Perjamuan Kudus dalam Perjanjian Lama

05 Februari 2011 17:58:00 Dibaca :

I. PENDAHULUAN

Berdasarkan Alkitab, Perjamuan Kudus adalah perjamuan yang ditetapkan dan diadakan Tuhan Yesus beserta murid-murid-Nya pada malam menjelang Ia ditangkap dan disalibkan (Mat. 26:26; Mrk. 14:22; Luk. 22:14; 1 Kor. 11:23). Perjamuan Kudus yang diadakan Yesus, berhubungan dengan upacara Pesakh Yahudi. "Pesakh" berasal dari kata kerja bahasa Ibrani yaitu "Pasakh", artinya "berlalu" atau "melewati/lewat". Kemudian dalam bahasa Indonesia disebut dengan istilah Paskah. Dalam Keluaran 12:13, Allah berjanji bahwa hukuman-Nya akan berlalu pada pintu-pintu yang diberi tanda dengan darah anak domba Paskah. Artinya, Paskah menyatakan perjanjian yang diadakan Allah dengan Israel untuk kelepasan bangsa tersebut dari perbudakan di Mesir (Ul. 16: 1 ff).[1]

Kemudian pemahaman Perjamuan Paskah dalam Perjanjian Lama dilanjutkan dan dikembangkan serta ditetapkan dalam kesaksian Perjanjian Baru. Ketika Yesus merayakan Perjamuan Paskah untuk terakhir kalinya, Ia mengambil roti, memecahkan serta membagikannya kepada murid-murid-Nya serta berkata : "Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!" (1 Kor. 11:24). Pada akhir pertemuan, ketika diberikan-Nya cawan berisi air anggur, Ia berkata: "cawan ini adalah perjanjian baru yang dimateraikan oleh darah-Ku; perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku," (1 Kor. 11:25). Berdasarkan perkataan-perkataan inilah gereja mengadakan Perjamuan Kudus untuk mengenang dan bersyukur atas kematian dan kebangkitan Yesus Kristus.

Perjamuan Kudus adalah jamuan perjanjian yang diadakan Allah dengan umat-Nya di bukit Golgata ("Perjanjian yang baru"), di mana anak Domba Paskah telah dikorbankan satu kali untuk selamanya (1 Kor. 5:7). Bila pada perayaan Perjamuan Kudus, orang percaya menerima roti dan anggur maka dengan "Firman yang kelihatan (Kristologi bawah)" ini ditegaskan bahwa orang percaya boleh ambil bagian dalam keselamatan yang dikerjakan Kristus bagi manusia. Sebab dengan menerima roti dan anggur perjamuan, menandakan bahwa orang percaya dijadikan satu dengan Kristus dalam kematian-Nya.[2] Dengan merayakan Perjamuan Kudus, gereja mengenang perjamuan perpisahan antara Yesus dengan murid-murid-Nya. Keagungan Perjamuan Kudus itu digambarkan oleh Injil Yohanes dengan pembasuhan kaki para rasul oleh Yesus untuk menunjukkan bagaimana Kerajaan Allah datang dengan jalan penghambaan sehingga kemuliaan-Nya akan datang sampai akhir zaman.[3]

Oleh karena itu Perjamuan Kudus memiliki makna yang sangat besar kepada orang percaya. Perjamuan Kudus dapat menerangkan dan memberi jawaban kepada orang percaya tentang siapa Yesus yang sebenarnya dan untuk apa Dia datang. Dengan demikian Perjamuan Kudus adalah sesuatu pengajaran yang sangat berharga tentang diri Yesus. Keduabelas murid-Nya sendiri pada zamannya tidak menyadari bahwa perayaan itu adalah suatu eksistensi Allah di dalam diri Yesus. Artinya perjamuan itu bukan hanya sebatas perjamuan, sebagaimana tradisi yang biasa dilakukan pada zaman itu. Sebab Perjamuan Kudus itu, pada dasarnya memperlihatkan rahasia kerajaan Allah yang di sorga, yaitu kerajaan Allah yang didiami oleh orang-orang yang percaya, yang sudah diampuni dosa-dosanya serta mendapat keselamatan. Melalui Perjamuan Kudus orang percaya telah berada, melihat dan merasakan kerajaan Allah yang dimaksud Yesus dalam dunia dan pada kehidupan yang akan datang yaitu bersekutu dengan tubuh dan darah Yesus Kristus.

Dalam memahami dasar dari Perjamuan Kudus, perlu untuk menelusuri sejarah dan dasar biblisnya dalam PL. Memang, umat Allah dalam PL belum mengenal Perjamuan Kudus, namun mereka memiliki perayaan yang dihubungkan dengan perjamuan. Mereka memakan daging dan memercikkan darahnya sebagai simbol yang diamanatkan oleh Tuhan. Kebanyakan ahli mengatakan bahwa Perjamuan Kudus berasal dari ritus Perjamuan Makan dalam PL, dan yang tentu saja maknanya berbeda sekali dengan perjamuan kudus. Oleh sebab itu, perjamuan paskah akan menjadi titik utama penelitian, sebab perayaan paskah merupakan perayaan besar bagi umat Allah dalam PL.

II. PERJAMUAN MAKAN DALAM PL

Dalam Perjanjian Lama, perjamuan merupakan fungsi sosial yang sangat penting dalam masyarakat. Bahkan dalam dunia kita masa kini yang terasa terus-menerus dikejar waktu dan dalam citra individualisme, kita selalu menyediakan waktu untuk bersantap bersama keluarga, sahabat dan kenalan. Juga dalam dunia diplomatik antarnegara dalam suasana karya dan usaha, jamuan makan tidak jarang dimanfaatkan untuk mengambil berbagai macam keputusan dan penandatanganan kontrak. Barangsiapa pada waktu ini mengadakan perjalanan keliling Asia atau Afrika atau mengadakan kunjungan ke negara-negara Arab, akan segera melihat bagaimana keramahtamahan menyambut tamu selalu dikaitkan dengan makan dan minum. Demikianlah dalam tradisi Yahudi menurut Perjanjian Lama, seperti juga di dunia Timur kuno, jamuan makan sangat berperan dalam kehidupan sesehari. Para tamu selalu diundang ke meja makan untuk menikmati hidangan yang paling lezat. Peristiwa-peristiwa keluarga yang patut diperingati dijadikan kebiasaan untuk mengundang sahabat dan kenalan untuk bersama-sama memanfaatkan hidangan yang mewah. Hal itu tidak saja berkenaan dengan peristiwa yang menggembirakan, seperti peristiwa kelahiran, sunat, pertunangan atau pernikahan.

Memang benar bahwa di Israel kuno puasa dipandang sebagai tanda berkabung dan kesedihan (Ul. 26:141; 1 Sam. 1:7, 18; 20: 34), tetapi juga terdapat petunjuk bahwa jamuan makan adalah bagian dari ritus perkabungan. "Memecahkan roti tanda berkabung" dimaksudkan untuk menghibur yang sedang berduka; demikian juga "cawan penghiburan", yang diberi kepada orang yang berkabung, mempunyai fungsi yang sama (Yer. 16:7). Pada meja makan orang tertawa, tetapi juga menangis; ada waktu untuk tertawa dan sukacita, tetapi juga untuk kesungguhan hidup. Orang sehidangan terjalin satu kepada yang lain oleh ikatan yang kuat. Mereka membentuk satu persekutuan yang tercipta dan terkendalikan oleh perjamuan.[4] Dalam suatu masyarakat yang tidak membedakan yang duniawi dan yang sakral, warganya akan saling mengunjungi untuk bersama-sama makan dan minum, tidak saja pada peristiwa penting dalam kehidupan sesehari, tetapi juga pada peristiwa agama. Sulit dipastikan berapa lama kebiasaan merayakan hari Sabat dilakukan secara berlebihan melalui suatu perjamuan makan khusus yang menyerupai pesta. Yang pasti ialah bahwa kebiasaan ini telah berjalan jauh silam dalam sejarah umat Yahudi.

Melalui Kitab Perjanjian Lama, dapat kita ketahui bahwa bangsa Israel pada zamannya tidak mengenal "Perjamuan Kudus", namun telah mengenal Perjamuan Bersama dengan memberikan persembahan atau kurban kepada Allah (Ul. 12:7).[5] Perjamuan Bersama itu diadakan sebagai materai atau segel untuk perjanjian yang diikat oleh Yahwe dengan "bangsa Israel" (Kel. 24:11; Mzm. 50:5). Perjamuan ini mempunyai dwi-fungsi yaitu: Perjamuan kepada Yahwe dan perjanjian di antara mereka satu sama lain.

Selain Perjamuan Bersama, bangsa Israel juga mengenal dan merayakan Perjamuan Paskah, dengan mempersembahkan korban bakaran kepada Allah yaitu seekor anak domba yang tidak bercacat, dengan memercikkan darah kurban itu di atas ambang pintu rumah masing-masing. Perjamuan Paskah ini ditetapkan Yahwe untuk selalu diperingati setiap tahunnya. Menurut Kel. 12:24, arti dari Perjamuan Paskah itu adalah menoleh serta menghayati perbuatan Tuhan yang melepaskan nenek moyang mereka dari perbudakan di Mesir, sekaligus mengharapkan serta menantikan pelepasan Tuhan di masa mendatang.[6]

Jadi makna kurban Paskah di sini adalah sebagai "perayaan peringatan" akan keluarnya bangsa Israel dari tanah perbudakan di Mesir. Unsur peringatan ini ditegaskan dalam kitab Ulangan (Ul. 18:3). Dalam kitab Keluaran juga terdapat perikop singkat yang liturgis, yang dipakai dalam Perayaan Paskah (Kel. 12:25ff), yang menekankan unsur peringatan.[7] Dengan mengingatkan bangsa Israel akan kebebasan atau kelepasan yang mereka alami, maka Perayaan Paskah menuntut suatu kesadaran baru akan rahmat Tuhan yang diberikan-Nya segera setelah pelepasan itu. Menurut Behm[8] dalam acara perjamuan ini ada empat acara pokok yaitu:


  1. Permulaan; tuan rumah mengucapkan berkat atas acara itu, kemudian mengucapkan berkat atas cawan pertama yang sangat pahit, minuman pahit ini menggambarkan kehidupan bangsa Israel yang penuh penderitaan di tanah Mesir.
  2. Liturgi Paskah; disini tuan rumah membacakan ayat-ayat Alkitab yang diambil dari kitab Mzm. 13-14, serta cawan yang kedua diberikan untuk menerangkan penyelamatan dari Mesir.
  3. Inti dari perjamuan itu; tuan rumah mengambil roti yang tidak beragi dan daging domba lalu mengucapkan syukur serta membagi-bagikannya kepada anggota keluarga, kemudian cawan yang ketiga dibagikan dan diminum.
  4. Acara penutup; dalam acara penutup, kembali membacakan ayat Alkitab yang diambil dari Mzm. 115-118. Setelah itu tuan rumah mengucapkan syukur atas cawan keempat dan diminum, lalu tuan rumah mengucapkan berkat sebagai penutup.


Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa Perjamuan Kudus dalam Perjanjian Lama belum ada, namun sudah ada dua perjamuan. Pertama, Perjamuan Bersama yang diikat antara kedua belah pihak yaitu Allah dan manusia, kedua: Perayaan Paskah, yang menekankan karya Allah yang besar terhadap bangsa Israel yaitu pembebasan bangsa itu dari tanah perbudakan di Mesir.[9]







2.1 Perjamuan Makan yang Lazim di Israel Kuno

Siapa pun yang berharap dapat menemukan penjelasan tentang kehidupan yang lazim di Israel berabad-abad yang lalu, akan segera diperhadapkan pada kekecewaan yang tak dapat dihindari. Secara lahiriah, tidak terdapat banyak perbedaan antara Perjanjian Lama dengan naskah-naskah lain yang menceritakan hal-hal dari zaman yang telah lama berlalu. Sama halnya dengan Perjanjian Lama, naskah-naskah kuno di luar Alkitab sama sekali tidak menjadikan sembarang orang sebagai pusat perhatiannya. Para penulis kronik maupun penyaji laporan agaknya hanya tertarik pada perilaku warga masyarakat di lapisan atas, seperti para ulama, imam dan nabi, ahli hukum Tora; para panglima, pangeran, raja dan ratu; jabatan-jabatan itulah yang memenuhi halaman naskah-naskah mereka. cerita-cerita perjanjian Lama lebih sering membawa kita ke dalam kehidupan istana samaria dan Yerusalem, ketimbang dalam rumah-rumah para petani sederhana di dataran Galilea dan Yudea.

Alkitab bukanlah penelitian sejarah dan budaya dalam arti kata masa kini. Mereka yang bertanggung jawab untuk publikasi daripada naskah-naskah alkitabiah tidak berupaya menyajikan gambaran yang lengkap dan mendetail dari pergaulan hidup pada zamannya. Juga dalam menangani tema kita ini perlu disadari bahwa perhatian mereka tertuju pada hal-hal yang lain. Memang benar bahwa mereka mengarahkan perhatiannya terutama pada dunia dagang dan cara orang-orang berkuasa berperilaku sekalipun tanpa maksud untuk mengambil muka pada mereka itu. Mereka mengikuti secara kritis kehidupan para rqja dan keluarganya dan pada saat-saat para penguasa dunia mengadakan penyimpangan atas hukum Allah, mulailah para nabi seperti Natan (2 Sam. 12:1-25) dan Elia (1 Raj. 17-18) menegur mereka tanpa tedeng aling-aling. Para penulis bagian-bagian kitab Perjanjian Lama pada umumnya kurang memberikan perhatian kepada peristiwa-peristiwa kepahlawanan di sepanjang sejarah Israel. Mereka menggunakan ukuran tersendiri dalam menilai dan mempertimbangkan masa lampau, tidak seperti yang lazim digunakan. Seorang raja dari Yehuda atau Israel misalnya, tidak disebut "besar" karena keberhasilannya dalam dunia politik atau medan laga, tetapi karena ia taat dan patuh dalam "langkah-langkahnya menelusuri jalan Allah" serta menghormati hukum Tora.

Terhadap semua pertanyaan kita yang serba ingin tahu mengenai gerak langkah kehidupan "rakyat biasa" di Israel kuno, Alkitab tidak memberikan jawaban yang memuaskan jika ditinjau dari pemikiran masa kini. Mengenai berapa kali orang makan dalam sehari misalnya, tak dapat pula dipastikan dan bahkan tak jelas pula pada saat mana lazimnya mereka makan. Kepustakaan Yahudi-muda dan para rabi memberikan kesan bahwa sepanjang minggu kerjanya mereka merasa cukup dengan makan dua kali sehari. Tidak pula jelas jenis makanan apa yang lazim disediakan, tetapi berbagai bukti membawa kita pada suatu praduga bahwa roti tak pernah terlupakan di atas meja makan, dan bahkan berfungsi sebagai makanan utama. Daging hampir tidak pernah tersedia dalam keluarga-keluarga biasa, karena terlalu mahal untuk keberadaan dompet yang tipis. Tetapi sesekali ada pula pengecualian atas aturan itu. Para tamu lazimnya disambut dengan hidangan daging (Kej. 18:7; 2 Sam. 12:4) dan bagi yang mampu bahkan memotong seekor binatang untuk lebih menyemarakkan peristiwa itu luk. 15:23-32). Ikan lebih mudah diperoleh. Di sepanjang pantai Laut Tengah dan di Danau Galilea orang banyak menangkap ikan. Ketika Yesus masih hidup kehidupan di tepi danau bahkan begitu makmur karena banyaknya penangkapan ikan yang hasilnya dan hasil pengolahannya banyak diekspor ke negara-negara besar dunia seperti Roma dan Atena. Keadaan itulah yang melatarbelakangi kepustakaan para nabi yang mengungkapkan kesemarakan pesta Sabat, yang selain menyajikan roti juga menghidangkan ikan. Namun agaknya para rohaniwan tetap mempertimbangkan para pengikut mereka yang keadaannya kurang mampu. Karena alasan itulah, lazimnya hanya tersedia anggur, yang_tidak jarang pula bercampur air, pada waktu ada perayaan khusus.

2.2 Perjamuan Makan dan Agama

Dalam tradisi Yahudi versi Perjanjian Lama tidak mungkin dibedakan secara jelas antara bidang kehidupan sesehari dan kehidupan beragama. Hukum-hukum dalarn Tora tidak saja menyangkut kultus korban di Bait Suci serta berbagai perkara "rohani" lainnya, tetapi sekaligus memberikan jaminan atas berlakunya hak dan keadilan. Dampak Tora bahkan begitu kuat, sehingga tak ada sedikit pun segi keberadaan dan kehidupan manusia yang tidak terjaring dalam hukum Allah. Dalam kaitannya dengan tema penelitian ini, sangatlah penting untuk dapat menyadari bahwa wilayah dapur pun masuk dalam jaringan Tora. Orang-orang yang duduk sekeliling meja makan menghadapi hidangan terkena oleh macam-macam persyaratan ketat berkenaan dengan "kesucian" hidup mereka, Apa yang disebut "kasyrut", yaitu peraturan mengenai makanan, yang sampai kini masih berlaku di kalangan Yahudi ortodoks, telah berkembang lambat laun di sepanjang abad, sehingga mendapat bentuk seperti yang kita kenal sekarang. Sekalipun demikian, pada zaman Yesus pun suatu perjamuan makan yang disebut "halal" sangat didambakan (bnd. Mrk. 7:1-28). Karena alasan-alasan itulah, orang-orang Farisi kemudian membentuk "persaudaraan" di antara yang sealiran. Mereka makan bersama, dengan harapan tidak akan ternodai oleh keharaman ritual karena seseorang yang tidak mematuhi aturan makanan sesuai Tora.

Ketiga penulis Injil sinoptik sedikit pun tidak meragukan bahwa masalah inilah yang menyebabkan konflik terbesar antaia yesus dari Nazaret dengan para penganut gerakan Farisi. Mula-mula mereka menganggap Dia sebagai sesama saudara seiman. Mereka melihat dengan penuh keheranan mereka bahwa bagi-Nya sama sekali bukan masalah untuk makan bersama orang-orang yang justru mereka jauhi: orang berdosa dan pemungut cukai (Mrk.2: 13-17; Mat. 9:9-13; Luk 5:27-32). Tingkah laku-Nya yang aneh itu tidak saja mengherankan mereka, tetapi juga menjengkelkan dan membuat mereka sedih (Mat. 1 1:1,6-19). Melalui pergaulan-Nya secara terang-terangan dengan "orang-orang yang tidak suci", maka secara sadar pula Ia telah menjauh dari kesucian ritual yang mereka anut sebagai prioritas tertinggi. Dari segala perbuatan dan ucapan-Nya segera Nampak bahwa Ia mempunyai titik tolak yang lain (Mat. 9:13) serta memberikan makna lain pada pengertian "halal" dan "haram" (Mrk. 7:15). Tidak mengherankan bahwa golongan Farisi sungguh dikejutkan oleh ulah dan perilaku Yesus sebab Tora memang mengharuskan orang percaya dengan penuh ketelitian memenuhi kewajibannya, baik dalam memilih maupun mengolah makanannya setiap. hari. Pada mulanya, Alkitab memang tidak banyak berbicara mengenai aneka makanan seperti daging, ikan dan unggas. Manusia akan dipuaskan dengan buah-buahan di padang (Kej. 1:29). Ketika Adam dan Hawa tidak mematuhi perintah Allah dan makan buah dari pohon kehidupan, hukuman yang harus mereka jalani di kemudian hari ialah bahwa "dengan berpeluh mereka akan mencari makanannya" (Kej. 3:18-19). Barulah setelah air bah, Nuh mendapat kesempatan untuk makan daging ikan dan unggas (Kej. 9:3). Berdasarkan cerita Alkitab, Allah mengaitkan perkenan ini dengan satu pembatasan: "Hanya daging yang masih ada nyawanya, yakni darahnya, janganlah kamu makan" (Kej. 9:4; bnd. Im. 7:26-27; 17:10-14; 19:26; Ul. 12:76,23; 15:23). Hukum pertama mengenai makanan ini begitu besar nilainya, sehingga dalam sidang para rasul di Yerusalem pada akhir tahun empat puluhan dalam abad pertama disepakati bahwa orang-orang Kristen yang berasal dari kekafiran juga harus berpantang dari "binatang yang mati dicekik dan dan darah" (Kis. L5:20, 29).

Tetapi Tora Musa tidak membiarkan hal itu. Semua binatang adalah ciptaan Allah, tetapi karena satu atau lain hal tidak sama "sucinya" itulah sebabnya umat Israel tidak diizinkan untuk makan "sembarang" binatang (Im. 11 dan Ul. 14). Dalam Perjanjian Baru, bertentangan dengan hukum pertama mengenai makanan larangan ini tidak terlalu dianggap penting, sehingga orang-orang Kristen yang berasal dari kekafiran pun harus patuh kepada peraturan ini. Bahkan dalam dua bagian Perjanjian Baru, penulisnya sampai menentang aturan Perjanjian Lama itu (Mrk. 7:19; Kis. 10:1b). Masalah yang berkisar mengenai kesamaan dan kepelbagaian kedua Testamen itu merupakan tugas yang paling rumit dalam teologi alkitabiah. Perbedaan pandangan atas makna makanan binatang yang halal dan haram merupakan rintangan ke arah teologi alkitabiah yang mencakup baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Makan setiap hari tidak saja memberikan daya tahan dan mengisi perut" tetapi sekaligus merupakan sarana untuk menyadarkan manusia akan tugas dan tanggung jawabnya terhadap ciptaan Allah. Karena itu, sampai pada saat ini kalangan Yahudi ortodoks tetap memperhatikan dengan cermat agar penyembelihan binatang dilakukan dengan cara yang sebaik-baiknya. Di dalamnya juga termasuk "tata cara makan" Yahudi versi Perjanjian Lama, agar penyajian hidangan dilakukan dengan sangat cermat. Tidak kurang dari tiga kali batasan berikut dicantumkan dalam Tora: "Janganlah kau masak anak kambing dalam susu induknya" (Kel. 23:19; 34:26; Ul. 14:21). Dalam tradisi rabi, hukum ini ditafsirkan sebagai larangan untuk memasak daging dan susu menjadi satu hidangan karena akan mengganggu pencernaan. Dalam tradisi Yahudi ortodoks, larangan ini benar-benar dipatuhi dengan ketat sehingga keduajenis bahan makanan itu pun tak pernah diolah dengan menggunakan peralatan yang sama.

III. PERJAMUAN PASKAH

3.1 Keluaran dan Paskah

Untuk memperoleh pengertian yang benar tentang paham keyahudian menurut Perjanjian Lama yang melatarbelakangi Perjamuan Kudus kristiani, perlu kita menyadari bahwa pesta Paskah tak dapat dilepaskan dari kisah keluaran umat Israel dari rumah perbudakan dan penindasan di Mesir.[10] Sampai pada hari ini, dalam sejarah umat Israel yang panjang dan berubah-ubah, Eksodus itu telah berfungsi sebagai sumber inspirasi dan lambang pengharapan. Juga berkat perjamuan khusus yang setiap tahun dirayakan pada awal pesta Paskah, maka kenangan itu tetap dihayati sebagai suatu peristiwa yang dialami sebagai tindakan pembebasan Allah secara unik. Ia telah membebaskan umat-Nya dari Mesir dan mengaruniakan kepada mereka suatu bayangan tentang "suatu negeri yang baik dan luas, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya" (Kel. 3:8,17). Dalam perjalanan itu orang Israel mengetahui bahwa negeri yang dijanjikan itu tidak berbatasan dengan Mesir, dan bahwa mereka harus menempuh perjalanan yang jauh dan panjang dan harus mengarungi padang gurun yang luas. Sungguh tidak mudah untuk dapat bertahan dalam situasi seperti itu. Bayangan itu menjadi semakin kabur, awal perjalanan yang penuh semangat memudar, sementara kesengsaraan masa lampau yang baru mereka tinggalkan sekonyongkonyong terasa bukanlah suatu tanggungan berat (Kel. 16:2-8; Bil. 11:4-35). Namun karena pimpinan Musa yang tegas, maka kenangan masa lalu tak mampu mengalahkan impian masa depan. Empat puluh tahun lamanya umat Israel mengembara di padang gurun, zuatu masa yang penuh kesulitan (Bil. 20:2-18), perjuangan melawan musuh (Kel. 17: 8-16) dan perselisihan di antara sesama (Bil. 12:1-16; 16:1-50). Tak ada jalan untuk berbalik arah. Dalam situasi yang berat dan penuh tantangan itulah umat Israel belajar mengenal Allah mereka. Di tengah padang gurun dekat gunung sinai, terjadilah suatu peristiwa yang menjadi sangat penting artinya untuk sejarah bangsa Israel. Di sanalah Allah mengikat perjanjian-Nya dengan umat itu (Kel. 19) dan memperkenalkan kehendak-Nya - Tora (Kel. 20; Ul. 5). Pesta Paskah dan Eksodus sangat terkait satu dengan yang lain. Tetapi Paskah tidak terbatas sampai perjalanan pembebasan dari Mesir itu saja. Eksodus kemudian diikuti dengan perjalanan panjang mengarungi padang gurun menuju tanah perjanjian.[11]

Dalam abad-abad berikutnya, umat Israel selalu memandang kembali pada pemukiman yang panjang dan lama di "tanah tak bertuan" itu, yang mereka alami dalam keadaan antara perhambaan dan pembebasan, dengan penuh pergumulan dan perasaan yang tak mudah dibendung. Di padang gurun itu juga mereka mengalami berbagai pencobaan dan pergumulan, tetapi sekaligus di tempat itu pula mereka boleh mengalami dan menghayati kehadiran Allah mereka dengan cara yang luar biasa (Kel. 13:21-22). Ia melindungi Israel dan mencukupkan mereka dengan makanan dan minuman (Mzm. 78:12-16). Sekalipun padang gurun dikenal dengan ketandusan dan kegersangannya, namun umat itu tidak mati kelaparan atau kehausan. Dalam keadaan yang mendesak sekalipun Allah mengalirkan air dari celah-celah batu karang untuk minumannya (Kel. 17:6; Bil. 20:11; bnd. 1 Kor. 10:4). Mereka juga tidak perlu khawatir akan makanan mereka, sebab sepanjang waktu manna senantiasa ada (Kel. 16). Semuanya itu akhirnya berlalu, ketika tanah perjanjian itu, tidak saja mereka capai, tetapi juga mereka duduki (Yos. 5:10). Karena itu, sepantasnyalah jika dalam abad-abad kemudian soal kecukupan makanan itu selalu diperbincangkan dengan penuh hormat dan pujian: "gandum dari langit" dan "roti malaikat" (Mzm. 78:24-25); atau "roti sorga" (Yoh. 6:32).

Dalam Kitab Keluaran untuk pertama kali dipaparkan mengenai pesta Paskah itu. Kenyataan bahwa naskah itu berbicara mengenai "Paskah bagi Tuhan" (Kel. 12: 11,27) menggarisbawahi betapa pentingnya pesta itu. Kecuali itu, dalam bagian Alkitab itu juga disinggung juga peristiwa seremonial lainnya yang digambarkan melalui peristiwa pesta "roti tak beragi" (= matsot, bnd. Kel. 12:17-20). Walaupun kedua peristiwa pesta itu selalu terungkap sekaligus, pada dasarnya agaknya tak ada saling keterkaitannya, dan baru dalam pengalaman kemudian dari waktu ke waktu terkait satu dengan yang lain. Namun dalam lingkup penelitian mengenai Perjamuan Kudus berdasarkan latar belakang keyahudian dalam perjanjian Lama, tidak mungkin memberi terlalu banyak perhatian kepada sejarah bermulanya pesta gabungan yang banyak liku-likunya antara paskah dan Matsot. Ketiga Kitab Injil sinoptik memperjelas hal itu melalui ungkapan yang bersumber dari Perjanjian Lama. Pada awal kisah sengsara, Markus menyebutkan; "Hari raya Paskah dan hari raya Roti tidak beragi akan mulai dua hari lagi" (Mrk 14:1, 12; Mat. 26:2,17; Luk. 22:1,7). Bagi orang dalam, tak ada lagi penjelasan tambahan yang diperlukan. Banyaknya naskah Perjanjian Lama yang menunjukkan bahwa pesta Paskah selayaknya dirangkaikan dengan pesta Roti tidak beragi, tidak perlu menimbulkan keragu-raguan lagi bahwa dampak kedua peristiwa itu sejak mulanya rnemang sangat besar.



3.2 Perjamuan Seder

Bulan Nisan sebagai bulan pertama dibuka dengan hari raya Bulan Batu. Hari raya ini mendapatkan bobohrya pada dua pekan kemudian, yakni pada bulan pumama di hari raya Paskah. Hari raya ini di bulan Nisan adalah pertama menurut tahun agama. Sedangkan bagi tahun sipil, ia sebagai bulan ketujuh. Paskah (Pesakh, [Yun.] Pascha) berarti melewatkan, yakni kisah Allah membunuh (pesakh) anak-anak sulung Mesir. Perayaan Paskah Yahudi (Hag ha-Pesakh) - suatu perayaan terpenting dan termulia inidirayakan pada tanggal 14 Nisaru yakni bulan pertama (Yos. 5:10), yang tidak selalu jatuh pada hari Sabat. Tanggal Paskah Yahudi jatuh sekitar bulan Maret-April pada musim semi, masa ketika bunga bermekaran. Tanggal 14 Nisan adalah bertepatan dengan bulan purnama, atau berselang 2 hari sebelum atau sesudah bulan purnama. Perayaan paskah berlangsung selama sepekan setelah 14 Nisan, di mana dirayakan juga Perayaan Roti Tak Beragi.[12]

Ciri utama dari perayaan Paskah adalah perjamuan keluarga di rumah masing-masing yang dilakukan setelah senja. Hidangan utama dalam perjamuan itu adalah domba Paskah. Perjamuan Paskah ini disebut seder (artinya: tata perayaan). Lebih dahulu, pada tanggal 13 Nisan (beberapa jam setelum 14 Nisan yang dimulai sejak malam) domba Paskah disembelih (pesakh) di Bait Allah dan darahnya dipercikkan di atas altar. Setelah Bait Allah runtuh pada tahun 70, ritus ini menghilang atau tidak dirayakan di Bait Allah, kecuali oleh orang Samaria yang memang tidak menyembelih hewan kurban di Bait Allah. Ciri adanya domba ini menunjukkan bahwa ia berasal dari hadisi penggembalaan. Selain mengacu pada petunjuk perayaan (melalui pembacaan Kel. 12:21- 51) dan ketentuannya (Kel. 34:25), pada praktiknya perayaan paskah adalah sebagai berikut: Dalam upacara Paskah itu setiap keluarga menyembelih seekor domba atau kambing jantan yang berumur setahun. Mereka memanggangnya lengkap dengan kepala dan isi perut. Kemudian memakannya dengan pinggang berikat. Terlebih dahulu darah korban itu sudah dibubuhkan kepada kedua tiang dan ambang pintu rumah (ketika tidak ada Bait Allah). Sehabis perjamuan, sisa daging yang tinggal sampai pagi, dibakar habis dengan api. Walaupun Paskah berasal dari perayaan Keni, tetapi Israel member makna baru. Bagi Israel, Paskah adalah peringatan dan proklamasi akan kelepasan dari perbudakan Mesir. Oleh sebab itu, Paskah dirayakan dengan motivasi membarui sikap dan pengucapan syukur dengan sukacita. Pembaruan sikap yang dimaksud adalah perubahan dari hidup lama sebagai bangsa tanpa identitas menjadi umatAllah.[13]

Dalam kitab Perjanjian Baru, Yesus merayakan Paskah dengan perjarnuan (disebut perjamuan malam) bersama dengan para murid-Nya. Jumlah mereka adalah sekitar dua belas orang sehingga masih terlihat corak perjamuan keluarga. Perjamuan Paskah tersebut menjadi dasar perjamuan kudus atau ekaristi bagi gereja masa kini (diambil dari surat Rasul Paulus [1 Kor. 11]). Namun, perjamuan Paskah telah diberikan makna baru yang sejajar dengan makna pelepasan dari perbudakan Mesir, yakni: pelepasan dari kuasa dosa. Demikian, di dalam perjamuan kudus ada pengucapan syukur (eukaristi) dalam merayakan Paskah. Adalah lazim merayakan Paskah dengan perjamuan. Umumnya masyarakat Yahudi di zaman Perjanjian Baru merayakan Paskah atau perjamuan seder adalah sebagai berikut: Setelah matahari terbenam, tanda dimulainya hari Paskah pertama, kaum kerabat (berjumlah antara sepuluh dan lima belas orang) siap di ruang keluarga. Sebelurn memulai anak-anak mencari-cari sisa ragi dalam rumah itu dan membuangnya (bedikat chametz). Kemudian nyonya rumah menyalakan lilin-lilin Paskah (hadlakat ha-nerot). Kemudian pemberkatan lilin dan cawan anggur pertama (kaddesh), dan mencuci tangan.

