Anto Kuddi
Anto Kuddi karyawan swasta

The truth beyond an everything

Selanjutnya

Tutup

Kotak Suara

Kalah atau Menang, Ahok Sudah Memberikan Inspirasi dan Standar Baru Politik Indonesia

9 April 2017   16:34 Diperbarui: 9 April 2017   16:47 583 3 0

Sosok Ahok banyak diperbincangkan orang sejak maju sebagai Cawagub bersama Jokowi tahun 2012 dan selalu menjadi daya tarik tersendiri. Sebelum menjabat sebagai gubernur beliau juga sudah pernah mengenyam bagaimana kerja dan suasana di DPRRI dan pernah menjadi kepala daerah.

Pengalaman demi pengalaman yang dilalui Ahok dan suka dukanya berkecimpung dalam dunia politik apalagi dalam sistem birokrasi yang sedemikian pelik memberikan kita pelajaran:

Masih ada harapan untuk selalu mempertahankan kebenaran dan kejujuran dalam pemerintahan. Bukan hal yang baru jika sebagian besar orang menganggap bekerja dalam dunia pemerintahan dipenuhi oleh hal-hal yang membuat kita sabagai abdi negara tidak bekerja dengan baik. Baik dari segi pemimpinnya, etos kerja rekan kerja, fasilitas, dan sampai kepada kebijakan yang membuat kita melongo. Sehingga, seseorang yang mempunyai prinsip untuk selalu memperjuangkan kebenaran, kejujuran dan pro rakyat adalah hal yang tidak mudah dipertahankan bahkan hilang seiring dengan waktu. Berjuang sendiri adalah hal yang mustahil. Dalam hal ini yang kita bisa pelajari dari Ahok adalah masih ada orang yang bisa berdiri dan bertahan untuk memperjuangkan kebenaran dan kejujuran dalam pemerintahan yang korup.

Omongan dan kerja perlu sejalan. Retorika dan janji-janji politik pada saat kampanye selalu dilakukan untuk menarik banyak suara, kelak jika sudah menang janji-janji tinggallah janji. Yang bisa dipelajari dari Ahok adalah pantang bagi saya untuk tidak melakukan apa yang sudah keluar dari mulut saya.

Kaum minoritas tidak selalu minor. Dunia politik demokrasi yang mengambil suara terbanyak dalam pemilukada tidaklah menjadi halangan besar bagi Ahok. Mulai dari semangat anak-anak muda yang mengumpulkan KTP, dukungan partai politik, sampai pada dukungan masyarakat Indonesia di luar negeri yang terlepas dari suku, ras dan agama. Inilah Bhineka Tunggal Ika yang sesungguhnya.

Selalu ada jalan untuk orang yang benar. Dari sekian banyaknya tuduhan yang diarahkan ke Ahok dan dari sekian banyaknya politikus penting yang mau menjatuhkan Ahok belum ada yang berhasil, bahkan satu per satu hilang bak ditelan bumi dan belakangan terungkap kedoknya sendiri. Yang bisa dipelajari dari Ahok adalah jangan takut selama kamu berbuat benar yang lain lewat.

Ahok saja yang non muslim bisa sampai sejauh ini bagaimana dengan yang muslim. Dengan modal sikap jujur, transparansi, bekerja dan cerdas mencari solusi dapat mengantar kita menjadi pemimpin di negeri ini. Ahok sudah membuktikan semua ini. Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa isu agama juga sedikit berpengaruh dalam pilkada. Seandainya Ahok seorang yang Muslim mungkin tidak ada halangan untuk menjadi orang nomor satu di negeri ini dan mungkin isu penodaan agama juga tidak akan pernah terjadi.

Sikap marah pada waktu, tempat dan cara yang tepat diperlukan untuk mengubah etos kerja buruk birokrasi pemerintahan yang sudah mendarah daging. Orang awan yang mengurus ktp, surat domisili, paspor, KK, dan banyak surat lainnya yang hanya berurusan dengan petugas instansi terkait mungkin 1x dalam setahun, pulang marah-marah dan ngoceh mengeluhkan cara kerja petugas, belum lagi dengan pungutan liar. Bagaimana dengan dengan Ahok yang bertemu dengan petugas-petugas ini setiap hari? Marah kepada petugas yang  sering nakal adalah hal yang wajar dan tepat. Mengubah kebiasaan buruk yang sudah mendarah daging membutuhkan efek jerah dan dapat menjadi pelajaran untuk yang lain.

Inilah pelajaran yang dapat kita petik dari Sang Ahok. Kalah atau menang nantinya, Ahok tetap memberikan inspirasi bagi penerus bangsa.