Sekali Lagi, Ini Tentang Bonek

07 Maret 2012 10:48:28 Diperbarui: 25 Juni 2015 01:23:36 Dibaca : 3785 Komentar : 0 Nilai : 5 Durasi Baca :
Sekali Lagi, Ini Tentang Bonek
1331139006370523067

Sekali lagi, ini tentang Bonek

Setelah revolusi sepakbola Indonesia, banyak pihak yang sepertinya melupakan salah satu faktor penentu revolusi tersebut

Ketika gelombang demo supporter tanah air menuntut KLB  untuk memaksa Nurdin Halid turun dari PSSI hampir sirna bagai debu tersapu angin, Bonek tetap tak menyerah. Sesuai dengan cerminan namanya, bondo dan nekat, sejumlah perwakilan Bonek menyebrang samudera untuk melancarkan demo di markas FIFA. Aksi perwakilan Bonek yang berdemo langsung di markas FIFA, Swiss, langsung menyita perhatian masyarakat bola tanah air. Sebab tak ada yang menyangka dan tak pernah terpikirkan sebelumnya kalau  ada kelompok supporter yang nekat pergi ke negeri orang hanya karena ingin menuntut keadilan untuk sepakbola Indonesia yang saat itu tengah terancam hukuman FIFA. Dengan dibantu beberapa aliansi suporter klub lokal, Lucerne dan FC Zurich yang sempat diperkuat Kurniawan DJ, mereka menyebarkan amplop coklat berisi petisi buat FIFA yang berjudul Justice for Indonesian football.

Sepenggal berita lama tersebut cukup untuk menggambarkan bagaimana karakter Bonek itu sebenarnya. Keras, pantang menyerah, dan memang nekat. Keteguhan memegang prinsip dan harga diri bagi Bonek diwarisi dari semangat Arek-arek Suroboyo saat pecahnya pertempuran 10 November 1945.

Namun bagi masyarakat di luar Bonek atau Surabaya, kenekatan dan sikap keras mereka seringkali ditanggapi negatif. Tak dapat disangkal memang, selama masa 8 tahun kepemimpinan Nurdin Halid, berita-berita tentang Bonek yang rusuh hampir selalu menghiasi media massa.

Ketika menyebut nama Bonek, maka bagi sebagian besar masyarakat bola Indonesia akan membayangkan anarkisme suporter sebuah klub. Hampir semua ulah Bonek langsung diblow up oleh media. Jika terjadi anarkisme oleh sebagian supporter klub lain, media cukup menyebut "oknum" atau supporter klub tersebut. Beda jika Bonek yang melakukan kerusuhan. Tak ada lagi sebutan oknum, tapi semua jari telunjuk media dan masyarakat tertuju pada Bonek secara keseluruhan. Tak adil memang, tapi itulah salah satu nilai jual Bonek bagi media. Begitu tingginya nilai jual mereka hingga sebuah foto dari wartawan Jawa Pos Sholihudin memenangkan World Press Photo (WPP) atau Foto Jurnalistik Dunia kategory spot news tahun 2000-an.

1331141020810575291
1331141020810575291

Stigma negatif pada Bonek perlahan memang ingin dihilangkan. Bonek pun mulai menunjukkan kedewasaan sikapnya. Ketika Aremania merusak beberapa kendaraan plat "L" saat konvoi damai tahun 2010, Bonek membalasnya dengan aksi bagi-bagi bunga bagi kendaraan plat "N". Begitu pula ketika ribut-ribut membahas keistimewaan Yogyakarta, Bonek yang datang ke Yogyakarta dengan tujuan menonton pertandingan Persebaya vs PSIM, masih sempat melakukan aksi simpatik dengan membentangkan spanduk berisi dukungan bagi keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Sayangnya, aksi simpatik bonek masih kalah dengan pemberitaan aksi anarkisme mereka. Tak heran, masyarakat masih memandang Bonek sebagai juara supporter anarkis. Rasanya begitu deras tudingan negatif pemberitaan media massa baik online maupun media cetak, karena justru disinilah sepak terjang BONEK yang 'menjual' mereka tawarkan pada masyarakat lewat pemberitaannya.

Hanya lewat media Citizen Jurnalisme Bonek melawan pemberitaan miring tersebut. Tapi kesabaran memang ada batasnya, maka jangan salahkan jika Bonek akhirnya akan turun ke jalan lagi, sebagaimana nenek moyang mereka, "Arek-arek Suroboyo" turun ke jalan menentang pendudukan tentara Inggris di Surabaya.

Himam Miladi

/primata

TERVERIFIKASI

“Traveling – it leaves you speechless, then turns you into a storyteller” (Ibnu Batuta) @warungwisata.com
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana