Apakah Hujan Es di Bandung Adalah Bentuk Perubahan Iklim?

22 April 2017 01:52:56 Diperbarui: 22 April 2017 02:06:07 Dibaca : 150 Komentar : 0 Nilai : 0 Durasi Baca :

Rabu (19/04/2017) tepatnya di Kota Bandung terjadi suatu fenomena hujan badai disertai turunnya butiran es yang menyebabkan sekitar 63 lokasi pohon tumbang dan kerusakan diberbagai tempat, seperti jatuhnya papan reklame di Jalan Terusan Jakarta.
Fenomena ini seingat saya pernah terjadi juga di November 2016 lalu, hujan badai namun disertai turunnya air bukan es yang menyebabkan banjir besar di banyak titik.

Awan yang menyebabkan badai ini adalah Awan Cumulonimbus. Cumulonimbus berasal dari bahasa latin yaitu Cumulus (tumpukan) dan Nimbus (awan badai, hujan badai) dengan kata lain awan ini adalah awan dengan kepadatan tinggi dan menumpuk atau berbentuk menjulang sangat ke atas.
Awan jenis ini sering dikaitkan dengan badai dan ketidakstabilan komponen di atmosfir dan adapat menjulang hingga setinggi 18 km dan di dalamnya terdapat komponen seperti air, es, listrik, hingga badai.

Proses pembentukan awan ini terjadi dalam 3 proses yaitu dorongan oleh angin, penyatuan, dan terakhir penumpukan.

Menurut Pakar Meteorologi dan Klimatologi Badan Pengkajian dan penerapan Teknologi (BPPT) (dikutip dari mongabay.co.id), Edvin Adrian fenomena angin  kencang dan hujan es yang terjadi kemarin di Bandung merupakan hal yang biasa dalam peralihan musim hujan kepada musim kemarau. Hujan es sendiri dapat muncul akibat pengaruh angin yang cukup kencang. Kecepatan angin diperkirakan mencapai 70 kilometer/jam. Angin seperti ini dapat dikategorikan sebagai angin puting beliung

Faktor lain yang mempengaruhi adalah letak geografis Bandung yang dikelilingi oleh pegunungan, sehingga suhu panas yang sebelumnya terjadi di pusat wilayah tidak berpindah. Selain itu, perubahan suhu yang ekstrim juga dapat memicu munculnya hujan es. Pada suatu pagi bisa dirasakan cukup terik, kelembaban tinggi, dan ada beda suhu yang besar di dalam satu hari tersebut (menurut sains kompas).

Menurut Hary (BMKG), terjadi perbadaan suhu yang besar hari itu diantara jam 7 hingga 10 pagi (sekitar 5 derajat celcius), kelembaban yang terjadi sekitar 70% dengan radiasi matahari yang optimum. Kondisi seperti ini menyebabkan pembentukan awan secara konveksi dan muncullah kumulonimbus.

Sementara itu, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) menyebutkan hujan es yang disertai angin kencang dan petir itu sebagai fenomena hujan badai ekstrem. Dalam ilmu meteorologi disebut juga badai dalam sel tertutup.

Erma Yulihastin( Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer Lapan Bandung) mengatakan pemicu pertama badai dalam sel tertutup adalah konvergensi angin kuat 7 m/s dari Selatan, yaitu berasal dari Laut Selatan Jawa Barat dengan angin berkekuatan sedang 4 m/s dari Utara.
"Angin dari Selatan dan Utara yang bersifat lembab ini berinteraksi dengan udara kering dan dingin di atas wilayah pegunungan yang mengelilingi cekungan Bandung, sehingga terbentuk sel badai tertutup yang memproduksi banyak sekali es di dalam awan tersebut," kata Erma dalam keterangan dikutip dalam liputan6.com

Lantas Dimana Perubahan Iklimnya?
Angin Kencang
Loh, kok jadi angin disalahin. Hujan esnya? El-Nino. El-Nino adalah angin yang mempengaruhi terjadinya perubahan musim. El-Nino akan mengakibatkan pemanasan suhu dipermukaan laut. Sedangkan kebalikannya, yaitu La-Nina, akan menyebabkan pendinginan suhu di permukaan laut. Kita bisa rasakan sendiri bahwa musim di Indonesia pada khususnya, sudah tidak menentu. Umumnya musim kemarau muncul sekitar bulan Maret-April dan musim penghujan dimulai sekitar bulan September-Oktober, sekarang? Tidak menentu bukan?
Hujan bisa datang kapan saja, panas bisa hadir sepanjang hari.

Fenomena El-Nino yang teramati adalah meningkatnya suhu permukaan laut yang biasanya dingin. Fenomena ini mengakibatkan perairan yang tadinya subur dan kaya akan ikan (akibat adanya upwelling atau arus naik permukaan yang membawa banyak nutrien dari dasar) menjadi sebaliknya.
El-Nino akan terjadi apabila perairan yang lebih panas di Pasifik tengah dan timur meningkatkan suhu dan kelembaban pada atmosfer yang berada di atasnya. Kejadian ini mendorong terjadinya pembentukan awan yang akan meningkatkan curah hujan di sekitar kawasan tersebut.

Dalam perkembangannya, para ahli juga menemukan bahwa selain fenomena menghangatnya suhu permukaan laut, terjadi pula fenomena sebaliknya yaitu mendinginnya suhu permukaan laut akibat menguatnya upwelling. Kebalikan dari fenomena ini selanjutnya diberi nama La-Nina berasal dari bahasa Spanyol yang berarti “anak perempuan”. Fenomena ini memiliki periode 2-7 tahun.
Prabowo menyampaikan, saat ini sebenarnya sudah terjadi badai El-Nino di sekitar samudra pasifik. Tentu saja badai ini cukup mempengaruhi musim di Indonesia, hanya saja badai tersebut masih kategori intensitas rendah. “Bulan-bulan Juni-Juli ini sudah ada gejalanya (badai El-Nino) tapi intensitasnya rendah. Sementara itu bulan Juli ini sudah memasuki musim kemarau. Meski kemarau, bukan berarti tidak akan terjadi hujan. Menurutnya, potensi turunnya hujan tetap ada, hanya saja dalam intensitas yang rendah.  Berbeda jika dalam kondisi terjadinya Badai La-Nina 

Kedua badai tersebut jika terjadi berkepanjangan, memastikan bahwa proses perubahan iklim benar telah terjadi di dunia. Suhu bumi yang semakin panas mengakibatkan musim yang semakin tak menentu. Tandanya adalah angin. Kecepatan angin yang terjadi dalam peristiwa badai di Bandung tidaklah biasa, hingga menumbangkan puluhan pohon bahkan papan reklame. Hal inilah yang mengindikasikan telah terjadi perubahan iklim, angin kencang yang tidak wajar, tidak seperti pada hujan biasanya.

Sumber: Hujan Es Melanda Kota Bandung Kok Bisa Terjadi

Fenomena Pancaroba

Pemicu Hujan Es Guyur Kota Bandung di Siang Bolong

Hujan Es di Bandung, Kenapa Bisa Terjadi dan Apa Bedanya dengan Salju

Mengenal Awan Cumulonimbus dan Proses Terbentuknya

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.
LABEL hijau green

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana