Riap Windhu
Riap Windhu Sales

senang membaca dan menulis, cinta bersepeda, suka pada tema lingkungan. Menggemari dunia pemberdayaan masyarakat. Saat ini aktif di sebuah perusahaan asuransi jiwa. Dapat dihubungi di 081287749530. Email: rwindhu@gmail.com. Instagram : riapwindhu dan twitter @riapwindhu. Bisa juga di www.rindhuhati.com

Selanjutnya

Tutup

The Bleeder, Pelajaran dari Tragisnya Kisah Hidup Petinju Kelas Berat Chuck Wepner

17 Juli 2017   17:04 Diperbarui: 17 Juli 2017   17:13 73 1 0
The Bleeder, Pelajaran dari Tragisnya Kisah Hidup Petinju Kelas Berat Chuck Wepner
The Bleeder, film yang mengangkat kisah nyata seorang petinju kelas berat Chuck Wepner yang mampu bertahan 15 ronde melawan juara dunia tinju Muhammad Ali (trailerfilmTheBleeder/IFCfilms)

Dunia olahraga selalu menghadirkan bintang yang selalu dipuja puji penggemarnya. Popularitas dan nama yang melambung terkadang membuat terlena, sehingga membawa pada sebuah perjalanan hidup yang berliku.

Inilah yang dialami oleh Chuck Wepner, petinju kelas berat dunia, asal Bayonne, New Jersey, Amerika Serikat. Chuck melesat sebagai petinju professional pada tahun 1970-an, bersamaan dengan petinju top dunia pada masa itu, seperti Muhammad Ali dan George Foreman.

Nama Chuck Wepner semakin terkenal ketika memperoleh kesempatan untuk bertarung melawan sang juara tinju dunia Muhammad Ali di atas ring, pada 24 Maret 1975. Pertandingan yang ditayangkan dari Richfield Coliseum, Ohio ke seluruh dunia  itu, membuat kekaguman terhadap Chuck Wepner meningkat tinggi. 

Hari yang luar biasa bagi Chuck Wepner. Lelaki ini memang tidak memenangkan pertandingan melawan Muhammad Ali. Namun, semua seakan tidak perduli.

Chuck yang sama sekali tidak diunggulkan dan semula diduga paling lama hanya akan sampai 3 ronde, ternyata malah mampu bertahan selama 15 ronde melawan Ali. Pasar taruhan yang memposisikan keunggulan 40:1 untuk Ali salah besar.

Itulah saat pertama kalinya seorang petinju peringkat ke-8 dunia mampu menjatuhkan petinju peringkat nomor 1 dua  ke lantai ring. Juara tinju dunia Muhammad Ali jatuh pada ronde ke-9. Suatu perjuangan yang sangat membanggakan.

The Bleeder disematkan sebagai julukan Chuck Wepner. Nama ini diberikan karena dalam setiap pertandingan tinjunya, Chuck selalu berhasil membuat lawannya terluka dan berdarah. The Bleeder from Bayonne.

Kisah nyata kehidupan Chuck Wepner ini kemudian diangkat ke layar lebar menjadi film biografi atau biopik berjudul The Bleeder, sesuai dengan julukan yang disandangnya.  Film ini dirilis di jaringan bioskop di Indonesia, sejak 12 Juli 2017. Saya hadir dalam movie screening sehari sebelumnya di Cinemaxx Plaza Semanggi, Granadha, Jakarta, bersama rekan-rekan Komik (Komunitas pengemar film Kompasiana).

Film The Bleeder menghadirkan sejumlah bintang film Hollywood. Film yang diproduksi ini distrudarai oleh Phillip Falardeau.

