Posma Siahaan
Posma Siahaan internist

Bapak Matius Siahaan, Markus Siahaan dan Lukas Siahaan.

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan headline

Inilah Alasan Pasien Pasca Kemoterapi Dianjurkan Jarang Dibesuk

12 Agustus 2017   17:30 Diperbarui: 13 Agustus 2017   09:02 826 8 3
Inilah Alasan Pasien Pasca Kemoterapi Dianjurkan Jarang Dibesuk
Ilustrasi: Shutterstock

"Dok, pasien yang baru masuk siang tadi demam, suhunya 40,2 derajad Celcius." Lapor perawat jaga sore hari.

"Hasil pemeriksaan darahnya sudah ada?" Tanya saya.

"Ada, Dok. Hemoglobinnya 9,2, trombositnya 56 ribu, dan leukositnya hanya 960..." Jawabannya membuat kaget, karena leukosit atau sel darah putih manusia itu normalnya diatas 5000 sampai 10 ribuan per milimeter kubik darah untuk dapat menangkal penyakit infeksi dari luar tubuh ataupun dari tubuh sendiri.

Pasien kritis (dokumentasi pribadi)
Pasien kritis (dokumentasi pribadi)

Rupanya pasien ini seminggu sebelumnya menjalani kemoterapi (terapi anti kanker) di rumah sakit yang memiliki fasilitas dan dinyatakan boleh pulang. Setelah dua hari di rumah, mulai demam, muntah-muntah, dan tidak mau makan sedikitpun sehingga keluarga membawa pasien ke rumah sakit.

"Yang membesuk banyak sekali, Dok. Pasien ini sepertinya tokoh masyarakat dan keluarga besarnya bergantian membesuk di rumah dan di rumah sakit, bisa dua puluhan hari ini." Lapor perawat jaga ketika saya 'visite'.

"Nah, tolong pasien ini pindahkan ke ruang isolasi saja dan tulis di depannya larangan membesuk." Kata saya, ini untuk kepentingan pasien lelaki usia tujuh puluhan tahun itu.

Si pasien lalu diberikan antibiotik yang kuat, obat penurun panas dosis tinggi serta obat perangsang pertumbuhan sel darah putih dan trombosit yang harganya satu botol kecil kurang lebih satu juta sebanyak 3 buah, satu kali sehari. Dan di hari keempat diperiksa sel-sel darahnya sudah normal, suhunya membaik.

Nama kasus 'febrile netrophenia' ini, terjadi akibat obat kemoterapi yang ditujukan membunuh sel-sel kanker juga menghancurkan sel-sel tubuh seperti komponen darah, terutama sel darah putih dan trombosit. Dengan leukosit dibawah 4000, maka si pasien sangat mudah infeksi, berujung kepada sepsis, sementara dengan trombosit dibawah 100 ribu, si pasien mudah terjadi pendarahan, padahal sel kanker itu sendiri biasanya jaringan yang berdarah-darah.

Pembesuk dengan niat yang tulus dan penuh cinta kasih mungkin ingin kehadiran mereka dengan membawa pisang, roti kaleng, serta oleh-oleh lain akan membuat si pasien bersemangat dan cepat sembuh. Namun kebersihan pakaian mereka, tangan untuk berjabat tangan, bersin dan batuk mereka jika ada gejala radang napas, sebenarnya sangat cepat menularkan bakteri atau virus ke pasien.

Maka dari itu, untuk pasien-pasien yang rentan infeksi seperti paska kemoterapi, diabetes, HIV-AIDS, lupus atau asma berat yang perlu anti radang, sebaiknya jangan dibesuk atau kalau toh mau dibesuk, yakinkan pakaian dan badan pembesuk bersih serta memakai masker.

dari FB kompal
dari FB kompal