Media

Minimnya Tayangan Edukatif bagi Anak-anak

17 Juli 2017   13:52 Diperbarui: 17 Juli 2017   16:07 49 1 1

Seiring berjalannya waktu hampir segala aspek kehidupan mengalami perubahan yang pesat. Mulai dari kebutuhan, gaya hidup, ekonomi, politik bahkan pengetahuan dan teknologi. Semua kalangan masyarakat merasakan perubahan itu mulai dari orang dewasa, remaja sampai anak-anak. Perubahan tersebut juga terjadi pada media penyiaran yang ada seperti surat kabar, radio bahkan sampai televisi. Dari beberapa media penyiaran yang paling banyak dipakai adalah radio dan televisi. Media penyiaran, yaitu radio dan televisi merupakan salah satu media massa yang efisien dalam mencapai audiennya dalam jumlah yang sangat banyak (Morissan,M.A.2008:13). Namun, saat ini radio kurang diminati oleh masyarakat dibandingkan dengan televisi karena pada televisi informasi yang disajikan berupa audio, visual bahkan terdapat tulisan berbeda dengan radio yang hanya menyajikan audionya saja.

Umumnya, kita lebih tertarik bukan pada apa yang kita lakukan pada media, tetapi kepada apa yang dilakukan media pada kita (Rakhmat. 2011:215). Maka dari itu, tidak dapat dipungkiri bahwa keberadaan televisi yang merupakan bagian dari media massa saat ini seakan sudah menjadi suatu pemuas kebutuhan yang wajib ditonton bagi masyarakat terutama masyarakat Indonesia karena tayangan atau acara yang disajikan oleh televisi sangat beragam mulai dari berita, sinetron, talkshow sampai acara hiburan seperti acara musik, lawak dan sebagainya. Tayangan dan informasi yang disajikan pun dibuat menarik sedemikian rupa sehingga mampu menyita perhatian masyarakat yang menontonnya. Hal itu tentu juga berdampak pada kehidupan yang ada saat ini.  

Memang banyak tayangan televisi yang memberikan berita yang up to date maupun informasi yang menarik yang tentunya berdampak baik bagi kita semua. Namun jika kita lihat perkembangannya saat ini, tidak sedikit juga televisi memberikan pengaruh negatif terutama bagi anak-anak bahkan lebih banyak daripada sisi positifnya.  Anak-anak terpengaruh pada tayangan-tayangan televisi yang lebih menonjolkan sisi kekerasan, adegan vulgar, pornografi, kriminal, dan sebagainya. Seakan-akan adegan tersebut sudah menjadi suatu hal yang wajar untuk ditonton oleh anak-anak yang notabene belum cukup umur untuk melihat hal semacam itu.

  • Anak-anak memiliki kemampuan daya tangkap yang cepat dalam menangkap apa yang dilihatnya dan cenderung langsung meniru sesuatu yang mereka lihat termasuk adegan-adegan visual yang ditampilkan dari tayangan televisi tanpa mereka tahu  apakah yang mereka tonton itu baik atau tidak serta tidak berpikir panjang dampak apa yang akan timbul nantinya. Mereka mengganggap akan terlihat 'wah' dan terlihat keren apabila mereka bisa meniru adegan-adegan tersebut. Tidak apa-apa jika adegan yang mereka tiru adalah adegan-adegan yang baik seperti adegan belajar, bermain dengan sebayanya atau adegan positif lainnya.

Masalahnya adegan yang mereka tiru adalah adegan yang negatif seperti adegan kekerasan bahkan adegan vulgar. Hal itu akan berpengaruh bagi perkembangan anak saat ini maupun sampai mereka dewasa nanti. Sudah banyak kasus-kasus akibat televisi yang terjadi seperti halnya kasus di Bandung, Jawa Barat. Seorang siswa kelas 3 SD meninggal karena dipukuli teman kelasnya di dalam ruang kelas akibat teman-temaannya itu meniru adegan tayangan yang ada di televisi. Mereka secara tidak sadar mempraktikkannya ke dalam dunia nyata. (http://nasional.news.viva.co.id/news/read/679519-anak-anak-yang-meregang-nyawa-akibat-tayangan-televisi).

Contoh kasus yang lainnya lagi yaitu, ada anak yang menggunggah foto dirinya dan pacarnya ke akun sosial medianya. Foto tersebut memperlihatkan fotonya sedang mencium pacarnya. "Sudah kayak Boy dan Reva. Tinggal minta (motor) Ninja sama mama", tulis anak tersebut pada postingan fotonya.(https://www.brilio.net/news/terinspirasi-anak-jalanan-bocah-ini-ciuman-minta-motor-ninja-duh-160131k.html). Kasus-kasus semacam itu sudah menjadi bukti nyata bahwa tayangan televisi memberikan pengaruh yang kuat pada perkembangan anak-anak.

