Kejanggalan Kasus Dr.Ayu

27 November 2013 21:36:42 Dibaca :

line-height:normal"> mso-fareast-font-family:"Times New Roman";mso-fareast-language:IN">Tidak perlu menelaah kejanggalan proses hukum, dimana surat edaran Mahkamah Agung mengenai pengabulan permohonan kasasi, melebihi otoritas Undang-Undang yang mengatakan bahwa kasus bebas murni tidak dapat di kasasi (surat edaran mengalahkan undang-undang). Dengan kata lain, jelas kasus ini cacat hukum. Namun kali ini saya ingin menelaah lebih dalam lagi, bukan dari sisi kecacatan hukum. Apalagi MKDKI sudah dilangkahi dalam penanganan kasus ini. Saya punya uneg-uneg lain yang ingin saya sampaikan. Hal ini mengenai sorotan kasus dr. Ayu dkk yang dianggap melakukan malpraktik yang menyebabkan meninggalnya pasien alm. Ny. Julia Fransisca M. Mohon maaf bila ada salah kata. Kronologis secara singkat: 1. Pasien dirujuk dari puskesmas karena mengalami ketuban pecah dini serta adanya riwayat persalinan sebelumnya dengan vakum. Ybs sedang hamil anak kedua. Sesuai dengan pemeriksaan awal, maka diputuskan oleh tim dokter tidak ada kotraindikasi/hal-hal yang memberatkan untuk dilaksanakan persalinan secara normal/pervaginam. Ketuban pecah dini memang bukan merupakan penghalang persalinan normal. 2. Pasien datang di rumah sakit dalam keadaan baik, bukaan dua (pembukaan jalan lahir dua jari). Pasien diobservasi di ruang persalinan hingga bukaan lengkap (fase ini dinamakan Kala 1 persalinan), dan pada saat bukaan lengkap, pasien dipimpin untuk mengejan (dinamakan Kala 2 persalinan). 3. Pada saat kala 2 persalinan, janin ternyata tidak turun walaupun bukaan sudah lengkap (kemungkinan paling sering karena ibu tidak kuat mengejan, atau ada lilitan tali pusat) mengenai penyebab tidak turunnya janin ini saya belum mendapatkan penyebab pasti nya. Pada saat inilah timbul kegawatan janin, dimana janin kekurangan oksigen karena kemungkinan tali pusat terjepit di jalan lahir (sekali lagi, ini hanya kemungkinan yang bisa terjadi). 4. Karena letak janin masih tinggi di atas lubang kelahiran, maka tidak dapat dilakukan penarikan dari luar menggunakan vakum, sehingga tim dokter memutuskan untuk melakukan tindakan sectio caesarian, atas perintah dari dokter spesialis, atau dokter konsulen dari dr. Ayu dkk. 5. Dari sumber yang saya peroleh, pada saat ini keluarga sedang tidak ada di lokasi, sehingga kemungkinan besar informasi yang diberikan oleh dokter langsung dibicarakan langsung kepada pasien. 6. Ada yang menyatakan bahwa pasien tidak dapat menandatangani surat persetujuan informed consent tindakan oprasi sectio caesarian karena pasien sangat kesakitan (kala dua persalinan memang secara normal sangat terasa menyakitkan), dan pada kasus ini, katanya tanda-tangan pasien dipalsukan (saya tidak dapat memastikan mengenai hal ini, dan akan saya bahas lebih lanjut di bawah). 7. Sectio caesarian dilakukan, masalah pembiusan, saya tidak tahu siapa yang melakukannya, apakah penata anestesi, ataukah dokter anestesinya langsung. 8. Pada saat memulai operasi, dr. Ayu dkk kaget saat melihat sayatan pertama keluar darah hitam, pertanda pasien (si ibu) sudah kekurangan oksigen. Ini menurut saya juga menjadi faktor kontribusi timbulnya gawat janin (janin kekurangan oksigen) karena oksigen janin berasal dari darah ibu yang sudah kekurangan oksigen. Belakangan diketahui penyebab kekurangan oksigen si ibu adalah akibat sumbatan udara di dalam sirkulasi pembuluh dari (air embolism) tepatnya di bilik jantung kanan pasien. 9. Tidak mungkin operasi dihentikan pada saat ini, sehingga tindakan diselesaikan dan bayi dapat dikeluarkan dengan selamat, dan hidup. 