Hidangan yang disiapkan berupa domba Paskah, sayur pahit, roti dan cawan anggur.[14] Sebagai pembuka ialah pemecahan roti tak beragi dan memakannya (yachatz), serta mencari afikomen. Hidangan pembuka ialah salad yang dicelupkan ke dalam cuka dan air gararn (karpas) dan diselingi dengan minum dari cawan anggur. Kemudian para tamu makan sayur pahit dan haroseth, yaitu pencampuran kenari, buah, dan anggur. Banyak makanan yang dimakan pada perjamuan ini tidak dimakan pada perjamuan lainnya. Oleh karena perjamuan kali ini berbeda, maka seorang anak terkecil dalam keluarga itu bertanya (biasanya telah disiapkan oleh orang tua) kepada bapaknya atau kakeknya, begini: "Pada malam lain kita rnakan roti beragi atau roti tak beragi tetapi malam ini mengapa hanya roti tak beragi? Pada malam lain kita makan semua jenis sayuran, tetapi malam ini mengapa hanya sayur pahit? Pada malam lain kita makan makanan yang dimasak, dipanggang, atau direbus, tetapi mengapa malam ini hanya makanan yang dipanggang? Pada malam lain kita mencelup satu kali, tetapi mengapa malam ini mencelup dua kali?" Semua pertanyaan ini merupakan isyarat bagi sang bapak untuk menjelaskannya dengan haggadah (=kisah mengisahkan cerita dengan cara melantunkannya) Paskah. Bukankah tujuan makan bersama adalah kesempatan bagi sang ayah untuk menjelaskan hal-hal penting yang perlu dipahami oleh generasi penerus? Bapak menuturkan kisah perbudakan atas bangsa Israel di Mesir dan pembebasan oleh Allah. Haggadah ini merupakan' drama yang dituturkan untuk mengenang sejarah Israel, sehingga hadirin terlibat kembali di dalamnya seperti yang dialami oleh nenek moyang mereka. Lazimnya, sang bapak membuka kisahnya dengan kalimat "Bapaku dahulu seorang Aram, seorang pengembara. Ia pergi ke Mesir dengan sedikit orang saja dan tinggal di sana ..." (dst. seperti tertulis dalam Ul 25:5-6). Cerita selesai, hadirin minum anggur kedua dan mencuci tangan kedua (rachtzah). Kemudian pemberkatan dan memakan roti tak beragi (motzi atau matsah),makan sayur pahit (maror) dan makanan penutupnya (korech). Tahap berikut adalah perjamuan festival dan memakan afikomen (tzafun). Setelah makan, hadirin minum anggur ketiga dan undangan bagi Nabi Elia (barech). Di antara setiap minuman dan hidangan, diselingi dengan nyanyian Mazmur (hallel), yakni pasal 113- 114 pada bagian pertama dan pasal 115-118 pada bagian penutup, sebagai Mazmur Paskah. Hidangan terakhir adalah domba Paskah yang berumur sekitar setahun; sehingga memang hanya cukup untuk sepuluh hingga lima belas orang. Terakhir adalah nyanyian Mazmur-mazmur pujian (bnd. Mat. 26:30) dan minum anggur keempat.[15]

Pada masa kini, perjamuan seder diisi dengan makan-makan, bermain bagi anak-anak, dan ngobrol soal sejarah keluarnya nenek moyang Israel dari Mesir. Adalah lazim perjamuan seder menghabiskan waktu sekitar empat jam. Di samping itu, selain tuan rumah, para tetamu undangan pun diajak untuk menyampaikan haggadah Paskah. Itulah sebabnya, perjamuan sederhanya dihadiri oleh kaum kerabat dalam jumlah terbatas; sepuluh hingga lima belas orang, belum termasuk anak-anak. Selain alasan kerepotan, juga soal lamanya waktu yang dihabiskan untuk seder. Sementara nyonya rumah memulai seder dengan menyalakan lilin Paskah, anak terkecil mengajukan pertanyaan Paskah, sementara anak-anak lain membuang semua ragi dari rumah itu, kemudian mencari-cari afikomen (makanan pencuci mulut yang disembunyikan di dalam roti tak beragi) yang tersembunyi, dan membuka pintu rumah untuk Nabi Elia, nabi yang memberitakan kedatangan Mesias (dalam perjamuan itu disediakan cawan kosong yang disebut cawan Elia [kos eliyahu ha-nabi). Pokoknya, semua orang yang hadir, besar-kecil dan pria-perempuan berperan aktif dalam perayaan seder.[16] Hal menceritakan kisah Paskah tidak dibawakan dengan isi dan cara yang begitu-begrtu saja setiap tahun. Para bapak Yahudi sangat kreatif dan bervariasi dalam membawakannya. Sewaktu Yesus mengadakan perjamuan malam (Mat. 26:17 dst.; Mrk. 14:12 dst.; Luk. 22:7 dst.; bnd. Yoh. 13:21 dst.), justru tidak ada domba Paskah dan sayur pahit padahal itu adalah hidangan utama. Yohanes menafsirkannya, sebab Ia adalah Anak domba Paskah (Yoh.1:29) yang disembelih itu. Itulah sebabnya dewasa ini, sambil memecahkan roti sebelum komuni dalam perjamuan kudus, imam menya-nyikan Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia.

3.3 Darah dan Daging dalam Perjamuan Paskah

Untuk memahami perayaan makna daging dan darah dalam perjamuan Tuhan, ada baiknya menelusuri Keluaran 12:1-11 sebagai dasar biblisnya. Dalam bahasa Ibrani, darah disebut sebagai dam, dan daging disebut sebagai basar. Teks Keluaran 12:1-11 merupakan teks yang berisi tentang ketetapan-ketetapan tentang perayaan Paskah bagi bangsa Israel untuk pergi dari negeri perbudakan Mesir. Ketetapan-ketetapan itu adalah berasal dari Tuhan Allah kepada umat-Nya, Israel, untuk dipatuhi dan dilaksanakan. Ketetapan itu merupakan syarat yang harus diberikan oleh Tuhan Allah kepada bangsa Israel supaya mereka memperoleh keselamatan dan kelepasan serta kemerdakaan untuk keluar dari negeri perbudakan, Mesir.

Tuhan Allah menghendaki adanya suatu peringatan di tengah-tengah kehidupan umat Israel yang disampaikan melalui hamba-Nya Musa dan Harun. Peringatan itu merupakan suatu rangkaian ibadah yang berasal dari Tuhan yang dilaksanakan oleh umat Israel untuk kemuliaan nama-Nya. Peringatan itu menunjukkan perayaan ibadah yang bukan didasarkan atas kemauan manusia sendiri, melainkan atas kehendak Tuhan Allah. Ayat pertama dalam teks Keluaran 12 ini merupakan kata pendahuluan yang menuntut kepada suatu permulaan yang baru dan membuka jalan baru bagi umat Israel yang berada di tanah perbudakan Mesir.[17] Bangsa Israel diberi suatu permulaan, waktu, dan kesempatan yang tertentu sehingga hal ini merupakan awal kehidupan yang baru bagi Israel untuk memulai sejarah kehidupan umat Israel. Mereka telah bebas dari tanah perbudakan Mesir dan menjadi bangsa sesuai dengan panggilan Tuhan Allah. Dengan demikian bangsa Israel akan menjalani kehidupan baru yang berbeda dengan kehidupan yang mereka rasakan dan alami sewaktu berada di tanah Mesir.

Pelaksanaan peringatan atau perayaan yang disebutkan dan dijelaskan dalam ayat ini adalah setiap rumah tangga (keluarga) bangsa Israel harus mengambil seekor domba pada hari ke-sepuluh pada bulan baru. Bulan Abib yang kemudian disebut dengan bulan Nisan adalah bulan musim menuai yang dijadikan bulan pertama dari tahun Yahudi sebagai penghormatan dan perayaan Paskah.[18] Penentuan hari kesepuluh untuk mengambil seekor domba merupakan langkah untuk mempersiapkan diri bagi seluruh keluarga umat Israel. Firman Tuhan Allah yang disampaikan kepada Musa adalah hal yang sangat sukar untuk menginformasikannya kepada seluruh umat Israel yang begitu besar dalam waktu satu hari. Oleh karena itu, masa sepuluh hari dipergunakan sebagai waktu untuk mempersiapkan segala hal yang dibutuhkan dalam perayaan tersebut. Tindakan mengambil domba oleh setiap keluarga merupakan suatu tradisi yang berlaku dalam masyarakat untuk mengorbankan nyawa makhluk hidup yaitu hewan ternak sebagai simbol atau tanda ucapan syukur. Hal itu juga menunjukkan bahwa korban ucapan syukur yang diberikan adalah didasarkan atas kepemilikan bangsa Israel yang memiliki hewan ternak yang banyak. Sebagai bangsa yang baru keluar dari suatu daerah mereka hanya memiliki ternak domba dan kambing.

Perjamuan itu dilaksanakan di dalam lingkungan keluarga dengan memotong seekor anak domba untuk tiap-tiap rumah tangga. Secara harafiah, keluarga disebut dengan 'rumah bapa-bapa'. Ungkapan ini dapat menunjuk kepada kaum keluarga yang besar sama seperti dalam Kel. 6: 13, akan tetapi di dalam ayat ini (ay. 3) menunjuk kepada rumah tangga. Di dalam ayat 4 dijelaskan bahwa jika suatu rumah tangga terlalu kecil untuk mengambil seekor anak domba, maka keluarga tersebut boleh memotong seekor domba bersama dengan tetangga terdekat. Setiap kepala rumah tangga harus mampu memperhitungkan berapa banyak yang dapat dimakan oleh anggota keluarganya, menurut umur dan kekuatannya, serta berapa orang tetangga yang harus diundang untuk melengkapkan jumlah yang diperlukan.[19] Dengan demikian bukan hanya persekutuan keluarga yang terjalin, akan tetapi juga persahabatan (hubungan yang baik) dengan tetangga diperkokoh dan diperkuat pada malam itu.[20]

Domba yang akan dipotong bukanlah domba yang sembarangan, akan tetapi domba yang dimaksud adalah domba yang tidak bercela, dan berumur satu tahun. Yang dimaksud dengan binatang bercela adalah: "......binatang yang buta atau yang patah tulang, yang luka, yang berkedal........" (Imamat 22: 22-25). Sedangkan berumur setahun artinya anak domba yang berumur setahun setelah musim semi. Jika satu keluarga tidak memiliki domba, seekor kambing dianggap sah sebagai penggantinya. Domba dan kambing adalah jenis hewan yang memiliki banyak kesamaan dan merupakan hewan ternak yang dipelihara oleh bangsa Israel. Domba dan kambing merupakan hewan ternak yang memiliki banyak kegunaan, diantaranya:[21]

1) Dagingnya sebagai makanan yang sedap dan digemari banyak orang (Kej.27:9 ; Hak.6:19 ; 13:15 ; 15:1 ; 1 Sam.16:20 ; Luk.15:29).

2) Air susunya (kambing dan domba) dapat diminum dan dipandang sebagai berkat (Ams.27:27).

3) Bulu kambing dan domba dapat dipintal menjadi kain untuk membuat kemah/tenda (Kel.26:7 ; 35:26).

4) Kulit kambing dan domba dapat digunakan sebagai kirabta (buli-buli/tempat air) dan pakaian manusia (Ibr.11:37).

Tuhan Allah memberikan petunjuk kepada bangsa Israel tentang domba atau kambing yang mereka ambil. Kambing atau domba dikurung selama empat belas hari dimana domba diambil pada tanggal 10 dan dikurung hingga hari ke-14, kemudian disembelih pada waktu senja (antara lingsirnya matahari dan terbenamnya matahari atau antara terbenamnya matahari dan tibanya malam hari).[22] Sedikit dari darah domba atau kambing yang disembelih dibubuhkan pada tiang pintu rumah. Hal ini diperbuat sesuai dengan firman Tuhan bahwa Dia akan turun untuk menghukum bangsa Mesir (anak sulung mati). Darah yang dibubuhkan di atas pintu adalah tanda, sehingga ketika Allah turun dan melihat darah itu, maka umat yang bernaung di dalamnya akan memperoleh keamanan dan keselamatan. Tanda darah ini juga merupakan permintaan pengampunan dari segala dosa.[23] Setelah domba disembelih dan darahnya dibubuhkan, maka dagingnya dimakan pada malam hari setelah daging itu dipanggang di atas api, bukan direbus. Mengapa daging harus dipanggang bukan direbus? Hal itu disebabkan oleh karena alat memasak pada waktu itu masih langka.[24] Roti yang tidak beragi merupakan makanan yang biasa dimakan oleh para gembala, dan sayur pahit adalah tanaman gurun yang dipakai oleh para gembala sebagai bumbu.[25] Roti yang tidak beragi dan sayur pahit merupakan tanda bahwa penderitaan yang dialami oleh bangsa Israel akan segera berakhir.

Bila diperhitungkan dalam hitungan waktu, maka untuk melakukan semua petunjuk itu sangat membutuhkan waktu beberapa jam dalam satu hari mulai dari senja hingga malam hari. Waktu yang telah ditentukan itu dikhususkan sebagai peringatan sejarah baru bagi bangsa Israel. Semua kegiatan yang dilaksanakan pada hari itu cukuplah hanya hari itu saja sehingga apabila ada daging yang tersisa sampai pagi, maka daging itu haruslah dibakar sampai habis.

Sebagai puncak dari seluruh rangkaian persiapan dan petunjuk yang diberitahukan Allah adalah pelaksanaan untuk memakan daging yang dimasak. Setiap orang yang memakan haruslah dengan pinggul terikat, kaki berkasut, sebuah tongkat di tangan dan memakan daging tersebut dengan tergesa-gesa. Keadaan demikian menggambarkan ciri khas dari seorang gembala yang sedang menggembalakan dombanya di padang rumput. Hal tersebut adalah gambaran kesiagaan bangsa Israel untuk keluar dari Mesir menuju suatu negeri yang hendak akan dimasuki oleh mereka. Oleh karena itu bangsa Israel harus memiliki/menyediakan segala perlengkapan dalam menghadapi situasi bahaya yang mungkin muncul.

IV. PENGERTIAN KEADILAN

4.1 Pengertian Keadilan Secara Umum

Kata keadilan berasal dari kata adil yang berarti sikap yang berpihak kepada yang benar, tidak memihak salah satunya ataupun tidak berat sebelah. Oleh karena itu keadilan berarti suatu sikap atau sifat serta perlakuan yang tidak berat sebelah. Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia, kata keadilan yang berasal dari kata adil selain berarti tidak berat sebelah, juga berarti perbuatan yang adil untuk mempertahankan keadilan. Senada dengan itu, Soerjono Soekanto mengartikan keadilan (Ing. Justice) sebagai prinsip perlakuan yang sama dan peniadaan kesewenang-wenangan.[26]

Ada dua bagian pengertian daripada keadilan, yakni: (1). Keadilan secara objektif yang merupakan prinsip dasar yang mengatur seluruh kehidupan sosial, baik antara perorangan maupun antara orang dan masyarakat serta negara-negara. (2). Keadilan secara subjektif, yaitu sikap seseorang terhadap sesama manusia, yaitu tekad memberi apa yang menjadi hak manusia seseorang tersebut, tidak kurang dan tidak lebih. Menurutnya, bertindak adil di sini bukan karena takut didenda atau dibendi. Namun inti atau dasar dari semua itu adalah keyakinan bahwa semua manusia sama derajatnya, dan karena itu harus diperlakukan sama juga, dan kesamaan itu harus diakui dan dilindungi oleh undang-undang sehingga kehidupan masyarakat menjadi seimbang dan teratur dengan baik.[27] Dan Aristoteles membagi keadilan tersebut menjadi tiga bagian, yaitu: (1). Keadilan komunikatif (tukar menukar) yaitu mewajibkan untuk menghormati hak-hak sesama sebagai individu, (2). Keadilan umum atau legal, yaitu mewajibkan sebagai warga untuk menghormati hak-hak masyarakat dan Negara, dan (3). Keadilan distributif (membagi) yaitu mewajibkan masyarakat atau Negara untuk menghormati hak-hak warganya.[28] Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa pengertian keadilan secara umum adalah suatu sikap atau perbuatan yang tidak berat sebelah dan selalu menjunjung tinggi kebenaran dan hak sesama.



4.2 Pengertian Keadilan Menurut Perjanjian Lama

Akar kata dalam bahasa Ibrani yang umumnya paling banyak diterjemahkan adil atau benar adalah akar kata y - s - r, yang dalam kata kerjanya 'yasar' berarti meluruskan. Kata 'yasar' ini dipakai untuk menggambarkan sifat-sifat Allah (Ul 32:4; Hosea 14:9), perintah-perintahNya (Mzm 19:8), keputusan-keputusanNya (Mzm 119:137), dan juga peraturan-peraturanNya (Neh 9:13). Kata ini juga untuk menyebutkan perilaku manusia yang bersikap jujur atau bersikap adil dan berterus terang (bnd. Ams 16:13; 20:11; 21:8).[29]

Kata 'yasar' sejajar dengan kata benda 'nako(a)h' yang juga berarti kebenaran atau keadilan.[30] Dalam hal ini, pengertian adil dan benar adalah tidak berbelit-belit dan tidak serong. Istilah itu biasanya dipakai dalam konteks yang berhubungan dengan pengadilan atau peradilan. Dapat juga dihubungan dengan masalah ketidakadilan sosial yang terjadi terhadap orang-orang Samaria, sebagaimana nabi Amos meratap: "Mereka tidak tahu bagaimana berlaku benar (adil)" (Am 3:10).

Kata lain adalah mispat dengan kata dasar Syapat yang artinya adanya cara yang benar bagi seseorang untuk membawakan diri serta cara untuk memperlakukan orang lain dan juga keputusan yang tepat yang diberikan mengenai masalah-masalah yang sukar, baik dalam pengadilan, utusan atau yang lain.[31] Keadilan dalam Perjanjian Lama juga seringkali disamakan dengan kesetiaan dan cinta-Nya yang teguh tidak goyah (Mi. 7: 8-20), dan sangat erat hubungannya dengan belas kasih-Nya. Raja Mesias akan menyatakan keadilan kebijaksanaan. Keadilan itu sendiri awalnya telah ada pada masa penciptaan, dimana terdapat keseimbangan ataupun keharmonisan sehingga disebutkanlah baik. Sebaliknya, apabila tidak terjadi keseimbangan ataupun keharmonisan, maka terjadilah ketidakadilan.

"Tsadeq" di dalam PL juga diartikan sebagai keadilan.[32] Dari kata ini jugalah muncul tsadaqah yang artinya sesuatu yang tetap atau sepenuhnya menjadi apa yang seharusnya sehingga sesuai dengan suatu norma. Tsedeqah juga diartikan sebagai kehendak Allah dan tindakan-tindakan yang diakibatkan-Nya yang juga dapat menggambarkan pemeliharaan Allah akan hidup manusia dan binatang (Mzm. 36:7) serta menjadi ukuran susila yang dipakai Allah dalam mengukur tindak-tanduk manusia. Allah selalu berkata benar, selalu memberitakan apa yang lurus (Yes. 45:1-9).[33] Gerald von Rad mengartikan dengan lebih luas kata tsedeq tersebut. Dimana ia menyatakan bahwa kata tsedeq ini mengarah kepada seluruh hubungan manusia dengan sesamanya serta hubungan manusia kepada hewan dan juga lingkungan (alam), dan keadilan merupakan nilai hidup yang tertinggi.[34]

Kata mispat dan tsadeqah menjadi dua kata yang selalu diterjemahkan sebagai "keadilan dan kebenaran", dimana kedua kata ini sama-sama memiliki arti kebenaran dan kehendak Allah. Adil merupakan salah satu sifat Allah (Ul. 32: 4; Mzm. 11:7; 145:17; Yes. 45:21) sehingga umat-Nya harus mengusahakan keadilan dalam hidupnya (Mi. 6:8). Keadilan Allah juga melibatkan karya keselamatan dan penghukuman. Hal inilah yang menegaskan dan menjadi dasar bagi bangsa Israel bahwa mereka harus bertindak adil bagi sesamanya sebagai umat pilihan Allah. Dengan kata lain, keadilan dalam Perjanjian Lama merupakan suatu tindakan untuk memperlakukan orang lain dan juga alam lingkungan dengan benar serta keputusan yang tepat terhadap masalah-masalah, sehingga dengan hal itu akan menciptakan suatu keharmonisan dan keseimbangan di dalamnya. Dimana, dasar keadilan itu adalah kasih setia Allah yang merupakan sifat dari Allah sendiri.

