HIGHLIGHT

"Soegija," Wajib Ditonton Politisi dan Pemimpin Indonesia

10 Juni 2012 11:42:28 Dibaca :

Soegija, judul film garapan Garin Nugroh, yang diambil dari nama kecil Uskup Pribumi pertama Indonesia, Mgr Albertus Soegijapranata SJ, sebuah film yang sangat bagus untuk dihayati di tengah penyakit krisis kepemimpinan yang menjalar di tubuh negara Indonesia.

Alur cerita dalam film tersebut mengalir mulai dari persiapan pelantikan Soegija sebagai Uskup hingga tahun 1950 di akhir kekuasaan Belanda di tanah air. Sepanjang film dihiasi dengan musik-musik yang tematis sesuai dengan konteks peristiwa yang disajikan sangat apik, seperti lagu Zandvoort Ann De Zee, yang tidak asing bagi telinga masyarakat Indonesia sebagai lagu Tanjung Perak dan lagu Als de Orchideen Bloeien (Bunga Anggrek) yang disajikan dalam musik keroncong.

Dialog-dialog dalam film menggunakan banyak bahasa seperti Bahasa Indonesia, Belanda dan Jawa yang hampr mendominasi sepanjang film ini, lalu ada pula bahasa Inggris, Jepang dan Bahasa Latin sebagai bahasa resmi dalam upacara keagaamaan umat Katolik.

Candaan nakal khas “wong cilik” terutama dalam dialog antara Koster (pembantu uskup) yang diperankan Butet mengalir dengan khas dan sedikit "kurang ajar", terutama saat Mgr Soegija sakit dan harus diperiksa, Tugimin sempat mengomentari saat Soegija kecil sakit dan harus diruwat  dibuang ke tempat sampah. Selain tu Tugimin berceloteh lucu juga saat berdialog dengan Mgr Soegija tentang Tugimin yang masih “belum laku” dan konsep hidup selibat Mgr Soegija.

Nilai utama yang disampaikan dalam film ini adalah bagaimana seorang pemimpin melayani masyarakat dan berjuang secara komprehensif demi tujuan utama kepentingan kemerdekaan bangsa Indonesia. Peran seorang Uskup dalam membawa orang Katolik untuk menjadi Indonesia 100% kelihatan sangat jelas dalam khotbah yang disampaikan kepada umat. Selain itu ditampilkan pula bagaimana strategi diplomasi Uskup Soegija melalui koneksi Vatikan untuk membantu menegakkan kedaulatan bangsa Indonesia.

Uskup Soegija sangat humanis dan nasionalis, dua watak yang sudah dilupakam pemimpin dan politikus jaman sekarang, walaupun mempunyai tugas sebagai Uskup, Soegija tetap saja mengayomi banyak kalangan dan bertindak dalam konteks kebangsaan, tidak berpikiran sempit hanya untuk Katolik saja. Pandangan-pandangan kebangsaan dan nasionalisme ditanamkan kepada umat Katolik melalui khotbah yang tentu saja menjadi suara resmi Gereja.

Film Soegija ini selain menceritakan tentang peran “silent  diplomacy” dalam menegakkan kedaulatan bangsa, juga menyindir beberapa isu politik yang berkembang saat ini. Penegasan tentang bagaimana Sultan HB IX dan Keraton Yogyakarta menjadi “pemodal” kepada pemimpin republik saat Ibukota pindah di Yogyakarta seolah menjadi sindiran tentang masalah penetapan keiitimewaan Daerah  Istimewa Yogyakarta oleh pemimpin bangsa saat ini yang tak kunjung selesai.

Secara keseluruhan film ini sangat layak dinikmati oleh semua kalangan, termasuk pecinta musik yang pasti terhibur oleh musik-musik yang disajikan. Di luar sisi hiburan film ini bisa menginspirasi bagaimana seorang pemimpin menjadi moderat, plural, nasionalis, humanis, dan berpolitik secara cerdas. Walaupun sebenarnya film ini lebih tepat diluncurkan bulan Agustus saat menyambut bulan saktral bangsa Indonesia

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?