PILIHAN

Sejarah Nama Marore, Pulau Terdepan Indonesia

20 April 2017 19:05:15 Diperbarui: 20 April 2017 19:53:54 Dibaca : Komentar : Nilai : Durasi Baca :
Sejarah Nama Marore, Pulau Terdepan Indonesia
Pulau Marore, Sulut

Marore adalah salah satu tempat atau pulau paling utara dari wilayah Kabupaten Kepl. Sangihe yang dulunya bernama “TAMARALE” yang artinya tidak mengenal lelah. Tamarale mempunyai arti dan makna yang mendalamyaitu bahwa dalam perjuangan hidup dan kemajuan menapak masa depan, penghuninya akan terus berjuang dan berkarya, pantang mundur tanpa mengenal waktu, dan tanpa memperhitungkan tenaga demi pertumbuhan dan perkembangan hidup. Nama Marore mulai muncul/disebut pada tahun 1900-an karena sulitnya pelafalan nama TAMARALE.

Perjalanan sejarah Pulau Marore merupakan kisah perjalanan dari dua orang laki-laki yaitu  BARAHAMA dan TONTONG. Penduduk Pulau Marore berasal dari Pulau Paruruang yang terletak di negeri Tabukan/ Kerajaan Tabukan (sekarang masuk dalam wilayah Kecamatan Nusa Tabukan). Sekitar pada tahun 1800-an, Raja DAVID PAPUKULESARAPIL (1892-1922) sebagai pemimpin kerajaan Tabukan memerintaahkan para pemberani dari kerajaan Tabukan untuk melawan para pengacau keamanan di pulau-pulau bagian utara dari kerajaan Tabukan. 

Para ksatria (Kalendesang) itu adalah BARAHAMA dan TONTONG. Sarana transportasi yang mereka gunakan untuk menjelajahi pulau-pulau sangat sederhana yang terbuat dari kulit kayu yang mereka sebut “TUMBILUNG”. Perjalanan/ penjelajahan mereka dimulau dari Pulau Dumarehe, Pulau Matutuang, Pulau Mamanuk, Pulau Ehise dan terakhir di Pulau Marore (Tamarale).

Dalam perjalanan, mereka mendapat tantangan dari para bajak laut yang berasal dari kepulauan Sulu (Mindanao) negeri Philipina. Gangguan keamanan itu tidak dapat mereka hindari dari para bajak laut. Hal itu terjadi tepat di salah satu pantai di Pulau Marore. Pertempuran yang sangat sengit antara dua orang pemberani yaitu BARAHAM dan TONTONG melawan para pengacau keamanan yang dipimpin oleh HONGGAO. 

Mereka berhasil membunuh pimpinan bajak laut tersebut. Anak buahnya membawa jenazah Honggao tersebut kembali ke tempat asalnya yaitu Mindanao (Philipina). Sehingga pantai tersebut sampai saat ini disebut pantai Mangindanao (Mindanao). Setelah memastikan bahwa pulau Marore dan pulau-pulaau lainnya aman, BARAHAMA dan TONTONG memutuskan untuk kembali ke daerah asal mereka.

Dalam perjalanan hidup selanjutnya 4 orang anak Barahama melanjutkan perjuangan dan karya orang tua mereka. Mereka yaitu :

  • Lohong Sili
  • Larung Adile
  • Sasikome
  • Guru Mani

Pekerjaan mereka adalah sebagai petani dan nelayan. Pulau pertama yang mereka tempat adalah Pulau Matutuang. Setelah pulau Matutuang penuh dengan tanaman pohon kelapa pindah ke pulau Mamanuk. Di pulau Mamanuk 4 bersaudara itu menanam pohon kelapa juga. Perjuangan mereka tidak sampai disitu saja, mereka melanjutkan perjalanan di pulau paling utara yaitu Marore. 

Di Pulau Marore mereka berjuang untuk mengubah hutan yang ada menjadi perkebunan kelapa. Waktu terus berjalan, 4 orang kakak beradik itu kembali ke tempat asal mereka untuk menjemput anak istri serta sanak saudara untuk tinggal dan menetap di Pulau Marore. Setelah itu, pulau Marore terus mengalami penambahan penduduk yang salah satu penyebabnya adalah kawin mawin. 

