Ternyata Malioboro itu...

02 Mei 2013 14:54:11 Diperbarui: 24 Juni 2015 14:14:57 Dibaca : Komentar : Nilai : Durasi Baca :

Ternyata Malioboro itu...



(Tulisan ini merupakan perpanjangan lidah Budayawan Emha Ainun Nadjib atau akrab disapa dengan Cak Nun. Tulisan ini mensarikan dan mengubah bentuk informasi dari lisan Cak Nun menjadi informasi tulisan, yang kebetulan dari jari-jemari saya. Jadi, tolong salahkan saya jika ada kekeliruan dalam penyampaiannya, niscaya itu karena distorsi pemahaman karena terbatasnya ilmu, dan distraksi perhatian karena buruknya fokus konsentrasi saya. Tentang Malioboro ini pernah beliau terangkan sewaktu mengisi salah satu forum. Siapakah Cak Nun ini? Mudahnya, beliau ini tokoh yang sangat saya kagumi, beliau ini ayahnya Noe Letto dan suami dari biduanita Novia Kolopaking. Selebihnya tentang Cak Nun, bisa di-googling dan telusurilah jejak-jejak beliau melalui situs resmi di caknun.com, karya-karya yang terserak di sekian buanyak buku dan artikel di media massa. Atau silakan search video di YouTube dengan keyword “Maiyah”, “Mocopat Syafaat”, “Gambang Syafaat”, “Kenduri Cinta” dan banyak lagi..)



Tentang Malioboro rasanya kawan pembaca sudah tak asing lagi. Malioboro adalah kawasan paling terkenal di Kota Yogyakarta. Lokasinya yang terletak di jantung Kota Yogya, memudahkan setiap orang untuk mengaksesnya. Beragam jenis hal terdapat di sana. Mulai dari kerajinan khas Yogya, Kantor Gubernur DIY dan beberapa landmark semacam Benteng Vredeburg dan Monumen Serangan Oemoem 1 Maret 1949.


Namun, rasanya belum banyak  yang paham sebenarnya apa arti dan filosofi dari jalan satu arah yang membujur dari Utara ke Selatan tersebut. Malioboro pada awalnya dulu hanya bagian dari rangkaian jalan yang dimulai dari Stasiun Tugu sampai dengan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Namun belakangan, seluruh jalan tersebut pada akhirnya dinamakan dengan Jalan Malioboro.


Menurut Cak Nun (yang bertempat tinggal tak terlalu jauh dari Malioboro), jalan yang dimulai Stasiun Tugu sampai ke depan Hotel Inna Garuda, dinamakan dengan Jalan Margo Utomo. Kemudian dari Hotel Inna Garuda sampai ke perempatan sebelum Mal Malioboro disebut Jalan Malioboro. Mulai perempatan sampai ke titik nol kilometer disebut Jalan Margo Mulyo. Dari titik nol sampai Keraton dinamakan Jalan Pangurakan. Nah, masing-masing nama jalan tersebut memiliki arti dan filosofinya masing-masing. Nilai yang demikian agung terkandung di dalamnya.


Filosofi Jalan Malioboro lebih dekat kepada nilai Ketuhanan dan nilai Kemanusiaan. Hablu minallah dan hablu minannas. Hubungan vertikal dengan Tuhan dan horizontal dengan sesama.


Pertama, Jalan Margo Utomo filosofinya adalah untuk menjadi manusia utama, kita harus menjalankan perintah Tuhan yang termaktub dalam syariat agama. Syariat agama harus dijalankan secara kaffah atau menyeluruh. Lingkup kehidupan kita tak boleh lepas dari asma-asmaNya. PerintahNya harus dijalankan, larangan untuk sejauh mungkin kita hindari. Intinya, Margo Utomo ini berada pada tataran pribadi orang per orang. Urusan antara manusia dengan Tuhan. Murni hubungan antara insan dengan penciptanya.


Kedua, Jalan Malioboro ternyata memiliki akar kata yang bahkan saya sebagai orang Jawa tak pernah menduganya. Dulu jaman kecil saya pernah menduga bahwa Malioboro ada sangkut pautnya dengan merk rokok produksi Philip Morris yang sohor itu (duh!). Akar kata Malioboro adalah kata Wali dan Boro. Dalam tata bahasa Jawa, huruf “m” bisa menjadi sarana untuk mengubah kata benda menjadi kata kerja. Contoh kata “warung” menjadi “marung”. Warung sebagai kata benda menjadi “marung” sebagai kata kerja yang artinya sedang di warung untuk minum atau makan. Kata benda “wadon” yang berarti perempuan mendapat unsur “m” berubah menjadi kata kerja “madon” yang berarti main perempuan. Demikian pula dengan kata “wali” mendapat imbuhan “m” menjadi kata “mali”, dan kemudian diimbuh “o” menjadi “Malio.”