10. Pasien selesai di operasi, masih hidup, namun dengan kondisi yang melemah. Beberapa saat kemudian pasien meninggal. Saya ingin membahas beberapa kejanggalan dalam kasus ini, terutama sebab kematian, dan orang-orang yang bertanggung jawab di dalamnya. 1. Mengenai informed consent (lembar persetujuan tindakan) kronologis nomor 5. Dalam ilmu kedokteran, walaupun pasien berhak menentukan apa dia bersedia dilakukan tindakan medis kepadanya atau tidak, namun hal itu tidak berlaku apabila pasien dalam keadaan yang tidak kooperatif dan dalam keadaan emergency. Dokter diperbolehkan melakukan tindakan medis apapun pada saat emergency untuk menyelamatkan nyawa pasien walaupun pasien tidak dapat menandatangani informed consent dan keluarga tentunya tidak ada di tempat atau sulit dihubungi. Hal ini adalah berdasarkan prinsip Non Maleficience (tidak merugikan pasien) dimana apabila dokter tidak segera melakukan tindakan yang perlu, maka dikhawatirkan pasien dapat kehilangan nyawa atau terjadi komplikasi yang parah. Informed consent tidak berada paling atas! Nyawa jauh lebih diutamakan dalam pengambilan keputusan tindakan kedokteran. 2. Mengenai penyebab kematian (air embolism/emboli udara/sumbatan udara di dalam pembuluh darah) Penyebab kematian berdasarkan otopsi yang dilakukan oleh tim dokter forensik yang menangani kasus ini, bahwa ditemukan sumbatan udara di bilik jantung kanan (yang tentu merupakan bagian dari sistem sirkulasi pembuluh darah). Tidak semua sumbatan/emboli bisa menyebabkan kematian. Berdasarkan sumber Jurnal Anestesiologi tahun 2007 "Diagnosis and Treatment of Vascular Air Embolism" (Diagnosis dan terapi dari emboli udara di vaskuler), emboli udara yang mematikan adalah berjumlah 200-300 ml. Bahkan tubuh memiliki mekanisme kompensasi yang cukup apabila terdapat emboli udara hingga berjumlah 100cc saja, dengan kata lain sumbatan udara tidak pasti menyebabkan pasien meninggal kalau jumlahnya hanya sedikit. Jumlah 200-300cc ini bila disetarakan ukuran rumah tangga adalah satu gelas penuh. Pertanyaannya? dari mana, dan apa yang menyebabkan sebegitu banyak udara bisa masuk kedalam pembuluh darah? Berdasarkan jurnal di atas, prosedur persalinan dan tindakan sectio caesarian, bahkan kejadian ketuban pecah dini tidak akan mungkin menyebabkan masuknya sejumlah besar udara ke dalam pembuluh darah. Penyebab terjadinya emboli udara ini berdasarkan jurnal tersebut antara lain: prosedur oprasi saraf dengan posisi duduk, atau prosedur kateterisasi (masuknya saluran) ke aliran vena/arteri yang memungkinkan adanya kontaminan berupa udara yang masuk ke dalam pembuluh darah. Apabila dilihat dari prosedur tindakan sectio caesarian ataupun prosedur persalinan normal pada almarhumah, maka satu-satunya kemungkinan masuknya udara adalah melalui selang infus. Kemudian yang jadi pertanyaan dan sampai saat ini saya tidak temukan jawabannya adalah, apakah mungkin keterlambatan pergantian botol infus yang sudah kosong bisa menyebabkan masuknya sejumlah besar udara ke dalam pembuluh darah? Dan saya rasa jawabannya bisa ya, bisa tidak. Plabot(botol) infus memiliki volume total sekitar 600ml, dan total volume cairan yang dimilikiadalah 500cc. Apabila 500cc ini telah masuk semuanya ke dalam pembuluh darah, menyisakan botol infus yang gepeng karena tekanan negatif di dalamnya, dan terkekan oleh tekanan atmosfer. Ada sedikit kemungkinan bahwa ada sejumlah udara yang dapat masuk ke pembuluh darah apabila terjadi keterlambatan penggantian cairan infus. Namun saya rasa untuk mencapai volume udara 100cc, botol infus yang sudah gepeng itu harus diremas sekuat tenaga untuk mengeluarkan semua udara yang terkandung di dalamnya, untuk dapat masuk ke dalam pembuluh darah! Nah, apakah mungkin hal ini terjadi? Apakah ada seseorang di dekat almarhumah yang dengan sengaja meremas-remas plabot infus yang sudah kosong itu sehingga sejumlah udara sekitar 100cc yang terkandung di dalamnya masuk ke pembuluh darah, dan apa tujuannya? Pun apabila ia berhasil, ia masih harus menambah sekitar 100cc udara lagi untuk dapat dimasukkan ke dalam pembuluh darah almarhumah untuk dapat menyebabkan kematian pasien. Di titik inilah saya menemukan ada yang aneh dalam proses/penyebab kematian pasien. Emboli udara amat sangat jarang terjadi, apalagi dalam situasi persalinan. Harus ada sebuah mekanisme yang memungkinkan masuknya udara sebanyak sekitar satu gelas es teh yang biasa anda minum untuk dapat menyebabkan pasien Ny. Julia Fransisca ini meninggal. Apakah ada yang bisa menjelaskan kemungkinan-kemungkinan yang dapat menjadi penyebab kematian pasien tersebut? Siapakah yang bertanggung jawab atas masuknya sejumlah udara ini? dr. Ayu didakwa lalai menyebabkan kematian akibat tindakan operasi yang dilakukan sehingga menyebabkan emboli udara yang terjadi pada pasien, itu kata MA. Salah satu bukti bahwa keterbatasan ilmu seseorang, yang mencoba menghakimi profesi lain dengan keilmuan yang kompleks. Kemudian, apabila memang kita terima penjelasan, bahwa emboli udara bisa terjadi pada keadaan keterlembatan pergantian infus, sehingga disimpulkan botol infus kosong yang terpasang pada pasien bisa menyebabkan 200-300cc udara masuk ke dalam pembuluh darah tanpa harus diremas-remas, maka kita harus telaah lebih dalam, siapakah yang bertugas memonitor cairan infus dan bertanggung jawab mengganti infus. Pertanyaannya menjadi, apakah dokter ayu harus memonitor sendiri cairan infus yang terpasang di pasien?Apakah seorang dokterlah yang wajib mengganti cairan infus saat cairan infus pada pasien habis? Di rumah sakit ada sistem pendelegasian tugas, observasi di ruang persalinan biasanya dilakukan oleh para bidan, dimana tugas bidan biasanya adalah membantu persalinan secara normal, dan memonitor/observasi pasien, termasuk di dalamnya adalah memonitor cairan infus, dan menggantinya apabila sudah habis, tentunya jenis cairan ditentukan oleh dokter yang merawat. Dan tentunya tidak mungkin seorang dokter harus keliling bangsal, atau ruang persalinan untuk memonitor seluruh pasien yang terpasang infus dan mengganti infusnya apabila sudah habis. Itu bukan tugas dokter. Ada beberapa hal lagi yang menggelitik benak saya... Keselamatan pasien di medan operasi bukan hanya berada di tanggung jawab dokter operator saja (dalam hal ini dokter kandungan), namun juga tanggung jawab dokter anestesi. Dokter anestesi memiliki kewenangan, dan tanggung jawab dalam menjaga kestabilan hemodinamik pasien selama dokter operator melakukan tindakan operasi. Ini memang tugas seorang dokter anestesi untuk memberikan ketenangan bagi operator dalam menjalankan tugasnya melakukan tindakan oprasi kepada pasien tanpa harus memikirkan kestabilan hemodinamik(sirkulasi darah, pernafasan, dan lain). Lantas, mengapa yang diutak-utik hanya dokter kandungan saja sebagai operatornya pada saat pasiennya tidak selamat? Namun saya mengira, dokter anestesi pun akan sangat kesulitan jika menghadapi pasien dengan emboli udara di medan oprasi yang sudah terlanjur terjadi tanpa bisa dideteksi sebelumnya. Sehingga di sini saya simpulkan, kedua dokter, baik operator (dokter ayu) maupun dokter anestesi keduanya akan sangat kesulitan