Acara yang ditayangkan bagi anak-anak yang memberikan nilai edukatif dan sisi positif pun sudah mulai berkurang. Hanya beberapa acara yang terdapat mendidik masih eksis hingga saat ini seperti pada program acara Laptop Si Unyil yang merupakan sebuah acara baik untuk anak-anak karena dalam acara ini membahas tentang pengetahuan dan teknologi seperti pembuatan suatu produk makanan atau suatu penemuan yang berguna bagi masyarakat hingga saat ini. Acara ini dipandu oleh boneka unyil khas Indonesia yang lucu dan berpakaian ala betawi,  Apabila terdapat karakter pendukung seperti Pak Raden, Pak Ogah, dan lain-lain yang membuat acara ini menarik. Laptop si Unyil bisa ditonton untuk semua kalangan sebenarnya, khususnya bagi anak-anak. Selain itu, acara Si Bolang singkatan dari Bocah Petualang juga baik untuk ditonton anak-anak. Si Bolang ini merupakan suatu acara tentang petualangan anak yang tujuannya agar anak-anak bisa lebih bisa berinteraksi dengan alam, lingkungan, teman sebayanya dan juga memperkenalkan lagi kepada budaya-budaya yang ada seperti permainan tradisionalnya. Acara-acara  positif yang seharusnya semakin dikembangkan ternyata semakin minim adanya.

Jika diamati, acara yang memiliki sisi negative lebih banyak daripada acara yang mendidik bagi anak-anak. Seperti pada sinetron-sinetron yang tayang di televisi lebih menampilkan unsur perkelahian, pacaran, bolos sekolah dan pamer kekayaan. Selain sinetron, kartun-kartun yang ditayangkan ada juga menimbulkan sisi negatif seperti kartun Naruto yang mengisahkan bahwa naruto ingin menjadi ninja yang hebat dan berilmu. Namun menurut saya dalam kartun ini banyak adegan perkelahian yang tidak baik untuk ditonton anak-anak. Sama halnya dengan Naruto, kartun One Piece juga kurang baik jika ditonton anak-anak karena didalamnya menampilkan adegan-adegan kekerasan dan menampilkan tokoh perempuan yang penampilannya vulgar.

Sangat disayangkan, tayangan televisi memiliki banyak sisi negatifnya. Padahal dalam Undang-Undang Republik Indonesia nomor 32 tahun 2002 tentang penyiaran, terutama pada pasal 36 ayat 1 menjelaskan bahwa "isi siaran wajib mengandung informasi, pendidikan, hiburan, dan manfaat untuk pembentukan intelektualitas, watak, moral, kemajuan, kekuatan bangsa, menjaga persatuan dan kesatuan, serta mengamalkan nilai-nilai agama dan budaya Indonesia". Dan pada pasal 36 ayat 3 menyebutkan bahwa "isi siaran wajib memberikan perlindungan dan pemberdayaan kepada khalayak khusus, yaitu anak-anak dan remaja, dengan menyiarkan mata acara pada waktu yang tepat, dan lembaga penyiaran wajib mencantumkan dan/atau menyebutkan klasifikasi khalayak sesuai dengan isi siaran." Aturan dalam Undang-Undang ini nampaknya belum direalisasikan dengan baik oleh para pembuat acara. Kebanyakan dari mereka seperti hanya mengejar rating dan keuntungan dari acara tersebut tanpa mengindahkan apa dampak dari program acara yang mereka tampilkan.

Televisi di mata anak-anak sudah dianggap seperti santapan wajib, mereka rela berjam-jam untuk menonton acara televisi yang mereka sukai daripada melakukan hal lain seperti belajar, melakukan kegiatan kreatif lainnya atau bermain dengan teman sebayanya. Dampak ini menjadikan anak-anak memiliki sikap individualistis dari kecil yang nantinya akan terbawa sampai dewasa jika hal ini dibiarkan begitu saja. Disini peran orang tua sangat dibutuhkan dalam mengarahkan dan mengajarkan mana hal yang benar untuk anaknya. Orang tua perlu melakukan suatu upaya agar anak-anak tidak terjerumus dalam hal yang negatif lagi seperti menanyakan acara televisi apa yang mereka sukai jika ternyata acara tersebut ternyata lebih banyak sisi negatifnya, coba dialihkan pada acara yang lainnya. Sebisa mungkin para orang tua ikut mendampingi anaknya dalam menonton tayangan televisi yang mereka tonton. Beri arahan kepada anak-anak acara apa yang baik untuk ditonton, kapan anak harus menonton televisi, kapan harus belajar maupun kapan harus beristirahat. Biasakan juga mengajak anak-anak melakukan kegiatan positif misalnya dengan membantu orang tua berkebun atau memasak serta ajak anak keluar rumah walaupun hanya sekedar jalan-jalan santai di lingkungan rumah tujuannya selain untuk mencegah anak dalam menonton televisi terus-menerus, anak-anak juga bisa bersosialisasi dengan teman sebayanya dan orang lain di lingkungan rumah. Selain itu, pembuat program acara diharapkan mampu memperbaiki isi kontennya dan dipilah mana yang baik maupun yang tidak serta memperbanyak acara-acara menarik yang bermanfaat bagi semua masyarakat terutama anak-anak.

DAFTAR PUSTAKA

  • M.A., Morissan (2008). Manajemen Media Penyiaran: Strategi Mengelola Radio dan Televisi. Jakarta: Prenada Media Group.
  • Rakhmat, Jalaluddin. (2011). Psikologi Komunikasi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.