HIGHLIGHT

Kenapa Harga Produk Organik kok Mahal?

03 Oktober 2012 08:57:02 Dibaca :

Perkembangan usaha dalam bidang pertanian dan peternakan berbasis natural atau dalam bahas kerennya adalah organik sangat menjanjikan. Dalam satu dekade organik masih menjadi sesuatu yang absurd dan tidak terang benderang. Maklum tidak semua orang mengerti seluk beluk bagaimana pertanian organik di kerjakan.

Seiring waktu dan pemain usaha organik tumbuh berkembang dan juga permintaan pasar yang terus naik. Maka hasil produk dari pertanian organik seperti beras organik, cabe organik, ikan organik, dan sayuran organik serta produk turunan semakin banyak dipasaran.

Namun, kenapa harganya lebih mahal? kita kan tidak mampu membeli. Jika di beli maka akibatnya adalah kekurangan kuantitas barang yang didapatkan. Kalau non organik kan bisa dapat banyak dan harganya lebih murah.

Telisik punya telisik kenapa produk organik lebih mahal ada beberapa alasan:

Pertama. Untuk menghasilkan produk organik dari pertanian membutuhkan investasi awal reklamasi lahan. Metode biasa untuk menghasilkan padi organik membutuhkan 3 kali panen tanpa menggunakan pupuk kimia sintesis dan pertisida buatan. Dalam proses ini petani harus membeli kompos atau pupuk organik dengan harga yang lumayan menguras kantong petani.

Kedua. Masuknya investor yang menanamkan investasi dalam bisnis ini. Investor menanamkan investasi dalam skala besar. Mereka membeli lahan petani dan kemudian mempekerjakan petani di lahan tesebut dengan sistem upah. Sedangkan hasilnya milik investor. Dan sebagian menggunakan pola bagi hasil dengan petani. Dimana petani tetap menggarap lahannya. Sedangkan investor memberikan pupuk dan bahan yang dibutuhkan. Hasil tersebut menjadi milik petani sebagian dan sebagian milik investor. Harga di tingkat petani masih standar. Sedangkan harga makin mahal ada di tangan investor yang memiliki merek dan sistem distribusi.

Ketiga. Biaya sertifikasi dan juga promosi yang sangat berat. Kenapa berat? mendidik konsumen untuk mengerti tentang bagaiman proses produk pertanian organik, cara perlakuan dan juga hal-hal lain membutuhkan biaya yang hampir memakan biaya 20% dari ongkos produksi. Maka ketika harga sekilo beras organik Rp. 15.000,- maka didalamnya ada biaya promosi dan distribusi Rp. 5.000,-.

Keempat. Hasil pertanian organik belum masuk dalam skala industri. Pengejaan pertanian organik banyak memanfaatkan tenaga mulai dari awal proses pengolahan lahan, penanaman, pemeliharaan dan juga panen. Peralatan pertanian belum dimiliki oleh petani.

Kelima. resiko usaha yang tinggi dihadapi oleh para pelaku pertanian organik. Resiko kegagalan panen, kerusakan oleh wabah penyakit dan juga resiko alam berupa perubahan cuaca. Karena cuaca di berbagai tempat di Indonesia telah sangat ektrem. Bila panas maka akan terjadi kekeringan yang luar biasa, sampai-sampai tanaman hangus tersengat cahaya matahari. Bila musim hujan maka tanaman akan berendam dalam banjir. Resiko ini tidak dicover oleh asuransi dan juga terkadang tidak di bantu oleh pemerintah.

Inilah beberapa alasan kenapa hasil pertanian organik sedikit lebih mahal. Kemudian apakah biaya ini diturunkan sesuai dengan harga barang yang lain. Jawabannya bisa dan mungkin. Maka ada beberapa hal mendasar yang mampu mengurangi biaya jual produk pertanian organik.

Pertama. Petani memiliki sumber-sumber bahan pembuatan pupuk organik dan anti hama organik. Ketika petani memiliki sumber ini maka biaya produksi dari pupuk organik dapat di pangkas sampai 70%. Hampir selama ini petani hanya menjadi konsumen beberapa produk pupuk organik dari produsen. Agro Pure Organic Part dan Pusat Pendidikan dan Pelatihan Bioteknologi NT 45 memberikan pelatihan dan pendidikan pembuatan Pupuk Organik Majemuk Lengkap sekaligus Anti Hama organik. Sumber-sumber ini ada dekat dari petani. Ketika petani mampu membuat pupuk organik sendiri maka ongkos produksi bisa ditekan sampai 50%.

Kedua. Petani mesti berhimpun dalam kelompok usaha bersama. Hal ini berguna untuk mengurangi biaya tenaga kerja pengolahan, pemeliharaan dan pemanenan. Petani menggunakan prinsip arisan kerja atau gotong royong menggarap lahan.

Ketiga. Petani membangun merek dari olahan dan belajar proses pemasaran yang dibantu oleh dinas pertanian. Karena hampir produksi pertanian organik petani tidak memiliki standar produk dengan sistem yang teruji. Ketika memiliki standar opersional proses dan juga kualitas maka petani berhak menggunakan merek sendiri dan membangun jaringan pemasaran. Pembangunan jaringan pemasaran dapat menggunakan jaringan ikatan keluarga kampung, pendidikan dan juga jalur online.

Keempat. Sistem investasi bagi hasil dengan petani. Hal ini menggunakan prinsip ekonomi syariah. Dimana investor ikut serta mendapatkan untung ketika hasil panen bagus dan juga ikut menanggung resiko ketika usaha pertanian organik mengalami rugi. Jika tidak menerapkan sistem bagi hasil maka petani akan menjadi sapi perahan. Sebab dalam usaha tidak ada selamanya mendapatkan untung. Dalam hal ini membutuhkan kebesaran hati para investor tidak memberikan pinjaman berbunga bagi petani.

Kelima. Yuk kita menjadi investor sekaligus konsumen hasil produksi pertanian organik. Caranya bagaimana? Ketika saudara atau tetangga kita memiliki lahan pertanian yang memadai dan cukup untuk beberapa orang maka meminta petani untuk mengolah pertaniannya berstandar organik. Karena dengan itu menjadikan ekonomi berputar dari pemilik modal langsung kepada petani. Dari pada harus masuk ke dalam sistem keuangan yang memiliki orientasi profit semata.

Memang kita butuh kepercayaan dan kesaling pahaman untuk memajukan pertanian organik yang memuliakan petani. Sebab pemerintah masih membuka kran impor beras dari Thailand, Vietnam sejumlah 1.000.000.0000 kg beras untuk cadangan. Sudah kebayangkan berapa duit pemerintah akan terbang keluar negri. Jika harga 1 kg beras impor 4.000 maka uang akan keluar sebesar Rp. 4.000.000.000.000,- (4 trilyun rupiah). Jika hal tetap terjadi maka tiada masa petani menjadi petani merdeka.

Mari kita stop mengkonsumsi produk impor dan mencintai hasil karya masyarakat indonesia.

Muhammad Yunus

/sangpemenangpembelajar

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Berpendar dalam Kajian dan Terapan Ekonomi Syariah sekaligus Pendiri Mayarakat Pemenang Pembelajar .
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?