“Malio” diterjemahkan secara mudah dengan “jadilah wali”. Terminologi wali dalam konteks ini ialah waliyullah atau Wali Allah, wakil Allah di dunia. Kata “boro” berarti mengembara, atau “ngumbara”. Maka, Malioboro mempunyai pengertian “jadilah Wali Tuhan yang mengembara.” Wali yang mengembara menyebarkan ajaran Tuhan agar diketahui oleh umat. Jalan dakwah harus ditempuh umat Islam, untuk menyebarkan firman Tuhan dan sabda Rosulnya kepada sebanyak mungkin umat, sekalipun hanya satu ayat. Semata agar kasih dan kedamaian Tuhan tersenyawakan di segenap unsur kehidupan manusia dan alam semesta.


Ketiga, Margo Mulyo mengandung makna setelah melakukan kebaikan melalui keistiqomahan dalam menjalankan syariat kemudian menyebarkannya, maka seorang manusia akan mendapat kemuliaan di sisiNya. Ia akan menjadi hamba kesayangan. Ia mendapat keistimewaan. Ia mendapat tempat yang baik. Imbasnya, ia akan mendapat kasih sayang dariNya. Kemudahan senantiasa menaungi hajat kehidupannya.


Terakhir, Pangurakan. Ini adalah puncak dari derajat manusia dalam berkehidupan. Pangurakan berasal dari kata “urakan”. Urakan berbeda dengan kurang ajar. Urakan adalah perilaku mendobrak kezaliman dengan ketulusan dan niat baik, melalui cara-cara yang unik, yaitu tetap menganut tata krama dan bukan hanya polesan sopan santun artifisial. Urakan berbeda dengan kurang ajar. Kurang ajar lebih identik dengan perilaku melanggar aturan dengan niat hanya sekadar melanggar dan gaya-gayaan, tidak ditunjang dengan integritas moral dan niat baik.


Pangurakan adalah jalan yang ditempuh oleh seorang umat yang memiliki derajat yang sangat tinggi di sisi Tuhannya. Derajat Pangurakan tidak didapat dengan sekonyong-konyong. Pangurakan didapat melalui tingkatan-tingkatan spiritual yang telah tertempuh sebelumnya sebagaimana diuraikan di atas. Manusia yang sudah mencapai taraf ini sudah tidak terpengaruh dengan dinamika kehidupan duniawi. Sedih dan senang sudah lebur manunggal menjadi hal lumrah dan wajar, karena ia sudah sangat mafhum dan paham bahwa itu adalah qodha dan qadar Illahi. Hidupnya hanya tentang Tuhan dan Tuhan. Eksistensi dirinya sudah tak ia pedulikan, ia lebih nyaman hidup dalam pengabdian kepada masyarakat dan Tuhannya. Duniawi sama sekali tak mendapat ruang perhatian. Ia sudah njangkungi, beyond atau melampaui segala hal berbau keduniaan. Segala masalah kehidupan dianggapnya senda gurau belaka. Fase ini dicapai oleh umat Tuhan yang telah mencapai makrifat, khatam ilmu tasawufnya dan sosoknya sering disebut sebagai irfan atau sufi.


Dari penjelasan di atas, kiranya kita dapat menarik konklusi, bahwa Jalan Malioboro beserta tiga jalan yang menyertainya, memiliki makna filosofis yang demikian agung. Di dalamnya terkandung hierarkhi kehidupan manusia, dalam dialektikanya dengan Sang Pencipta, sekaligus dengan sesamanya. Dimulai dari Jalan Margo Utomo sampai Jalan Pangurakan, terkandung nilai mendalam secara berjenjang tentang derajat manusia di hadapan Tuhan, pun dengan sesamanya.


Dari sudut pandang lain, filosofi di atas sebenarnya merupakan prasasti budaya warisan leluhur kita. Budaya Jawa berakulturasi dengan Islam yang pada akhirnya menjelma menjadi budaya otentik. Dari nilai dan filosofis tersebut, rasanya tak ada alasan bagi kita untuk tak mengakui bahwa leluhur kita adalah leluhur yang demikian brillian, karena bisa mensistesiskan beragam kultur menjadi produk asli yang memiliki kekhasan tersendiri. Landmark Yogyakarta masa kini, dan Kerajaan Mataram Islam di masa lalu itu memiliki cerita tersendiri yang sangat mengagumkan. Ia harus kita jaga dengan selalu mengingat dan merawatnya, bahkan kita jalarkan dalam tiap denyut nadi dan nafas kehidupan kita sebagai manusia Indonesia yang memiliki budaya luhur ini.

Ryan Perdana

/ryanperdana

TERVERIFIKASI

Kunjungi saya di www.ryanperdana.com dan twitter @ruaien
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana