syarifuddin abdullah
syarifuddin abdullah Pegawai dan dagang

Ya Allah, anugerahilah kami kesehatan dan niat ikhlas untuk membagi kebaikan

Selanjutnya

Tutup

Kotak Suara highlight

Lupakan Persiteruan Ahok vs Anies, Mari Mencermati Persaingan Djarot vs Sandiaga

18 April 2017   14:02 Diperbarui: 18 April 2017   14:32 774 1 1
Lupakan Persiteruan Ahok vs Anies, Mari Mencermati Persaingan Djarot vs Sandiaga
Sumber foto: www.kpujakarta.go.id dalam majalat Tempo, edisi 15 Januari 2017

Keempat figur yang maju bertarung di Pilgub DKI 2017 (Ahok, Djarot, Anies, Sandiaga), berdasarkan ukuran penampilan masing-masing, semuanya ganteng, energik, cerdas dan dalam kadar yang berbeda-beda memiliki integritas di atas rata-rata. Dan setiap kandidat tentu memiliki keunggulannya masing-masing.

Yang paling menonjol pada diri Ahok, konon adalah kejujurannya, yang saking jujurnya sehingga sering memicu kontroversi.

Sementara keunggulan Djarot adalah kesantunan dan kebapakannya yang mengayomi dan menghindari konfrontasi terbuka.

Adapun Anies, dengan latar belakang kehidupan kampus dan intelektualitasnya, memang lebih komunikatif dan sistematis.

Yang paling menonjol adalah Sandiaga Uno, yang keunggulannya boleh disebut  "pesona Sandiaga  Uno". Jika diringkas, dapat dirangkum dalam empat poin: (1) sangat kaya di usia sebelum 50 tahun; (2) cerdas karena tidak mungkin bisa sekaya itu jika tidak cerdas; dan (3) ganteng banget, dan (4) tidak punya bakat bersikap angkuh.

Terganteng

Sekali lagi, empat figur itu (Ahok, Djaror, Anies dan Sndi) semuanya ganteng, tapi yang terganteng adalah Sandiaga Uno.

Dan karakter kegantengan Sandiaga adalah keseimbangan dan keserasian antar setiap bagian di wajahnya. Nyaris sempurna. Kegantengan Sandiaga Uno mungkin hanya mungkin disaingi oleh Agus Yudhoyono, yang sayangnya tidak lolos ke putaran kedua.

Dan hati-hati! Sebab pesona kegantengan Sandiaga ini berpotensi menjadi pendulang suara, khususnya bagi pemilih wanita.

Terkaya

Di banding tiga kandidat lainnya – apalagi dengan Djarot – Sandiaga Uno adalah yang terkaya dengan total harta kekayaan sebesar Rp 3,8 triliun. Sekedar mengingatkan, Sandiaga Uno adalah pemilik PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG), yang merupakan induk dari sebuah anak perusahaan lain yang membangun dan mengelola Tol Cikampek-Palimanan sepanjang 116 km. Silahkan hitung sendiri penghasilan Tol Cipali setiap menitnya.

Sepertinya kekayaan Sandiaga itu dianggap normal. Saya belum pernah membaca ulasan lengkap tentang rasionalitas kekayaan Sandiaga Uno, yang dilaporkan ke KPU  sebesar Rp3.856.763.292.656 plus 10.347.381 USD

Boleh dibilang, Sandiaga Uno adalah generasi Indonesia yang sukses melakukan bisnis investasinya di era Reformasi. Karena kelahiran 1969, berarti Sandiaga baru berusia 29 tahun, di tahun awal Reformasi (1998).

Cerdas atau smart

Ingat peristiwa Debat Kandidat terakhir, pada 12 April 2017, dalam sesi adu argumentasi, ketika Djarot bertanya ke Sandiaga Uno tentang bagaiamana posisinya sebagai Wakil Gubernur nanti terkait perannya dalam membantu Gubernur dalam penyusunan anggaran. Sandiaga menjawab enteng: prinsip dasar penyusunan anggaran intinya sama antara pemerintahan dan swasta. Meski Djarot berupaya mengejar, tapi jawaban Sandiaga Uno tetap: penyusunan anggaran intinya sama antara pemerintahan dan swasta.

Tidak punya bakat angkuh

Secara personality, penampilan Djarot dan Sandiaga Uno juga relatif konsisten dalam hal kebersahajaan. Tapi Sandiaga Uno tetap lebih bersahaja, jika dibanding besaran kekayaannya, yang sebenarnya jika mau, Sandiaga boleh dan "pantas sombong".

Terus dari cara jalannya, gaya bicaranya, dan gerak-geriknya di panggung kampanye, hampir semuanya spontan genuine, yang mengindikasikan bahwa Sandiaga tidak memiliki bakat untuk bersikap angkuh.

Kebersahajaan Sandiaga itu pula yang membuatnya tampil nyaris tanpa beban, dan gerakannya kadang sangat spontan. Misalnya ketika meminjam poster dari Djarot di panggung Debat Kandidat, untuk menjelaskan pandangannya. Peristiwa ini jarang terjadi dalam Debat Publik antara calon yang bersaing. Bahkan sebagian media memberitakan bahwa dalam debat itu, Sandiaga Uno hampir mencium tangan Djarot, sebagai orang yang lebih tua.

Catatan

Pertama, agak aneh, sebab empat poin pesona Sandiaga Uno itu kurang banyak di-eksplore oleh media-media mainstream dan para netizen, selama periode kampanye.

Kedua, empat poin pesona Sandiaga Uno itu juga tampaknya luput dari tim sukses Anies-Sandi sendiri. Sebab selama periode kampanye, pesona Sandiaga Uno kurang maksimal diulas di panggung kampanye. Atau boleh jadi, eksplorasi yang kurang maksimal itu sengaja dilakukan, agar pesona Sandiaga bekerja bekerja normal, layaknya sebuah pesona: mempengaruhi secara alami, dan membuat orang yang dipengaruhi tidak sadar bahwa dia teroengaruh.

Ketiga, sangat dimungkinkan terjadi, faktor penentu utama kemenangan dan/atau kekalahan Pilgub DKI, Rabu besok 19 April 2017, justru terletak pada Calon Wakil Gubernurnya (Djarot vs Sandiaga), bukan karena faktor Calon Gubernurnya (Ahok vs Anies).

Syarifuddin Abdullah | Selasa, 18 April 2017 / 21 Rajab 1438H