PILIHAN

Mari Longa, Pahlawan "Nasional" yang Terlupakan

29 Agustus 2012 02:45:48 Diperbarui: 25 Juni 2015 01:12:10 Dibaca : Komentar : Nilai :
Mari Longa, Pahlawan "Nasional" yang Terlupakan
13462080641966745572

Patung Marilonga di kota Ende

Heroisme dan patritisme seorang pahlawan tidak cukup dikenal dengan memberi nama sebuah jalan, mengangkatnya menjadi pahlawan nasional dan menganugrahkan penghargaan lainnya. Mereka hanya dikenang dengan tindak tutur kita sesuai zaman kita kini. Sekiranya, Mari Longa, pahlawan kebanggaan Ende menjadi spirit baru dalam membangun sebuah bangsa.

Mari Longa dilahirkan di Watunggere, Ende sekitar tahun 1855, sekarang ibukota kecamatan Detukeli Kab Ende, Flores NTT. Nama aslinya Leba (pare adalah jenis sayur yang pahit). Ayahnya bernama Longa Rowa, seorang panglima perang tanah persekutuan Nida. Ibunya bernama Kemba Kore. Sebab sering sakit, maka sang ayah mengganti nama Leba Longa dengan nama Mari Longa. Mari adalah sejenis pohon yang kulitnya sangat pahit serta kayunya sangat keras. Sejak namanya diganti Mari Longa, ia menjadi sangat sehat.

Mari Longa berperang melawan sesame pribumi. Untuk menghancurkan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia, Belanda menerapkan politik “devide et impera”. Mari Longa ingin berdamai dengan pribumi karena kecerdikan Belanda, maka perang sesama pribumi pun tak terhindarkan. Pertama, perang melawan orang Mego di Maumere sekitar tahun 1895. Pertempuran ini dimenangkan oleh Mari Longa. Kedua, perang melawan orang Lise Lande pada tahun 1897 – 1899 yang dimenangkan oleh Mari Longa. Dalam perdamaian Mari Longa mempersunting seorang gadis Lise. Ketiga, perang melawan orang Londi Lada, dimenangkan oleh Mari Longa. Keempat, perang melawan orang Detukeli. Kelima, perang melawan pasukan Diko Lawi yang kemudian ditaklukan oleh pasukan Anafua pimpinan Mari Longa.

13462081501707037962
13462081501707037962
Sisa Peninggalan Benteng Pertahanan Mari Longa di Watunggere

Revolusi awal perang Mari Longa melawan Belanda dimulai pada tahun 1890. Mari Longa membantu Bhara Nuri (pahlawan Ende, pemimpin pasukan melawan Belanda 1887 – 1891) untuk berperang melawan Belanda. Dalam pertempuran itu, putrid Mari Longa yang bernama Nduru Mari terkena tembakan Belanda. Peluru bersarang di ususnya. Nyawa Nduru Mari tertolong dan hidup. Pertempuran ini dikenal dengan perang “ae mesi nuka tana lala” (air laut naik, tanah runtuh). Perang ini juga sebagai awal perang melawan kolonial Belanda. Pasukan Belanda pun bertekuk lutut dalam perang selama 1893 – 1897 ini.

Perang Koloni II terjadi pada tahun 1898 – 1902. Pasukan Belanda digiring Mari Longa memasuki hutan sehingga mereka menyerah kalah sebelum banyak menelan korban. Belanda mengajak damai dan ingin mengajak Mari Longa menjadi raja. Belanda licik dan Mari Longa tidak diangkat menjadi raja di Watunggere.

Perang Koloni III terjadi pada tahun 1905. Kampung Lewagare dibakar Belanda. Mari Longa marah dan bersama pasukannya membantai serdadu Belanda.

Perang Koloni IV pun meletus lagi pada tahun 1906. Lagi – lagi puluhan pasukan Belanda merenggang nyawa terkena tembakan anak panah otomatis yang dipasang pada jalan masuk kampung Watunggere dan jalan di hutan, dekat benteng Watunggere yang merupakan perkampungan Belanda. Belanda akhirnya menarik pasukannya ke Ende.

Akhirnya, karena kelicikan Belanda pada tahun 1907 perang koloni V meletus lagi. Mari Longa gugur di depan benteng Watunggere, di tangan kapten Christoffel.

1346208267266059944
1346208267266059944
Kubur Batu Mari Longa di Watunggere
Kini, kisah Mari Longa dengan masa kejayaannya tinggal cerita lusuh dan usang. Kesaktian dan kepemimpinan Mari Longa hanya selembar sejarah yang kini masih terlukis pada nama salah satu jalan di kota Ende, Jalan Mari Longa. Sekiranya memberikan roh dan semangat bagi generasi penerusnya untuk terus membangun negeri ini dengan „topo doga, ae bere iwa sele“ (tanpa menyerah dan tak kenal lelah), tidak bermental instan dan malas dan tidak menjadi pemimpin malas. Sebab korupsi (mencuri uang negara) akan selalu lahir dari kemalasan.

Roman Rendusara

/roman

TERVERIFIKASI

Nama pena Roman Rendusara. Lengkapnya, Oswaldus Romanus M. Saya dilahirkan di kampung Kepi, Desa Rapowawo, Kec. Nangapanda, Ende Flores NTT. Menyelesaikan pendidikan dasar di kampung. Tingkat menengah berlanjut di Lembah Sasa sambil menikmati pucuk labu, ra'a rete plus tua bhara. Belajar filsafat dan ekonomi, sambil menyisir kisah di balik gempita metropolitan. Beberapa tulisan pernah bertengger di HU Flores Pos dan media lokal lain. Tulisan lain, dapat berkunjung ke: floreside.com dan floreside.wordpress.com. Juga, aktif menulis di kompasiana (kompasiana/roman) 'tuk memaknai setiap pengalaman yang tercecer. Kini menetap di kampung kelahiran sambil mencangkul kebun ubi kayu. Salam KOMPASIANA.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.
Featured Article