Dalam perkembangannya, istilah 'misypat' ini dipakai bukan hanya menyangkut soal-soal sipil saja, tetapi juga soal keagamaan. Dalam hal ini kata 'misypat' dapat diartikan sebagai warga Negara. Misalnya, para nabi menegur dengan keras siapa saja yang mencoba meniadakan hak-hak orang miskin sebagaimana yang diungkapkan oleh nabi Amos dalam Ams 29:7; 31:5, 8-9 :

"Orang benar mengetahui hak orang lemah, tetapi orang fasik tidak mengertinya. Bukalah mulutmu untuk orang bisu, untuk hak semua orang yang merana. Bukalah mulutmu, ambillah keputusan secara adil dan berikanlah kepada orang yang tertindas dan yang miskin, hak mereka"

Sehingga dengan demikian, orang benar adalah mereka yang prihatin terhadap hak-hak orang lemah, dan mengadakan peraturan-peraturan demi mempertahankan hak-hak manusia.

Secara terperinci dapat dikatakan bahwa kata 'misypat' diartikan sebagai berikut :

1. Tindakan seorang hakim untuk mengadili kasus seorang tertuduh di pengadilan dalam menentukan suatu keputusan hukum (Ul 25:1; Yes 3:14).

2. Menyatakan tempat melaksanakan keputusan atau hukuman (1 Raj 7:7), dan jenis hukuman serta masa untuk melaksanakannya (Mzm 1:5).

3. Menyatakan Allah sendiri yang menetapkan hukum, keadilan dan keputusan yang adil (Mzm 96:13; 50:6; 75:8). Dalam hal ini hendak dinyatakan bahwa Tuhan Allah adalah Adil, Ia adalah Keadilan. Jadi, keadilan adalah kebenaran yang berakar dari sifat Allah yang harus terlaksana dalam proses keadilan di antara manusia, sehingga manusia dapat melaksanakan keadilan itu.

Kata-kata Ibrani yang biasanya mengiringi kata-kata dasar tersebut di atas adalah kata 'syalom' dan kata 'tov'. Secara umum kata 'syalom' berarti adil, damai, sejahtera, selamat, sehat, baik, benar dan makmur, tetapi arti yang utamanya adalah damai sejahtera.[35] Kata 'syalom' dipakai untuk menyatakan hubungan yang baik antara manusia dengan Allah. 'Syalom' adalah merupakan anugerah Allah dan bukan dari hasil usaha manusia (Im 26:6; Bil 6:26; Mzm 29:11; 122:6; Yer 16:5). Sejajar dengan itu, 'syalom' dalam PL bukan hanya berarti damai, tetapi pada hakekatnya berarti senang, tidak susah, merasa gembira, tidak bersungut-sungut melainkan bahagia.[36]

Kesenangan yang dimaksud menyangkut seluruh kepribadian seseorang. "Syalom" ini datangnya dari Allah bahkan Dia sendiri dinyatakan sebagai 'syalom', sehingga manusia merasakan 'syalom' apabila selalu berhubungan dengan Allah. Jadi, apabila keadilan denyatakan baik dalam hubungan manusia dengan Allah maupun hubungan manusia dengan sesamanya, maka 'syalom' Allah akan berdiam dalam kehidupan manusia.[37] Dengan kata lain, keadilan merupakan salah satu cara Allah dalam rangka menyatakan 'syalom'Nya di dunia. Sedangkan kata 'tov' berarti kebaikan, berkat, anugerah, kebenaran dan kesukaan. 'Tov' adalah pemberian Allah, sebab Allah adalah 'tov' itu sendiri (Mzm 25:7b). Kata ini berhubungan dengan keadilan di mana jika ada kebaikan, maka keadilan pun ada. Semuanya diterima dalam kasih Allah (Ayb 2:10; Mzm 145:9) yang dinyatakan melalui TauratNya. Sehingga manusia dinyatakan baik bila menuruti petunjuk petunjuk Taurat Allah.

V. KEADILAN SOSIAL DALAM PERJAMUAN PL

5.1 Pemahaman Manusia Menurut Alkitab

Dalam PL, manusia dipandang sebagai mahluk ciptaan yang pada hakekatnya merupakan benda mati yang tidak mempunyai kehidupan dari dirinya sendiri.[38] Sehingga muncul pertanyaan bagaimana manusia itu bisa hidup? Dalam Kej 2:7, dinyatakan bahwa Tuhan Allah menghembuskan "nafas hidup" ke dalam hidung manusia. Sehingga manusia yang merupakan benda mati itu menjadi mahluk hidup yang dapat bergerak. Dengan demikian, manusia menjadi mahluk hidup bukan karena kemampuan manusia itu sendiri melainkan karena karunia pemberian Allah. Maksud pemberian "nafas hidup" tidak lain menunjukkan bahwa manusia hanya hidup dari pemberian Allah. Allah menaruh belas kasihan kepada manusia karena manusia adalah abu (Mzm 103:4; Ayb 10:9). "Nafas hidup" menyatakan bahwa kehidupan yang diberikan itu adalah milik Tuhan, bukan milik manusia.

Di sisi lain, dinyatakan juga bahwa manusia itu diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (Kej 1:26a). Kesegambaran manusia dengan Allah bukanlah berarti memiliki kesamaan dalam hal jasmani, melainkan kesegambaran yang dimaksud berarti manusia dijadikan memiliki kesamaan ilahi yang menyifatkan garis penghubung dari Allah dan manusia. Dengan kata lain, menjadi segambar dengan Allah berarti menjadi manusia yang hidup dalam hubungan dengan Allah.[39] Diciptakan segambar dengan Allah adalah mencerminkan perwakilan atau penampakan Allah yang adalah Roh adanya, melalui manusia yang nampak secara daging. Status manusia sebagai wakil Allah adalah dalam hal memerintah bumi (Kej 1:26b), namun tugas memerintah ini tidak dapat diartikan manusia sama kedudukannya dengan Allah. Sebab tanpa dijadikan segambar dengan Allah, maka manusia itu sama derajatnya dengan mahluk ciptaan lainnya. Manusia diciptakan segambar dengan Allah, berarti mirip dengan sifat Allah, mirip dengan kehidupan sorgawi. Itulah sebabnya manusia merupakan mahluk yang tertinggi harkatnya di bumi, walaupun pada hakekatnya manusia itu tetap merupakan mahluk ciptaan.[40] Dengan demikian, sebagai wakil Allah manusia bertugas melaksanakan apa yang menjadi kehendak Penciptanya yaitu untuk menyatakan keadilan, kasih dan kemuliaan Allah di dunia ini.

Melalui teladan diriNya dan pengajaranNya, Yesus sepenuhnya mendukung pandangan PL tentang solidaritas di antara sesama manusia termasuk pemerataan tanggung jawab.[41] Dan dalam khotbahNya di bukit, Yesus memberikan kriteria kriteria bagi manusia sebagai mahluk sosial. Ia harus bermurah hati terhadap orang lain (Mat 5:7), bertindak sebagai pembawa damai (Mat 5:9), membawa terang yang bercahaya bagi orang lain (Mat 5:16), menghindarkan diri dari rasa marah atau menghina saudara-saudaranya (Mat 5:22 dyb), menjauhkan diri dari perbuatan zinah atau perceraian (Mat 5:27 dyb), berkata benar secara mutlak (Mat 5:33 dyb), menyerahkan jubahnya kepada orang lain yang lebih yang lebih memerlukannya (Mat 5:40); bahkan mengasihi musuh (Mat 5:44) dan tidak menghakimi orang lain (MatMat 7:1 dyb). Semuanya itu menunjukkan bahwa seseorang dalam bersikap dan bertindak harus memperhitungkan tanggung jawab dalam masyarakat.[42] Melalui ajaran Khotbah Di Bukit tersebut, tidak dapat disangkal lagi bahwa tujuan manusia sesungguhnya bukan hanya bertindak secara bertanggung jawab kepada Allah dalam kehidupan beragama secara pribadi, melainkan juga bertindak secara bertanggung jawab dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan demikian, selain untuk hidup bersekutu dengan Allah, manusia juga dicipta sebagai mahluk sosial untuk bersekutu dengan sesamanya. Di mana hidup persekutuan itu terutama untuk hidup saling tolong menolong dalam rangka menyatakan keadilan dan kasih Allah.[43]



5.2 Pemahaman Kesejahteraan

Alkitab menekankan bahwa kesejahteraan itu berarti semua kekacauan dalam kehidupan manusia dapat diatur, semua penyakit disembuhkan, semua gangguan diatasi, semua perpecahan dipersatukan kembali.[44] Kesejahteraan ini merupakan visi Alkitab tentang suatu persekutuan yang mencakup seluruh ciptaan (Im 26:4-6; Yeh 34:25-39). Dalam pandangan Alkitab, kesejahteraan itu harus dirumuskan baik secara negatif maupun secara positif. Secara negatif, manusia itu sejahtera apabila ia bebas dari rasa lapar dan miskin, dari kecemasan akan hari esok, bebas dari rasa takut, bebas dari rasa ketertindasan, apabila ia tidak merasa diperlakukan tidak adil. Secara positif, manusia itu sejahtera apabila ia merasa aman, tenteram, selamat, apabila ia bisa hidup sesuai dengan cita-cita dan nilai-nilainya, apabila ia merasa bebas untuk mewujudkan kehidupannya sendiri dan kehidupan sosialnya sesuai dengan aspirasi-aspirasi serta dengan kemungkinan-kemungkinan yang tersedia baginya.[45] Dengan kata lain, kesejahteraan itu merkupakan situasi di mana kemampuan dan bahkan kreativitas manusia dalam segala keterbatasannya bisa dikebangkan dalam suasana kehidupan yang tenang tanpa merasakan adanya intimidasi.

