Mr Sae
Mr Sae profesional

Aktivis Kemasyarakatan dan Pemerhati Kebijakan

Selanjutnya

Tutup

Regional

Mekanisme Sektor Pertanian Memecah Kemiskinan

28 Agustus 2017   08:51 Diperbarui: 28 Agustus 2017   09:09 431 2 0
Mekanisme Sektor Pertanian Memecah Kemiskinan
grinddaileyissues.com --repro

Kemiskinan tidak bisa disikapi hanya dengan memberikan bantuan berupa uang kepada penduduk miskin. Kemiskinan berkaitan dengan struktur sosial yang menyangkut kelemahan suatu struktur tertentu, dalam hal ini masyarakat petani, atas struktur lainnya. Kemiskinan menyangkut ketergantungan struktur masyarakat petani atas struktur lainnya, yakni kebijakan pemerintah. Oleh sebab itu menyikapi kemiskinan dalam hal ini berarti membuat masyarakat petani menjadi kuat, memiliki peran dan mampu memandirikan massyarakat petani dengan kebijakan ekonomi-politik yang tepat.

Sebenarnya atonomi sangat berdampak positif dalam mengentaskan kemiskinan jika ada interaksi partnership yang baik antara birokrasi, institusi-institusi profesional dan Lembaga Swadaya Masyarakat itu sendiri. Otonomi daerah dengan sistem desentralisasi fiskal akan memberikan peluang yang besar bagi semakin dekat dan semakin intensnya interaksi partnership ini jika dibanding dengan pola sentralitas yang selama ini diterapkan dalam pelaksanaan pengelolaan negara kita. 

Dalam ketentuan undang-undang otonomi daerah, pemerintrah daerah diberikan kewenangan untuk mengelola keuangan daerah sekaligus mencari sumber-sumber pendapatan potensial melalui jalur pendapatan asli daerah (PAD). Termasuk dalam regulasi, pemerintah daerah diberikan wewenang untuk merencanakan dan mengelola pembangunan daerah berdasarkan potensi dan sumberdaya yang ada terutama sektor pertanian dengan tetap berkoordinasi dan bersienergi dengan pemerintah pusat.

Pengalaman di beberapa negara seperti Filipina dan RRC telah menunjukkan bahwa suatu sektor pertanian yang pertumbuhannya lamban dapat menghambat pertumbuhan ekonomi pada umumnya dan sektor industri pada khususnya. Dan tentunya dengan rendahnya tingkat pendidikan dan keterampilan masyarakat pada umunya, sektor pertanian yang kurang berkembang ini tentu akan mempercepat merebaknya kemiskinan.

Walaupun kemudian ada anggapan bahwa devisa dapat dipergunakan dalam mengimpor kebutuhan bahan pangan, tetapi jika kita berpikir dalam kontek kemiskinan, maka jelaslah upaya dalam meningkatkan pertumbuhan sektor pertanian dengan jalan memberdayakan dan melakukan fungsi advokasi terhadap petani ini tidak sekedar persoalan bagaimana memenuhi kebutuhan akan bahan pangan. Lebih dari itu sektor pertanian adalah sektor yang paling dianggap penting dan potensial dalam tujuan mengentaskan kemiskinan pada saat ini dan dimasa mendatang.

Peran Strategis Sektor Pertanian

Sektor pertanian memiliki peranan yang sangat penting dan strategis, dalam pembangunan Daerah dan Nasional. Peranan sektor pertanian, bukan saja memberikan andil terhadap ketahanan pangan, tetapi juga memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap perkembangan perekonomian secara menyeluruh, baik menyangkut pendapatan petani itu sendiri, pendapatan daerah, maupun penyerapan tenaga kerja.

Oleh karena itu, pembangunan bidang pertanian merupakan salah satu prioritas utama yang dilaksanakan dalam upaya peningkatan produksi pangan strategis, melalui: (1) penerapan teknologi penggunaan varietas unggul, (2) pemupukan berimbang, (3) penggunaan bahan organik, (4) keserempakan tanam, (5) pengendalian organisme pengganggu tanaman secara bijaksana, dan (6) penerapan teknologi panen dan pasca panen.

Pengembangan Varietas.Penggunaan varietas unggul adalah salah teknologi budidaya untuk meningkatkan produksi pertanian, yaitu melalui peningkatan areal tanam yang menggunakan varietas unggul dan peningkatan potensi hasil varietas yang digunakan. Penggunaan varietas unggul sangat penting untuk meningkatkan produksi pangan. Walaupun Jumlah varietas yang dihasilkan sudah banyak, namun tingkat adopsi petani rendah. Sehingga varietas unggul yang dihasilkan perlu sosialisasikan kepada petani agar dapat memilih varietas sesuai dengan agroekosistem yang dimiliki dan teknik budidaya yang biasa dilakukan. Pengembangan varietas unggul perlu terus dilakukan untuk terus mendorong peningkatan kebutuhan pangan nasional, memaksimalkan potensi Indonesia yang memiliki keragaman agroekologis yang luas dan mengantisipasi tantangan dalam keberlanjutan produksi pangan.

Pemupukan Berimbang. Pemupukan berimbang merupakan pemberian pupuk ke dalam tanah untuk mencapai status semua hara esensial seimbang dan optimum dalam tanah untuk meningkatkan produksi dan mutu hasil pertanian, efisiensi pemupukan, kesuburan tanah serta menghindari pencemaran lingkungan. Jenis hara tanah yang sudah mencapai kadar optimum atau status tinggi, tidak perlu ditambahkan lagi, kecuali sebagai pengganti hara yang terangkut sewaktu panen. 

Pemupukan berimbang tidak harus merupakan pemupukan dengan menggunakan semua jenis pupuk. Pemupukan berimbang adalah pemberian pupuk ke dalam tanah untuk mencapai status semua hara dalam tanah dan lingkungan tumbuh yang optimum bagi pertumbuhan dan hasil tanaman. Oleh karena itu hara yang sudah mencapai optimum tidak perlu ditambahkan lagi. Jadi apabila di suatu tempat tanahnya telah mempunyai status P dan K tinggi, maka yang diperlukan hanya pupuk P dan K dosis rendah setara dengan P dan K yang terangkut pada saat panen. Sumber hara dapat berupa pupuk tunggal, pupuk majemuk atau kombinasi keduanya. Penggunaan pupuk yang tidak berimbang akan menyebabkan penurunan produktivitas padi dan mutu hasil. 

Oleh karena itu perlu dilakukan upaya untuk mendorong petani menggunakan pupuk secara berimbang melalui penyesuaian harga berbagai jenis pupuk. Mengingat unsur makro yang banyak dibutuhkan tanaman adalah Nitrogen dan Posfat, maka perlu dilakukan upaya penyeimbangan dan penyesuaian kedua jenis pupuk.

Penggunaan Bahan Organik.Bahan organik berperan penting dalam menentukan kemampuan tanah untuk mendukung pertumbuhan tanaman. Peran bahan organik adalah meningkatkan kesuburan tanah, memperbaiki struktur tanah,meningkatkan kemampuan tanah memegang air,meningkatkan pori-pori tanah, dan memperbaiki media perkembangan mikroba tanah.

Selain itu bahan organik sangat berpengaruh terhadap perubahan sifat-sifat tanah, yaitu sifat fisik, biologis, dan sifat kimia tanah. Bahan organik merupakan pembentuk granulasi dalam tanah dan sangat penting dalam pembentukan agregat tanah yang stabil. Melalui penambahan bahan organik, tanah yang tadinya berat menjadi berstruktur remah yang relatif lebih ringan. 

Pergerakan air secara vertikal atau infiltrasi dapat diperbaiki dan tanah dapat menyerap air lebih cepat sehingga aliran permukaan dan erosi diperkecil. Demikian pula dengan aerasi tanah yang menjadi lebih baik karena ruang pori tanah (porositas) bertambah akibat terbentuknya agregat.

