Lembu-lembu Basan

19 Februari 2012 22:44:44 Dibaca :

Tulisan singkat ini lahir karena ingin menjawab pertanyaan Bu Aridha Prassetya kepada saya ketika mengomentari tautannya di facebook mengenai "Mawar Hitam" untuk Miranda dan Angie. Keduanya ibarat lembu-lembu Basan, yang ada di Gunung Samaria.

Basan sebuah dataran di sebelah timur Sungai Yordan, terkenal karena tanahnya yang subur dan lembu, domba dan ternak yang sehat dan tegap-.tegap (bdk. Ul 32:14; Yeh 39:18; Mzm 22:13; Yer 50:19). Simbolisasi Amos tentang lembu-lembu betina dari daerah Basan yang hidup terjamin karena selalu diberi makan oleh para tuannya sehingga tampaknya sehat, kuat, montok dan enak dipandang mata, sebenarnya menunjukkan karakter kaum perempuan, para nyonya Samaria yang manja dan hedonis, dan tidak peduli terhadap kemiskinan yang melilit kaum kecil.

Mereka adalah para perempuan yang mabuk kemewahan dan oleh Amos dijuluki sebagai "lembu-lembu Basan." Mereka adalah para perempuan koruptor pasif yang turut mendukung para suaminya yang sedang mendapat kesempatan berkuasa untuk memeras rakyatnya dengan membuat aturan dan perintah yang macam-macam. Mereka tidak pernah mendukung suaminya agar "keadilan bergulung-gulung seperti air dan kebenaran seperti sungai yang mengalir" (Am 5:24).

Dalam konteks kita saat ini, Miranda dan Angie menunjukkan bahwa perempuan tidak lagi hanya sebagai pelaku korupsi pasif seperti zamannya Amos. Perempuan pun menjadi sangat aktif melakukan tindakan korupsi. Mereka itu, entah karena punya koneksi, uang, kekuasaan yang dimiliki suami mereka (misalnya Nunun Nurbaiti) atau orang tua mereka (mungkin seperti Melinda Dee), mampu melakukan korupsi dengan sangat baik. Mereka itu dalam lingkungan sosial adalah perempuan-perempuan terhormat yang kehadirannya mengundang kekaguman karena cantik dan penghormatan dari rakyat sebab mereka itu adalah istrinya pejabat kita atau anaknya pejabat kita. Mereka itu terhormat dan layak diberi gelar yang terhormat pula: Lembu-lembu Basannya Indonesia.

Selain sebagai pelaku korupsi aktif, mungkin saja banyak istri pejabat yang menjadi pelaku korupsi pasif. Mereka adalah para nyonya yang lengah dan mungkin juga sengaja tidak mencegah para suaminya agar tidak melakukan tindakan yang memalukan seperti korupsi, kolusi dan nepotisme. Mereka adalah perempuan, para ibu yang menghabiskan waktu berjam-jam menonton sinetron dan telenovela sambil menunggu pembantu menyiapkan makanan, mencuci, setrika dan mengasuh anak. Mereka adalah para wanita yang sengaja menutup mata terhadap penderitaan dan kemiskinan rakyatnya, "yang memeras orang lemah, menindas orang miskin dan mengatakan kepada tuan-tuanmu: bawalah kemari supaya kita minum-minum!" (Am 4:1).

Pelaku korupsi pasif bisa juga anak-anak gadis yang selalu menuntut lebih dari orang tuanya hanya untuk penampilan konsumtif; iPad terbaru untuk mengontak sang pacar; motor dan mobil produksi terbaru buat tumpangan laki-laki macho peraih mahkota keperawanan. Mereka adalah gadis muda yang tampil menggoda, merangsang hasrat laki-laki sambil menawarkan jasa untuk berpesta seks dan narkoba.

Perempuan pelaku korupsi pasif itu juga adalah para pemuja kemewahan yang hedonis, yang tampak cerah ceria, modis dan elegan, make-up menebar wajah, parfum harum mewangi, lipstik menghias bibir, gincu melabur pipih, kuteks menutup kuku kaki dan tangan, kalung dan gelang emas melingkar leher dan tangan, intan permata bergelantung telinga, dan segala tetek bengek asesorisnya lainnya. Mereka adalah para perempuan yang berjalan sambil menjenjang leher dan mengangkat bahu, berkendara mewah, makannya di KFC, berwisata ke aneka taman ria, melancong ke manca negara, mengunjungi tanah suci, berdoa dan sholat dengan rajin tanpa peduli dan jauh dari rasa iba atau solider terhadap penderitaan orang kecil di sekitarnya. Sungguh! Mereka adalah "lembu-lembu Basan" waktu ini.

Amos, seorang nabi dan gembala yang hidup pada tahun 781-743 SM, memberikan gambaran yang jelas atas perilaku perempuan elit yang berfoya-foya dan menari-nari di atas kemiskinan rakyat. Yang menarik dari kritik sosial Amos itu adalah kemampuannya untuk meletakan persoalan yang sebenarnya tanpa kesan menonjolkan bias jender. Ia ingin menegaskan bahwa yang melakukan korupsi itu tidak hanya laki-laki atau yang tidak melakukan korupsi itu bukan saja perempuan. Keduanya mempunyai peran yang sama hanya modusnya berbeda. Dalam kutipan di atas perspektif "kesetaraan" jender itu sangat jelas terungkap, dimana ia melihat laki-laki sebagai pemeran yang aktif sedangkan perempuan sebagai pemeran pasif. Secara aktif memang perempuan tidak melakukan korupsi, tapi pola hidup dan tingkah lakunya sangat jelas menampilkan kategori itu. Laki-laki yang korupsi, wanita yang menikmati dan berfoya-foya. Keduanya sama-sama memberi kontribusi dalam proses pemiskinan yang masif.

Waktu itu, Amos sepertinya tidak pernah melihat ada perempuan dari kalangan elit itu yang menunjukkan rasa solider terhadap penderitaan kaum miskin. Bahkan rasa malu terhadap tindakan korupsi tidak terlihat di kalangan perempuan Samaria. Kombinasi antara perilaku korup para suami dan mental hedonis kaum perempuannya menjadi kontribusi utama terhadap situasi yang tidak lama lagi akan membawa keruntuhan kepada Israel. "Akan datang masanya bagimu, bahwa kamu diangkat dengan kait dan yang tertinggal di antara kamu dengan kail ikan. Kamu akan keluar melalui belahan tembok, masing-masing lurus ke depan, dan kamu akan diseret ke arah Hermon" (Am 4:2-3).

(Diolah dari berbagai sumber).

Sintus Runesi

/sintusrunu

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Senang dengan kata-kata berikut:”Hidup batin adalah tidak mengetahui apa yang engkau kehendaki tetapi memahami yang tidak engkau butuhkan (Anthony Melo, Doa Sang Katak 2).” ingin selalu berteman sunyi, menyukai sastra dan filsafat.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?