Berhitung Cepat, Kecakapan Kadaluwarsa?

03 Agustus 2012 05:46:55 Dibaca :
Berhitung Cepat, Kecakapan Kadaluwarsa?
Belajar Aritmetika & Kreativitas via Angka

Artikel ini ditulis sebagai tanggapan atas sebagian paparan artikel pada harian Kompas, sabtu 16 Juni 2012 dengan judul ”Pendidikan Asingkan Budaya Bernalar” yang ditulis oleh Prof. Iwan Pranoto. Guna memberikan pencerahan kepada sidang pembaca, saya akan coba meluruskan agar jangan terjadi salah persepsi atas sebagian paparan beliau. Pada sebagian artikel tersebut tertulis kalimat ”Dalam pembelajaran matematika, khususnya, bukannya bernalar tingkat tinggi yang dibelajarkan di ruang kelas, melainkan justru kecakapan kedaluwarsa, seperti berhitung cepat dan menghafal rumus tanpa makna”.

Tentu saja benar bahwa menghafal rumus tanpa makna merupakan kecakapan kedaluwarsa. Namun, apakah juga kemampuan berhitung cepat juga merupakan kecakapan kedaluwarsa? Perlu dicermati dahulu bahwa untuk melatih siswa mempunyai kemampuan berhitung cepat minimal dapat dikelompokan menjadi dua golongan.

Golongan pertama adalah mereka yang berlatih berhitung cepat dilakukan secara Mekanis dengan pengulangan terus menerus. Salah satu contoh yang tepat masuk dalam pengelompokkan ini adalah berlatih berhitung cepat melalui metode aritmetika sempoa.

Golongan kedua adalah mereka yang mampu berhitung cepat melalui pembelajaran pengenalan pola angka secara Kreatif. Pada kelompok kedua ini, sebenarnya kemampuan berhitung cepat bukanlah tujuan yang utama, namun hanya merupakan ekses dari kemampuan mereka telah mengenali keteraturan pola angka. Tujuan utama proses belajar pada kelompok kedua ini adalah mengasah daya kreativitas melalui kemampuan mengenali keteraturan pola angka.

Keuntungan dengan mengasah daya kreativitas melalui angka adalah pengukurannya menjadi obyektif. Karena penilaiannya berdasarkan dua faktor yang terukur jelas yaitu kecepatan dan ketepatan dalam mengenali keteraturan pola angka. Hasil yang terlihat oleh orang lain dalam proses belajar asah kreativitas ini adalah berupa kemampuan berhitung cepat bahkan super cepat.

Kedua golongan di atas, bila dilihat dari luar akan sama-sama menghasilkan siswa yang berkemampuan hitung cepat walaupun melalui proses belajar yang berbeda. Nah, tentu saja apakah pada kelompok kedua, yang mampu menghasilkan siswa berhitung cepat tersebut juga masuk kategori kecakapan kedaluwarsa?

Tentu saja artikel ini ditulis dengan tujuan untuk lebih menjernihkan tulisan artikel sebelumnya. Bahwa bila belajar berhitung cepat sebagai tujuan utama maka sebenarnya hal itu dapat dikategorikan sebagai kecakapan kedaluwarsa. Namun apabila kemampuan berhitung cepat sebagai sarana untuk melatih daya kreativitas, justru itu masuk sebagai kecakapan luar biasa.

Dalam melatih daya kreativitas melalui media angka dapat dibagi menjadi dua kriteria. Kriteria pertama, melatih daya kreativitas melalui kemampuan pengenalan pola angka eksplisit. Misal terdapat dua data perhitungan pangkat yang mempunyai pola keteraturan yaitu 15 kuadrat = 225 dan 25 kuadrat = 625. Siswa diasah kemampuannya untuk melihat pola keteraturan pada soal dan hasilnya. Apabila siswa mampu mengenali pola keteraturannya maka dapat dibuktikan dengan eksekusi soal yang lebih besar akan menjadi mudah, cepat dan tepat.

Pola keteraturan pada soal adalah operasi bilangan kuadrat dan nilai satuan angka lima. Sedangkan pola keteraturan pada hasil adalah kotak pertama berisi perkalian antara angka puluhan dengan angka puluhan ditambah satu dan kotak kedua berisi angka tetap dua puluh lima. Apabila pola keteraturan telah mampu dikenali maka solusi soal yang lebih besar seperti kuadrat 85 dapat diselesaikan dengan cepat dan tepat. Hasil eksekusinya adalah kotak pertama berisi perkalian 8 dengan 8+1=9 yaitu 72, dan kotak kedua berisi 25, jadi hasil akhir kuadrat 85 adalah penggabungan bilangan pada kedua kotak tersebut yaitu 7225.

Kriteria kedua untuk melatih kreativitas via angka adalah kemampuan mengenali keteraturan pola Implisit. Latihan Ini membutuhkan daya kreativitas yang lebih tinggi, misal bilangan 275 sebenarnya tersusun dari dua bilangan kembar 25 yang diletakkan pada kotak puluhan dan satuan. Untuk membuktikan secara obyektif bahwa siswa mampu mengenali keteraturan pola Implisit tersebut maka digunakan faktor pengali sembilan puluh satu. Apabila siswa mampu mengenalinya maka perkalian antara 275 dengan 91 mampu dieksekusi dengan sangat cepat dan tepat.

Hasil eksekusi perkalian kedua bilangan di atas ternyata hanya menggeser isi bilangan yang ada pada kotak puluhan ke dalam kotak ribuan. Selanjutnya kotak ribuan berisi bilangan 25 dijumlahkan dengan kotak satuan berisi angka 25 menjadi 25000 + 25 = 25025. Kasus seperti ini merupakan salah satu contoh bagaimana kemampuan berhitung cepat menjadi sarana untuk melatih daya kreativitas.

Gagasan untuk melatih daya kreativitas melalui media angka juga telah diwujudkan secara nyata dalam ajang Olimpiade Kreativitas Angka. Tahun ini, pada tanggal 10 November 2012, merupakan OKA V yang akan diselenggarakan di Univ. AtmaJaya. Salah satu keunggulan menjadikan angka sebagai media untuk mengasah daya kreativitas adalah pengukuran kreativitas seseorang mampu terukur secara obyektif, karena variabel yang diukur baik kecepatan dan ketepatan semuanya merupakan ukuran kuantitatif. Selain itu daya kreativitas dalam mengenali keteraturan pola bilangan akan mampu berimbas ke dalam kreativitas bidang ilmu lain apabila dipelajari secara tekun. Sehinga jelas akan menjadi lebih berdaya guna seandainya daya kreativitas itu dapat diasah sedini mungkin.

Penulis : Stephanus Ivan Goenawan

Penggagas OKA & Penemu Metris

Stephanus Ivan

/sigmetris

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Nama lengkap: Stephanus Ivan Goenawan (SIG).
Sebagai Penemu Metris: Ilmu Hitung Penyempurnaan cara Tradisional/Vertikal & Dosen FT Univ. AtmaJaya.
Pada tahun 2009 telah memperoleh penghargaan dari Muri sebagai penemu Metris.
Penghargaan Kemenristek Tahun 2010: Penyempurnaan Ilmu Hitung di Dunia via Metris. Penulis Buku: Gen Metris, Mencetak Einstein, Metris Perkalian, Pangkat, Pembagian Ajaib. (sigmetris.com)

Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?