Kesejahteraan atau "syalom" adalah milik seluruh warga masyarakat.[46] Sehingga dengan demikian, kesejahteraan itu perlu dialami oleh seluruh masyarakat. Kalau sebagian masyarakat hidup dengan sejahtera, padahal sebagian yang lain menderita, maka keadaan itu bukan "syalom" melainkan ketidakseimbangan. Dalam "syalom" tidak ada orang yang diabaikan atau diasingkan, melainkan semua orang diikutsertakan dalam persekutuan.[47] Kesejahteraan yang sejati hanya mungkin terwujud apabila keadilan ditegakkan. Dengan kata lain, kesejahteraan sejati terwujud sesudah keadilan diwujudkan, bukan sebelumnya. Oleh sebab itu ketidakadilan dan pemerasan yang merusak "syalom" dan menciptakan pertentangan dalam masyarakat, merupakan prioritas utama yang harus dilenyapkan. Sehingga kesejahteraan sosial seringkali hanya dapat diperoleh dengan perjuangan dan pertentangan terhadap semua sumber penindasan.[48]

5.3 Korelasi Keadilan Sosial dengan Perjamuan dalam PL

Dalam mengevaluasi bukti-bukti tentang hubungan antara status sosial dan arah interaksi, perlu diperhatikan berbagai jenis dan ukuran interaksi.[49] Alkitab menyaksikan bahwa adil itu sendiri merupakan sifat Allah. Dan keadilan sosial adalah merupakan keadaan di mana segala sesuatu bentuk interaksi antar manusia yang berlangsung berdasarkan kehendak Allah yang adalah sumber keadilan itu sendiri. Kata keadilan sosial dalam hal ini untuk membedakan dari kata keadilan yang sering dipakai dalam dunia pengadilan. Menurut Alkitab, bahwa manusia merupakan mahluk ciptaan Allah, yang diciptakan segambar dengan Allah itu sendiri. Kesegambaran manusia dengan Allah bukanlah menyatakan bahwa manusia itu sama dengan Allah, melainkan hendak menyatakan bahwa manusia memiliki sifat keilahian dan hidup dalam hubungannya dengan Allah. Sehingga manusia dalam hidupnya mempunyai tanggung jawab penuh untuk menyatakan kebenaran, keadilan dan cinta kasih Allah.[50] Alkitab menekankan bahwa kesejahteraan itu berarti semua kekacauan dalam kehidupan manusia diatur, semua penyakit disembuhkan, semua gangguan diatasi, semua perpecahan dipersatukan kembali. Kesejahteraan merupakan situasi di mana kemampuan dan bahkan kreativitas manusia dalam segala keterbatasannya bisa dikembangkan dalam suasana kehidupan yang tenang tanpa merasakan adanya intimidasi. Kesejahteraan ini merupakan visi Alkitab tentang suatu persekutuan yang mencakup seluruh ciptaan (Im 26:4-6; Yeh 34:25-39). Dan kesejahteraan akan terwujud apabila keadilan dinyatakan.

Demi kelayakan martabat manusia, makan setiap hari bukanlah suatu kemewahan, melainkan persyaratan minimal yang mutlak. Bahwa Tora dalam Perjanjian Lama memperhatikan dan mempedulikan perkara ini, merupakan kenyataan bahwa Tora terkait dalam segala aspek kehidupan manusia tanpa membedakan secara prinsipil antara perkara "rohani" dan "kebendaan". Bukankah kehidupan manusia tidak hanya kena-mengena dengan "masalah-masalah yang muluk-muluk" karena tak seorang pun yang dapat melepaskan diri dari kebutuhan yang paling utama. Pada waktu tertentu, orang memerlukan makan dan minum. Maka tidaklah salah jika perjamuan makan disebut "kejahatan mutlak yang sangat perlu". Namun sedikit yang bersedia mendukung kualifikasi yang begitu negatif. Di samping itu, mereka merasa mendapat dukungan penuh dari berbagai penulis Alkitab, dengan memberikan berbagai anjuran untuk tetap menikmati mati hasil negeri dan kebaikan tanah (1 sam. 30:16; Ayb. 21:25; Pkh. 9:7; Yes. 22:13.

Perjamuan mengikat persaudaraan antarmanusia. Barangsiapa menghayati itu, tidak akan heran bahwa bersantap bersama juga berperan secara hakiki untuk terjadinya suatu persekutuan. Itu tidak saja berlaku untuk perjanjian antar manusia tetapi juga dalam perjanjian antara umat Israel dan Allah sebagai pemrakarsa (bnd. Kej. 26:30; 31:46, 54; Kel. 24:11; Yos. 9:14).[51] Bahkan tidak mustahil bahwa ungkapan sesehari "makan dan minum" dapat berfungsi sebagai sinonim untuk "penetapan perjanjian". Dalam pemahaman yang sama, Perjanjian Lama menetapkan hubungan antara kultus korban dengan kebersamaan makan dan minum yang beberapa kali "dilakukan bagi Allah" (Ul. 12: 7, 18 ; 14:25; 15:20; 27 :7 ; Kel. 8: 12 dst). Mereka yang berperan serta harus "menyucikan diri" karena Allah sendiri berfungsi sebagai Tuan Rumah dan mereka sebagai tamu yang tampil di hadapan- Nya (1 Sam. 16:5).

Suatu unsur penting dalam perjamuan juga dipraktekkan oleh para diaken. Mereka memiliki perayaan yang dikenal sebagai Perjamuan Malam, yang erat dihubungkan dengan perjamuan kasih. Para pelayan yang melayani perjamuan kasih inilah yang dikenal sebagai diaken dalam PB (bnd. Kis 6:1 dyb; 1 Kor 11:17 dyb; Yudas 12). Dari perjamuan kasih ini kemudian timbul persaudaraan dalam jemaat, yang nyata dalam pembagian roti.[52] Dalam gereja lama, para diaken membantu dalam pelayaan pembagian roti dan pembagian hal-hal lain yang dibawa oleh anggota jemaat untuk mereka yang kekurangan. Ini merupakan sebuah bentuk keadilan sosial, dimana para anggota jemaat saling berbagi dan mengikat persaudaraan.



VI. KESIMPULAN

Perjamuan paskah atau yang sering dikenal dengan perjamuan seder merupakan bentuk dasar dari Perjamuan Kudus di dalam Perjanjian Lama. Dalam perjamuan paskah, darah dan daging memiliki makna keselamatan bagi umat yang merayakannya. Domba paskah yang disembelih itu menandakan kurban persembahan kepada Allah, dimana dagingnya dimakan dan darahnya dibubuhkan di ambang pintu. Ritus ini bukan hanya sekedar sebagai ritus keagamaan belaka, tetapi juga memiliki dampak yang positif bagi komunitas yang merayakannya. Sama seperti dalam perjamuan Kudus yang diamanatkan oleh Kristus, perjamuan paskah dirayakan oleh suatu keluarga atau kumpulan beberapa keluarga. Simbol darah dan daging memang tidak begitu menyolok, tetapi maknanya bisa dilihat dari pembagian daging dan roti tidak beragi yang mereka olah dalam perayaan tersebut. Perjamuan paskah mengingatkan bangsa Israel akan penyertaan Allah bagi mereka ketika keluar dari perbudakan di Mesir. Ini merupakan peristiwa pembebasan sebagai wujud nyata keadilan sosial, tidak boleh terjadi perbudakan di hadapan Allah.

Darah yang dioleskan di ambang pintu merupakan darah anak domba paskah, dimana fungsinya adalah sebagai permohonan pengampunan dosa dan permohonan keselamatan dari Allah ketika malaikat-Nya melewati pintu mereka. Ini ada kemiripan dengan perjamuan kudus, di mana darah Kristus memberikan pengampunan dosa bagi manusia yang meminumnya.

Perjamuan makan merupakan peristiwa yang unik di dalam Perjanjian Lama, dimana dalam perjamuan tersebut setiap orang yang berkumpul dipersatukan dalam persekutuan yang saling mengasihi. Persekutuan ini terjadi langsung di hadapan Allah sendiri, dan memang persekutuan itu diciptakan dan diikat oleh Allah sendiri. Dalam perjamuan paskah, setiap orang mendapatkan makanan dan minuman sesuai dengan apa yang diamanatkan Tuhan, dan tidak boleh ada yang tersisa. Ini merupakan suatu pesta besar, sehingga ketika ada keluarga yang tida mampu untuk merayakannya karena tidak mampu membeli domba, orang-orang yang kaya akan memberikan bantuan kepada mereka. Atau, keluarga-keluarga yang tidak mampu berkumpul dan mereka membeli domba secara bersama (kollektif). Di sinilah letak keadilan jelas terlihat, bahwa paskah benar-benar bukan hanya untuk makan-makan saja. Tetapi, dalam acara makan tersebut, kesejahteraan setiap orang diperhatikan oleh setiap orang pula, sehingga tidak ada yang hanya memikirkan dirinya sendiri, karena paskah adalah milik Tuhan. Melalui perjamuan paskah, umat yang merayakannya akan mengetahui arti penting dari pembebasan, sehingga mereka pun diamanatkan untuk menjadi para pembebas dalam hidup sehari-hari. Perjamuan makan tersebut juga dilaksanakan dalam suasana yang penuh damai, sebab setiap orang memiliki pekerjaannya masing-masing, dan saling membutuhkan. Ini mirip sekali dengan perjamuan kasih yang dilakukan oleh para diaken. Jadi, perjamuan paskah menciptakan suasana yang damai, penuh kasih, persekutuan, dan puncak dari semuanya adalah keadilan sosial sebagaimana pembebasan yang telah dilakukan Tuhan pada bangsa itu.

VII. LITERATUR

Abineno, J.L.Ch.

2008 Diaken: Diakonia dan Diakonat Gereja, Jakarta (BPK-GM).

Barth, Ch.

1988 Theologia Perjanjian Lama I, Jakarta (BPK Gunung Mulia).

Barton, John, dkk.(ed.).

2001 The Oxford Bible Commentary, Oxford (University Press).

Bavink, F.L.

1990 Sejarah Kerajaan Allah I, Jakarta (BPK-GM).

Behm.

1967 Theological Dictionary of The New Testament Vol. II, Michigan (W. B. Erdsmans Publishing Company).

Bergant, Dianne, dkk. (ed.).

2002 Tafsir Alkitab Perjanjian Lama, Yogyakarta (Kanisius).

Bromiley, Geoffrey W. (ed.).

1988 The International Standard Bible Encyclopedia Vol IV, Michigan (Grand Rapids).

Brownlee, Malcolm.

1989 Tugas Manusia Dalam Dunia Milik Tuhan, Jakarta (BPK Gunung Mulia).

Deursen, A.

1964 Kamus Purbakala Alkitab, Jakarta (BPK-Gunung Mulia)

Dipoyudo, Kirdi.

1985 Keadilan Sosial, Jakarta (Rajawali).

Dister, Nico Syukur.

2004 Pustaka Teologi: Teologi Sistematika I, Yogyakarta (Kanisius).

Dister, Niko Syukur.

1987 Kristologi Sebuah Sketsa, Yogyakarta (Kanisius).

Douglas, J.D. (ed.).

