Syifa Ann
Syifa Ann pelajar/mahasiswa

Mahasiswi Sosiologi, Penyuka Puisi | Pecinta Buku Nonfiksi & Kisah Inspirasi. | Pengagum B.J Habibie. | Pengguna K'- Mobilian. | Addicted With Joe Sacco's Books. | Risk Taker. ¦ A Warrior Princess on Your Ground. | Feel The Fear, and Do It Anyway :)

Selanjutnya

Tutup

pilihan

Jika Ibu Kartini Masih Hidup, Inilah Imajinasi Kompasianer

21 April 2017   12:25 Diperbarui: 21 April 2017   22:00 161 17 10

[caption caption="Ilustrassi Twitter @AlissaWahid"]

[/caption]

Raden Ajeng Kartini. Sosoknya lekat di ingatan kita sebagai pejuang kesetaraan hak-hak perempuan, pada zamannya dia adalah seorang pendobrak bagi kemajuan kaum hawa. Karena jasanya, perempuan Indonesia masa kini dapat hidup dalam tatanan yang lebih maju dan mandiri di berbagai bidang.

Lahir pada 21 April 1879, ia harus meninggal muda pada 17 September 1904 di usia 26 tahun akibat sakit keras pasca melahirkan. Kemudian, sosoknya ditetapkan sebagai pahlawan nasional pada tanggal 2 Mei 1964.

**
Berbicara kiprah dan sosok R.A Kartini, andai dia masih hidup sampai hari ini, apa yang akan terjadi? Jika kartini masih di sini, apa yang akan ia lakukan untuk negeri, bagaimana perasaannya tentang kondisi perempuan Indonesia masa kini?

Yuk, mari coba mengintipnya. Sejumlah warga biasa dalam wadah Kompasiana berbagi pandangan dan imajinasi mereka lewat tulisan.

Jika RA Kartini masih di sini. Ragam Imaji Kompasianer dalam Intisari, inilah sebagian di antaranya:

1. Kalau "Masih" Hidup, Akankah Kartini Menulis di Kompasiana?

R.A Kartini terkenal dengan kemampuannya menulis, tulisan yang menggugah semangat pada masanya. Habis Gelap Terbitlah Terang merupakan buku kumpulan surat-suratnya yang paling monumental dalam memori generasi milenial.

Jika dulu Kartini menulis surat di atas kertas, jika saja ia masih hidup hari ini, akankah ia menulis di Kompasiana mengikuti perkembangan zaman?

Melalui artikelnya, Kompasianer Adica Wirawan memaparkan kemungkinannya.

Mungkinkah, lalu topik apa yang sekiranya akan ditulis Kartini? Ulasannya bisa dibaca di artikel tersebut.

2. Bagaimana Perasaan Kartini Jika Menononton Sinetron Masa Kini?

Sinetron dibuat untuk menggaet segmentasi pasar perempuan, prodak entertaiment yang satu ini memang biasanya mengangkat tema-tema yang berhubungan dengan dunia perempuan disertai drama percintaan dan drama keluarga yang menguras air mata kaum hawa.

Sayangnya kebanyakan sinetron yang ditayangkan televisi Indonesia saat ini justru menempatkan perempuan di lembah mati. Terlalu banyak drama yang dilakoni

Kompasianer Suzy Heryawan mencoba mengupas fenomena ini dan membayangkan perasaan RA Kartini jika menonton sinetron masa kini Seperti apa ulasannya bisa dibaca di artikel tersebut.

3. Karena Kita Nggak Pernah Tahu Jam Bangun Tidur Ibu Kartini

Bagi Widha Karina, nilai-nilai seorang perempuan tidak selalu bisa diukur oleh kepatuhan wanita terhadap dikotomi budaya patriakhi. Termasuk Sah-sah saja jika seorang perempuan bangun tidur pada siang hari. Baik laki-laki atau perempuan semua punya hak yang sama untuk bangun siang. Kenapa bisa seperti itu?

Ulasan selengkapnya bisa dibaca di artikel tersebut.

**
R.A Kartini dan segala yang telah dan mungkin akan dilakukannya untuk Indonesia jika sekarang dia masih ada di sini, itulah ragam imaji Kompasianer.

Apapun yang akan terjadi jika ia masih di sini, semua narasi tentang Kartini adalah inspirasi perubahan, keberanian dan cinta kasih seorang wanita untuk bangsanya, semoga teladan akan sosoknya terus mewaris lintas generasi dan menginspirasi kini hingga nanti.

Selamat Hari Kartini untuk para perempuan pejuang kehidupan!

Salam Kompasiana!
*Penulis masih belajar, mohon koreksinya :)
*Tulisan sejenis lainnya bisa dibaca dalam tag Intisari.