HIGHLIGHT

Tips Ngeblog Ala Jokowi-Ahok

08 Agustus 2012 07:00:33 Dibaca :
Tips Ngeblog Ala Jokowi-Ahok
Ilustrasi (foto: sourceblogger.com)

NGEBLOG atau menulis, pada hakekatnya adalah pelajaran kehidupan. Kita bisa memperdalam ilmu tulis-menulis dengan berkaca pada apa yang terjadi di sekitar. Karena menulis pada hakekatnya sama dengan menanam bunga. Ngeblog atau menulis sama dengan belajar telepati. Kita bisa belajar menulis dengan mengambil 'teladan' pada Partai Demokrat atau Lady Gaga. Dan yang terkini, kita bisa belajar ngeblog dengan meminjam kiat-kiat yang dilakukan pasangan Jokowi-Ahok.

Tips ngeblog apa saja yang bisa kita pelajari dari Jokowi-Ahok? 1. Pertegas identitas

Pasangan Jokowi-Ahok mengejutkan Tanah Air ketika memilih baju kotak-kotak sebagai identitas. Mengejutkan, karena ini teknik pencitraan yang belum pernah dilakukan siapapun sebelumnya. Dalam waktu singkat, baju kotak-kotak menjadi trade mark pasangan ini. Baju kotak-kotak memberi sugesti positif bagi masyarakat. Kini jika melihat baju kotak-kotak (apapun warnanya) asosiasi masyarakat akan mengarah ke pasangan Jokowi-Ahok.

Pada ngeblog, sangat penting untuk mempertegas identitas. Jika ngeblog di blog pribadi, identitas bisa ditandai dengan theme atau template yang unik. Atau dengan menambahkan foto atau gambar unik di header. Atau membuat favicon, ikon mungil yang biasa muncul di browser. Bisa juga melalui tagline.

Pada blog keroyokan seperti Kompasiana, identitas seseorang diketahui melalui avatar atau profile picture. Jadi, pilihlah avatar dengan bijak. Dan jika sudah memilih, jangan terlalu sering mengganti avatar karena bisa membuat pembaca (atau bahkan teman) merasa bingung. Secara psikologis, ketika seseorang mengganti avatar, dia akan terlihat sebagai 'orang asing'. Apabila avatarnya sudah sangat dikenal, jika karena sesuatu dan lain hal Anda terpaksa membuat akun baru karena akun lama  dihapus oleh admin, pihak yang pernah menjadi teman akan langsung mengenali.

Identitas juga bisa dipertegas melalui gaya bahasa atau tema yang dipilih. Di Kompasiana ada  yang dikenal karena gaya tulisannya yang 'Betawi banget'. Ada yang suka menulis humor, baik yang biasa-biasa atau yang tergolong 'humor satire'. Ada yang senang menulis teknologi, ada yang suka membahas olahraga secara umum, ada yang suka otomotif (dan secara terbuka mengaku sebagai penggemar Valentino Rossi), ada yang gemar menulis tentang catur, ada yang spesialis penulis konflik PSSI-KPSI, ada yang suka membahas agama pihak lain, ada yang suka menuding pihak lain sebagai 'sekuler-liberal', ada yang fasih menulis puisi, ada yang spesialis cerpen, ada yang senang menulis tentang seks, dan semacamnya. (Jika teman-teman bisa mengidentifikasi siapa saja Kompasianer yang sesuai dengan kriteria di atas, artinya Kompasianer itu telah berhasil membangun identitasnya di Kompasiana).

2. Jangan arogan

Jokowi-Ahok dikenal sebagai pasangan yang ramah. Tidak arogan. Mereka tidak memasang sekat (baik yang kelihatan maupun tidak) dengan konstituen. Semasa kampanye, mereka mendatangi langsung masyarakat dan menyapa mereka. Masyarakat tidak diperlakukan sebagai 'aset untuk mendulang suara' namun benar-benar dilihat sebagai sesama yang setara.

