HEADLINE HIGHLIGHT

Parasut Itu Ada, Kenapa Laporan Anggota Kopassus Dibantah?

15 Mei 2012 18:35:51 Dibaca :
Parasut Itu Ada, Kenapa Laporan Anggota Kopassus Dibantah?
Pesawat Sukhoi Superjet 100/Kompasiana (KOMPAS.com/AFP/NATALIA KOLESNIKOVA)

Kemelut berita tentang parasut yang ditemukan oleh Sertu Abdul Haris dan enam anggotanya saat melakukan pencarian korban kecelakaan pesawat Sukhoi Superjet di Gunung Salak akhirnya terjawab sudah. Sertu Haris melaporkan saat menuruni jurang dengan kemiringan sudut 85 derajat bermodalkan tali, telah menemukan Jasad yang tergantung di pohon dengan parasut. Penulis terkejut dan kita semua juga terkejut. mulailah berkembang bermacam-macam spekulasi berita. Penulis membuat artikel dengan judul "Pilot Sukhoi Pakai Parasut? Ada Hijacking?" (http://hankam.kompasiana.com/2012/05/13 ) Banyak yang membantah kalau  ditemukan parasut pada saat pencarian korban. Penulis percaya info tersebut bahwa keterangan Sertu Haris sebagai anggota pasukan elit yang dibanggakan informasinya tidak salah. Salah satu syarat menjadi anggota Kopassus adalah sudah mengikuti Separkoad (Sekolah Para dan Komando TNI AD), artinya dia juga penerjun. Nah, disitulah asumsi penulis mengatakan bahwa Haris faham dan bisa membedakan yang namanya parasut dengan perlengkapan terbang lainnya. Penjelasan Sertu Abdul Haris dapat disimak dari video ini (di menit 2.16) http://www.youtube.com/watch?v=fnMM25ZPg94 . Aneh, itulah yang kita rasakan, bahwa informasi kecil itu akan menjadi sangat penting dalam penyelidikan kecelakaan pesawat terbang. Memang setelah menemukan jasad yang diduganya penerbang pesawat, para anggorta Kopassus jelas dengan susah payah menurunkan dari pohon dan melepaskan dari parasut yang katanya menggantung. Setelah itu jenazah di angkat dan digeser ke posko dengan susah payah, hingga sempat menginap semalam di perjalanan dan baru keesokan harinya ketujuh anggota itu sampai ke Posko. Pembantahan soal parasut juga terjadi di RS Polri, tidak ada jenazah pakai parasut. Secara logika, para anggota Kopassus tadi tidak mungkin membawa jenazah serta parasutnya. Tugas mereka melakukan evakuasi korban, dan lagipula, pada lereng yang demikian terjal, siapa yang berfikir untuk menyelamatkan parasut  yang juga berat. Disitulah logika berfikirnya. Bagi mereka yang pernah mengikuti latihan gunung hutan pasti bisa merasakan betapa beratnya medan sangat terjal  dengan kondisi cuaca yang tidak menentu. Nafas sampai di leher dan kaki serasa mau putus, itu yang juga penulis rasakan saat mengikuti Introduction Latihan Komando Paskhasau. Penjelasan soal adanya parasut yang mengembang di lokasi jatuhnya Sukhoi SSJ100 dibenarkan dan dijelaskan oleh Ketua KNKT Rusia, Serge Korostiev, yang mengatakan parasut memang menyatu dengan peralatan untuk bertahan hidup (survival kit), yang disimpan pesawat bersama peralatan lainnya."Parasut berada di dalam satu boks kontainer yang merupakan survival kit kalau pesawat harus mendarat secara darurat," kata Korostiev melalui penerjemah saat jumpa pers di Bandara Halim Perdanakusuma, Selasa (15/5). Survival kit itu berisi minuman, makanan dan peralatan obat. "Adanya ledakan, banyak spare part pesawat banyak jatuh dari tempat kecelakaan dan parasut secara otomatis terbuka," katanya. Dia menjelaskan bahwa parasut itu bukanlah alat untuk menyelamatkan diri pilot seperti yang ada di pesawat tempur. "Parasut ada, tapi bukan untuk pilot meloncat dari pesawat, bukan untuk eject seperti di kursi pilot. Tapi sebagai survival kit." demikian penjelasannya. Kini kita menjadi jelas bahwa SSJ100 tersebut memang dilengkapi dengan parasut, berarti informasi dari Sertu Abdul Haris benar adanya. Hanya yang belum jelas dan perlu penjelasan