Belajar Dari Filosofi Buah Kelapa

13 Juni 2012 02:34:59 Diperbarui: 17 Agustus 2016 08:42:20 Dibaca : Komentar : Nilai :



Kelapa mungkin tidak pernah terbersit dalam benak kita, bahkan mungkin terpikirkanpun tidak oleh kita. Tapi coba kita simak dan pelajari terutama buahnya, kita akan terperanjat de-ngan filosofi yang terdapat di dalamnya. Sungguh sebuah filosofi yang teramat dalam dan begitu luasnya, sehingga jika di tulis menjadi sebuah karya tulis akan menjadi sebuah karya sastra yang sangat mahal nilainya.

Kalau diolah mulai sabut sampai pada isinya mengha-silkan berbagai manfaat dan bahan olahan yang memiliki berba-gai manfaat antara lain :

Seperti yang sudah dibuktikan oleh Bapak Wisnu Gardjito alumni IPB Bogor ini, yang telah berhasil menemukan olahan dari kelapa sebanyak 1600 macam jenis hasul olahan.

Dari sabutnya atau kulitnya ada 9 manfaat yang dihasil-kannya antara lain : untuk sapu ijuk, bahan bakar, pembuatan briket ramah lingkungan, pembuatan pupuk organik, men-etralisir air dan bau semen pada kolam ikan yang baru dibuat, untuk kerajinan tangan, 

pembuatan coco net, bahan baku spring bet dan jok, dan pembuatan keset. Kemudian batok kelapanya dapat diolah menjadi : arang batok kelapa, bahan bakar, dan da-pat disuling untuk bahan obat-obatan. Lalu isinya dan airnya da-pat menghasilkan berbagai macam jenis olehan seperti yang su-dah ditemukan oleh Bapak Wisnu Gardjito.

Berbagai hasil olahan buah kelapa oleh Wisnu Gardjito

Yang lebih mencengangkan adalah filosofi yang terka-ndung di dalam buah kelapa itu sendiri, sungguh menjadi se-buah bahan pelajaran dan hikmah yang amat sangat bernilai tinggi, betapa Agungnya Ilahi robbi dalam memberikan berbagai iktibar bagi manusia yang mau berfikir meng-gunakan akalnya. Tergantung mau dilihat dari sudut pandang mana filosofi buah kelapa, semua seakan-akan terjawab de-ngan sangat jelas.

Filosofi buah kelapa mengajarkan pada manusia tentang sebuah legalitas akan status manusia dalam sebuah kom-unitas, dan legalitas manusia dalam perjalanan keimanan dan spiri-tualitasnya. Disitu terangkum berbagai kelayakan yang seha-rusnya diterima dan dapat dimiliki oleh manusia secara sah dan secara absolut.

Dalam filosofi buah kelapa mengajarkan pada manusia un-tuk mencapai tahap mampu mengolah kelapa menjadi minyak, hingga dapat menjadi bahan dasar untuk berbagai bahan olahan lain, maka minyak tersebut harus memiliki kualitas tinggi. Manusia yang memiliki kualitas tinggi hingga mampu sebagaimana kelapa mampu menghasilkan sebuah minyak. Membutuhkan proses mulai dari dasar yakni proses mendudukkan pilar-pilar dasar kemanusiaan yang melekat dalam dirinya. Sebagaimana buah kelapa harus dikupas ter-lebih dahulu sabut kelapanya baru terlihatlah batok kel-apanya.

Sebelum mencapai batok kelapa sabut kelapa diolah sed-emikian rupa sehingga mampu menghasilkan nilai manfaat yang berdayana guna. Guna membantu proses lebih lanjut terhadap nilai kegunaan dari buah kelapa itu sendiri. Sebab hanya dengan menerjuni dan menghadapi semua hal yang terkait dengan apa yang sedang dihadapi, maka barulah dapat terlihat apa yang ha-rus dilakukan. Hal ini mengilustrasikan tentang mengelola diri manusia secara dhohir, berlakulah terhadap diri kita untuk ber-laku dan bertindak yang umum menurut orang banyak terlebih dahulu.

Setelah mampu mengelola dhohir atau sabut dengan baik dan benar, maka baru telihatlah yang namanya batok kelapa. Dalam mengupas dan mengelola batok kelapa tidak dapat se-mbarangan dilakukan, kalau tidak ingin daging kelapanya dan air kelapanya rusak. Dari mempelajari proses dan tahapan da-lam memproses untuk mendapatkan minyak dari olahan buah kelapa dapat ditarik satu kesimpulan. Bahwa untuk mendapat sari pati dari sebuah ilmu atau amal perbuatan membutuhkan tahapan yang mengharuskan manusia mampu mengupas satu persatu bagian yang menyelimutinya.

Pada setiap yang tampak itu ada hampir dapat dipastikan ada isi, ada inti, ada sari, dan tentu ada yang mewadahi dari ke-tiga hal tersebut. Maka ketika ketemu wadahnya maka berla-kulah sportif berdasar kesepakatan, ketika ketemu isinya (il-munya) maka berlakulah cerdas dan lurus, ketika ketemu in-tinya (amalnya) maka jujurlah, dan ketika ketemu sarinya (ra-sanya) maka berlakulah adil. Begitulah seorang profesional seharusnya bersikap dan berperilaku dalam ke-hidupan yang dia jalani. Profesional tidak mungkin bisa di-bentuk dengan cara dikarbit atau secara instan, itu sama halnya pembohongan pu-blik.

Ini seperti berlaku terhadap pemberiaan sertifikasi guru profesional terhadap para pendidik yang dilakukan secara ins-tan, hanya dengan pelatihan beberapa saat, itu merupakan se-buah kemustahilan. Ini terbukti tidak ada perubahan apapun pa-da peningkatan kualitas dalam pembelajaran yang dil-akukan. Selain yang ada hanya peningkatan pendapatan se-cara finansial, dan peningkatan keberanian untuk bermental semakin kon-sumtif.

Karena profesional hanya mungkin terjadi karena ben-tukan alam lingkungan dimana seseorang bertempat. Karena yang melegalkan seseorang itu profesional atau tidak adalah penilaian dari hasil pekerjaan dan perbuatan sehari-hari yang dia lakukan dimana dia bertempat dan bekerja. Pelatihan dan diklat tidak lebih hanya sekedar sebuah pembekalan ilmu dan pembekalan strategi serta pembekalan bagaimana seharusnya seorang profesional mengarahkan tujuan dari setiap apa yang dilakukan.

Menjadi sesuatu yang mustahil lembaga yang dikelola orang-orang yang tidak profesional akan mampu menelorkan seorang profesional, karena dia juga tidak mengetahui secara keilmuannya, secara strateginya, dan kemana mengarahkanya.

Kenapa dia tidak profesional secara subtansi, itu di-sebabkan dia tidak mengalami proses sebagaimana mengolah minyak dari buah kelapa, yang telah melewati berbagai rin-tangan dan tahapan. Dia mendapatkan gelar profesional hanya dengan mengandalkan secarik kertas hasil dari pelatihan dan diklat. Bukan hasil dari pengesahan yang dilakukan oleh alam sekitar dimana dia bertempat dan bekerja, ini merupakan pe-mubadziran keuangan negara, pemubadziran waktu, dan pe-mubadziran tenaga.

Pelajaran dari buah kelapa adalah ketika engkau masih berada diposisi kulit maka sadarlah dan tahu dirilah jangan memaksa untuk membahas apa dan siapa batok kelapa serta apa yang ada dibalik batok kelapa. Dan ketika engkau berada diposisi batok kelapa maka berlakulah sabar dan jangan melewati batasan pengetahuan dan kemampuanmu. Dan ke-tika engkau berada diposisi daging kelapa janganlah jumawa merasa semua sudah engkau kuasai, sadarlah engkau belum mampu membuktikan apa yang seharusnya dari hakekat buah kelapa. Dan ketika engkau sudah mampu me-nghasilkan mi-nyak ber-lakulah adil dan bijak pada siapa saja yang engkau temui.










 insan wirausahawan. Yang mengherankan sudah jelas – jelas mentalnya adalah mental kapitalis, tapi saat ditunjuk hidung masih mengelak dan mengatakan sebagai orang yang berjiwa suka menolong kepada sesama, itulah dalih – dalih klise para kapitalis sejati.

Bung Syam

/serat_cahyolelono.blogspot.com

Hidup adalah kenyataan, terima kenyataan, dan hadapi
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.
Featured Article