Kerasnya Pendidikan dan Tawuran Pelajar

02 Oktober 2012 20:03:28 Dibaca :

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) akan menerbitkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) tentang pencegahan kekerasan dan tawuran pelajar, serta penanganannya. Termasuk di antaranya mengatur soal sanksi yang dapat dijatuhkan.


Demikian paragraf pertamayang ditulis oleh Indra Akuntono di Kompas.com, Rabu 3 Oktober 2012 jam 02:34 WIB.


Menjadi menarik bagi saya, karena pencegahan tawuran antar pelajar sebenarnya tidak bisa dilakukan hanya dengan sebuah Peraturan Menteri. Lantas apa yang harus dilakukan ? Mungkin, kisah berikut ini bisa menjadi inspirasi bagi semua (pemerintah, guru, orangtua dan muris/mahasiswa) agar tidak lagi ada tawuran.



Saat masuk Sekolah Dasar tahun 1971, saya masih ingat betul bahwa saat itu saya belum bisa membaca dan menulis. Datang ke sekolah hanya bermain dan bermain. Setahun kemudian, barulah saya bisa mebaca dan menulis serta mulai diajar untuk berhitung. Berhitung dengan alat peraga yang masih sangat sederhana, batang lidi pelepah daun kelapa yang dipotong-potong pendek (kira-kira 5 cm). Memasuki tahun ke empat mulailah diberi pelajaran Bahasa Indonesia,Sejarah Nasional, Sejarah Dunia, Pendidikan Moral Pancasila, Berhitung dan Pendidikan Jasmani. Tidak ada pelajaran Bahasa Inggris. Saat itu jangan coba-coba melawan "perintah" Guru kalau tidak mau dicubit, disuruh berdiri di depan kelas dengan mengangkat kaki sebelah atau bahkan betis dipukul dengan penggaris panjang yang terbuat dari kayu. Situasi yang hampir sama berlanjut sampai jenjang pendidikan SMP dan SMA. Pelajaran yang makin berat di jenjang SMP dan SMA, menuntut murid harus mengerjakan PR, terutama PR Matematika. Jangan  coba-coba untuk tidak mengerjakan PR, kalau tidak mau jari tangan dipukul dengan penghapus papan tulis yang terbuat dari kayu atau sekedar dicubit oleh ibu guru yang galaknya setengah ampun. Mengadu ke orangtua ? Tidak ada gunanya, karena orangtua akan menambah "hukuman" yang sudah diterima di sekolah dengan "hukuman" gaya orangtua. Jadi lebih baik diam saja dan rajinlah belajar serta mengerjakan PR.  Selanjutnya saat memasuki sebuah PT Negeri di Medan tahun 1983, panitia OPSPEK (Orientasi Pengenalan Studi dan Pengenalan Kampus), mengharuskan calon mahasiswa laki-laki untuk mencukur rambutnya ala militer dan calaon mahasiswa mengikat rambut dan dikepang dua. Menggunakan celana dan kemaja putih-putih dan tidak boleh diganti selama pelaksanaan OPSPEK tersebut yang berlangsung selama 5(lima) hari. Bisa dibayangkan, bagaimana aroma pakaian calon mahasiswa, karena bukan hanya aroma keringat saja tetapi sudah bercampur dengan aroma air kotor dari comberan sekitar kampus, karena semua calom mahasiswa diharuskan melewati comberan tersebut setiap pagi. Belum lagi "siksaan" ala senior. Memang Sadis ! Tetapi tidak pernah ada tawuran saat itu, tidak ada murid yang berani melawan guru. Tidak ada orangtua yang mengadukan guru ke polisi karena anaknya "dianiaya" di sekolah. Tidak ada mahasiswa baru yang berani "melawan" seniornya. Dan yang terpenting TIDAK ADA TAWURAN.


Kisah tersebut di atas hanyalah sebagian kecil dari kisah yang penulis lalui saat masih sekolah dulu. Kerasnya pendidikan di masa lalu, menimbulkan semangat yang tinggi hanya untuk belajar dan belajar.



Bagaimana dengan kondisi saat ini ? Masihkah semua orangtua akan marah kepada anaknya yang mengadu karena dihukum guru di sekolah ? Masihkah bapak/ibu guru "berani" menghukum murid-murid yang nakal, karena takut dituduh melanggar HAM ?



Entahlah....................

Sarda Sitompul

/sarda

S1 Sosek FP USU | Brooker Trading Derivatif | Marketing Consultant | Pemerhati Perdagangan Berjangka Komoditi di Indonesia
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?