Kawin mawin terjadi antara penduduk setempat dan dan para pendatang yang mengakibatkan terjadinya kemajemukan. Pada tahun 1898 pimpinan Kerajaan Tabukan yaitu raja Papule Sarapil memerintahkan seorang yang bernama Sue untuk menjadi Kepala kampung di Pulau Marore untuk mengatur kehidupan masyarakat yang telah mendiami pulau paling utara dari bagian kerajaan Tabukan.

Pada tahun 1903 terjadi peristiwa alam yaitu angin puting beliung yang sangat membahayakan disertai dengan gelombang laut yang besar. Sehingga peristiwa itu mengakibatkan penduduk kampung Marore diungsikan ke Tabukan Utara, tepatnya di kampung Naha. Sampai saat ini tempat itu diberi nama Marore. Sekitar satu tahun masyarakat Marore tinggal di pengungsian sampai akhirnya kembali ke Kampung Marore. Jika dipandang dari letah wilayah pemerintahan Kampung Marore sangat luas dengan memiliki 9 pulau, diantaranya:     

  • 1. Pulau Dumarehe
  • 2. Pulau Matutuang
  • 3. Pulau Mamanuk
  • 4. Pulau Ehise
  • 5. Pulau Marore
  • 6.  Gugusan batu pewaikang :Batu Lungguhe, Batu Sakede, Batu Laweang, Batu Liang

Dari 9 pulau yang ada, hanya dua pulau yang berpenghuni yaitu Pulau Marore dan Pulau Matutuang. Pada tahun 1980-an warga negara Indonesia yang tinggal di Pulau Balud/ Sarangganiingin kembali ke Indonesia dan tinggal di pulaau Matutuang. Oleh pemerintah kampung Marore, Pulau Matutuang dinyatakan sebagai lindongan IV kampung Marore. 

Dari tahu ke tahun penduduk yang tinggal di pulau Matutuang makin bertambah, sehingga untuk mendekatkan pelayanan pada masyarakat, pada tahun 2008 tepatnya 12 september lindongan IV Kampung Marore ini resmi menjadi satu Kampung, yaitu Kampung Matutuang. Bersamaaan dengan itu juga peresmian kampung Marore yang  masuk dalam pemerintahan wilayah Kecamatan Tabukan Utara dan sekarang menjadi Kecamatan Kepl. Marore.

Secara geografis pulau Marore berbatasan dengan

Utara        : Pulau Balud dan Saranggani

Timur       : Kepl. Talaud

Barat        : Laut Sulawesi

Selatan    : Kepl. Sangihe

Foto para pimpinan Instansi/Lembaga di Gapura Kampung Marore
Foto para pimpinan Instansi/Lembaga di Gapura Kampung Marore
Sejak terbentuknya pemerintahan kampung Marore yaitu dari tahun 1898 , ada 14 orang yang sudah pernah menjadi Pemimpin kampung Marore. Diantaranya :

  • Sue Panda (1898-1905)
  • Daniel Mendome (1905-1922)
  • Lukas Mendome (1922-1936)
  • Jublius Mendome (1936-1939)
  • Musa Suenaung ( 1939-1944)
  • Ernest Mendome (1944-1946)
  • Paulus Tumpomisa (1946-1949)
  • Elisa Malo (1949-1955)
  • Jesaya Dalenoh (1955-1961)
  • Erasmus Barahama (1961-1965)
  • Lukas Diauntung (1965-1971)
  • Costan Sumolang (1971-1995)
  • Mann M Nanangkong (1995-2006)
  • Yeni Dalentang (2006-Sekarang)
    Kantor BCS Filiphina di Marore
    Kantor BCS Filiphina di Marore
  • Saat ini sudah banyak yang mengetahui sejarah kampung Marore ini. Bagi mereka hal ini penting agar setiap orang tahu bagaimana pengorbanan yang dilakukan untuk mempertahankan daratan NKRI ini.

  • Dengan mengetahui sejarah perjuangannya maka tanggung jawab besar mempertahankannya adalah harga mati. Marore kini sudah aman dan damai di pelukan Ibu pertiwi dan Merah putih berkibar gagah di puncak tertinggi Pulau Ini.







KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.
LABEL humaniora

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana