HIGHLIGHT

Apakah Bangsa Ini Bangsa yang Sadis???

12 Juni 2012 13:58:57 Dibaca :

Beberapa waktu lalu saya membaca twit @panji tentang kesedihannya atas meninggalnya seorang supporter sepak bola akibat dikeroyok. Belakangan ada berita bahwa korban meninggal karena pemalakan, tidak ada hubungan dengan sepak bola.



Entah kenapa timeline hari itu berputar pada berita tentang kesadisan. Ada status twitter yang mempertanyakan, “Mengapa heran dengan batalnya konser Lady Gaga di Indonesia. Toh berita tentang pembantaian orang-orang Ahmadiyah dianggap angin lalu oleh banyak kalangan.”



Timeline diisi lagi dengan renungan akan kesadisan orang Indonesia. Bagaimana kejahatan terhadap orang-orang yang dicap PKI, Gerwani. Tentang cerita yang menyayat hati ini bisa dibaca pada novel Ronggeng Dukuh Paruk yang ditulis oleh Budayawan NU Ahmad Tohari. Cerita tentang kekejaman pada orang-orang PKI ini ditulis oleh Ayu Utami dalam karya sastranya Manjali dan Cakrabirawa. Karena politik dan perebutan kekuasaan, tiba-tiba orang-orang yang tidak tahu apa-apa dibantai karena dicap PKI. Tiga puluh tahun rakyat Indonesia percaya bahwa PKI adalah ateis. Padahal komunis berarti komunitas, yaitu mementingkan kepentingan komunitas daripada kepentingan pribadi.



Tiba-tiba saya galau. Mengingat kesadisan yang saya saksikan, kesadisan luar-biasa terhadap Guru Spiritual AK yang dilakukan oleh beberapa pihak.



Juni 2009. Saya kaget membaca wall FB yang dipenuhi dengan status minta tolong seorang gadis 18 tahun, Tr, pada Guru AK dan teman-temannya di padepokan spiritual. Saat itu saya jarang ke padepokan jadi hanya membaca berita di FB. Tr minta tolong karena dia dikurung di dalam kamar oleh orang-tuanya. Orang-tuanya tidak ingin dia aktif di padepokan sementara Tr ingin aktif di padepokan.



Para peserta di padepokan datang dan pergi, Ada pemuda yang aktif tidak datang lagi karena dilarang oleh orang-tuanya akibat pemberitaan miring di media. It’s ok. Orang berhak datang dan pergi. Bukan masalah besar. Menjadi masalah besar ketika seorang Tr ingin aktif di padepokan tapi dilarang orang-tuanya.



Hal sederhana menjadi rumit. Ibu Tr naik pitam karena perhatian anaknya tidak lagi sepenuhnya untuk dia, telah terbagi dengan padepokan. Dia menghubungi beberapa peserta yang dulu pernah belajar di padepokan itu. Karena sebagian kecil orang yang sudah keluar dari padepokan tidak ingin padepokan berkembang karena dirinya tidak lagi menjadi bagian dari padepokan itu. Perilaku yang mudah ditebak, ego-based adalah perilaku umum manusia.



Keadaan menjadi makin “seru” dengan bergabungnya seorang mantan peserta padepokan, J, yang selalu mencari cara untuk menghancurkan padepokan. J adalah seorang mafia kasus yang berasal dari aliran “keras”. Datang ke padepokan tahun 2000 sebagai penyusup untuk mencari info dan memikirkan cara untuk menghancurkan padepokan. Pada tahun 2005, J dan istrinya DMS membuat desas desus dan melakukan manuver untuk menggoyang padepokan. Hasilnya sekitar 20 peserta aktif berhasil dihasutnya untuk keluar.



Februari 2010. TVOne menayangkan berita pelecehan seorang gadis Tr oleh Guru Spiritual AK. Berita di TVOne disusul oleh berita-berita di tv-tv lain. Media seperti VIVAnews, inilah.com, kapanlagi.com menayangkan berita-berita yang memojokkan tanpa verifikasi sama sekali. Terus tv-tv dan media-media lainnya memberitakan berita pelecehan berbulan-bulan. Sedemikian gencarnya berita di tv-tv itu menghipnosis sehingga banyak keanehan mendasar yang tidak disadari masyarakat.



Ibu Tr menyatakan di media, mana mungkin saya mau mempermalukan diri dengan berita pelecehan terhadap putri saya. Alasan yang masuk akal. Namun hidup tidak melulu hitam putih. Tidak selalu wanita yang mengaku dilecehkan itu benar. Dan seorang Ibu yang “sakit” bisa melakukan apa saja termasuk membunuh putrinya. Seorang Ibu yang terlalu posesif bisa melakukan apa saja yang penting putrinya terus di dekat dia, menuruti kemauan dia. Banyak kisah nyata yang bisa kita baca tentang seorang Ibu yang “sakit”.



Diberitakan dengan gencar bahwa yang menyatakan terjadinya pelecehan pada Tr adalah seorang Psikiater berpengalaman 20 tahun. Hmmm, VIVAnews salah tulis atau sengaja salah tulis dengan menyatakan DYP seorang Psikiater? Ibu Tr juga menyatakan di TVOne bahwa beliau baru tahu telah terjadi pelecehan pada diri Tr setelah diberitahu oleh Psikiater Tr (DYP).



