ono Prayetno
ono Prayetno

Bekerja sebagai Pramuwisata

Selanjutnya

Tutup

Humaniora highlight

Bisnis Papan Bunga Tak Ada di Malaysia

13 September 2017   14:21 Diperbarui: 13 September 2017   14:36 974 1 0

Dalam setiap perjalanan ke Parapat dari Kuala namu banyak hal yang jadi pertanyaan peserta tour dari apa yang mereka lihat sepanjang dalam perjalanan.  Salah satunya ialah tentang papan papan bunga yg diletakkan berjejer jejeran di sepanjang trotoar jalan yang kami lalui.

"Kalau papan bunganya banyak begini,  pasti orang yang meninggal atau salahsatu anggota keluarganya adalah orang berpengaruh dan banyak pergaulan." kataku menjawab pertanyaan salah seorang peserta tour yang takjub melihat jejeran papan bunga yg panjangnya hampir mencapai1 km yg dengan berbagai gaya dan bentuk tulisan yang begitu Indah seperti sedang mengadakan kontes tulisan kaligrafi.

"Dan bunga bunga yang ada di papan itupun adalah bunga plastik yang bisa digunakan lagi atau recycle oleh kedai florist yang membuat."  

"Dulu awalnya bunga bunga yang digunakan adalah bunga asli, sehingga banyak menguntungkan petani petani bunga tapi kemudian karena dengan menggunakan bunga Asli cost jadi mahal,  akhirnya jatuhlah pilihan pada bunga import dari negeri china,"  aku menjelaskan "Tapi maaf dalam bahasa Indonesia kami sekarang tak sebut negeri china lagi, tapi sudah diganti menjadi "Negeri Tiongkok,  untuk orangnya kami sebut "Tionghoa" instead of china."  kulihat mereka menganggukkan kepala mungkin tanda mengerti.

"Oo jadi maksudnya papan bunga ini dikirim oleh orang lain?"  

"ia betul, dan itu biasanya pagi dihantar malam nanti baru dicollect kembali oleh kedai yang membuat." kataku menerangkan dengan penuh sabar,  karena bisnis papan bunga untuk ucapan "dukacita" maupun ucapan "selamat berbahagia"  tidak ada di Malaysia.

"Kalau begitu bolehlah tuan tuan dan puan puan buat bisnes papan bunga dekat sana, pekerjanya kan kita boleh bawa dari sini."   kataku bergurau dengan menirukan gaya bicara. "si Upin dan Ipin" seorang peserta kemudian menimpali,

"Aaii.. Mana boleh pak Ono,  di Malaysia tak dibenarkan  meletakkan sesuatu dengan sembarangan macam tu,  semua harus kena pakai sijil." katanya,  

Sijil dalam konteks ini, maksudnya ijin yang dikeluarkan oleh otoritas setempat bila kita misalnya hendak menggunakan ruang publik untuk kepentingan pribadi.  Contohnya ya.. Itu tadi meletakkan papan bunga di trotoar bahkan kadang diatas badan jalan yang juga adalah ruang publik.

" kalau disini di Indonesia kami tak perlulah minta ijin untuk yang seperti itu bahkan kadang pavement atau trotoar dalam bahasa Indonesia yang seharusnya untuk pedestrian atau pejalan kaki boleh juga kami gunakan untuk berjualan, "contohnya itu macam tu..!"  kataku sambil menunjuk kearah gerobak penjual gorengan disebelah kanan kami. Dan sebagian peserta kulihat tersenyum bahkan ada yang tertawa, Dan tiba-tiba seorang peserta melemparkan satu lagi pertanyaan padaku.

" Pak Ono,  itu dibelakang nama ada dituliskan SH ada SE, Sth  dst apa maknanya pak?"  kuperhatikan yang bertanya ini orangnya agak teliti suka memperhatikan secara detail yang dilihatnya tapi aku harus menjawab agar rasa ingin tahunya terpenuhi.

" oo itu, adalah gelar Academic atau title yang diperoleh dari university tempat mereka belajar,  kalau SH itu maknanya, Sarjana hukum,  SE maknanya Sarjana Ekonomi dan Sth itu adalah Sarjana Theology."

"Disini gitu ya pak..semua orang letak title after their name?"

" Oo iya..  Disini orang bisa marah kalau title tak ditulis misalnya kalau membuat kartu undangan atau papan bunga seperti itu. "

"Bahkan kemarin Anggota DPR kami marah karena tak dipanggil "Yang Mulia"  oleh KPK didalam sebuah rapat dengar pendapat Hak angket untuk KPK.