Banyaknya Sarjana Pengganguran Karena Minimnya Lapangan Pekerjaan?

13 Juni 2012 17:25:39 Dibaca :
Banyaknya Sarjana Pengganguran Karena Minimnya Lapangan Pekerjaan?
Ilustrasi/Admin(waroengkemanx.blogspot.com)

Mau bekerja dimanakah saya ketika lulus Sarjana?, apa yang sudah saya persiapkan untuk bersaing di dunia kerja?, kualifikasi seperti apa yang dibutuhkan oleh pasar kerja ketika saya lulus?, atau sudah sejauh mana usaha saya untuk mengejar apa yang saya cita-citakan ketika kuliah? Pertanyaan-pertanyaan diatas ini bukan sekali duakali kita temui dalam kehidupan kampus, melainkan sering kita menemui pernyataan-pernyataan seperti ini. Khususnya mahasiswa Tingkat Akhir yang tidak lama lagi akan menjadi sarjana. Dan bahkan Pertanyaan diatas bagaikan hantu yang menakutkan bagi mahasiswa tingkat akhir. Mengapa saya bilang bagaikan hantu yang sangat menakutkan ?” Jawabannya adalah karena pada umumnya jawaban dan anggapan orang-orang adalah minimnya lapangan pekerjaan jika dibandingkan dengan banyaknya lulusan sarjana tiap tahunnya.

Apa benar minimnya lapangan pekerjaan jika dibandingkan dengan banyaknya lulusan sarjana tiap tahunnya menjadi penyebab banyaknya sarjana pengganguran? Saya rasa ungkapan ini sama sekali tidak ada benarnya. Coba kita lihat di tiap-tiap Koran harian yang sering kita baca. Bukalah iklan baris, lihat di kolom lowongan pekerjaan. Hampir pasti lebih dari satu, dua halaman bahkan 1 jilid khusus Koran memuat tentang lowongan pekerjaan. Pekerjaan yang ditawarkan pun beragam, dari tukang pijat hingga ke kursi-kursi kantor besar. Juga profesinya, dari yang hanya lulusan SD hingga S-2 pun ada. Jadi darimana munculnya ungkapan minimnya pekerjaan? Bukan hanya di Koran, kalau anda lewat dijalan ataupun browsing di internet melihat ada lowongan, itu juga banyak. Jadi sangatlah salah jika anda beranggapan lapangan kerja di Indonesia itu minim.

Lalu Mengapa banyak sarjana yang menganggur? apa penyebab utamanya ? Menurut analisa saya, Penyebab sarjana banyak yang menganggur adalah sebagai berikut : Sarjana tidak kompeten dan Minimnya jaringan pertemanan. Maksudnya: Hal-hal seperti softskill, kemampuan bahasa inggris, IPK, kemampuan akademik, pengalaman organisasi,pengalaman kerja dan pengalaman ber-enterpreunership merupakan perangkat yang tak dapat dipisahkan dari kehidupan seorang mahasiswa calon sarjana.

Tetapi mahasiswa Sering kali terlena dan fokus untuk mendapatkan IPK tinggi, seolah-olah, IPK menjadi satu-satunya faktor yang menentukan dalam persaingan menuju dunia kerja.Sehingga tidak ada alasan lain bagi kita kuliah-pulang-kuliah-pulang tanpa pergaulan sama sekali. padahal tidak lah demikian. Perlu ditanamkan keserasian antara jadi berprestasi tanpa mengorbankan pergaulan.

Mahasiswa yang fokus untuk mendapat IPK tinggi mungkin mahasiswa-mahasiswi pintar, sehingga nilai-nilainya bagus, tapi bagaimana jika tidak ada jaringan pertemanan yang baik? Tentu akan sulit. Seseorang dengan IQ tinggi tapi EQ(Emosi yang khususnya digunakan untuk menjalin pergaulan) nya rendah akan sangat sulit berkembang. Ingat manusia adalah makhluk sosial, tidak bisa hidup sendiri, butuh bantuan orang lain..

Sikap selektif yang berlebihan. Coba sekali-kali kita bertanya pada sopir-sopir taksi,kasir di pasar swalayan,SPG di plaza-plaza/mall,tukang ojek,pedagang kaki lima dan seterusnya. Tidak sedikit kita temukan adalah sarjana. pada akhirnya mengobral Ijazah kesarjanaannya dengan bekerja pada posisi yang tidak sepantasnya(asal kerja)? Mengapa mereka bisa begitu? “Karena mereka terlalu banyak memilih pekerjaan, Dan Juga karena tujuan mereka hanya ingin bekerja di perusahaan dan hanya PNS, sehingga mau tidak mau dari pada nggangur,kerja apa aja pun jadilah. “Jadi menurut saya sempitnya lapangan pekerjaan itu tergantung dari penilaian kita masing-masing. Coba kalau kita mau mengembangkan diri dengan mencari peluang lain, membuka usaha, misalnya, pasti tidak ada kalimat lapangan kerja sulit dan sempit. Namun setelah kita menjadi sarjana,terkadang tidak tahu potensi apa yang bisa dikembangkan menjadi ladang penghidupan, makanya ketika kita menjadi sarjana,kita hanya bisa menunggu lowongan pekerjaan, bukan malah mencoba menggali potensi dirinya untuk menciptakan lapangan pekerjaan sendiri. Masalahnya kemudian adalah, bagaimana institusi pendidikan bangsa ini. Sudah saatnya untuk membangkitkan mentalitas enterpreunership (kewirausahaan) di kalangan mahasiswa, sehingga kelak ketika selesai kuliah bukan menambah barisan pengangguran namun sebaliknya dapat menjadi generasi yang mandiri dan tetap menjadi tuan rumah di negeri sendiri, tanpa harus menjadi ‘pengemis’ pekerjaan diberbagai instansi pemerintah dan swasta. Sekarang, tinggal bagaimana kita harus memulai untuk mencoba. Mari kawan, mulailah berpikir masa depan. Jangan sampai kita termasuk orang-orang yang menambah sarjana pengganguran di negeri ini. Selamat Pagi Salam Hangat Ala SBSR

Suryono Brandoi Siringoringo

/suryono.briando

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Aku bukan seorang optimis yg naif yg mnghrapkan harapan-harapanku yg dkecewakan akan dpnuhi dan dpuaskan di masa dpan. Aku juga bukan seorang pesimis yg hdupnya getir, yg trus menerus brkata bhw masa lampau tlh mnunjukan bhw tdk ada sesuatu pun yg bru dbwah matahari. Aku hanya ingin tmpil sbg manusia yg membwa harapan. Aku hdup dgn kyakinan teguh bhw skrng aku bru mlhat pantulan lembut pd sbuah kaca, akan tetapi pd suatu hari aku akan brhdpan dgn masa dpn itu, muka dgn muka.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?