Dalam ngeblog, arogan merupakan godaan terbesar. Biasanya arogan ini berkaitan dengan narsisme. Banyak blogger (dan juga Kompasianer) yang merasa dirinya paling benar dan semua orang pasti salah. Ciri khas khusus dari blogger yang arogan adalah kebiasaan menghapus komentar dari pihak yang berseberangan.

Memang, di dunia blog, menghapus atau memoderasi komentar merupakan hak mutlak pemilik blog. Menghapus komentar bisa dipahami jika komentarnya bernada menghina atau menghujat. Namun jika yang dihapus adalah komentar yang secara substansi berseberangan dengan pendirian si blogger, maka itu pertanda arogan.

Jadi, sedapat mungkin, bersikaplah ramah kepada pembaca. Balaslah komentar. Jawab pertanyaan pembaca. Dan jika punya waktu, kunjungi blog atau akun lain dan berkomentarlah di sana.

3. Bukti, bukan janji

Sebelum memutuskan untuk mengikuti pilkada di DKI, baik Jokowi maupun Ahok telah memiliki pengalaman di daerah masing-masing. Di masing-masing daerah, keduanya telah membuktikan bahwa mereka bisa memimpin, bisa membawa masyarakat ke tahap yang lebih baik. Tentu saja, persoalan yang dihadapi DKI jauh lebih kompleks, namun setidaknya metode kepemimpinan dan berbagai strategi masih bisa diterapkan.

Jokowi-Ahok tidak mengklaim sebagai "ahlinya". Namun dari apa yang sudah mereka lakukan, masyarakat bisa menilai bahwa setidaknya Jokowi-Ahok tahu apa yang harus dilakukan.

Pada sisi tertentu, ngeblog adalah transfer ilmu. Seseorang yang punya pengalaman tertentu bisa membagi kepada pembaca. Tentu saja idealnya apa yang dibagi memang benar-benar pengalaman pribadi yang bersangkutan.

Jadi misalnya ada yang membuat tulisan: "Cara cepat belajar berenang", tentu harus diasumsikan bahwa si penulis memang bisa berenang dan bukan membuat tulisan berdasarkan "teori" dari Google.

Di dunia maya, banyak blogger (terutama yang mencari uang dari internet) yang cenderung melebih-lebihkan sesuatu. Pasti banyak dari pembaca yang pernah melihat iklan "menjual mimpi", baik yang ditulis dalam bahasa Indonesia atau Inggris. Yang menyatakan "Dengan Internet Anda bisa kaya dalam semalam", atau "Dengan Internet Anda bisa mendapat uang sekalipun sedang tidur". Memang, banyak orang yang kini menjadi kaya raya karena berbisnis di internet. Namun yang pasti itu tidak didapatkan dalam semalam.

Untuk berhasil dalam bisnis internet diperlukan kerja keras, kesungguhan dan komitmen. Juga memerlukan berbagai strategi. Satu hal yang pasti, uang tak akan datang jika kerja si blogger hanya tidur-tiduran, hehehe

Sebagai blogger, Anda tak perlu menulis besar-besar bahwa Anda ahli dalam bidang tertentu. Jika Anda rutin membahas topik tertentu,  cepat atau lambat pembaca akan mengenali. Jika yang dipaparkan selalu up to date, selalu membawa nilai dan informasi baru bagi pembaca, maka label "ahli" akan tersemat secara otomatis.

4. Disukai dan dibenci Pasangan Jokowi-Ahok disukai banyak orang. Itu tercermin pada hasil Pilkada putaran pertama. Namun, seperti yang kita bisa lihat, banyak juga yang membenci. Berbagai kampanye hitam dan isu dikembangkan.

Disukai dan dibenci adalah resiko yang harus ditanggung oleh Jokowi-Ahok yang kini menjelma menjadi "selebriti politik". Dan saya pikir, pasti keduanya telah menyadari resiko ini.

