Ronny Noor
Ronny Noor Geneticist

Pemerhati Pendidikan dan Budaya

Selanjutnya

Tutup

Hijau headline

Kemiri, Harimau Sumatera Tertua di Australia Kini Telah Tiada

29 Juni 2017   12:26 Diperbarui: 29 Juni 2017   21:13 511 11 7
Kemiri, Harimau Sumatera Tertua di Australia Kini Telah Tiada
Kemiri harimau Sumatera tertua di Australia kini telah tiada. Photo: Adelaide Zoo, Adrian Mann

Hari ini perasaan warga Australia, khususnya para pencinta hewan di kebun binatang Adelaide di Australia Selatan berkecamuk antara sedih dan bangga.

Bagaimana tidak, perasaan tersebut sangat erat hubungannya dengan kematian harimau Sumatera bernama Kemiri yang telah menggaet hati banyak orang. Kemiri memang mendapat tempat tersendiri di hari para penjaganya dan juga pengunjung karena memang sudah lama sekali menjadi penghuni kebun binatang di Adelaide ini.

Kemiri merupakan salah satu dari 3 harimau Sumatera yang didatangkan dari Torangga Zoo di Sydney pada pertengahan tahun 1990-an. Di masa kecilnya Kemiri diberikan perhatian dan makanan khusus oleh para penjaganya karena induknya Kemiri tidak menyediakan susu yang cukup untuk Kemiri. Kedekatan para penjaga sejak kecil dengan Kemiri inilah menciptakan hubungan yang sangat khusus antara pengasuh dan Kemiri.

Di antara perasaan sedih atas kepergian Kemiri ini terdapat perasaan bangga karena prestasi kebun binatang ini menjaga dan memeliharanya. Kemiri tercatat sebagai harimau Sumatera tertua saat ini, yaitu mencapai usia 22 tahun. Harapan hidup harimau Sumatera di alam liar hanya mencapai 12 tahun, sedangkan harapan hidup di penangkaran dapat mencapai 20 tahun.

Sebelumnya harimau Sumatera tertua di dunia yang bernama Djelita penghuni kebun binatang Honolulu disuntik mati tahun 2017 ini di usianya yang ke 25 karena kondisinya yang semakin menurun, sakit dan termakan usia.

Kematian Kemiri lebih disebabkan karena usianya yang sudah tua. Di akhir hidupnya Kemiri memang mengalami sakit arthritis dan juga sakit ginjal. Dalam kondisi seperti ini para dokter hewan memang berpendapat bahwa perlakuan medis tidak akan dapat lagi memperbaiki kualitas hidup Kemiri menjelang akhir hayatnya.

Ada salah satu kebiasaan Kemiri yang akan selalu diingat oleh para penjaganya adalah ketidaksukaan Kemiri pada daging ayam. Walaupun dalam keadaan lapar dan disediakan daging ayam di depannya, Kemiri tidak menyentuhnya sampai daging merah segar diberikan oleh penjaganya.

Para pelestari hewan menyatakan bahwa saat populasi harimau Sumatera yang tergolong sebagai hewan langka dan dilindungi ini kurang dari 400 ekor di alam liar.

Pihak Adelaide Zoo kini memang sangat mengharapkan adanya pengganti Kemiri karena dua ekor harimau Sumatera penghuni kebun binatang ini juga sudah mulai memasuki usia lanjut. Harimau Sumatera jantan yang bernama Tuan memang juga sudah cukup tua, sedangkan satu lagi harimau Sumatera betina penghuni kebun binatang ini yang bernama Assiqua belumlah terlalu tua.

Kecintaan dan upaya dunia untuk menyelamatkan harimau Sumatera ini memang sangat ironis. Terlihat sekali bagaimana dengan segala upaya berusaha untuk melestarikan dan mengembangkan populasi harimau Sumatera ini.

Oleh sebab itu, tidak heran ketika beberapa waktu lalu paling tidak sudah dua kali foto harimau Sumatera penghuni salah satu kebun binatang di Indonesia menghebohkan dunia, karena kondisi harimau Sumatera ini sangat menyedihkan yang sangat kurus dan terlihat tulang rusuknya yang menonjol karena kekurangan makanan dan juga cara pemeliharaannya yang tidak benar.

Di alam liarpun nasib harimau Sumatera ini tidak kalah menyedihkan karena kita masih saja ada berita akan perburuan dan pembunuhan harimau Sumatera secara illegal untuk tujuan pemanfaatan organ dan bagian tubuhnya secara komersil.

Kematian Kemiri diharapkan dapat membuka hati dan pikiran pihak terakit di Indonesia untuk dapat melestarikan harimau Sumatera ini. Pelestarian harimau Sumateri ini memang tidaklah mudah dan memerlukan biaya yang besar.

Pendidikan kepada masyararakat akan pentingnya melestarikan harimau Sumatera dan satwa langka lainnya yang dilindungi memang harus terus dilakukan dan diperluas serta dimasukkan dalam bagian dari kurikulum sekolah.

Di level yang lebih besar lagi, kebijakan pemerintah yang lebih berpihak pada tidak saja pelestarian harimau Sumatera namun juga pelestarian habitatnya sangat diperlukan.

Di tingkat dunia, hantaman terhadap produk sawit Indonesia karena dianggap merusak lingkungan orangutan, harimau Sumatera dan satwa liar lainnya seharusnya menjadi pelajaran bagi Indonesia ke depan dalam mengembangkan Industrinya yang lebih berpihak pada pelestarian lingkungan.

Semoga ke depan Indonesia yang terkenal dengan mega diversitasnya tetap akan lestari, bukan sebaliknya hanya tinggal kenangan.

Selamat jalan Kemiri, semoga kepergianmu menyadarkan manusia bahwa keserakahan manusia telah membuat harimau Sumatera menjadi langka.