Tidak Ada Kata Terlambat untuk Mengubah Diri

20 Agustus 2011 09:13:22 Diperbarui: 26 Juni 2015 02:37:13 Dibaca : Komentar : Nilai :

"Ketika aku masih MUDA, aku bermimpi dapat MENGUBAH DUNIA. Tapi kinisetelah AJALmenjelang barukusadari, ANDAIKAN yang ku-ubah adalah diriku, maka dengan menjadikan diriku sebagai panutan mungkin aku bisa mengubah KELUARGAKU, lalu berkat aspirasi dan dorongan mereka, BOLEH JADI aku-pun mampuperbaiki NEGERIKU, dan kemudian, SIAPA tau bahkan BISA MENGUBAH DUNIA” (Disadur dan dimodifikasidari sebuah tulisan di sebuah rumah makan, berlokasi di Utan Kayu-Jakarta Timur).

Menarik sekali, membaca 2 buku karangan Sonny Sutrisna-Guru Besar Power of Soul,seorang mualafyang terlahir dari seorangbapak yang berasal dari Bali (beragama Hindu) dan ibu seorang warga keturunan Tionghoa(beragama Kong Hu Chu)yaituPower of Soul seorang Penyembuh (Cetakan ke-3, Maret 2011) dan Sholat untuk Memperbesar Periuk Rejeki(Cetakan ke-5, Maret 2011).

Satu kalimat yangpenulis dapat petik dari kata-kata nan arif-bijaksana di atas : “TIDAK ADA KATA TERLAMBAT,ASALKAN KITA MAU MENGUBAH DIRI”. Mungkin simpulan itu terlalu menyederhanakan, karena terus-terang penulis belum khatam (tamat) membaca ke-2 buku tersebut dan bahkan baru mulai  menyelami serta berproses meningkatkan  level kesadaran. Namun  demikian, sebagai  pembuka jalan kesadaran, mohon izinkan  penulis MENGIKAT MAKNA yang terserak  dari sebuah pesan  nan bijak-bestari.

Seringkali,semasa muda kita terobsesi danbermimpiuntuk menjadiorang terkenal dan bahkan berkhayaluntukdapatmengubah dunia. Namun seiring berjalannya waktu dan pertambahan usia serta prosesbelajar arifhadapi realita hidup,sampailah kitapada kesadaran bahwa yang perlu diubah terlebih dahulu adalah DIRI SENDIRI.

Ada berbagai tingkatan kesadaran yang disinggung dan dibahas secara detail di buku tersebut, intinya kesadaran itu sendiri berproses dari mulai tingkatan terbawah (Kesadaran Hewani), meningkat ke level berikutnya (Kesadaran Manusia) dan meningkat lagi ke level tertinggi (Kesadaran Tuhan :  rendah >  sedang > tinggi > penyatuan). Syarat untuk  naik level  ternyata cuma satu, ada keinginan kuat mengubah diri dengan cara menekan tingkat  ego-nya. Ada hubungan berbanding terbalik antara ego dan level kesadaran. Makin tinggi level kesadaran, makin menuntut kita menekan ego diri. Level tertinggi (Kesadaran Tuhan-Penyatuan) bahkan mensyaratkan ego kita bernilai  nihil  alias tidak  ada lagi. Di sinilah perjuangan  mengubah diri dimulai, bagaimana mengendalikan dan memerangi hawa nafsu yang membelenggu  (direpresentasikan oleh ego) yang melekat di dalam diri hingga akhirnya kita dapat lepas dan mampu mengendalikan hawa nafsu hingga membawa kita ke jenjang/predikat takwa. Mungkin pembaca masih ingat, kredo 'Aa Gym dengan 3M-nya (Mulai dari diri sendiri, Mulai dari hal-hal kecil, dan Mulai sekarang juga) yang begitu fenomenal. Terlepas dari masalah pribadi Beliau (pilihan berpoligami), sudah sepatutnya kita berterima kasih kepada Beliau  yang telah memperkenalkan dan mempraktikkan sekaligus kredo itu  dengan sukses (melalui  Manajemen  Daarut-Tauhid). Jadi, jangan harapkan terlalubanyakuntukmengubahorang lain, keluarga, masyarakat, bangsa bahkan dunia, JIKALAU kitatidakmampu mengubah diri sendiri menjadi insan yang berguna dan bermanfaat bagi orang lain.Benarlah firman Allah SWTbahwa Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri(QS. Ar-Ra’du : 11)dan sabda Baginda Nabi Muhammad SAW bahwasebaik-baiknyamanusia adalah yang hidupnya banyakbermanfaat untuk orang lain (HR. Muslim). Untunglah, penulis bergabung dengan KOMPASIANA, sebuahmedia sosialyang tidak hanya menerima secarasuka-relatulisancurahan hati (CURHAT) seorang Kompasianer pemula seperti penulis, tapi juga dengan suka-cita menerimaadi karya dari penulis jempolan yang kebetulan telahmembesarkan dan menyemarakkanKOMPASIANAhingga menjadisebesar dan dikenal seperti ini. Semoga dengan sedikit goresan tulisan di pasir pantai kehidupan ini, dapat meninggalkan jejak yang bermanfaat bagidiri sendiri, orang lain dan sesama. Dan bila ada postingan penulis yang sekiranya kurang bermanfaat (lebih banyak mudharatdaripada manfaatnya), segeratersapu ombak pantai dan hilang ditelan lautan samudra. Selamat bermetamorfosa dan berjuang  meningkatkan level kesadaran,  semoga  kita dapat menjadi insan yang berguna dan bermanfaat bagi sesama. Mari kita jadikan ibadah shaum (puasa) sebagai  sarana melatih diri untukberusahamencapaiderajat takwa,insya Allah (Maher Zain & Fadly, mode on)....amin YRA.

Santorry Saad

/santorry

TERVERIFIKASI

Pemikir, Budget Analyst, Esais dan Calon Penulis, Pendidik, cukup mahir dlm beberapa cabang olahraga: Tenis, Catur, Pingpong, Renang dan Diving. Slalu syukuri nikmat yg diberikan Oleh-Nya...salah satu prinsip yg terpenting.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.
Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana

Featured Article