Adegan saat Chuck Wepner bertemu dengan Sylvester Stallone mengenai Rocky (trailerfilm/IFCFilms)
Adegan saat Chuck Wepner bertemu dengan Sylvester Stallone mengenai Rocky (trailerfilm/IFCFilms)

The Real Rocky Balboa

Film diawali adegan rumah tangga Chuck Wepner. Lelaki ini memiliki keluarga yang berbahagia dengan istrinya Phyllis Wepner (Elizabeth Moss) dan anaknya Kimberly (Sadie Sink). Karirnya sebagai petinju pun melesat dengan dukungan keluarga.

Hati Chuck berbunga-bunga saat  manajernya sekaligus pelatih Al Braverman (Ron Perlman) mengatakan jika Don King, promotor tinju mengagendakan pertarungan melawan Muhammad Ali. Saat itu, pilihan lawan tinju kulit putih untuk merebut gelar juara dunia tinju kelas berat, jatuh ke Chuck Wepner. Suatu kesempatan yang memberikan keuntungan meskipun sempat terbersit rasa ragu.  

Di atas ring, Chuck membuktikan kemampuannya. Dalam tayangan film terlihat Chuck terus berusaha untuk melawan. Tetap bertahan meski wajahnya sudah terluka dan berdarah-darah terkena pukulan tinju Muhammad Ali (Pooch Hall).

"Saya sudah tidak ingat lagi, yang saya tahu harus bertahan walau Ali terus melancarkan pukulan. Boom. Boom. Boom," ucap Chuck Wepner, dalam film The Bleeder.

Kejutan itu datang saat Ali berhasil ditinju jatuh di atas kanvas. Ali yang mampu bangkit pun emosi dan semakin menyerang Chuck pada ronde selanjutnya. Ronde demi ronde berlalu. Chuck tetap bertahan meski bersimbah darah. Akhirnya pada ronde ke-15, Chuck roboh dan pertarungan dihentikan.

Meski tak memperoleh kemenangan, penduduk Amerika, terutama Bayonne selalu memanggilnya sebagai sang juara. Tak ada yang ambil pusing, saat Ali sempat menyangkal jika jatuhnya di atas ring karena sepatunya diinjak oleh Chuck. 

Apa pun itu, kegigihan dan daya juang Chuck Wepner memikat hati dan menginspirasi Sylvester Stallone (Morgan Spector) untuk membuat film layar lebar berjudul Rocky pada tahun 1976.

Film Rocky mendulang sukses dimana-mana sebagai film olahraga terbaik. Banyak yang menyukainya. Film Rocky pun hadir dalam enam sekuel selanjutnya.

Chuck Wepner melambung saat mampu bertahan 15 ronde melawan Ali, namun sempat mencapai titik terendah hidupnya (sumbergambar:www.imdb.com)
Chuck Wepner melambung saat mampu bertahan 15 ronde melawan Ali, namun sempat mencapai titik terendah hidupnya (sumbergambar:www.imdb.com)
Tergoda Banyak Perempuan dan Terjerumus Narkotika

Kebanggaan berlipat ganda untuk Chuck Wepner (Liev Schreiber). Karir dunia tinjunya melesat, film yang terinspirasi pertandingan tinju dirinya pun berhasil mendunia. Dalam sebuah wawancara di sebuah stasiun televisi saat itu, mengatakan jika hidupnya adalah seputar anggur, perempuan, dan musik.

Pernyataannya ini semakin meretakkan hubungan rumah tangganya. Istrinya sangat marah  karena semakin lama memang Chuck Wepner semakin sering tergoda oleh banyak  perempuan.     

Suatu hari, setelah pulang dalam keadaan mabuk, istrinya meminta Chuck berpisah rumah. Chuck semakin terlibat dengan sejumlah perempuan, pesta, dan kehidupan malam. Tak hanya itu, Chuck pun akhirnya mulai mengonsumsi kokain, yang dirasanya semakin membuatnya lebih percaya diri. 

Bertahun-tahun setelah itu, Chuck  Wepner bukan lagi seorang pengonsumsi melainkan sudah menjadi seorang pengedar kokain. Hingga akhirnya petinju kelas dunia ini ditangkap polisi sedang menjual kokain. Chuck dijebloskan ke balik jeruji besi penjara dengan vonis 5 tahun penjara.

