Wanita headline

Inilah Daftar Makanan Pendamping ASI yang Baik untuk Bayi Anda

10 September 2017   08:55 Diperbarui: 11 September 2017   14:55 3569 2 1
Inilah Daftar Makanan Pendamping ASI yang Baik untuk Bayi Anda
Ilustrasi. Mom and Kids

Usia 6 bulan merupakan momentum penting bagi tumbuh kembang si kecil. Inilah saatnya ia mencicipi makanan pertama diluar ASI. Pelajari cara yang benar dalam memberikan Makanan Pendamping Air Susu Ibu, atau MPASI.

Bubur saring mungkin menjadi menu yang banyak dipilih para ibu untuk MPASI pertama sang buah hati. Biskuit bayi dan jus buah menjadi makanan selingan yang diberikan kemudian. 

Dokumen pribadi
Dokumen pribadi

Sayangnya, kesibukan dan konsentrasi memilih menu bubur bayi tak diimbangi dengan asupan informasi yang memadai seputar MPASI. Walhasil, tak sedikit para ibu yang mengabaikan anjuran para ahli. Padahal, ada sejumlah aspek penting yang perlu diketahui orangtua yang bersiap memberikan MPASI pada buah hati.

Dr. Elvina Karyadi, M.Sc., Ph.D, Sp.GK, Direktur Micronutrient Initiative, menegaskan bahwa makna pemberian MPASI bagi si kecil adalah untuk memenuhi kebutuhan zat gizi dalam pertumbuhan dan perkembangannya, sekaligus mengajarkan anak mengenal variasi makanan.

"MPASI bukan sekedar soal makanan, namun juga cara makan, tempat makan, dan faktor pemberi makanan. Jadi, dalam MPASI diperhatikan juga faktor psikososial anak," tegas Dr. Elvina.

Dr. Reni Wigati, Sp.A(K), dari RS Evasari menegaskan hal senada. "Makan merupakan proses pembelajaran yang sebaiknya dilakukan dengan motivasi dan rasa kasih sayang. Jangan paksa anak makan, dan segera hentikan proses pemberian MPASI bila bayi tampak enggan atau kesal," paparnya.

Dr. Reni mencatat berbagai faktor yang penting diperhatikan orangtua yang hendak memberikan MPASI pada bayi mereka.

Pertama adalah faktor kesiapan bayi. Kedua, faktor tepat waktu atau timely. MPASI dapat diberikan bila ASI eksklusif sudah tidak lagi dapat memenuhi kebutuhan makronutrien (energi, protein, dan lemak) dan mikronutrien (vitamin dan mineral).

Selain itu, ada pula faktor adekuat atau kecukupan dan faktor keamanan atau safety, yakni makanan bayi yang disiapkan dan disimpan dengan cara yang higienis. Perhatikan pula faktor kebutuhan bayi, yakni memberikan MPASI dengan memperhatikan tanda lapar dan kenyang bayi, karena dialah yang menentukan jumlah makanan yang ia butuhkan.

Dr. Reni menyoroti bahwa umumnya orangtua atau pengasuh mendengarkan pendapat orang di sekitar mereka tentang MPASI, terutama yang dianggap sudah memiliki pengalaman mengasuh anak. Atau, mereka memilih mencari informasi melalui internet, yang terkadang keabsahan informasinya tak dapat dijamin.

Pengurus Ikatan Dokter Anak Indonesia DKI Jakarta ini mencatat sejumlah dampak buruk jika aturan main MPASI tidak dipatuhi, seperti mengganggu pertumbuhan dan perkembangan bayi, dan, dalam jangka panjang, meningkatkan risiko gangguan reproduksi dan kesehatan di masa remaja dan dewasa.

Menurut Dr. Reni, MPASI awalnya diberikan dalam bentuk lumat atau semi-padat. Sekitar usia 8 bulan, dapat diberikan finger-food. Lalu, setelah usia 1 tahun, anak dapat diberikan makanan keluarga, yang sama dengan anggota keluarga lain.

Jadwal pemberian dapat mengikuti pola makan keluarga masing-masing. Saat awal perkenalan makanan, dalam sehari bayi membutuhkan 2-3 kali makan, 1 kali makanan selingan, dan 2-3 kali ASI (atau lebih banyak pada bayi yang lebih muda).

Sementara itu, Dr. Elvina memaparkan, frekuensi MPASI makanan utama atau makan besar diberikan secara bertahap. Pada umur 6-8 bulan 29 hari, makanan utama diberikan 3 kali. Berikan camilan seperti biskuit atau buah matang, 1-2 kali sehari.

Pada umur 9-11 bulan 29 hari, makanan utama diberikan 3-4 kali sehari, sedangkan camilan 1-2 kali sehari. Sementara pada umur 12-24 bulan, frekuensi MPASI makanan utama diberikan 3-4 kali sehari, dan juga 1-2 kali camilan tambahan.

Dr. Reni menegaskan, tidak ada makanan yang sebaiknya dihindari, selama bayi tidak menunjukkan tanda-tanda alergi atau intoleransi.

Bagaimana dengan kesalahan yang lazim dalam memberikan MPASI?

Pertama-tama adalah jumlah yang diberikan tidak sesuai umur, serta jenis yang diberikan tidak tepat dan komposisi zat gizi tidak memenuhi kebutuhan si anak. Kadang, ada anak menolak MPASI, dan ibu mengikuti kemauan anak, sehingga sebenarnya kebutuhannya kurang.

"Atau sebaliknya, anak meminta lebih dari kebutuhannya sehingga ia jadi gemuk atau overweight. Selain itu, komposisi MPASI yang diberikan tidak memenuhi gizi seimbang," papar Dr. Elvina.

Dr. Reni menambahkan bahwa kesalahan yang umum dilakukan orangtua dalam memberikan MPASI adalah tidak menyediakan kebutuhan nutrisi yang seimbang, misalnya hampir selalu memberikan bubur nasi dengan sop sayur dan ceker ayam. Padahal, makanan tersebut tidak mengandung protein cukup sehingga berisiko mengganggu tumbuh kembang anak.

"Daging ayam atau sapi juga harus diberikan, bukan hanya ceker ayam sebagai bahan pembuat kaldu. Atau, ada orangtua yang hanya memberi bayi puree umbi-umbian, sayur, dan buah hingga usia 9 bulan. Pola seperti ini tidak dapat mencukupi kebutuhan energi dan protein bayi," tegas Dr. Reni.

Selain itu, kesalahan juga dapat terjadi saat orangtua tidak memperhatikan rasa lapar dan kenyang bayi.

Misalnya, bayi diharuskan menghabiskan MPASI meski sesaat lalu masih kenyang karena menyusu. Atau, bayi yang dipaksa menghabiskan MPASI walaupun ia telah menunjukkan tanda-tanda kenyang.

Dr. Reni juga meluruskan salah kaprah seperti pemberian MPASI sebelum bayi berusia 6 bulan karena ibu gagal menyusui eksklusif. Stigma gagal tersebut akan membuat ibu ragu memberikan MPASI pada bayinya, walau pada saat itu bayinya sudah memasuki fase gagal pertumbuhan.

Jangan lupa, MPASI terbaik adalah buatan ibu sendiri. MPASI instan yang telah memenuhi pemeriksaan BPOM juga baik, karena dibuat untuk memenuhi kebutuhan nutrisi bayi sesuai petunjuk ahli. Sambil memberikan MPASI, pantau tumbuh dan kembang bayi secara rutin.