HIGHLIGHT

Membuat Alat Peraga dari Kardus Bekas

09 Maret 2010 07:04:39 Dibaca :


Membuat Alat Peraga dari Kardus Bekas


Proses Pembelajaran akan menjadi lebih menyenangkan apabila dilakukan dengan kreatif oleh guru kepada siswa. Suasana belajar dikelas dapat dikemas dengan sedemikian rupa dengan proses yang menarik seperti bersama-sama guru dengan siswa membuat hasil karya yang dapat dimanfaatkan sesuai kebutuhan sehari-hari. Seperti yang dilakukan guru dengan para siswa kelas 4 Sekolah Dasar Pangudi Luhur III Yogyakarta pada Sabtu, 7 Februari 2010 yang lalu. Anak terlihat gembira dan enjoy dengan kegiatan pada hari itu, terlihat di wajah mereka yang begitu menggemaskan asyik membuat mainan yang dapat dijadikan alat peraga seperti wayang modern ini. Dari peralatan dan bahan yang sederhana dan mudah didapatkan seperti gunting, lem, pewarna (spidol, crayon,dll), batang lidi, benang wol, serta barang bekas bungkus mie goreng, susu, atau snack/cemilan yang mereka telah konsumsi dapat dijadikan sebuah barang baru yang bernilai dan berguna bagi mereka. Langkah pertama yaitu mendesain gambar manusia mulai dari kepala hingga ujung kaki dengan kreasi masing-masing. Setelah itu, bagian tersebut di potong dengan menggunakan gunting termasuk bagian kaki,dan tangan agar nanti dapat digerakkan seperti wayang. Gambar dapat di beri warna setelah semua bagian tubuh wayang disatukan kembali menggunakan benang wol yang telah dipasang dibagian-bagian tangan dan kaki. Kemudian langkah terakhir adlah memasnag batang lidi ke bagian badan, tangn, dan kaki sehingga selesailah alat peraga berupa wayang modern kreasi sendiri.


Banyak anak sampai saat ini belum paham tentang cara mencintai lingkungan dan merawatnya. Mereka terlalu membayangkan hal-hal yang “besar”, misalnya kalau ingin melestarikan lingkungan agar lebih hijau dan rindang yaitu dengan menanm pohon sebanyak-banyaknya di tempat yang sesuai tentunya atau merawat hewan yang dilindungi juga menjadi bayangan mereka utnuk melestarikan alam ini. Apakah harus seperti itu? Namun, sebenarnya tidak perlu selalu seperti itu. Beberapa kali teman guru sempat mendapat pertanyaan dan mencoba menerangkan yaitu


tentang reuse, reduce, dan recycle yang selalu mereka lihat dalam sebuah slogan di jalan-jalan. Kemudian mereka menjelaskan dengan bahasa yang sederhana saja, seperti yang telah siswa-siswi disekolah tersebut lakukan adalah sebuah contoh usaha recycle (daur ulang) barang bekas menjadi baru. Dengan begitu mereka juga akan belajar hal-hal tersebut adalah untuk menghargai barang-barang tak terpakai dapat mereka olah menjadi lebih bernilai. Di masa yang akan datang mereka mungkin dapat mengembangkannya dengan lebih baik. Bahkan mungkin pula mereka tularkan kepada orang-orang disekitarnya (keluarga, sekolah, masyarakat). Dalam foto tersebut salah satu karya dari siswa yang telah terpasang hasil karyanya di didinding kelas. Semoga menjadi motivasi bagi teman-teman sesama pengajar dan pendidik anak-anak bangsa ini untuk bersama-sama menjaga keseimbangan alam ini salah satunya dengan memanfaatkan barang-barang bekas.


Ant. Tonny Budisantoso












Antonius Tonny Budisantoso

/sego

Seorang pendidik yang sederhana dalam berkarya tidak neko-neko belajar mandiri dengan hidup yang apa adanya
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?