Tanah berkadar bahan organik rendah berarti kemampuan tanah mendukung produktivitas tanaman rendah. Hasil dekomposisi bahan organik berupa hara makro (N, P, dan K), makrosekunder (Ca, Mg, dan S) serta hara mikro yang dapat meningkatkan kesuburan tanaman. Hasil dekomposisi juga dapat berupa asam organik yang dapat meningkatkan ketersediaan hara bagi tanaman. Dalam jangka panjang pemberian bahan organic dapat meningkatkan pH tanah, hara P, KTK tanah dan hasil tanaman, serta dapat menurunkan kadar Al, Fe, dan Mn.

Keserempakan Tanam dan Pengendalian Hama Terpadu. Salah satu kendala peningkatan produksi adalah serangan hama, khususnya WBC.  Wereng coklat merupakan "hama global", karena bukan hanya kendala di Indonesia saja, tetapi juga di China, Vietnam, Thailand, India, Pakistan, Malaysia, Filipina, Jepang, dan Korea. Pada tahun 2010 serangan WBC yang diikuti penyakit virus kerdil hama dan virus kerdil rumput mencapai 128.738 ha dan 4.584 ha puso. Intruksi pemerintah pada saat itu supaya produksi Nasional mencapai 70,6 juta ton GKG dan surplus beras 10 juta ton tahun 2014. Target produksi tahun 2011 tidak tercapai, bahkan menurun 1,1% dibanding produksi tahun 2010. Pada tahun 2012 produksi padi Nasional ditargertkan sebesar 67,8 juta ton GKG. 

Sehubungan dengan hal tersebut, pengendalian hama padi merupakan prioritas utama, karena kegagalan pengendalian hama tersebut dapat menurunkan produksi yang sangat besar. Tekonologi pengendalian WBC sudah banyak, antara lain penyediaan varietas tahan, penggunaan musuh alami, pengkayaan musuh alami, dan insektisida, namun penerapannya di lapangan banyak yang tidak berhasil, disebabkan petani melupakan sosial kemasyarakatan di antaranya tidak ada modal dasar kesepakatan waktu tanam.

Pengendalian hama tidak dapat dilakukan orang per orang, atau hanya oleh satu lembaga saja, tetapi harus berdasarsegitiga strategi (SOP, kebijakan pemerintah dan masyarakat) yang dikemas dalam program aksi budidaya tanam padi berjamaah diawali dengan pasca ledakan. Pengendalian WBC dan hama-penyakit pada umumnya sebelum ada otonomi daerah dapat diselesaikan dengan baik, karena tinggal pijit tombol intruksi pengendalian sudah jalan. 

Pada era otonomi daerah pengendalian hama tidak dapat diselesaikan hanya dengan teknologi, karena teknologi itu barang pasip, tidak akan aktif bila tidak ada yang menggerakkan. Menyikapi hal tersebut pemerintah  menekankan bahwa teknik pengendalian WBC terbaru yang harus diterapkan dengan tanam khususnya tanaman padi berjamaah/serentak berlandaskan segitiga strategi pengendalian yaitu strategi teknologi, strategi sosial, dan kebijakan pemerintah.

Penerapan Teknologi Panen Dan Pasca Panen.Proses menghasilkan (proses produksi) komoditas hasil pertanian dipandang perlu untuk dilakukan secara lebih terencana, baik dalam produktifitas, kualitas, maupun waktu panen. Dengan demikian, perencanaan produksi dan penanganan hasil, termasuk jaringan distribusi dan pemasarannya, haruslah dilakukan sebagai suatu sistem terpadu didalam suatu tatanan industri pertanian yang berbasis bisnis agroindustri yang dapat dikendalikan secara penuh. 

Dengan demikian pola pandang pertanian modem semacam ini akan berbeda jika dibandingkan dengan pertanian pada umumnya (konvensional) yang sang at tergantung kepada keadaan alam. Dalam hal ini, teknologi produksi dan penanganan pasca panen hasil pertanian dipandang sebagai ujung tombak serta satu syarat mutlak. untuk suatu rangkaian proses didalam sistem agribisnis. Bila keseluruhan jaringan mata rantai di dalam agribisnis dapat dikendalikan secara ketat, maka putaran bisnis didalamnya akan lebih terjamin layaknya sebagai suatu industri.