Ryan Perdana
Ryan Perdana pegawai negeri

Kunjungi saya di www.ryanperdana.com dan twitter @ruaien

Selanjutnya

Tutup

Olahraga

Kabar Bahagia dari Hengkangnya Donnarumma

20 Juni 2017   14:18 Diperbarui: 20 Juni 2017   14:22 9 0 0

AC Milan beberapa tahun ke belakang tidak memiliki pemain fenomenal yang mampu membuat Milanisti sangat posesif, sampai kemudian muncullah sesosok anak muda bernama Gianluigi Donnarumma. Donnarumma berposisi sebagai kiper yang cepat melesat menjadi idola Milanisti. Harapan tinggi disampirkan di telapak tangannya demi menuju AC Milan yang gilang-gemilang di masa yang akan datang.

Donnarumma secara usia masih sangatlah muda. Ia lahir tahun 1999 yang artinya lahir saat saya sudah duduk dengan elegan di kelas 5 SD Negeri favorit di desa sana. Ia ditemukan oleh pelatih yang semasa menjadi pemain dikenal memiliki tendangan melengkung sekencang geledek, Sinisa Mihajlovic. Donnarumma boleh muda, namun jangan ditanya soal kinerja. Ia sering membikin penyerang lawan keki karena refleks dan ketangkasannya. Pendek cerita, ia menjadi perhatian publik sepakbola dunia. Bahkan seorang Milanisti menamakan anak perempuannya dengan namanya.

***

Semua baik-baik saja sampai Donnarumma jatuh ke pelukan agen kontroversial, Mino Raiola. Sejak dipegang Raiola, sebenarnya Milanisti harus sudah mengantisipasi berbagai kemungkinan yang akan terjadi dengan Donnarumma. Reputasi Raiola –yang juga mengageni Ibrahimovic dan Pogba— sudah menjadi rahasia umum. Ia dikenal sebagai agen yang “culas” lagi materialistis.

Benar saja, akhir minggu kemarin Donnarumma menolak perpanjangan kontrak dengan AC Milan. Belakangan, ia dihubung-hubungkan dengan dua klub kaya raya, Real Madrid dan Paris Saint Germain. Sontak saja, Milanisti misuh-misuh tak keruan. Ia diidentikkan dengan ular dan dijuluki Dollarumma. Lalu, ia pun dikutuk-kutuk akan mendapat kegagalan di klub barunya.

Milanisti merasa dikhianati habis-habisan, karena selama ini Donnarumma sering menciumi badge logo AC Milan di jersey-nya sebagai tanda kesetiaan yang ternyata lamis belaka. Yang tak gemar sepak bola memang tidak mengerti bagaimana rasanya jika terjadi sesuatu dengan tim yang didukung. Memang absurd, tapi bukankah memang demikian hakikat cinta?

***

Berikutnya, petinggi AC Milan sampai urun suara. Ia menyamakan Donnarumma dengan dua sosok mega bintang AC Milan di masa lalu yaitu Andriy Shevchenko dan Ricardo Kaka. Diketahui, Sheva dan Kaka enyah dari AC Milan karena bayaran yang lebih menggiurkan daripada saat mereka masih berseragam Il Diavolo Rosso. Sang petinggi menyatakan, Donnarumma akan kehilangan kebintangannya seperti Sheva dan Kaka.

Respons Milanisti paling epic terjadi kemarin saat Donnarumma membela timnas Italia U-21 melawan Denmark dalam perhelatan Piala Eropa U-21 di Polandia. Dalam pertandingan tersebut, sekelompok Milanisti regional Polandia khusus datang ke stadion untuk melempari Donnarumma dengan uang palsu. Perwakilan pelempar uang menyatakan bahwa apa yang telah dilakukan Donnarumma merupakan sebuah pelanggaran berat.

***

Kekecewaan Milanisti terhadap Donnarumma terutama yang dikaitkan dengan alasan uang yang lebih besar di klub baru, sebenarnya merupakan fenomena yang menarik untuk dicermati. Dalam kasus ini, rupanya Milanisti menilai langkah hengkangnya Donnarumma sebagai suatu langkah yang tidak elok, bahkan memalukan.

Hal yang mengherankan, tempat terjadinya peristiwa tersebut ialah di Eropa, sebuah kawasan suci turunnya wahyu materialisme, dimana segala sesuatu dinilai dengan uang dan hal kebendaan. Kasus ini menyadarkan kita bahwa ternyata nilai-nilai luhur kemanusiaan universal masih nyata eksistensinya dan belum luntur digerus zaman.

Bukti nyata lain, pemain seperti Franco Baresi, Paolo Maldini, Giuseppe Bergomi, Javier Zannetti, John Terry, Steven Gerrard, Ryan Giggs, Paul Scholes, dan Gigi Buffon sampai sekarang masih menjadi kesayangan fans karena kesetiaannya. Bahkan beberapa di antara mereka, nomor punggungnya dipensiunkan demi menghargai kesetiaan dan pengabdian. Dapat disimpulkan, kesetiaan dan pengabdian masih menjadi mata uang yang masih berlaku, sekalipun di titik episentrum materialisme.