Ris Sukarma
Ris Sukarma

Pensiunan pegawai negeri, sekarang aktif dalam pengembangan teknologi tepat guna pengolahan air minum skala rumah tangga. Ingin berbagi dengan siapa saja dari berbagai profesi dan lintas generasi.

Selanjutnya

Tutup

Pesan dari Teta (1)

1 Desember 2009   00:48 Diperbarui: 26 Juni 2015   19:07 151 0 0

Malam belum terlalu larut ketika lampu di ruang tengah itu dipadamkan oleh Pak Said, si pemilik rumah. Sejenak gelap menerpa, tapi perlahan-lahan sinar bulan menerabas masuk ke sela-sela dinding anyaman bambu dikamarku. Kurebahkan badanku yang serasa penat setelah menempuh perjalanan yang tidak terlalu jauh sebenarnya, tapi cukup melelahkan. Ini adalah malam pertama aku tidur di rumah Pak Said, kepala keluarga dengan tiga anak, petani bawang putih di dusun Teta 1, desa Teta, kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat. Aku dengan empat orang rekanku sekerja sedang mengikuti acara yang disebut village immersion program, yang diselenggarakan oleh kantor dimana aku bekerja. Keempat orang temanku cukup beragam: Tony yang jangkung orang Amerika, Lloyd yang besar dari Australia, Lis dari unit sosial dan Sinta sekretaris direktur di kantorku, ditemani mbak Yuni pemandu kami.


Teta adalah sebuah desa kecil yang terpencil di ujung timur Pulau Sumbawa. Jaraknya sebenarnya tidak terlalu jauh dari Bima, ibukota kabupaten, tapi jarak sekitar 40 km itu ditempuh hampir dua jam dengan kendaraan umum satu-satunya yang menghubungkan desa Teta dengan Bima, yang singgah di desa Teta tiga hari sekali. Jalan yang berliku menyusuri lereng yang terjal adalah jalur yang harus ditempuh untuk menuju kedesa ini. Jalan yang berbatu dan bergelombang, aspal terkelupas serta kondisi kendaraan yang sudah usang menggoncang badan kami sepanjang jalan. Kami tiba di Teta menjelang siang dan disambut dengan upacara adat serta bermacam-macam jenis makanan, layaknya hajatan pesta perkawinan. Kebetulan bertepatan dengan acara pemotongan rambut bayi-bayi yang baru lahir. Setelah saling berkenalan, kami masing-masing tinggal di rumah warga dalam jarak yang cukup berjauhan. Tony, Lis, Sinta dan mbak Yuni tinggal di rumah-rumah warga sekitar lapangan desa, aku dan Lloyd yang paling jauh, rumah yang aku tempati terletak diujung desa yang berbatasan dengan lembah yang dipenuhi tanaman bawang putih.Aku dan Lloyd bertetangga, rumah yang kami tempati hanya dibatasi sebidang tanah penuh dengan tanaman palawija. Kami akan tinggal selama seminggu disini, berbaur dengan kehidupan warga desa, mengenali kehidupan sehari-harinya, mencoba untuk menggali informasi tentang apa saja dan, mudah-mudahan bisa berempati terhadap kehidupan mereka, saudara-saudara kita yang kurang beruntung.


Hari pertama di dusun Teta 1, aku masih canggung. Aku terlambat bangun dan memutuskan untuk tidak mandi pagi itu karena kamar mandi ternyata terletak di halaman samping rumah, dan hanya terlindung dinding anyaman bambu setinggi pinggang. Aku belum biasa, aku hanya membasuh muka di pancuran dan membuang hajat, itupun sambil mengatur-atur posisi agar tidak terlihat dari luar. Sebenarnya kami membawa cukup banyak makanan kaleng dan buah-buahan, tapi aku memutuskan untuk memberikan semuanya kepada Pak Said, dan terserah tuan rumah bagaimana mereka mengaturnya. Rumah Pak Said adalah rumah panggung dimana kita harus naik tangga untuk masuk ke dalamnya. Di bawahnya ada ruangan yang diberi batas keliling dengan anyaman bambu. Rupanya Pak Said juga memelihara ayam, ada lebih dari sepuluh ekor ayam berkeliaran di kolong rumah, dan aku bisa melihatnya melalui celah-celah anyaman bambu yang menjadi lantai rumahnya. Ternyata Pak Said dan keluarganya tidak pernah menikmati telur ayam maupun dagingnya, karena telurnya mereka jual kepasar. Aku jelaskan bahwa telur ayam baik untuk kesehatan, terutama untuk anak-anak Pak Said yang masih sekolah. Tapi Pak Said tidak menjawab dan hanya tersenyum.


Kegiatanku hari pertama adalah mengikuti Pak Said menengok ladangnya berupa kebun bawang putih yang kebetulan sedang panen. Bawang putih adalah tanaman yang cepat menghasilkan, dalam tiga bulan bawang putih sudah bisa dipanen. Tapi Pak Said mengalami kesulitan dalam pemasarannya, dan pada saat harga bawang jatuh, maka Pak Said terpaksa menjualnya dengan harga murah. Sebenarnya Pak Said tidak termasuk keluarga yang terlalu miskin di kampungnya, yang relatif lebih makmur dari kampung lainnya di desa Teta. Dia memiliki sebuah motor, satu dari beberapa motor yang ada di dusun itu. Selain menanam bawang putih dan padi, dia juga menanam beberapa batang pohon jati di dekat hutan. Ketika aku katakan bahwa pohon jati memerlukan waktu berpuluh-puluh tahun untuk menikmati hasilnya, dia hanya mengatakan, biarlah anak cucunya nanti yang akan menikmatinya. Suatu pandangan yang jauh kedepan dari seorang warga desa yang sederhana.


Hari berikutnya, pagi-pagi sekali saat azan subuh baru saja selesai berkumandang, Sri, anak Pak Said yang paling besar sudah bersiap-siap berangkat ke sekolah. Dia hanya makan ubi jalar rebus sebagai sarapannya. Hari masih gelap ketika aku dan Lloyd mengantar Sri ke sekolah, sebuah SMP di kecamatan yang jauhnya lebih dari tiga kilometer. Sepanjang jalan rombongan anak-anak yang akan berangkat sekolah makin lama makin banyak sehingga kami berjalan berombongan, kadang-kadang mereka berjalan sambil bernyanyi sehingga tidak terasa lelah. Mereka berjalan begitu cepat, aku dan Lloyd sampai kewalahan mengikutinya. Akhirnya kami membiarkan mereka berjalan duluan. Lloyd yang berbadan besar sampai bersimbah peluh sewaktu kami tiba di sekolah pada jam 7 pagi. Mereka setiap hari melakukannya dan itu mereka lakukan dengan senang hati. Sungguh suatu perjuangan yang berat untuk mendapatkan ilmu demi masa depan mereka. Pak Said menginginkan anak-anaknya kelak menjadi “orang”, dan tidak lagi menjadi petani bawang putih seperti dirinya. Pak Said cerita mengenai saudaranya yang sekarang sudah merantau ke Pulau Lombok, menjadi pedagang dan hidup lebih baik. (Bersambung).