Sutomo Paguci
Sutomo Paguci Advokat

Menulis sebagai rekreasi

Selanjutnya

Tutup

Sosial Budaya

Sebutan "Polwan Cantik" Pelecehan?

6 April 2013   09:38 Diperbarui: 24 Juni 2015   15:39 1749 2 10
Sebutan "Polwan Cantik" Pelecehan?
1365214690414861101

[caption id="attachment_236508" align="aligncenter" width="410" caption="Bripka Avvi Olivia"][/caption]

Siapa tak kenal para polisi wanita (Polwan) yang bertugas di National Traffic Management Centre (NTMC) Polda Metro Jaya, yang siaran lalu-lintasnya ditayangkan Metro TV, sebut saja Briptu Eka Frestya, Bripka Avvi Olivia, dll. Kita biasa mendengar sebutan terhadap mereka sebagai "Polwan Cantik". Bahkan, ada yang menambahkan kata "seksi" sehingga menjadi "Polwan Cantik dan Seksi". Sebutan "Polwan Cantik" nampaknya perlu dikoreksi. Sebutan ini dinilai bias jender dan menonjolkan penampilan fisik di atas prestasi dalam tugas-tugas wanita di sektor publik. Karena itu sebutan demikian tak pantas ditujukan pada aparat negara, apalagi kalau yang mengucapkan adalah para elit yang mestinya memberi contoh yang baik. Sekedar perbandingan. Belum lama ini Barack Obama mengakui, menyesali dan meminta maaaf atas pernyataannya yang memuji Jaksa Agung California Kamala Haris karena menyebut Haris sebagai "menarik (cantik)". Barack Obama mengatakan, "sejauh ini (Haris) adalah jaksa agung paling menarik di negara ini," sebagaimana dikutip oleh Republika.co.id (6/4). Pihak yang keberatan terhadap pujian Obama tersebut bukan hanya berasal dari kubu Haris melainkan juga dari kubu Obama sendiri. Karena dinilai memberikan penghargaan terhadap tampilan fisik wanita yang bekerja di sektor publik. Pernyataan ini disampaikan dalam rangka kunjungan penggalangan dana. [caption id="attachment_236509" align="aligncenter" width="465" caption="Jaksa Agung California Kamala Haris"]

13652147701134785746
13652147701134785746
[/caption]

Sudah saatnya hal yang sama seperti di AS tersebut dibudayakan di Indonesia. Peran perempuan di sektor publik tidak ditonjolkan bias jendernya, melainkan semata fungsi, kedudukan, dan prestasi yang dilakukan. Memang masih ada kendala di budaya patriaki yang kental seperti di Indonesia. Selain itu, tantangan juga berasal dari aturan hukum. Beberapa aturan hukum malah menempatkan wanita ditonjolkan sisi keperempuannya, bukan berpedoman pada pencapaian dan hasil persaingan. Katakanlah contoh jatah 30 persen kursi bagi perempuan dalam daftar caleg sebuah partai, di Komisi Pemilihan Umum (KPU), dll. Dalam kenyataannya perempuan dapat melakukan hampir semua hal yang dapat dilakukan oleh lelaki di sektor publik. Mulai pekerjaan-pekerjaan yang membutuhkan kecerdasan otak, imajinasi seni, kemampuan fisik merayap, mendaki, dsb. [caption id="attachment_236510" align="aligncenter" width="400" caption="Bripka Avvi Olivia, Briptu Eka Frestya, Ipda Eny Kuswidiyanti Regama"]

13652148361748448293
13652148361748448293
[/caption] [caption id="attachment_236511" align="aligncenter" width="427" caption="Bripka Avvi Olivia"]
1365214922754144523
1365214922754144523
[/caption]

Sumber foto:

(SP)