Syahirul Alim
Syahirul Alim Konsultan Swasta

Seandainya lautan dijadikan tinta dan pohon-pohon dijadikan penanya untuk menulis seluruh kebaikan, niscaya tidak akan pernah cukup kebaikan itu ditulis

Selanjutnya

Tutup

Humaniora highlight

Berkunjung ke Rumah Tuhan

23 Agustus 2017   11:42 Diperbarui: 23 Agustus 2017   11:46 437 2 0

Salah satu rukun Islam yang harus dilaksanakan seluruh umat muslim adalah berkunjung ke Baitullah(Rumah Tuhan) yang berada di Mekkah, Arab Saudi. Berkunjung ke Rumah Tuhan di Mekkah tentu saja menjadi harapan besar yang selalu diimpikan oleh setiap muslim, baik itu Haji Akbar maupun Haji Asghar (Umroh). Tanggal 10 Dzulhijjah tahun ini yang merupakan Hari Raya Kurban (Idul Adha) akan jatuh pada tanggal 1 September 2017, hari Jumat. Bagi kebanyakan orang, Haji Akbar diasosiasikan dengan jatuhnya 10 Dzulhijjah tepat pada hari Jumat, sehingga dianggap memiliki keistimewaan karena disebut secara khusus oleh Rasulullah. Padahal, Haji Akbar yang dimaksud oleh Rasulullah adalah bertepatannya puncak haji dengan hari penyembelihan (yaum an-nahr) tanpa harus diidentikkan dengan hari tertentu disaat wuquf di Arafah.

Ungkapan Rasulullah soal Haji Akbar direkam secara baik dalam riwayat Imam Bukhori yang dihubungkan dengan hari penyembelihan yang tepat dilakukan pada tanggal 10 di bulan Dzulhijjah. Ini artinya, haji dan kewajiban berkurban bagi setiap muslim, memiliki keterkaitan makna. Haji adalah pengurbanan yang disimbolisasikan melalui bermacam ritual suci, seperti thawaf, sa'i, jumrah di Mina dan wuquf di Arafah. Puncak dari seluruh rangkaian ibadah haji adalah wuquf, dimana seluruh umat muslim berkumpul di sebuah padang tandus di Arafah. Wuquf (berhenti) di Arafah merupakan titik awal perjalanan manusia dalam mengarungi bahtera kehidupannya, melepaskan seluruh keegoan nafsunya dalam balutan nuansa egalitarianisme sosial.

Ritual wuquf yang mengambil dari teladan Nabi Adam as ketika dipertemukan oleh Tuhan dengan Siti Hawa setelah sekian lama terpisah, menjadi titik balik sejarah perjalanan panjang kehidupan manusia. Nuansa wuquf yang dijadikan tempat "pemberhentian" tidak lain dijadikan tempat pembuangan kesombongan, keangkaramurkaan dan keangkuhan manusia yang selama ini menjadi sifat bawaan yang melekat dalam dirinya. Manusia harus "telanjang" dalam memaknai hidupnya, karena pakaian artifisial yang melekat, seperti kedudukan, kehormatan maupun kekuasaan sejatinya hanyalah tipuan bagi keegoannya sendiri. Tak ada perbedaan manusia di hadapan Tuhan, sebagaimana digambarkan oleh ritual ini, karena seluruh manusia berpakaian sama, hanya selembar kain putih yang menutupi auratnya.

Berkunjung ke Rumah Tuhan tentu saja merupakan perjalanan suci (pilgrimage) yang tidak setiap orang mampu menyadarinya. Sebuah perjalanan suci, tentu saja bukan karena ketulusan dan keikhlasan saja yang memotivasi seseorang melakukannya, tetapi juga lekat dengan siapa saja yang dengan ketulusan mampu mendengarkan dengan hati artikulasi "panggilan" Tuhan. Ketulusan dan keikhlasan dalam menerjemahkan "panggilan" Tuhan tentu akan menghilangkan ego dan nafsu seseorang untuk mengunjungi Rumah-Nya. 

Bagi saya ini jelas, terkait dengan ego dan nafsu manusia yang sekadar ingin berkunjung ke Rumah-Nya sebatas "wisata rohani" atau memperoleh status sosial di tengah masyarakat. Fenomena penipuan yang marak belakangan, baik terkait dengan perjalanan suci berhaji atau umroh, bisa saja karena dorongan ego dan nafsu manusia yang terlampau berlebihan.

Inilah kemudian, kenapa haji dan kurban menjadi begitu lekat, karena memang waktu berhaji dan pelaksanaan penyembelihan hewan kurban dilakukan pada waktu yang sama. Kurban berarti "dekat" atau berupaya "mendekatkan" seseorang kepada Tuhannya. Hewan kurban yang disembelih pada Hari Idul Adha justru merupakan sarana mendekatkan diri seseorang kepada Tuhannya, bukan karena sekadar menunjukkan kemampuannya secara sosial. Prinsip berkurban pada akhirnya tak hanya sebatas mewujudkan upaya pendekatan seseorang kepada Tuhan, namun lebih dari itu, merekatkan ikatan-ikatan sosial, karena hewan kurban yang disembelih harus terlebih dahulu dibagikan kepada sesama dan kita hanya menikmati sedikit saja dari apa yang kita kurbankan.

Jika haji dalam arti fisik dapat mengunjungi Rumah Tuhan sebenarnya yang berada jauh di Mekkah, maka kurban juga mengunjungi "Rumah Tuhan" yang justru berada di sekitar tempat penyembelihan kurban. Persembahan yang kita berikan kepada Tuhan melalui penyembelihan hewan kurban, jelas pada umumnya dilakukan di sekitar masjid atau mushola yang notabene adalah Rumah Tuhan. Namun yang pasti, apa yang kita kurbankan semata-mata karena dorongan keinginan kita dekat dengan Rumah Tuhan, rumah dengan segala kasih-sayang, kegembiraan, egalitarianisme, dan tempat menggantungkan seluruh harapan dan impian kita serta membersihkan seluruh langkah perjalanan hidup kita. Inilah sesungguhnya gambaran abadi rumah manusia dalam artifisial, selalu ingin dekat dan berkunjung ke Rumah-Nya, karena disitulah pada akhirnya tempat kita "kembali".

Jika dalam artian fisik kita belum mampu mengunjungi Rumah Tuhan yang berada jauh di Mekkah, maka setidaknya, kunjungilah Rumah-Rumah Tuhan yang lebih dekat dengan lingkungan sekitar kita, karena disitulah sesungguhnya arti kedamaian dan ketenangan hidup akan mudah diartikulasikan. 

Berkunjung ke Rumah Tuhan, tidak harus kita jalani hanya setiap tahun sekali, bahkan sampai-sampai kita berkorban banyak hal, termasuk kita rela menjadi korban penipuan pihak lain. Pelajaran yang didapat dari ibadah haji dan berkurban adalah bentuk "perjalanan suci" mendekatkan diri kita kepada Tuhan, merasa dekat dengan Rumah-Nya, karena dari sinilah kemudian arti pengurbanan akan diterima (mabrur) mewujud dalam nilai-nilai kebaikan yang melekat dalam setiap prilaku setiap orang yang senang berkunjung ke Rumah-Nya.