Menangkap keanehan dari berita ini? Seorang Ibu membawa anaknya yang bermasalah ke seorang “pakar” tanpa tahu “pakar” itu seorang Psikiater atau seorang Psikolog. Ibunya Tr bukan orang yang terlalu bodoh lah. Bila anak bermasalah pasti mencari rekomendasi dari sekitar tentang pakar yang memang berpengalaman menangani kasus serupa. Bukan membawa ke sembarang orang tanpa mengetahui orang itu ahli atau tidak, Psikiater atau Psikolog.



Tentang “pakar” bernama DYP ini ada ulasan tersendiri tentang “keanehan” dia. Apakah betul DYP ini seorang Psikiater atau Psikolog berpengalaman 20 tahun sesuai pengakuannya di VIVAnews? Seorang yang latar belakang pendidikan dan pengalamannya adalah HumanResources Management atau Manajemen Sumber Daya Manusia bisa mengaku sebagai Psikolog berpengalaman 20 tahun dalam menangani pasien seperti Tr? Apakah seseorang yang aneh seperti DYP pantas diminta kesaksiannya sebagai Saksi Ahli?



Penayangan berita secara intensif di tv-tv selama beberapa bulan tentang pelecehan terhadap Tr membuat saya bertanya-tanya. Dimana etika jurnalistik? Infotainment saja menayangkan kisah berimbang dari dua pihak yang bertikai. Kok berita-berita di tv-tv selalu menayangkan kisah sepihak dari pihak Tr? Kok tv-tv dan media-media bisa lalai berbulan-bulan dalam ketidak-adilan? Atau memang ada “pihak-kuat” dibalik berita-berita itu. Agar masyarakat terhipnotis dengan berita pelecehan seorang gadis oleh guru AK?



Masuk akal kah berita seorang gadis yang dilecehkan (dipeluk dan dicium) menjadi berita nasional, tayang intensif berbulan-bulan di TV-tv, juga intensif diberitakan oleh portal-portal berita seperti VIVAnews?



Tidak ada manusia waras yang membenarkan kejadian pelecehan. Namun berita seorang gadis dipeluk dan dicium menjadi topik berbulan-bulan di tv dan media, trus lanjut pemeriksaan panjang di Polda dan lanjut dengan sidang pengadilan selama satu tahun lebih adalah satu keanehan. Ingat, Tr tidak diperkosa, menurut visum dr. Mun’im Idris, Tr masih perawan ting ting dan pada tubuhnya tidak terdapat tanda-tanda kekerasan.



Saya tidak habis pikir dengan kekejaman yang luar biasa ini. Fitnah jauh lebih kejam daripada pembunuhan. Seseorang dibalik penayangan intensif “kasus” ini di tv-tv dan media-media, yang membawa kasus “gadis-dipeluk-dan-dicium” ini ke pengadilan memang betul-betul sadis. Kemungkinan besar pihak dibalik layar ini memanfaatkan J sebagai mafia kasus untuk menghancurkan visi dan misi One Earth yang diusung oleh padepokan AA. Cara yang efektif untuk menghancurkan citra adalah membuat berita pelecehan. Setelah bertahun-tahun mencari “alat-penghancur”, Sang Mafia mendapatkan Tr sebagai alat ampuh. Mendapatkan “alat-pendukung” seperti Smd, Ch, FdA, SK, DMS, merupakan soal kecil bagi sang Mafia Kasus yang sangat piawai dalam manipulasi pikiran. Dibujuklah para “saksi” ini dengan tujuan yang dimulia-muliakan, membantu seorang gadis yang “dilecehkan” untuk mendapatkan keadilan. Mungkin ditambah dengan sejumlah iming-iming menggiurkan? Alat utama “otak-pihak-sadis” ini adalah penayangan intensif di tv-tv selama berbulan-bulan agar masyarakat yang terhipnotis berpikiran bahwa guru AK dan padepokannya identik dengan pelecehan seksual.



Entah dimana ya Smd dan Ch saat ini, setelah tampil berulang-kali di tv-tv sebagai bintang tamu *ehmmm. Berkali-kali menjadi bintang tamu di TVOne, Metrotv dan tv-tv lain pastinya bukan sesuatu yang terbayangkan oleh Smd dan Ch saat menjadi tukang jual cakue dan tukang ojek.



Saya prihatin menyaksikan bagaimana Smd dan Ch tampil di TVOne, Metrotv dan tv lain menceritakan “versi” dia tentang Guru AK. Pernah menyimak wawancara Smd di TVOne? Dia menyatakan dia bersaksi karena ingin “membantu” Tr. Jadi menyatakan dipegang payudara karena ingin “membantu” Tr?



Masih lekat di ingatan saya bagaimana Smd bercerita tentang penderitaan hidupnya bersuamikan Ch seorang penjudi. Mereka datang ke padepokan untuk berlatih agar Ch terbebaskan dari kecanduan judi. Sekian lama berlatih, Smd dan Ch direkrut dan dilatih untuk menjadi terapis pada satu usaha yang didirikan oleh beberapa peserta padepokan. Setelah keluar dari padepokan, Smd cerita bahwa alasan dia keluar dari padepokan karena dia tak cocok dengan salah satu peserta di padepokan.