menyelamatkan nyawa pasien, karena ada emboli udara yang masif yang terjadi di dalam tubuh pasien.Hal berikutnya yaitu, mengapa pihak Rumah Sakit tidak dimintai pertanggung-jawaban mengenai hal ini? Jika memang benar penyebab kematiannya adalah emboli udara, dan jika memang itu akibat kurangnya pengawasan terhadap pasien, tentunya harus dilihat kebijakan yang ditelurkan oleh manajemen rumah sakit. Siapakah yang berkewajiban melakukan observasi pasien dalam persalinan? Siapakah yang berkewajiban mengontrol cairan infus? Siapakah yang berkewajiban mengganti cairan infus? Apakah hal tersebut sudah diatur dalam Standar Prosedur Operasional yang ditetapkan oleh direktur rumah sakit?Apakah ada kebijakan-kebijakan direktur yang mengatur hal-hal tersebut di atas? Bila sudah diatur dengan baik, ada kebijakan, ada SPO, maka yang dapat disalahkan tentunya adalah orang yang berkewajiban yang diatur dalam SPO tersebut, tapiĀ  orang tersebut tidak melaksanakan tugasnya dengan baik. Namun apabila hal tersebut belum diatur dalam kebijakan rumah sakit, atau tidak ada SPO nya, maka seharusnya Rumah Sakit wajib bertanggung jawab atas hal ini. Menanggapi kronologis nomor 6. Mengenai isu-isu tanda-tangan palsu, berikut adalah yang terjadi: Pada saat timbul kejadian gawat janin, keluarga pasien tidak ada yang dapat dimintai tanda-tangan. Akhirnya lembar informed consent ditanda-tangani oleh pasien. Pasien terebut sedang berada dalam persalinan kala dua, yang mana keadaan ini rasanya mulas dan nyeri sekali. Ada yang mengibaratkan, nyerinya seperti patah tulang di beberapa tempat sekaligus! Dapat dibayangkan, tanda tangan pasien yang dibuat oleh pasien tersebut yang sedang merasakan kesakitan yang amat sangat tentunya tidak sama dengan tanda tangan yang dibuat pada saat pasien tidak merasa kesakitan. Namun lantas hal ini dijadikan alasan, bahwa ketidaksamaan tanda-tangan pasien pada informed consent diduga merupakan tanda-tangan palsu. Menanggapi isu-isu terlambatnya tindakan dokter. Pasien dirujuk oleh puskesmas bukan dengan alasan kegawatan, yaitu karena adanya ketuban pecah dini, dan adanya riwayat persalinan sebelumnya menggunakan vakum. Oleh puskesmas didiagnosa cervix (jalan lahir) sudah buka 6 dari 10. Sedangkan pada saat diperiksa di rumah sakit, ternyata masih buka 2. Pada saat itu kondisi ibu baik, dan kondisi janin baik, sehingga tidak ada rumusnya yang mengatakan bahwa pada saat dirujuk, pasien sudah dalam keadaan emergency dan dilakukan pembiaran. Yang ada adalah observasi kala satu persalinan, yang pada keadaan normal bisa mencapai 12 jam bahkan lebih. Jadi pasien bukan dibiarkan, namun diobservasi hingga bukaan lengkap (bukaan 10) untuk kemudian dilakukan pemimpinan persalinan pervaginam/persalinan normal. Dengan kata lain, tidak ada yang terlambat dalam pengambilan keputusan oleh tim dokter, semua sudah sesuai dengan standar keilmuan kebidanan dan kandungan. Pertanyaan pamungkasnya berarti:

line-height:normal"> mso-fareast-font-family:"Times New Roman";mso-fareast-language:IN">1. Hal apa yang bisa menyebabkan masuknya 200-300cc udara ke dalam pembuluh darah pasien? 2. Siapa saja yang seharusnya bertanggung-jawab atas kasus ini? Walaupun saya tidak ingin melebarkan kasus, saya hanya ingin kasus ini dilihat secara komprehensif. Bukan hanya dilihat dari sisi operator saja, namun dilihat juga faktor-faktor lainnya. Kasus ini terjadi akibat berbagai macam faktor, yang mana masing-masing harus digali lebih dalam agar kita dapat melihat dan menghakimi kasus ini dengan se-adil-adilnya.

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?