Mohon tunggu...
Rifan Nazhip
Rifan Nazhip Mohon Tunggu... Penulis - PENULIS
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

Hutan kata; di hutan aku merawat kata-kata.

Selanjutnya

Tutup

Ramadan Pilihan

Puasa Ramadan Jangan Jadi Baperan

6 Mei 2019   13:53 Diperbarui: 6 Mei 2019   14:29 63
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
sumber ilustrasi : pixabay

Menjelang Ramadan, terkadang gembiranya bukan main. Segala bentuk euforia dijabanin. Anehnya, hari pertamanya saja, lapar haus seakan menonjok. Buka-buka kulkas menjadi rutinitas.

Mengintip tudung saji seakan hobby. Jangankan itu, air kran saja disangka sirop. Biasanya mandi sekali tiga hari, sekarang bernafsu mandi tiga kali sehari seperti minum obat. Baperan paling sengsara sedunia terkadang membuat uring-uringan. Sumbu pendek alias cepat marah, meski bingung apa yang membuat kita marah. Semangat letoy ibarat gelang karet kecebur minyak. Hanya sanggup melar dan tak bisa mengikat lagi.

Baperan terkadang menggerayangi, apalagi jika cahaya matahari menyucuk ubun. Mungkin kita iri kepada mereka yang cuaca daerahnya sejuk, atau mereka yang di kutub sekalian. Tentu mereka tak merasa kehausan berat. Meski belum tentu mereka tak merasa kelaparan berat.

Harusnya kita dapat bersabar. Karena tujuan puasa itu salah satunya adalah melatih sabar. Sabar melihat makanan di lemari hanya sekadar melihat. Sabar melirik air di galon, tapi sebatas melirik. Sabar bermedia sosial dengan berada di jalur aman, meski terkadang jiwa dan jari kegatalan. Sabar menulis menu-menu di Kompasiana, artinya menulis menu-menu itu saat berbuka.

Meski kita tahu viewer akan nambah jika berbincang tentang makes dan mikes  di Kompasiana saat siang hari. Meski kita tahu juga bukan tulisan kita  yang bagus membuat viewer nambah, melainkan ilustrasi yang membuat halu. Dan meski entar malam saat unggah tulisan, viewer lebih memilih menu nyata ketimbang tulisan di Kompasiana.

Dan kamu (bukan kita) harus sabar menahan emosi ingin mengacak-ngacak tulisan receh ini. Karena biar pun kamu ingin koyak-koyak tulisan saya, mustahil gawai bisa dikoyak. Ingin kamu bantin-banting, paling tidak hape jadul itu yang minta diupgrade karena touchscreen retak.

Wokeh, sebenarnya saya ingin mengatakan agar kita tidak baperan saat puasa Ramadan, karena masih banyak rakyat di negara lain yang harus lebih lama bersabar menunggu waktu buka ketimbang kita.

Berikut kota  yang rakyatnya terlama puasa karena harus melewati waktu 15 jam lewat sekian menit. Kita mulai dari yang terlama:

Toronto, 15 jam 58 menit

Roma, 15 jam 55 menit

Athena, 15 jam 48 menit

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ramadan Selengkapnya
Lihat Ramadan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun