Perkiraan Cagub-Cawagub DKI Jakarta pada Pilkada 2012

15 Maret 2012 05:14:35 Dibaca :
Perkiraan Cagub-Cawagub DKI Jakarta pada Pilkada 2012

Sejak Tahun 2004 penulis mengamati perkembangan politik di tanah air, dimana menurut data Kementerian Dalam Negeri, telah terjadi demikian banyak perpecahan (pecah kongsi) mulai dari gubernur-wakil gubernur, wali kota-wakil wali kota, hingga bupati-wakil bupati. Kecenderungan pecah kongsi yang sangat tinggi dari kepala daerah dan wakil kepala daerah. Dari 244 pilkada pada 2010 dan 67 pilkada pada 2011, duet pimpinan daerah yang berlanjut dari periode sebelumnya hanya 6,15 persen. Artinya, sekitar 94 persen pimpinan daerah berganti pasangan pada pilkada berikutnya. Sayangnya, Kemdagri tak memiliki data tentang berapa banyak wakil kepala daerah yang mengundurkan diri sebelum masa jabatannya berakhir. Pada umumnya pasangan pimpinan daerah berasal dari parpol berbeda, meski ada juga yang menggandeng birokrat, pengusaha, purnawirawan atau profesional. Parpol yang berkoalisi biasanya tak memiliki ikatan ideologis yang kuat, tetapi hanya ditautkan oleh kepentingan jangka pendek belaka. Kita lihat Jakarta menjelang Pilkada 11 Juli 2012. DPRD DKI Jakarta memiliki jumlah kursi legislatif sebanyak 94 buah. Dengan perincian Partai Demokrat (32), PKS (18), PDIP (11), Partai Golkar 7), PPP (7), Gerindra (6), PAN (4), PDS (4), Hanura (4) dan PKB (1). Untuk persyaratan mengajukan pasangan Cagub-Cawagub, parpol atau gabungan parpol harus memiliki minimal 15% dari total kursi, 14,1 kursi, dibulatkan 15 kursi. Berarti hanya Partai Demokrat dan PKS yang bisa mengajukan langsung tanpa berkoalisi. Selain Parpol, pada pilkada 2012 ini calon independen dibenarkan untuk maju sebagai calon dengan menunjukkan bukti  4% kali jumlah penduduk DKI Jakarta (10.183.498), jumlahnya adalah 407.345 pendukung (KTP dan tanda tangan). Setelah proses verifikasi awal, pasangan Faisal Basri-Biem Benyamin, serta Mayjen TNI (Pur) Hendardji Soepandji-Ahmad Riza Patria masih harus berjuang melengkapi persyaratan minimal dukungan. Penulis perkirakan kedua pasangan ini akan lolos dan menjadi peserta/calon pada pilkada mendatang. Bagaimana komposisi parpol? Seperti biasa, parpol terus bergulat dengan kepentingan masing-masing yang sangat erat dengan urusan duniawi yang tidak pernah selesai. Yang sudah mendeklarasikan diri adalah koalisi Golkar, PPP dan PDS. Dengan jumlah 18 kursi, pasangan yang akan diusung adalah Alex Nurdin-Letjen Mar (Pur) Nono Sampono. Sementara parpol lainnya masih berwacana belum menetapkan siapa calonnya. Wacana yang terjadi dilingkungan Partai Demokrat, ada dua calon yang selalu disebut,  Fauzy Bowo dan Mayjen TNI (Purn) Nachrowi. Nachrowi didukung penuh DPD Demokrat DKI, dari bahasa tubuhnya, Ketua PD, Anas Urbaningrum juga mendukung. Akan tetapi di Partai Demokrat berlaku keputusan Majelis Tinggi sebagai final decesion. Nampaknya Foke mempunyai peluang besar menjadi calon. PDIP, yang pada saat terakhir melakukan fit and propper test terhadap Jokowi dan Nono, menyadari dengan kekuatannya yang hanya 11 kursi akan kecil berpeluang menang, dan belum ada parpol yang berkoalisi. Dari berita yang beredar, PDIP akan merapat ke Demokrat dan akan menempatkan Mayjen TNI (Pur) Adang Ruchiyatna yang diusulkan Taufik Kiemas sebagai Cawagub. Bagaimana PKS? Nampaknya PKS masih menunggu perkembangan dan loby akhir, apabila menunggu parpol lain, kecil kemungkinan ada yang merapat untuk berkoalisi. Nama kadernya, Triwisaksana (Bang Sani) terus ditiupkan, kalau perlu jadi Cawagub juga direlakan. Pengalaman pahit Pilkada 2007 banyak memberi pelajaran kepada PKS. Jago PKS (Adang Darajatun-Dani Anwar) meraih 1.535.555 (42,13%), dikalahkan Pasangan Foke-Mayjen TNI Priyanto yang didukung seluruh parpol di DKI,  yang meraih 2.109.511 (57,87%). Penulis perkirakan PKS akan mengikut kemana Foke berada, kemungkinan akan berkoalisi dengan Demokrat apabila Foke diusung PD. PKS juga siap apabila Fauzy Bowo tidak didukung PD, mereka akan menyandingkan dengan Bang Sani, kira-kira begitulah. Lantas, bagaimana dengan parpol lainnya? Gerindra, PAN, Hanura dan PKB? PAN dan PKB nampaknya akan bergabung ke Demokrat. Gerindra akan ke PDIP dan Hanura juga akan ke PDIP, artinya ke Demokrat.  Dengan demikian, komposisi koalisi akan sangat tergantung dimana posisi Fauzy Bowo (Foke) berada. King maker Pilkada DKI 2012 berada di tangan Partai Demokrat. Jelas wajar karena PD memiliki 32 kursi, maka Pak SBY sebagai Ketua Dewan Pembinalah yang mengatur dinamika proses Pilkada kali ini. Apabila Pak SBY menentukan Foke sebagai cagub, maka kemungkinan hanya empat pasangan yang bertanding, Foke-Adang, Alex-Nono, Faisal-Biem dan Hendardji-Riza. Komposisi parpol diperkirakan akan menjadi dua kelompok, Golkar, PPP, PDS mendukung pasangan Alex, sementara parpol lainnya penulis perkirakan akan bergabung dengan Partai Demokrat (PDIP, PKS, PAN, Gerindra, Hanura, PKB). Pada pilkada kali ini akan terlihat, tekanan arus bawah Demokrat demikian kuat untuk mengajukan Nachrowi, tetapi Nachrowi dalam hitungan politik kalah jauh dibandingkan Foke sebagai incumbent. Baik dalam hal popularitas, komunikasi lintas parpol, dukungan logistik dan loby tingkat atas. Tetapi seperti pada pemilihan Ketua Umum PD di Bandung, bukan tidak mungkin tekanan arus bawah dan kemungkinan dukungan lainnya akan meluluhkan hati Pak SBY yang tetap memegang teguh demokratisasi. Apabila terjadi perubahan kebijakan, dan Nachrowi terpilih sebagai cagub Demokrat, maka koalisi kembali akan berantakan. Tetapi dari hitungan realistis, alternatif ini nampaknya kecil. Dengan demikian maka apabila perkiraan tersebut benar, maka dari empat pasang yang akan maju, komposisi dari tiga pasang terdiri dari kombinasi sipil dengan militer, sementara satu pasang sipil-sipil. Pasangan Faisal Basri-Biem menjadi pasangan termuda yang akan maju. Dari suasana kebathinan publik, pasangan ini akan berada selangkah lebih maju, karena diterjemahkan keduanyalah yang merupakan bagian dari rakyat. Disinilah mereka mempunyai peluang yang cukup besar untuk meraih dukungan dan  simpati publik. Pasangan lainnya adalah pejabat ataupun bekas pejabat. Lembaga Survei "Media Survei Nasional" yang melakukan survei antara 25/10 s/d 4/11/2011  menyebutkan bawa 54% responden menyatakan calon independen diperlukan. 