Ris Sukarma
Ris Sukarma

Pensiunan pegawai negeri, sekarang aktif dalam pengembangan teknologi tepat guna pengolahan air minum skala rumah tangga. Ingin berbagi dengan siapa saja dari berbagai profesi dan lintas generasi.

Selanjutnya

Tutup

Kantin Kejujuran

12 Maret 2010   03:46 Diperbarui: 26 Juni 2015   17:28 356 1 0


Ada berita kecil yang cukup menarik perhatian saya di Kompas edisi hari ini (12/3). Berita tersebut adalah mengenai adanya kantin kejujuran di SMAN 40 Pademangan, Jakarta, dimana para siswa bebas untuk membeli apa saja di kantin yang tidak dijaga samasekali, kecuali kotak untuk menyimpan uang untuk siswa yang melakukan transaksi dan untuk menukarkannya sekaligus apabila diperlukan uang kembalian.


Mengapa berita kecil ini menjadi menarik. Pengalaman sekitar kita memperlihatkan bahwa kejujuran adalah sesuatu yang sulit didapatkan pada saat ini. Pada situasi tertentu orang cenderung untuk tidak jujur, misalnya dalam hal pelaporan pajak, atau pedagang yang menjual produk yang sudah kadaluarsa.Orang yang jujur dan transaksi yang jujur menjadi sesuatu yang langka sekarang ini. Bahkan ada pemeo, kalau seorang PNS berlaku jujur maka hidupnya akan selalu susah dan disisihkan dari pergaulan kolega-koleganya.


Kantin ini mendemonstrasikan sekaligus mengetes kejujuran seseorang. Mungkin ada satu dua orang yang berbuat tidak jujur, tapi apabila mayoritas transaksi yang terjadi disana dilakukan dengan jujur, maka saya bisa mengatakan bahwa proyek percontohan ini cukup berhasil. Mungkin karena skalanya kecil sehingga kalau tidak jujur akan ketahuan juga akhirnya.


Saya ada sedikit pengalaman pribadi sewaktu mengunjungi Sydney, Australia dulu. Disana, apabila kita membayar tol di gerbang tol, ada gerbang khusus dimana kita tidak perlu membayar kepada penjaga tol seperti di Indonesia. Di gerbang tol khusus, bagi yang terburu-buru dan sudah tahu berapa tarif tol yang akan dibayar, pengguna jalan cuma melemparkan sejumlah uang ke dalam tong kaleng yang sudah tersedia. Sehingga kita cuma mendengar bunyi “cring” sewaktu sejumlah koin yang kita bayar itu masuk dalam kaleng tersebut, yang bentuknya mengerucut, agar koin tidak terlempar keluar. Sewaktu saya katakan pada rekan saya bahwa kalau di Indonesia, orang bisa saja melempar koin dengan jumlah sembarangan, atau bahkan tutup botol sekalipun, toh tidak ada yang mengawasi. Dia cuma tersenyum.


Di kantor tempat saya bekerja dulu, di dekat mesin fotokopi ada kotak uang. Gunanya adalah apabila ada pegawai yang memerlukan membuat salinan dokumen untuk keperluan pribadi, yang jumlahnya tidak terlalu banyak, maka yang bersangkutan boleh menggunakan fasilitas fotokopi dengan memasukkan uang secukupnya, sesuai dengan jumlah lembar dokumen yang akan dibuat fotokopinya. Saya kira ini cara yang cukup efektif untuk mengetahui apakah kita bisa jujur atau tidak. Sebagian mungkin mengatakan, ah cuma beberapa rupiah saja, toh tidak ada pengaruh apa-apa. Kejujuran tidak perlu dikaitkan dengan jumlah uang yang terlibat saya kira, tapi sesuatu yang mendasar sifatnya. Kalau yang sedikit saja bisa tidak jujur, bagaimana dengan uang yang jumlahnya lebih banyak?


Kembali ke kantin kejujuran di SMAN 40, saya sudah pernah mendengar tentang adanya kantin kejujuran ini, tapi berita ini muncul lagi karena kunjungan Wapres Boediono ke SMAN 40 untuk melakukan peninjauan sekaligus berdialog tentang masalah pendidikan dengan perwakilan pelajar se DKI Jakarta Utara di Gedung SMAN 40.


Terlepas apakah ada agenda khusus dibalik kunjungan Wapres Boediono yang juga menyampaikan bantuan untuk sekolah-sekolah, adalah menarik apa yang diucapkan Boediono: “Kejujuran adalah bagian dari watak pemimpin bangsa”.


Apabila semua watak pemimpin bangsa bisa berlaku jujur, apabila kita semua warganegara bisa berlaku jujur, saya yakin Indonesia bisa segera lepas dari keterpurukan.