prisma susila
prisma susila

sekolah alam semesta

Selanjutnya

Tutup

Kejamnya Pengadilan Kamera

11 Agustus 2017   18:20 Diperbarui: 11 Agustus 2017   18:51 53 1 0

Saat ini adalah salah satu zaman dimana berkembangnya segala bentuk media untuk berkomunikasi. Baik berkomunikasi secara klasikal (bersamaan) dan secara individual. Semua menjadi penikmat segala perkembangan media saat ini. Hal ini digunakan untuk saling menukar informasi. Informasi dalam bentuk berita, ajakan, dan anjuran. Betapa nikmatannya hidup di zaman ini, yang jauh bisa terasa dekat dengan adanya media ini.

Namun yang sangat disayangkan adalah saat ini seolah terbentuk sebuah pengadilan dalam bentuk kamera. Bagaimana tidak, baik buruk, benar salah, dan tertibnya seseorang ditentukan oleh sorot kamera. Entah itu kamera dipegang oleh orang-orang yang benar atau pun yang salah. Asalkan itu hasil dari sorot kamera semua seolah benar, dan mutlak. Sedangkan sorot kamera hanyalah sebuah sudut pandang seluas layar handphone, televisi,atau laptop saja. seolah masing-masing orang mencari kebenarnya dari sudut-sudut layar tersebut.

Jika zaman dulu saja, orang ingin dilihat sebagai orang yang baik harus dengan sudut pandang norma agama, sosial dan budaya. Kemudian baru orang tersebut mendapatkan sebuah pengakuan menjadi orang baik. Tapi saat ini seolah telah berubah, orang baik atau orang benar cukup mendapatkan banyak likeatau kolom komentar penuh dengan dukungan atau penuh dengan pertempuran saling menyalahkan atau saling membenarkan.

Memang tidak dapat dipungkiri lagi, bahwa sebuah teknologi dapat mengubah pola-pola kehidupan yang ada pada masyaratkat. Baik sacara norma, perilaku atau sudut pandang. Berubah pun tidak semena-mena langsung berubah, tapi adanya sebuah proses pembelajaran dari media ini. Awalnya media hanya digunakan untuk bergaya, berposes, dan berlomba. Saat ini, pelan-pelan sedikit bergeser. Menjadi sebuah pengadilan tanpa adanya sidang.

Entah dampak apa yang akan timbul jika ini tetap dilanjutkan seperti in. Apakah akan mendidik orang-orang termasuk saya menjadi pengadil kebenaran denga menggunakan sebuah kamera. Atau akan muncul lagi dampak yang lain. Seperti ketika suatu kejadian terjadi orang-orang tidak lagi segera memberikan pertolongan, bantuan atau uluran tangan. Tetapi buru-buru mengeluarkan kamera dalam sakunya, untuk merekam, memfoto kemudian mengunggahnya dunia yang serba maya. Serba tidak mengenal satu sama lain serba tidak menatap satu sama lain. Serba tidak bersandingan satu sama lain.

Memang hal ini juga tidak dapat di hindari begitu saja. Karena berkembangnya wadah untuk itu maupun alat untuk itu. Wadah yang terlalu luas untuk saling mengumpat, menghina, atau mencaci satu sama lain. Akankah tetap berlanjut seperti ini untuk waktu yang lama.

Betapa anehnya pengadilan kamera ini. Ketika melihat orang bertngkar satu sama lain, tidak lagi mempunyai inisiatif untuk memisah. Ketika ada orang berlumuran darah tidak lagi segera memberikan bantuan awal untuk menyelamatkannya. Ketika ada sebuah bencana, tidak lagi saling berbondong untuk menyelamatkan satu sama lain. Ketika ada orang berbuat salah, tidak lagi ada sapa dan teguran sopan. Tapi apa yang muncul dari kejadian itu, semua saling merogoh kantung celana, kantung tas pinggang, atau tas punggung untuk mengeluarkan kamera HP,atau kamera sungguhan.

Selanjutnya, ketika sudah terabadikan di kamera, berlanjut pengunggahan di dunia maya. Kemudian penonton diajak untuk saling berargument bahkan berdebat. Penonton di ajak untuk sedih waktu melihat. Penonton diajak untuk saling membeci satu sama lain.