39,8 % menyatakan bahwa calon independen dapat mengurangi dominasi parpol. Sementara Chartal Politika dalam surveinya pada bulan Agustus 2011 mendapatkan hasil 38% responden mendukung calon independen dan 26% mendukung calon dari parpol. Dengan perkiraan kasar tersebut, kemungkinan pilkada yang akan diselenggarakan akan berlangsung dalam dua putaran. Foke jelas merupakan sebuah kekuatan dan mempunyai daya tarik tersendiri sebagai incumbent karena dikenal 'power full.' Kini ada gerakan ABK (Asal Bukan Foke). Yang jelas Foke akan dijadikan musuh bersama ketiga calon lainnya. Walaupun kuat, bukan tidak mungkin ada kelemahan atau kerawanan Foke yang belum diungkap ke media massa. Dalam ilmu intelijen, dalam meramal sesuatu, kita harus melihat fakta-fakta masa lalu. Pelajaran Pilkada Jawa Barat pada tahun 2008, dimana pasangan anak muda Heryawan-Dede Yusuf yang diusung PKS dan PAN dengan suara gabungan 16,77%, berhasil menaklukkan jagoan berpangkat, pasangan Jenderal TNI (Purn) Agum Gumelar- Numan Abdulhakim yang didukung PDIP, PKB, PPP dengan jumlah suara gabungan sebesar 34,34%. Pasangan Danny Setiawan (incumbent) -Mayjen TNI Iwan Sulandjana yang didukung Partai Golkar dan Demokrat dengan jumlah suara gabungan  35,67% suara. Dari fakta tersebut, yang menarik, pasangan kedua orang muda tersebut tampil sederhana, berpecipun tidak, dibandingkan para pejabat yang tampil hebat dengan segala atributnya. Ternyata kondisi rakyat Jawa Barat sudah bergeser, bosan dan anti kepada mereka yang berbau pejabat. Bertepatan pada saat itu ada kasus korupsi yang sedang ramai dibicarakan di Bandung. Akhirnya Heryawan yang tidak terkenal, anggota DPRD DKI Jakarta dan Dede Yusuf, anggota PAN melenggang dan menjungkirkan para tokoh mantan pejabat tersebut dari panggung Pilkada Jabar. Nah, kini nampaknya hal serupa bisa saja terjadi di DKI Jakarta, penulis justru melihat pasangan Faisal Basri-Biem yang independen dan sederhana, bukan tidak mungkin bisa menjungkirkan pesaingnya. Kondisi psikologis rakyat DKI dan Jawa Barat tidak jauh berbeda. Dari pengalaman mengumpulkan KTP beberapa waktu lalu, mayoritas pendukung adalah rakyat kalangan bawah. Menurut catatan akhir di DKI, angka kemiskinan naik 3,75%, angka pengangguran 10,83 %. Menurut Ketua DPRD DKI, angka pengangguran mereka yang berumur 15-24 tahun adalah 25%, lebih besar dibandingkan pengangguran nasional yang 22,2%. Jadi hal yang berkait erat dengan konstituen DKI bukan hanya macet, banjir, keamanan, tetapi justru pengangguran. Inilah titik lemah incumbent, saat memimpin Jakarta rakyat yang tambah miskin semakin banyak. Demikian sedikit informasi tentang peta pilkada DKI, semoga ada manfaatnya bagi kita semua. Pasangan yang terbentuk pada parpol berasal dari parpol yang berbeda, semoga saja tidak pecah seperti yang dikatakan Kemendagri diatas. Penulis  tetap memperkirakan bahwa pasangan Faisal Basri dan Biem yang sederhana bisa menjadi kuda hitam yang tidak diperkirakan seperti kemenangan Heryawan-Dede. Tetapi ini hanya sebuah perkiraan dengan hitungan manusia, tetap saja Tuhan Yang Maha Kuasa yang memutuskan. Prayitno Ramelan ( www.ramalanintelijen.net ) Ilustrasi Gambar : pelitaonline.com

Prayitno Ramelan

/prayitnoramelan

TERVERIFIKASI (BIRU)

Pray, sejak 2002 menjadi purnawirawan, mulai Sept. 2008 menulis di Kompasiana, "Old Soldier Never Die, they just fade away".. Pada usia senja, terus menyumbangkan pemikiran yang sedikit diketahuinya Sumbangan ini kecil artinya dibandingkan mereka-mereka yang jauh lebih ahli. Yang penting, karya ini keluar dari hati yang bersih, jauh dari kekotoran sbg Indy blogger. Mencintai negara dengan segenap jiwa raga. Tulisannya "Intelijen Bertawaf" telah diterbitkan Kompas Grasindo menjadi buku. Website lainnya: www.ramalanintelijen.net
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?