HEADLINE

Tionghoa Berpolitik? Gila atau Urat Baja?

17 September 2012 19:31:22 Dibaca :
Tionghoa Berpolitik? Gila atau Urat Baja?
Basuki Tjahja Purnama (Kompas.com)

Rekan-rekan kompasianer, izinkan saya, yang keturunan tionghoa ini berbagi pengalaman yang tidak akan pernah saya lupakan:

  1. Dulu ibu saya selalu membanggakan kelengkapan surat-surat kami sekeluarga, seperti Akte Kelahiran, KTP, KK, SBKRI, Noppen (dulu penting ya?), dll. Surat-surat itu bahkan disimpan dengan aman melebihi kami menyimpan barang berharga lainnya. Kami takut sekali tidak diakui sebagai warga negara Indonesia bila tidak ada surat-surat tersebut.
  2. Karena mata saya yang sipit ini, sejak kecil sampai kuliah sering dipukuli orang. Di terminal Senen pernah digampar kondektur metro mini, dikeroyok rame-rame di depan gajah mada plaza, ditodong di kopami 12 depan Roxi dan dirampok di miniarta pasar minggu – depok.
  3. Di saat kerusuhan 1998, merebak isu pembakaran rumah-rumah cina. Tetangga saya bahkan mengatakan bila rombongan perusuh lewat, akan ditunjukkan rumah orang cina agar yang dibakar hanya rumah cina saja, supaya tidak meluas.

Walaupun saya bersyukur saat ini Jakarta, dan juga Indonesia, sudah banyak berubah, namun trauma tetap saja melekat. Oleh karena itu, saya sungguh terhenyak melihat Pak Ahok dengan gagah berani maju sebagai calon wagub di Jakarta. Apa yang ada di otaknya? Apa tidak takut nih orang? Saya melihat ia dengan santainya masuk ke kampung-kampung kumuh Jakarta, berbincang-bincang dengan warga, membagi-bagikan nomor teleponnya. Pak Ahok juga berani berdebat dengan Pak Nara yang ketua Forkabi itu (maklum, saya trauma banget sama yang namanya ormas). Ya kalo pak Ahok menang, kalo engga menang, apa engga jadi bulan-bulanan nantinya.

Dalam debat terakhir, saya mendengar ia dengan percaya diri berkata: ‘di Belitung Timur, saya dianggap pahlawan, di antara 93% komposisi penduduk yang muslim”. Saya percaya pada kata-katanya. Bagaimanapun, karakter tidak dapat disembunyikan. Orang yang terbiasa baik, akan tetap terlihat baik adanya. Dan pada Ahok, terpancar aura tersebut. Kecerdasannya juga keluar dengan alamiah.

Kesimpulan saya, Pak Ahok tidak gila. Ia hanya memiliki kekuatan urat baja. Sekuat keinginannya membaktikan diri pada negeri ini. Sekuat pesan ayahnya yang mau anaknya membantu masyarakat sekitar.

Pak Ahok tidak gila. Ia hanya memiliki keberanian bak bambu runcing melawan senapan Belanda. Keberanian yang datang dari ketulusan dan keikhlasannya berjuang.

Saat ini saya bukan warga DKI sehingga tidak dapat ikut memilih. Namun bagi rekan-rekan di Jakarta, jangan ragu untuk memilih pak Ahok. Sebagai warga keturunan tionghoa, percaya pada saya, pak Ahok mengambil langkah yang sangat berani dengan segala resiko bagi dirinya dan keluarganya. Anda bisa membayangkan bagaimana Jakarta jadinya jika dipimpin oleh orang yang sanggup berkorban sebesar ini? Tentu dia tidak akan main-main dengan jabatannya. Ia akan jujur dan tidak korupsi, mengingat sebagai pengusaha ia tidak kekurangan uang. Ia akan bekerja keras, membuktikan ketulusannya dan kecerdasannya membangun Jakarta yang sejahtera bagi semua kalangan, seperti yang sudah dilakukannya di Belitung Timur.

Terima kasih pak Ahok, anda sudah memberi contoh keberanian tanpa sekat membangun Indonesia tercinta

socrates jadul

/socrates

Berjuang untuk tidak frustrasi menjadi Indonesia sejati
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?