Tebar Pesona

05 Agustus 2013 09:34:27 Dibaca :

Setiap orang mempunyai kebutuhan untuk diperhatikan, dihargai, dipandang penting, dikagumi dan dipuji. Selanjutnya, setiap orang dengan caranya sendiri berusaha mendapatkan perhatian, penghargaan dan pujian serta melakukan hal-hal yang membuat diri menjadi penting dan pantas dikagumi. Apabila dalam usaha mendapatkan semua ini, seseorang sudah tidak dapat lagi melihat batas kewajaran, ada kemungkinan dia sudah terjerat oleh mental suka tebar pesona.


Orang-orang yang terkena mental suka tebar pesona mengalami gejala yang sama, mereka sangat peka akan segala ucapan dan tindak pujian. Dengan terang-terangan atau sembunyi-sembunyi mereka berusaha untuk mengumpulkan segala pujian. Dengan berbagai akal mereka berusaha keras untuk menunjukkan betapa hebat diri mereka, betapa tinggi bakat yang mereka miliki, betapa luar biasa prestasi mereka, dan betapa luas jaringan relasi mereka. Mereka sangat mengarahkan seluruh kegiatan untuk mendapat sanjungan dan pujian. Seluruh tujuan hidup mereka seolah-olah diperas menjadi satu: menarik perhatian, mendapatkan pujian, menikmati sanjungan di mana saja, kapan saja dan dari siapa saja.


Dalam pergaulan mereka suka memberi kesan baik, hebat, terhormat. Mereka hanya tahan berteman dan bersahabat dengan orang-orang yang dapat memenuhi kehausan mereka untuk mendapatkan pujian. Untuk mendapatkan pujian dari orang lain itu, mereka murah melempar pujian, penghargaan dan perhatian. Namun anehnya, mereka seperti tidak mungkin dipuaskan. Berkat kegigihan mencari, mereka banyak sekali mendapatkan pujian yang mereka inginkan. Tetapi setiap kali mereka mendapat pujian, demikian cepat akibat pujian itu lenyap. Hidup mereka menjadi hambar lagi. Maka mereka mulai lagi mencari pujian untuk mengisi hati mereka. Demikian seterusnya.


Kalau usaha mendapatkan pujian dengan berlagak baik, hebat dan terhormat tidak berhasil, tidak jarang orang yang terjerat mental tebar pesona berlaku sebaliknya. Dengan berbagai cara dan akal mereka menampilkan diri sebagai orang dungu, tolol, bodoh dan tidak berharga. Dengan lancar mereka mengemukakan kekurangan dan cacat-cacat mereka. Enak saja di muka umum mereka mengobral rahasia kesalahan dan dosa-dosa mereka. Semua itu dimaksudkan untuk mendapatkan tanggapan sebaliknya. Biar orang yang mendengar omongan mereka membantah mereka. Biar orang yang mendengar mereka menjawab dengan kata-kata, “Bukan, kau orang yang pandai dan hebat.” Maka terpukullah mereka apabila ada orang yang menanggapi mereka apa adanya, tidak menangkap udang di balik batu dan tidak mengerti maksud tersembunyi mereka.


Kita mengenal empat macam kepribadian. Pertama, kepribadian seperti kita pikirkan. Kedua, kepribadian seperti orang lain pikirkan. Ketiga, kepribadian seperti kita mengharapkan orang lain berpikir. Keempat, kepribadian seperti apa adanya. Mereka yang terkena mental tebar pesona terlalu sibuk dengan kepribadian jenis ketiga, dan melupakan kepribadian jenis keempat. Mereka tidak tahan menghadapi kepribadian mereka seperti apa adanya. Mereka terlalu memimpikan kepribadian seperti ada dalam pikiran orang lain. Dan itu pun bukan sebagaimana orang lain memandang, melainkan sebagaimana mereka inginkan. Karena itu tidak mengherankan bahwa hidup mereka tidak kokoh, goyah dan mudah terombang-ambing oleh berbagai tanggapan orang yang sering tidak jelas maksud dan tujuannya.


Kita semua harus bangga atas segala hal yang baik yang ada pada diri kita. Kita mesti bergembira atas segala kemampuan bakat dan keutamaan yang kita miliki. Kalau melihat kebaikan kita, orang lain lalu menyampaikan pujian kepada kita, wajiblah kita terima dengan senang, sambil mengucap terima kasih kepadanya dan kepada Tuhan yang telah memberikannya kepada kita. Tetapi pujian tidak mungkin dikejar sebagai tujuan. Pujian tidak ada pada dirinya sendiri dan berdiri sendiri. Dia adalah akibat dari perbuatan baik. Kalau saja kita bersedia menjalankan hal-hal yang baik dan berguna bagi sesama, ada kemungkinan kita akan mendapatkan pujian. Barangkali tidak hebat. Tetapi tulus.


Kecuali itu, kalau tujuan hidup kita hanya mencari pujian, ada bahaya kita tidak mengambil kegiatan atau melakukan hal-hal yang sebetulnya sangat perlu, tetapi tidak akan membawa pujian orang. Lebih lanjut lagi, sikap ini malah mengundang antipati orang terhadap kita. Mereka malah enggan memberi pujian kepada kita, juga apabila hal yang kita kerjakan sebetulnya pantas mendatangkan pujian.


Demi perkembangan pribadi dan hidup kita, kita membutuhkan pujian. Pujian merupakan pernyataan penghargaan kepada pribadi dan prestasi kita. Pujian yang tulus memberi kekuatan kepada hati kita yang lesu, memberi keberanian kepada hati kita yang kecut dan semangat kepada hati kita yang loyo. Pujian menciptakan suasana hangat dan menyenangkan. Pujian memperlancar kehidupan bersama. Dan membantu menyelesaikan banyak persoalan hidup. Pujian memberi keseimbangan pada hidup yang kadang-kadang berat ini.


Tetapi gila pujian atau tebar pesona merupakan penyakit. Seperti penyakit-penyakit lain, penyakit ini merugikan. Olehnya hidup kita menjadi tidak simbang, kepribadian kita goyah, dan peran serta kita kepada sesama palsu. Hal-hal inilah yang sebaiknya menjadi bahan renungan bagi mereka yang dikuasai oleh mental tebar pesona, sebagai langkah untuk mengatasi kegoyahan pribadi dan ketidakseimbangan hidup mereka. Semoga bermanfaat.


Salam damai penuh cinta.


***


Solo, Senin, 5 Agustus 2013


Suko Waspodo


Suko Waspodo

/sukowaspodo

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Buruh Pendidikan, Penikmat Seni dan Pengamat Kehidupan.
"Rahasia hidup bukanlah melakukan apa yang kita sukai, tetapi menyukai apa yang harus kita lakukan"

www.sukowaspodo.blogspot.com

Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?