bagaimana parasut terpasang ketubuh pilot itu. Yang jelas parasut dengan survival kit terlempar saat terjadi impact dan mungkin terlempar bersama-sama dengan pilot, atau pilot sudah memakai parasut sebelum terjadinya impact. Itulah misteri yang belum terjawab, dan ini penting sekali nilai  informasi intelijennya. Apa yang terpenting dari kasus ini? Pimpinan team penyelamat selain melakukan evakuasi juga sebaiknya memberikan pembekalan kepada anggota team apa yang harus dikerjakan, kalau bisa dengan bukti foto. Setiap informasi yang dikumpulkan oleh team lapangan diterima dan menjadi fakta oleh analis. Bisa saja terjadi sebuah kecelakaan karena sebuah pembajakan dan pesawat ditabrakkan ke gunung oleh pembajak. Peristiwa 911 adalah pelajaran yang sangat berharga dan mungkin saja itu terjadi disini. Juga kemungkinan lain adanya sabotase. Jangan dikesampingkan kemungkinan-kemungkinan ekstrim seperti ini. Dari penjelasan Marsda TNI (Purn) Soenaryo, perwakilan PT Trimarga pada acara Indonesia Lawyers Club, TV One malam in (15/5) mengatakan saat ditanya oleh Pak Karni Ilyas, apakah sebagai agen Sukhoi mengetahui apa kegiatan crew pada malam sebelum penerbangan. Dijelaskannya bahwa PT Trimarga saja tidak mengetahui di hotel mana crew menginap, dan tidak tahu apa kegiatan crew malam itu. Dikatakannya rahasia. Nah, apakah informasi tersebut tidak berharga? Mengapa pihak Rusia merahasiakan penginapan crew dan rombongannya kepada agennya sekalipun. Aneh bukan? Apakah mereka merasa ada ancaman? Apakah hanya sekedar kehati-hatian. Ini adalah proyek prestise bangsa Rusia, merupakan kebangkitan investasi dan pembangunan industri penerbangan pesawat komersial yang proyeknya berharga milyaran dollar. Ini bukan sebuah proyek kecil, tetapi proyek raksasa dan merupakan masa depan sebuah negara.  Tidak semua pihak menyukai kesuksesan kecermelangan proyek Sukhoi Superjet 100 ini. Kita semua faham, apakah tidak mungkin ada tangan-tangan jahil dan berlumuran darah yang berusaha menggagalkannya. Kenapa di Indonesia? Tolong diukur, apakah sistem sekuriti penerbangan dan bandara sudah memadai? Sangat mungkin sesuatu digarap di Indonesia karena sense of security kita lemah. Olah karena itu, jangan dibantah dahulu penemuan team yang berada di lapangan. Setiap informasi sekecil apapun sebaiknya dijadikan fakta, hargai anggota team yang sudah demikian berat dan berkorban tenaga serta daya dalam operasi penyelamatan itu. Bagi yang tidak faham sebaiknya jangan memberikan pendapatnya, terlebih di media elektronik, lebih-lebih main bantah. Rasanya tidak cukup penyelidikan hanya dibebankan kepada KNKT semata, sebaiknya dengan adanya indikasi yang tidak wajar, libatkan Badan Intelijen, baik BIN, Bais TNI ataupun Intelijen Polri, agar penyelidikan lebih komprehensif. Karena apabila nanti terbukti kecelakaan disebabkan karena sesuatu yang ekstrim, bangsa Indonesia juga yang akan malu. Nah, black box yang sudah ditemukan malam tadi mudah-mudahan akan menjawab semua misteri ini.  Semoga bermanfaat. Prayitno Ramelan ( www.ramalanintelijen.net )

Prayitno Ramelan

/prayitnoramelan

TERVERIFIKASI (BIRU)

Pray, sejak 2002 menjadi purnawirawan, mulai Sept. 2008 menulis di Kompasiana, "Old Soldier Never Die, they just fade away".. Pada usia senja, terus menyumbangkan pemikiran yang sedikit diketahuinya Sumbangan ini kecil artinya dibandingkan mereka-mereka yang jauh lebih ahli. Yang penting, karya ini keluar dari hati yang bersih, jauh dari kekotoran sbg Indy blogger. Mencintai negara dengan segenap jiwa raga. Tulisannya "Intelijen Bertawaf" telah diterbitkan Kompas Grasindo menjadi buku. Website lainnya: www.ramalanintelijen.net
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?