HIGHLIGHT

Janur Kuning di Zaman Industri

25 Juni 2011 08:04:05 Dibaca :

Ini zaman, zaman industri. Tembakau digulung, jadi rokok, dijual, bisa menerangi kota dengan billboard-billboard raksasanya. Seperti di Alun-alun kota-kota lainnya, di Alun-alun Purwokerto juga sudah teronggok TV Raksasa berisi iklan rokok sepanjang hari. Ya, karena si perusahaan rokok yang membuat itu TV, bagaimana enggak mengiklankan.

Ini zaman, zaman industri, pendidikan jadi ladang segar menggenjot pendapatan, SMA negeri favorit yang menolak ratusan murid dari 20 tahun yang lalu karena kelebihan pendaftar, kini memasang spanduk. Dijalan-jalan bertemu spanduk SMAN 1, ada juga spanduk SMAN 2 almamaterku. Bukannya bangga, tapi heran... apa ini sekolah sudah enggak laku ya sampai-sampai pasang spanduk? Atau sedang melukai hati sekolah-sekolah pinggiran, yang muridnya 20 tidak genap, bayarnya saja ngangsur dan guru-gurunya digaji tidak lebih dari pendapatan pengamen.

Kesehatan juga ikut-ikutan jadi ladang pengeruk uang. Namanya industri kesehatan, mencetak obat dan menjualnya mahal ke orang, jelas bukan orang sehat, tapi orang sakit, yang mau tidak mau, punya tidak punya uang ya tidak ada pilihan lain selain membeli.

Di zaman industri telepati dianggap magis, atau lebih agamanya syirik, tanpa orang-orang diberi ajakan untuk menelaah terlebih dahulu. Agar handphone dan internet gak ada matinye. Di zaman industri, daun pisang pembungkus nasi diganti kertas yang dilapisi laminasi plastik dan kita kenal dengan nama kertas minyak, dengan sekian item dampak buruk dan bahayanya.

Tapi, si zaman industri nyatanya sampai hari ini belum bisa menggantikan janur kuning. Di Banyumas, dan banyak daerah di tanah Jawa, keluarga pengantin selalu memburu seniman janur, agar H-1 sebelum hajatan, di ujung gang tempat anaknya dinikahkan sudah tertancap untaian cantik daun kelapa muda setinggi bambu layur.

Janur kuning tidak bisa digantikan dengan GPS, walau fungsinya sama, untuk memandu tamu menuju lokasi resepsi. Janur tidak bisa diganti dengan umbul-umbul kain, karena keluarga pasti tidak mau dianggap rumahnya sedang memperingati tujuhbelasan. Dan entah si zaman sedang memikirkan apa pengganti janur kuning, seperti si zaman menggeser daun pisang dengan kertas minyak, ilmu kepekaan batin (telepati) dengan HP, juga membisniskan pendidikan dan kesehatan.

Sampai hari ini di Banyumas saya belum menemukan pabrik pembuatan janur, setahu saya janur-janur itu dibuat dari sentuhan tangan seniman langsung. Dan sampai hari ini saya tidak menemukan janur sombong yang tidak mau turun seperti ketua PSSI, karena begitu 3 hari resepsi selesai, sekalipun tidak diturunkan, janur akan layu mencoklatkan diri. Jadi orang tidak akan nyasar datang ke tempat resepsi yang sudah kedaluarsa.

Janur kuning atau daun kelapa muda, adalah dedikasi alam, untuk kemaslahatan hidup kita yang tidak merusak keseimbangan ekosistem dunia.

Save the earth with janur kuning & other, memayu hayuning bawono.

Rizky Dwi Rahmawan

/rizky

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Wirausaha Muda Mandiri 2013
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?