2007 Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid II, Jakarta (Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF).

Duchrow, Ulrich, dkk.

1989 Shalom, Geneva (WCC).

Eelwell, Walter A.

1995 Evangelical Dictionary of Theology, Michigan (Baker Book House).

Elwell, Walter A.

1996 Baker Theological Dictionary of the Bible, Michigan (Baker Books).

Gemeren, Willem A. Van.

2007 Penginterpretasian Kitab Para Nabi, Surabaya (Momentum).

Guthrie, Donald.

1992 Teologia Perjanjian Baru I, Jakarta (BPK Gunung Mulia).

Hadiwijono, Harun.

2007 Iman Kristen, Jakarta (BPK-GM).

Harrison, Everelt F. (ed).

t.t Bakers Dictionary of Theology, Michigan (Baker Book House).

Heyer, C.J. Den.

1997 Perjamuan Tuhan, Jakarta (BPK-GM).

Kieser, B.

1992 Solidaritas, Yogyakarta (Kanisius).

Kittle, G.

1964 Theological Dictionary of New Testament Vol II Michigan (Grand Rapids).

Komonchak, Joseph A. (ed).

t.t The New Dictionary of Theology, Wilmingtan (Michael Glazier).

Lasor, W.s. dkk.,

2008 Pengantar Perjanjian Lama 1, Jakarta (BPK-GM).

Martasudjito, E.

2005 Ekaristi: Tinjauan Teologis, Liturgi dan Pastoral, Yogyakarta (Kanisius).

Niftrik, G. C. van, dkk.

1991 Dogmatika Masa Kini, Jakarta (BPK-GM).

Rachman, Rasid.

2005 Hari Raya Liturgi, Sejarah dan Pesan Pastoral Gereja, Jakarta (BPK-GM).

Rad, Gerald von.

1962 Old Testament Theology, Vol I, New York (Harper & Row Publisher Incorporated).

Rasuanto, Bur.

2005 Keadilan Sosial: Pandangan Deontologis Rawls dan Habermas, Dua Teori Filsafat Politik Modern, Jakarta (Gramedia).

Rosin, H.

1994 Tafsiran Alkitab Kitab Keluaran 1-15:21, Jakarta (BPK-Gunung Mulia).

Rowley, H.H.

1990 Ibadat Israel Kuno, Jakarta (BPK-GM).

Siahaan, S.M.

1984 Pendamaian (Syalom) Dalam Perjanjian Lama, Jakarta (BPK Gunung Mulia).

Siwalette, J.S.

1991 Manusia Menurut Jurgen Moltmann, Jakarta (BPK Gunung Mulia).

Soedarmo (terj.).

2007 Tafsiran Alkitab Masa Kini 1 Kejadian-Ester, Jakarta (Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF).

Soedarmo, R.

2009 Ikhtisar Dogmatika, Jakarta (BPK-GM).

Soekanto, Soerjono.

1993 Kamus Sosiologi, Jakarta (Raja Grafindo Persada).

Suseno, Franz Magnis.

1988 Kuasa Dan Moral, Jakarta (Gramedia).

Svalastoga, Kaare.

1989 Differensiasi Sosial, Jakarta (Bina Aksara).

Taylor, Justin.

2008 Asal-usul Agama Kristen, Yogyakarta (Kanisius).

Vriezen, Th.C.

2003 Agama Israel Kuno, Jakarta (BPK-GM).

Wright, Christopher.

2000 Hidup Sebagai Umat Tuhan, Jakarta (BPK - GM).



[1] G. C. van Niftrik & B. J. Boland, Dogmatika Masa Kini, BPK-GM, Jakarta 1991: hlm. 454.

[2] Ibid., hlm. 455.

[3] Niko Syukur Dister, Kristologi Sebuah Sketsa, Kanisius, Yogyakarta 1987: hlm.175.

[4] Bnd. Everelt F. Harrison (ed), Bakers Dictionary of Theology, Baker Book House, Michigan, t.t: hlm. 331.

[5] H.H. Rowley, Ibadat Israel Kuno, BPK-GM, Jakarta 1990: hlm. 70.

[6] F.L. Bavink, Sejarah Kerajaan Allah I, BPK-GM, Jakarta 1990: hlm. 20-28.

[7] Behm. J, Theological Dictionary of The New Testament Vol. II, W. B. Erdsmans Publishing Company, Michigan 1967: hlm. 229.

[8] Ibid., hlm. 229.

[9] C.J. Den Heyer, Perjamuan Tuhan, BPK-GM, Jakarta 1997: hlm. 32.

[10] Th.C. Vriezen, Agama Israel Kuno, BPK-GM, Jakarta 2003: hlm. 155.

[11] W.s. Lasor, dkk., Pengantar Perjanjian Lama 1, BPK-GM, Jakarta 2008: hlm. 169.

[12] Walter A. Elwell, Baker Theological Dictionary of the Bible, Baker Books, Michigan 1996: hlm. 492.

[13] E. Martasudjito, Ekaristi: Tinjauan Teologis, Liturgi dan Pastoral, Kanisius, Yogyakarta 2005: hlm. 28.

[14] Walter A. Eelwell, Evangelical Dictionary of Theology, Baker Book House, Michigan 1995: hlm 652.

[15] Justin Taylor, Asal-usul Agama Kristen, Kanisius, Yogyakarta 2008: hlm. 244.

[16] Rasid Rachman, Hari Raya Liturgi, Sejarah dan Pesan Pastoral Gereja, BPK-GM, Jakarta 2005: hlm. 15.

[17] H. Rosin, Tafsiran Alkitab Kitab Keluaran 1-15:21, BPK-Gunung Mulia, Jakarta 1994: hlm. 159.

[18] J. I Packer, "Paskah" dalam J. D. Douglas (ed.), Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid II, Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, Jakarta 2007: hlm. 205.

[19] John Barton and John Muddiman (ed.), The Oxford Bible Commentary, University Press, Oxford 2001: hlm. 75.

[20] H. Rosin, Op. Cit, hlm. 161.

[21] A. Deursen, Kamus Purbakala Alkitab, terj: E. I Soekarso, BPK-Gunung Mulia, Jakarta 1964: hlm. 92.

[22] Soedarmo (terj.), Tafsiran Alkitab Masa Kini 1 Kejadian-Ester, Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, Jakarta 2007: hlm. 161.

[23] R. Soedarmo, Ikhtisar Dogmatika, BPK-GM, Jakarta 2009: hlm. 244.

[24] John F. Craghan, 'Keluaran' dalam Dianne Bergant, CSA dan Robert J. Karris, OFM (ed.), Tafsir Alkitab Perjanjian Lama, Kanisius, Yogyakarta 2002: hlm. 93.

[25] Ibid.

[26] Soerjono Soekanto, Kamus Sosiologi, Raja Grafindo Persada, Jakarta 1993: hlm. 259.

[27] Lih. Bur Rasuanto, Keadilan Sosial: Pandangan Deontologis Rawls dan Habermas, Dua Teori Filsafat Politik Modern, Gramedia, Jakarta 2005: hlm. 53.

[28] Kirdi Dipoyudo,Keadilan Sosial, Rajawali, Jakarta 1985: hlm. 52.

[29] N.J. Opperwall, "Right", dalam: The International Standard Bible Encyclopedia Vol IV (ed.: Geoffrey W. Bromiley), Grand Rapids, Michigan 1988: hlm. 191.

[30] Ibid.

[31] Willem A. Van Gemeren (ed.), Penginterpretasian Kitab Para Nabi, Momentum, Surabaya 2007: hlm. 838.

[32] Kata "adil" dan kelompok kata-kata yang diturunkan dari kata dasar ini merupakan rumpun kata yang sering dipakai dalam Alkitab Bahasa Indonesia untuk menerjemahkan tsadeqah. Namun kata "adil" sendiri tidak seluruhnya dapat mencakup kisaran makna tsadeqah dalam berbagai konteks sehingga istilah ibrani tersebut sering juga diterjemahkan dengan kata lain, seperti: "benar", "tidak bercela", "tulus".

[33] Christopher Wright, Hidup Sebagai Umat Tuhan, BPK - GM, Jakarta 2000: hlm. 136-137.

[34] Gerald von Rad, Old Testament Theology, Vol I, Harper & Row Publisher Incorporated, New York 1962: hlm. 370.

[35] S.M. Siahaan, Pendamaian (Syalom) Dalam Perjanjian Lama, BPK Gunung Mulia, Jakarta 1984: hlm. 15.

[36] G. von Rad, "Syalom In The Old Testament", dalam : Theological Dictionary of New Testament Vol II (ed.: G. Kittle), Grand Rapids, Michigan 1964: hlm. 400-403.

[37] Lih. Nico Syukur, Pustaka Teologi: Teologi Sistematika I, Kanisius, Yogyakarta 2004: hlm. 137.

[38] Berdasarkan Kej 2:7 yang menyatakan bahwa manusia dibentuk dari "debu dan tanah". Oleh sebab itulah manusia dipandang sebagai benda mati yang tidak mempunyai kehidupan dari dirinya sendiri. Bnd. J.S. Siwalette, Manusia Menurut Jurgen Moltmann, BPK Gunung Mulia, Jakarta 1991: hlm. 42.

[39] Niftrik , Op. Cit., hlm. 144.

[40] Ch.Barth, Theologia Perjanjian Lama I, BPK Gunung Mulia, Jakarta 1988: hlm. 62.

[41] Donald Guthrie, Teologia Perjanjian Baru I, BPK Gunung Mulia, Jakarta 1992: hlm. 153.

[42] Ibid., hlm. 153

[43] Bnd. Harun Hadiwijono, Iman Kristen, BPK-GM, Jakarta 2007: hlm 466.

[44] Malcolm Brownlee, Tugas Manusia Dalam Dunia Milik Tuhan, BPK Gunung Mulia, Jakarta 1989: hlm. 72.

[45] Franz Magnis Suseno, Kuasa Dan Moral, Gramedia, Jakarta 1988: hlm. 38.

[46] Ulrich Duchrow dan Gaerhard Liedke, Shalom, WCC, Geneva 1989: hlm. 113.

[47] Brownlee, Op.Cit., hlm. 75.

[48] Ibid.

[49] Kaare Svalastoga, Differensiasi Sosial, Bina Aksara, Jakarta 1989: hlm. 105.

[50] B. Kieser, Solidaritas, Kanisius, Yogyakarta 1992: hlm. 140.

[51] Joseph A. Komonchak (ed), The New Dictionary of Theology, Michael Glazier, Wilmingtan, t.t: hlm. 343.

[52] J.L.Ch. Abineno, Diaken: Diakonia dan Diakonat Gereja, BPK-GM, Jakarta 2008: hlm. 81.


KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?