Yang menarik adalah Jokowi-Ahok tidak membalas makian dengan makian. Tidak membalas fitnahan dengan fitnahan. Beberapa saat setelah nama mereka disebut-sebut oleh Rhoma Irama di sebuah mesjid, Jokowi-Ahok "membalas" dengan elegan. Yakni memutar kaset lagu-lagu Bang Haji ketika bersantap malam!!!

Sebagai blogger, Anda berpeluang untuk disukai banyak orang. Namun peluang untuk disukai sama besar dengan dibenci.

Penulis novel terkenal Stephen King dalam bukunya "On Writing" pernah mengatakan, sangat mustahil tulisan kita untuk disukai semua orang. Bahkan jika tulisan kita disukai sebagian pembaca, itu sudah sangat bagus. Sebagus apapun tulisan kita, pasti akan ada yang tidak suka. Ada yang tidak setuju. Dan ada yang membenci. (Sama halnya dengan tulisan ini, pasti ada pembaca yang tidak suka dan mungkin dalam hati berkomentar: Ah menghubungkan Jokowi dengan Ngeblog? Tulisan ini maksa bangettt, hehehehe)

Ketidaksukaan biasanya dilampiaskan dalam komentar, yang memang merupakan fitur wajib di blog. Mulai dari yang halus, menyindir, sambil yang memaki-maki secara terbuka.

Bagaimana seharusnya kita menyikapi komentar bernada makian? Pengalaman saya, tetap tenang. Jangan terpancing. Sebisa mungkin arahkan agar diskusi sesuai konteks. Jika si komentator masih tetap ngeyel dan memaki, hadapi saja dengan bercanda. Jangan terlalu disimpan di hati.

Jika memang tak siap dimaki, selektiflah memilih topik. Di Kompasiana, peluang Anda untuk dimaki-maki sangat besar jika menulis topik tentang PSSI, dan Anda secara spesifik menulis bahwa PSSI gak becus. Saya punya pengalaman soal itu, sekalipun yang saya bahas tak terkait langsung dengan PSSI (saya menulis bukan dengan akun Suka Ngeblog tapi akun lain, hehehe).

Sama halnya dengan Jokowi-Ahok, sebaiknya kita menahan diri untuk tidak membalas makian dengan makian. Dalam sebuah diskusi, ketika seseorang mulai memaki, sesungguhnya itu pertanda kekalahan. Makian merupakan senjata pamungkas dari pihak yang tak tahu lagi bagaimana membalas dengan logis, dan memilih cara termudah dengan memaki secara personal.

Jadi jika dalam sebuah perdebatan, setelah berdiskusi panjang lawan diskusi mulai memaki, tersenyumlah. Karena ketika Anda mulai dimaki, sesungguhnya itu pertanda bahwa lawan diskusi telah menyerah!!!

p.s

Jika punya materi yang cukup, kayaknya menarik juga jika kapan-kapan menulis tentang "Tips Ngeblog ala Foke-Nara", atau "Tips Ngeblog ala Rhoma Irama" ya? Hehehehe

Salam,

Suka Ngeblog

/sukangeblog

TERVERIFIKASI (BIRU)

Blogger, writer dan 'ghostwriter' (pernah terlibat dalam penulisan buku tentang Gita Wirjawan serta Joko Widodo). Dengan menggunakan belasan nama pena sudah menerbitkan lebih dari seratus ebook yang kini dijual di amazon.com, smashwords, Barnes & Noble, iBooks, Kobo dan OverDrive. Penggemar Liga Inggris (dan timnas Inggris), penikmat sci-fi dan spionase, salah satu penghuni Rumah Kayu, punya 'alter ego' Alien Indo, salah satu penulis kisah intelejen Garuda Hitam, cersil Darah di Wilwatikta dan BAJRA Super Hero.Terkadang suka menulis di www.faryoroh.com
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?