Premium Adalah BBM Bersubsidi Hanya Untuk Golongan Tidak Mampu

11 Juni 2011 14:29:34 Dibaca :

Kalau memang Premium untuk golongan tidak mampu, kenapa tidak dibuat saja sistem atau undang-undang yang menutup akses golongan mampu membeli Premium bersubsidi ?.

Apakah anda pernah membaca spanduk di atas ?. Spanduk yang bermakna himbauan ini saya temukan disetiap Pom Bensin alias SPBU Pertamina di wilayah Jabodetabek.

Anda bisa baca ?

Mungkin foto saya kurang jelas, baiklah, saya ulangi menulis secara lengkap.

"PREMIUM ADALAH BBM BERSUBDI

HANYA UNTUK GOLONGAN TIDAK MAMPU".

Terima kasih telah menggunakan BBM Non Subsidi.

KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL

Apa yang ada di benak anda membaca spanduk itu ?

Jawaban saya adalah : EMANG GUE PIKIRIN !. Terus terang, saya belum tergugah untuk beralih memakai BBM non subsidi karena harganya dua kali lipat darI premium. Disamping alasan lainnya, sebagai warga Negara yang taat hukum, tindakan saya tetap membeli Premium bersubsidi karena tidak melanggar undang-undang sehingga tidak ada hukuman kepada saya kalau saya tetap memakai premium yang bersubsidi.

Kalau saya tebak-tebak manggis tentang jawaban/komentar anda atas spanduk diatas bisa jadi seperti ini.

1. Saya tidak terpengaruh dan tetap akan membeli Premium bersubsidi. Masalahnya, hasil penelitian dari Lembaga International yang dijamin validitasnya menyatakan bahwa negaraku INDONESIA adalah negara terkorup di dunia. Benahi dulu prilaku korup itu, baru mengajak masyarakat untuk berbuat baik alias berkontribusi. Jadi, mumpung disubsidi, kenapa bayar lebih mahal ?. Masih banyak pos pengeluaran lainnya yang harus saya prioritaskan. Kira-kira begitu khan !

2. Apa dasar KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MENERAL membuat spanduk yang berisi himbauan tersebut?. Kalau memang Premium untuk golongan tidak mampu, kenapa tidak dibuat saja sistem atau undang-undang yang menutup akses golongan mampu membeli Premium bersubsidi ?.

Kalau susah membuat sistemnya, contek saja usulan “Subsidi BBM diganti dengan penghapusan pajak kendaraan” yang pernah dimuat di KOMPASIANA he he he.

Effektipkah himbauan tersebut ?. Ternyata tidak. Ini bukti yang saya kutip dari VIVAnews Selasa, 7 Juni 2011.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Darwin Zahedy Saleh menyatakan,"realisasi konsumsi bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi per 31 Mei 2011 telah mencapai 15,46 juta kiloliter (KL). Angka itu telah mencapai 40 persen dari target Anggaran dan Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2011 sebesar 38,59 juta KL".

"Kami perkirakan konsumsi BBM hingga akhir tahun akan melampaui target menjadi 41,42 juta KL," kata Darwin. lebarnya disparitas harga BBM bersubsidi dan BBM nonsubsidi membuat konsumsi BBM nasional membengkak.

Baik, kita tinggalkan saja masalah subsidi. Anda saya ajak focus kepada himbauan dalam spanduk. Kalau anda tetap tertarik dengan masalah subsidi, silahkan baca link yang akan saya lekatkan dibawah tulisan ini.

Berdasarkan nalar saya yang orang biasa ini, himbauan yang tertulis dalam spanduk mengajak masyarakat yang mampu agar sadar sehingga dengan senang hati beralih memakai BBM non subsidi. Lama kelamaan, memakai BBM non subsidi akan menjadi kebiasaan atau budaya yang terpatri erat dalam sanubari semua masyarakat.

Untuk sampai menjadi budaya, mari kita lihat defenisi budaya yang saya copy paste dari Wikipidea yaitu.

Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk system, agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni atau.

Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh. budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas.

Suatu prilaku akan menjadi budaya dimulai dengan mengeluarkan undang-undang yang sifatnya memaksa setiap anggota masyarakat mematuhi undang-undang tersebut, tentunya disertai dengan sangsi yang jelas dan pasti bahwa setiap anggota masyarakat yang melanggar akan mendapat hukuman. Karena takut dihukum, lama-lama menjadi kebiasaan dan selanjutnya akan menjadi budaya. Artinya, tidak diawasipun, masyarakat akan taat/disiplin karena sudah membudaya.

Sebagaimana kita maklumi bersama, Negara tetangga Singapore masyarakatnya dikenal sangat disiplin. Contohnya, tidak bisa merokok sembarangan.

Setelah saya amati, ternyata masyarakat Singapore bukan disiplin, tapi mereka takut karena hukuman diterapkan secara tegas dan terdapat system pengawasan yang sangat ampuh. Begini ceritanya.

Suatu ketika, saya dan teman berkesempatan jalan-jalan ke Singapore . Disaat kami makan di sebuah warung, terdapat meja dilarang merokok dan meja tempat merokok. Secara becanda, saya disuruh merokok di meja dilarang merokok. Kamu jangan buat saya susah, coba lihat, sambil saya menunjuk sebuah camera yang dapat merekam setiap orang yang merokok.

Jadi, orang Singapore, disiplin atau penakut ?.

Untuk segala segi kehidupan “ Ciptakan undang-undangnya. Buat system pengawasan yang ampuh dan hukum setiap yang melanggar.

Tulisan terkait: Subsidi BBM Diganti dengan Penghapusan Pajak Kendaraan

http://ekonomi.kompasiana.com/moneter/2011/05/04/subsidi-bbm-diganti-dengan-penghapusan-pajak-kendaraan/

REFLUSMEN R

/reflus

Merindukan Indonesia Makmur
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?