Hidupnya hancur kala itu. Keluarga inti tak ada. Setelah bertahun-tahun hidup berpisah, istrinya mengajukan perceraian resmi. Hubungan dengan saudara kandung laki-lakinya pun tak baik.

Linda (Naomi Watts), perempuan yang bekerja di sebuah bar, yang telah membuatnya jatuh hati  menjauh saat masuk penjara. Lalu seperti apa kisah selanjutnya? Lebih asyik jika ditonton sendiri!

Chuck Wepner pantang menyerah menyelesaikan semua pertandingannya. (sumber:www,imdb.com)
Chuck Wepner pantang menyerah menyelesaikan semua pertandingannya. (sumber:www,imdb.com)

Belajar dari Kisah Hidup Chuck Wepner

Perjalanan kisah Hidup Chuck Wepner, sebagai seorang juara dunia olahraga tinju, yang semula dipuja dan membanggakan kemudian terhempas berakhir di penjara karena menjadi pengedar kokain, dapat menjadi pelajaran bagi yang menonton film The Bleeder.   

Model penceritaan orang pertama dari Chuck Wepner membawa penontonnya ke dalam kehidupan petinju itu pada tahun 1970-an. Film memang dibuat dengan setting masa lalu.

Soundtrack film yang dihadirkan, musik pengiring, tampilan film, pakaian pemain yang digunakan, hingga kamera para wartawan saat meliput Chuck Wepner masih sangat dulu kala. Dalam film, memang terkadang terselip kata-kata cukup kasar yang seakan menandaskan kerasnya kehidupan.

Dalam Film The Bleeder, juga diperlihatkan Chuck yang menyukai film The Requiem for a Heavyweight ,  yang dibuat pada tahun 1962, yang menceritakan petinju bernama Mountain Rivera.

Selain itu, sempat terungkap dari Chuck, meski film Rocky yang berlandas kisah hidup Chuck, sebenarnya tidak ada uang yang diperolehnya dari kesuksesan film yang medunia itu.  

Namun, film ini cukup menggugah lantaran meskipun hidupnya pernah mencapai titik terendah dan terhempas dari sebuah ketenaran, Chuck Wepner sebenarnya merupakan seorang ayah yang baik. Selalu berusaha dekat dengan anaknya dan membuat puisi untuk anaknya itu.

Film The Bleeder Based On True Story, di bioskop Indonesia sejak Juli 2017 (dokpri)
Film The Bleeder Based On True Story, di bioskop Indonesia sejak Juli 2017 (dokpri)

Film The Bleeder cukup menarik ditonton, terutama bagi pecinta olahraga tinju. Film ini memang bukan memang film olahraga tinju tapi ckisah nyata kehidupan seorang petinju. Satu hal yang pasti, film mengajarkan betapa luar biasanya seorang Chuck Wepner. Tidak ada kata menyerah dalam bertarung dan berjuang, untuk menyelesaikan seluruh ronde yang dipertandingkan.  

Meskipun untuk itu, Chuck harus rela berdarah-darah dan menjalani 313 jahitan dari seluruh pertandingan yang dilaluinya. Sepanjang karirnya, Chuck Wepner  yang lahir di  Bayonne 26 Februari 1939 tampil dalam 51 kali pertandingan dengan catatan 35 kali menang (17 menang KO), kalah 14 kali, 2 kali seri.

Film The Bleeder meraih penghargaan di Toronto International Film Festival dan Venice Film Festival  pada tahun 2016. Chuck Wepner dan istrinya Linda masih tinggal di New Jersey.  

Hingga saat ini, ucapan petinju Chuck Wepner saat momen bersejarah melawan Muhammad Ali pun bisa ditemukan melalui media internet, "If I survived the Marines, I can survive Ali "