaca : 839 Komentar : 1 Nilai : 2 Durasi Baca :
Menanggapi Tulisan Adek Afi dan Kak Gilang
Mochamad Agung Tarecha (Dokumentasi Pribadi)

Tulisan ini juga sudah dimuat di blog pribadi 

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Wah saya senang sekali membaca tulisan Dek Afi di link berikut dan Kak GIlang di link berikut.

sebuah tradisi pemikiran yang sangat baik, saling berdialog melalui tulisan. data disandingkan data, argumen disandingkan argumen, referensi disandingkan referensi, pemikiran disandingkan pemikiran. semua tradisi yang akademis sekali. ya mungkin seperti itulah. sebuah dialog yang kalau dilanjutkan akan membentuk sebuah generasi pemikir yang hebat. Salut buat Dek Afi di usianya yang sedemikian muda sudah bisa menulis dan kritis dalam berfikir. kalau dibandingkan masa saya SMK dulu jauh lah, dulu saya masih berkutat sama dunia komputer ( karena di SMK Informatika ). Saya ingin menanggapi tulisan kalian berdua. Bukan bermaksud pro mana atau kontra mana. saya cman pengen menuliskan pemikiran saya :-). Malam minggu gak jelas gini saya nulis aja.

Menyoal Agama warisan. Memang benar kita gak bisa memilih orang tua siapa, lahir dimana, agama orang tua kita apa. Kita memang mempelajari agama dari orang tua. lalu kalimat “Setelah itu, kita membela sampai mati segala hal yang bahkan tidak pernah kita putuskan sendiri.” sebenarnya jika hemat saya pada saat beranjak dewasa kita lah yang memutuskan agama kita, apakah agama yang kita yakini benar atau agama sebelah yang benar. seseorang bisa saja pindah agama karena berfikir agama lain telah menunjukkan kebenaran yang tidak dia peroleh dalam agamanya misal sebagai salah satu contoh banyak kan peneliti ilmiah yang masuk islam gara2 penelitiannya ada di Al Qur’an – informasi ini yang saya tahu, ataupun memutuskan tidak beragama dan tidak berTuhan. Atau pun menuhankan uang, menuhankan kekuasaan, menuhankan partai, menuhankan organisasi, bahkan menuhankan perempuan yang bermakna memuja hedonisme seks.  Memilih beragama lalu menjalankan perintah dan menjauhi larangan agama atau tidak melakukannya sama sekali ( asal agama ditulis di ktp ) itu adalah keputusan pribadi. Keputusan kita sendiri yang dimana kita tanggung sendiri akibat dari keputusan itu. Menurut Mas Gilang yang mengutip bahwa setiap orang dilahirkan lahir dalam keadaan fitrah, saat masih dalam alam ruh kita sudah bersaksi bahwa Allah adalah Tuhan kita, dan ini adalah doktrin dalam Al-Qur’an. Kenapa saya katakan doktrin ? karena kita gak bisa membuktikan hal tersebut menggunakan akal, ingat akal kita terbatas. Saya kutip ayat Al Qur’an sedikit ya, tapi bukan berarti saya sok bawa ayat-ayat, namun sebagai referensi / data agar saya berpegang pada dasar yang saya pegang sebagai umat Islam.

Mengenai soal kafir masuk neraka , Islam masuk surga. Memang secara tekstual memang seperti itu. Kisah Paman Nabi Abu Thalib yang tidak mau mengucapkan syahadat memang beberapa literatur berada di neraka. Silahkan cari beberapa referensi mengenai itu. Itu semua domain Allah. Buat Kak GIlang, sekalipun doktrinnya seperti itu tapi bukan berarti kita seenaknya ngata2in kepada muka orang kafir kamu masuk neraka. kutipan berikut “Usah melabeli orang masuk surga atau neraka sebab kita pun masih menghamba.” yang saya tangkap sih dari kata2 dek Afi itu kita gk perlu mengatakan orang lain pasti masuk neraka sedang kita gk bisa menjamin diri sendiri masuk surga. Yang bisa kita lakukan adalah mengharap Syafaat Rasulullah SAW sebagai Nabi yang kita cintai. Sederhananya kalau ada orang pincang, cacat… jangan ngata2in ke mukannya he kamu si buta, he kamu si pincang, he kamu si kurap. Sekadar menjaga perasaan orang lain sih. Biar urusan soal siapa masuk surga siapa masuk neraka itu jadi domain Tuhan. kita gak perlu ngata2in di depan mukanya. Dan umat beragama lain juga sebaiknya begitu sehingga kita damai. Memang benar pasti masing2 pemeluk agama pasti mengklaim kebenaran agamanya. Kalau sebagai analogi agama sebagai Istri (mengutip pemikirannya Cak Nun). kita gak perlu berdebat di pos satpam sama tetangga he istriku ini lebih cantik dari istrimu, satu menimpali oh gak bisa istriku jauh lebih cantik dan montok. lalu kita berantem di pos satpam gara2 berdebat istri siapa yang lebih cantik. wong gak mungkin kita bersepakat liberal untuk saling tukar istri buat semalam saja agar tahu sendiri kan (ini bercanda ya) ? jadi yang kepercayaan itu buat diri kita sendiri saja gak perlu menjelaskan panjang lebar soal kecantikan istri kita pada tetangga… #ehh saya masih jomblo.