Begitu mudah orang berbuat keji pada seseorang yang pernah mengangkatnya dari lembah judi. Jadi ngeri mengingat betapa mudahnya manusia terpeleset. Metrotv dan TVOne hebat sekali menayangkan siaran langsung cerita Ch tentang tissue. Apakah orang Metrotv dan TVOne sempat membuka Youtube yang berisi rekaman suara Ch dalam mempertanggung-jawabkan cerita tissue yang jorok itu? Mengarang cerita jorok memang mudah namun ketika Hakim bertanya tentang logika, baru Ch gelagapan. Bagaimana yakin bila tissue di toilet umum itu adalah tissue Guru AK, bila Ch tidak di depan toilet umum itu selama berjam-jam?



Apakah wajar Ibu-ibu usia 40an tahun mempermasalahkan soal payudara yang dipegang lima tahun lalu? Sengaja si Mafia Kasus mencari empat Ibu-ibu 40 tahun yang bersedia mengaku dipegang payudaranya. Karena memang tidak ada bukti apapun dari Tr soal pelecehan ini. Bila ada empat wanita lain yang ikut bersaksi diharapkan masyarakat percaya bahwa memang telah terjadi pelecehan.



Bagaimana membuat Ibu-ibu ini “bersaksi” dipegang payudara adalah hal kecil bagi Mafia Kasus si Ahli Manipulator Pikiran. Diminta untuk “membantu” seorang gadis dalam mencari keadilan cukup membuat empat wanita ini tersanjung. Mungkin ada iming-iming lain?



Kalo diperhatikan aneh juga. Astaga, ada Ibu-Ibu berumur 40-45 tahun menuntut orang yang memegang payudaranya lima tahun lalu. Pantas hanya Smd yang mau muncul di tv dan menampilkan identitasnya dengan jelas. DMS mau tampil di tv tapi merahasiakan identitasnya. Booo, begitu banyak peserta gadis yang segar-segar, orang waras mana yang mau memegang payudara Ibu-ibu 40an tahun beranak dua? #jleb



Apakah masyarakat yang telah dihipnosis berita di tv-tv diberitahu tentang perilaku wanita-wanita yang mengaku dilecehkan ini? DMS mau tampil di tv, tapi malas untuk bersaksi di pengadilan. Saat sidang dipimpin oleh Hakim Pertama, DMS baru mau datang setelah pemanggilan ketiga. Banyak alasan yang dilontarkan DMS untuk menghindar dari memberi kesaksian di sidang. Ketika Hakim diganti dengan Hakim yang berintegritas, DMS tidak mau datang walaupun telah dipanggil berkali-kali. Apakah demikian perilaku seorang wanita yang ingin keadilan ditegakkan? Aneh!



Syukurlah, pertolongan Yang Maha Kuasa datang dengan ditetapkannya Hakim yang jujur, Hakim AH untuk kasus Guru AK ini. Sebagaimana diketahui, Hakim AH memberi vonis bebas murni untuk Guru AK, dan meminta agar nama baik Guru AK dipulihkan kembali.



Hmmm, dimana media-media yang gencar melontarkan fitnah pada Guru AK ya? Anehnya pada hari vonis ditetapkan, Tr, FdA, SK, DMS yang mengaku dilecehkan, tidak datang. Beginikah perilaku wanita yang berjuang untuk keadilan? Aneh!



Kembali pada pertanyaan saya semula? Apakah bangsa ini adalah bangsa yang sadis?



Saya teringat pada Sains Fiksi fenomenal, “The Footprints of God” karya Greg Iles. Bahwa naluri binatang diwariskan pada manusia secara genetis, hasil dari evolusi yang sangat panjang hingga berbadan manusia. Istilah lembaran yang masih kosong sangat menyesatkan.



Untuk itu, manusia perlu berusaha sekuat tenaga untuk melawan kebinatangan dalam diri, berusaha untuk menumbuhkan Adam, kemanusiaan dalam diri.



Bangsa ini akan menjadi bangsa yang manusiawi bila ada minimal 100 manusia Indonesia yang sadar. Manusia yang sadar, adalah manusia yang kesadarannya bukan lagi pada kesadaran hewani lagi, tapi sudah pada kesadaran insani hingga kesadaran divine. Energi 100 manusia sadar akan mempengaruhi bangsa ini secara kolektif. Ingat The Hundreth Monkey Phenomenon? Membangkitkan kesadaran manusia, inilah yang diperjuangkan Guru AK dengan latihan-latihan di padepokannya. Namun sayang sekali, usaha Guru AK sering diserang oleh pihak-pihak yang ego-based, yang masih mau memelihara kehewanan dalam diri.



TerimaKasih...


Namaste _/l_





Rawinah Ranarty

/rawinah

A reader, a traveler, a partime writer.
Twitter: @NinaRawinah
Blog: www.rawinah-ranarty.com

Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?