Menyoal Tuhan bisa saja membuat kita sama tapi tidak memang benar. Kita diciptakan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa supaya bisa saling mengenal. saya setuju soal ini “Nyatanya, beberapa negara masih rusuh juga padahal agama rakyatnya sama.” kita lihat timur tengah masih memanas hari ini. atau perang saudara di amerika dulu. namun hemat saya yang menyebabkan perang bukan karena persamaan agamanya, namun karena tidak mampu memanagement perbedaan. ini masalah utamanya, sentimen mayoritas dan minoritas hanyalah efek yang timbul dari ketidakmampuan tersebut. Alangkah indahnya ketika kita sholat Idul Fitri umat beragama lain yang membantu mengatur lalulintas, ketika umat lain merayakan Nyepi kita juga bertoleransi untuk gak bikin konser musik yang kira2 menganggu ibadah. Sebagai warga negara dan umat beragama, kita wajib menjaga keharmonisan yang selama ini sudah terbagun. Jadi bersyukurlah tinggal di Indonesia, setidaknya kita masih hidup tenang sekarang.

Menyoal penggunaan agama sebagai dasar negara. hmm… gimana ya… gak bisa dipukul rata… karena keadaan tiap negara berbeda. Kalau di Arab Saudi okelah. Saudi menggunakan dasar agama Islam karena Islam mucul pertama kali disana. Vatikan sebagai negara agama Katolik ( mohon referensinya bila ada kesalahan). Korea Utara menjadikan Komunisme sebagai dasar negara. Di Indonesia kita menggunakan Pancasila. Buat Kak GIlang. Dari yang saya tangkap dari Dek Afi ini “Bayangkan juga seandainya masing-masing agama menuntut agar kitab sucinya digunakan sebagai dasar negara. Maka, tinggal tunggu saja kehancuran Indonesia kita.”  konteks yang diungkapkan dek afi ini soal Indonesia, jika Indonesia diganti menggunakan dasar Negara Islam seperti yang dikampanyekan teman2 HTE (Hizbut Tahrir Endonesia) tentu umat beragama lain gk setuju karena kita sudah punya dasar negara Pancasila. Lalu ketika itu terjadi masing2 umat menuntut perubahan dasar negara sesuai agama maka akan hancur Indonesia. Karena masing2 mau agamanya dijadikan dasar negara. Memang benar bila ditinjau secara mendalam bahwa gak ada sila dalam Pancasila yang bertentangan dengan Islam, bahkan sesuai. mungkin ini yang Kak Gilang Maksud ya gambar dibawah. Tapi hemat saya gk perlu menggembar – gemborkan hal tersebut. TUh Pancasila dari Islam, nanti umat bergama lain gak mau pakai Pancasila gara2 di klaim dari Islam. Mengutip Ustadz saya Achmad DIny Hidayatullah, beliau ingin menjadi garam dalam air, memberi rasa tapi tak ingin terlihat. dan tak ingin menjadi gincu, membuat merah bibir tapi tak memberi manfaat. Mengklaimnya bukan soal benar salah, namun lebih untuk kebijaksanaan.

soal invervensi kebijakan berdasarkan agama “Hanya karena merasa paling benar, umat agama A tidak berhak mengintervensi kebijakan suatu negara yang terdiri dari bermacam keyakinan.” ya memang baiknya begitu, bahkan sebaiknya intervensi kebijakan itu bukan karena faktor umat, kepentingan golongan, organisasi, partai, kelompok masyarakat, kelompok mahasiswa, ideologi2 masing2 organisasi baiknya tidak mengintervensi ( mendominasi ) karena kebijakan yang baik itu baik untu semuanya, bukan baik untuk golongan A dan buruk untuk golongan B. Kebaikan untuk bersama.

Buat dek afi dan kak gilang… salam kenal… saya suka tulisan kalian berdua. teruslah menulis. dan saya tunggu tulisan2 selanjutnya :-)

Wassalamu’alaikum Wr. Wb

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana