PILIHAN

Ternyata, Agroforestri memiliki Peranan Penting dalam Transformasi Lahan di Indonesia

18 April 2017 15:03:24 Diperbarui: 19 April 2017 18:40:14 Dibaca : Komentar : Nilai : Durasi Baca :
Ternyata, Agroforestri memiliki Peranan Penting dalam Transformasi Lahan di Indonesia
Turun lapangan atau praktek lapangan saat pelatihan, melihat dan mengukur kedalaman gambut. Foto dok. Yayasan Palung

Tidak bisa disangkal sebagian besar lahan pertanian, kebun masyarakat di desa-desa  wilayah Simpang Hilir rata-rata adalah lahan gambut. Seperti tahun lalu, wilyah ini juga menjadi wilayah terdampak dari Karhutla, hal tersebut benar adanya ketika kami (Yayasan Palung) selama sepekan (6-12 April 2017) menyambangi dan mengadakan serangkaian kegiatan pelatihan berbasis mitigasi lahan di lima desa hutan desa, Kec. Simpang hilir, KKU. 

Seperti terlihat, rata-rata di wilayah Simpang Hilir adalah gambut dalam yang  tidak lain menyimpan banyak kandungan air dan di kawasan lahan gambut menyimpan karbon. Di Simpang Hilir Kedalaman gambut  rata-rata 3 hingga 4 meter.

Adapun rangkaian kegiatan dalam pelatihan mitigasi berbasis lahan yang dilakukan dalam bingkai Training Of Trainer (TOT) / Pelatihan untuk Pelatih tersebut antara lain; Pelatihan Rehabilitasi Lahan Gambut dan Silvikultur Tumbuhan HHBK, Pelatihan Agroforestry Berbasis Kelapa, Pelatihan Agroforestry Berbasis Karet.

Peserta pelatihan mengunjungi kebun karet warga masyarakat di Desa Padu Banjar. Foto dok. Yayasan Palung
Peserta pelatihan mengunjungi kebun karet warga masyarakat di Desa Padu Banjar. Foto dok. Yayasan Palung

Dalam rangkaian kegiatan TOT tersebut dihadirkan pemateri Jusupta Tarigan dari NTFP-EP Indonesia, menjadi narasumber sekaligus menjadi pelatih dalam kegiatan pelatihan. Bang JT sapaan akrabnya menyampaikan terkait bagaimana memulihkan lahan gambut dari sisa-sisa kebakaran tahun lalu. Adanya kegiatan inipun sebagai bagian bersama masyarakat untuk rencana tindak lanjut (RTL) perbaikan lahan gambut yang terbakar dengan menyulamnya dengan  aneka tanaman yang cocok di lahan gambut.

Pelatihan pertama dilakukan selama 3 hari (tanggal 6-8 April 2017), di Desa Pemangkat Pelatihan Rehabilitasi Lahan Gambut dan Silvikultur Tumbuhan HHBK. Pada kegiatan tersebut, peserta yang ikut ambil bagian tidak lain merupakan perwakilan dari 5 desa Hutan Desa (Desa: Pemangkat, Pulau Kumbang, Nipah Kuning, Penjalaan dan Padu Bajar)  di Simpang Hilir, KKU.

Beberapa perkebunan dan pertanian masyarakat seperti kelapa, nanas dan karet. Foto dok. Yayasan Palung
Beberapa perkebunan dan pertanian masyarakat seperti kelapa, nanas dan karet. Foto dok. Yayasan Palung

Di Desa Pemangkat kegiatan pelatihan yang bertajuk; “Pelatihan Rehabitasi Lahan Gambut dan Silvikultur Tumbuhan Hasil Hutan Bukan Kayu”. Peserta pelatihan diberikan materi dasar tentang gambut dan bagaimana merestorasi (pemulihan lahan) dari sisa-sisa kebakaran dengan rencana tindak lanjut menanam kembali dengan tanaman asli gambut seperti jelutung, punak, belangiran dan meranti, selain juga bertani agroforestri yang berkelanjutan dengan tanaman yang cocok tanamam dilahan gambut seperti kelapa, kakao/coklat, nenas ataupun kebun nanas atau juga tanaman hhbk (hasil hutan bukan kayu) yang memiliki nilai tinggi seperti pandan dan rotan.

Pada pelatihan tersebut, pemateri Jusupta Tarigan menjelaskan terkait gambut antara lain menerangkan; lahan yang memiliki ciri lahan yang basah, selama ribuan tahun. Penjelasan tentang ciri-ciri gambut seperti serbuk-serbuk, itu disebut gambut tua. Jika banyak akar maka disebut gambut muda. Banyak hal yang mempengaruhi lahan dan kondisi gambut (mikro organisme termasuk bakteri). Bagaimana tingkat kematangan gambut?. Jika semakin halus, maka semakin matang gambutnya. Berat jenis gambut, semakin berat gambut maka semakin tua lahan gambut. Lahan gambut menyimpan banyak air. seperti di katakan Bang JT demikian  ia disapa sehari-hari, mengatakan; Bila di daerah Simpang Hilir seperti dijumpai lahan gambut mudah terbakar karena lahannya kering. Lahan gambut itu horizontal lambat menghantar hidroliknya (unsur hara). Untuk pertikal sangat lambat. Gambut dalam sedapat mungkin dilindungi untuk konservasi oleh pemerintah dan semua lembaga termasuk masyarakat dengan menanam ragam tanaman buah.  Di hari pertama dan kedua (6 -7 April 2017) peserta pelatihan dibekali dengan teori dan materi gambut dan di hari ketiga (8/4), peserta diajak untuk mengunjungi lahan bekas terbakar di kebun warga masyarakat. Kami mengunjungi kebun nanas dan kebun karet warga di Desa Pemangat yang tersisa dari kebakaran lahan.

Peserta dari perwakilan desa mempresentasikan RTL. Foto dok. Yayasan Palung
Peserta dari perwakilan desa mempresentasikan RTL. Foto dok. Yayasan Palung

Dalam pelatihan tersebut peserta diajak untuk menyusun rencana tindak lanjut, selain merestorasi gambut di lahan yang terbakar tahun lalu dengan aneka tanaman yang cocok dilahan gambut, pemateri (Bang JT) menegaskan jika di lahan gambut rusaknya sangat parah maka harus ditanam dengan tanaman asli gambut dengan harapan gambut dapat pulih kembali alias tidak kering dan tetap basah.  Pemateri menyampaikan alasan penting mengapa petani harus tertarik Agroforestri?, jawabannya adalah; Aset masa depan, Kemampuan tanah semakin turun, Agroforestri membutuhkan sedikit tenaga kerja dan Harga produk agroforestri diprediksi meningkat.

Pelatihan selanjutnya di lakukan di Pulau Kumbang, pelatihan dilakukan pada tanggal 9-10 April 2017. Di Desa ini, pelatihan di focuskan kepada Agroforestri berbasis kelapa karena di Desa Pulau Kumbang sebagian besar atau 70 % nya adalah petani kelapa. Pada pelatihan ini, Pemateri (Bang JT) memaparkan terkait latar belakang terkait penggunaan lahan pada tahun 1970 an dengan HPH. Itulah yang membuat kehancuran hutan di Indonesia. Agroforestry memiliki peranan penting dalam transformasi lahan di Indonesia. keberadaannya sering kali terpinggirkan dalam wacana akademis dan jarang sekali diakui secara formal dalam wacana  politis.

Peserta Pelatihan mengunjungi kebun kelapa di Desa Pulau Kumbang. Foto dok. Yayasan Palung
Peserta Pelatihan mengunjungi kebun kelapa di Desa Pulau Kumbang. Foto dok. Yayasan Palung

Catatannya sedapat mungkin, tanaman ditanam di lahan mineral bukan lahan gambut. Gambut diusahakan harus tetap lembab/basah. Pembuatan embung atau penampung air menjadi salah satu pilihan jika ingin gambut tetap terjaga dan terbebas dari ancaman kebakaran. Pohon-pohon banyak ditanam di luar kawasan. Menanam untuk fungsi ekonomi, misalnya menanam karet dan kelapa atau kakao. Jangka panjangnya, pohon sebagai sumber penghidupan. Kelapa rata-rata panen setelah 8 tahun, jika pisang bisa disisipkan karena jangka panennya singkat. Saat ini, di masyarakat harga kelapa 2 ribu rupiah, kelapa kopra 9 ribu rupiah harganya seperti diutarakan salah warga saat pelatihan. Bila boleh di kata, di daerah Pulau Kumbang merupakan sentra agroforestri kelapa.

Pemateri menjelaskan tentang agroforestri di kebun kelapa. Foto dok. Yayasan Palung
Pemateri menjelaskan tentang agroforestri di kebun kelapa. Foto dok. Yayasan Palung

Sedangkan pelatihan berikutnya dilakukan di Desa Padu Banjar,  tanggal (11-12/4/2017),  pelatihan di fokuskan Pelatihan Agroforestri Berbasis Karet. Mengingat, di wilayah  Desa Padu Banjar sebagian besar masyarakat selain sebagai petani padi, masyarakat bercocok tanam nanas dan karet. Pemateri (Bang JT) menjelaskan petani karet harus memiliki jurus tanam campur  (tanaman selang seling) dilahan yang ada dengan maksud ada keberlanjutan, misalnya; jika harga karet turun maka petani dapat bersandar dari panen yang lain seperti nanas, jengkol ataupun tanaman buah seperti rambutan, durian dapat diandalkan sebagai sumber hasil. Dengan arti kata tidak tergantung kepada salah satu tanaman. Selain juga, perlu meremajakan tanaman karet yang telah tua digntikan dengan tanaman karet baru, direkomendasikan adalah jenis karet unggul. Dalam pelatihan tersebut juga, pemateri (Bang JT) mengutarakan agar petani karet dapat menjadi petani yang dapat memilih bibit karet yang berkualitas/bibit unggul, memperhatikan, merawat, menata dan meremajakan karet setelah 35 tahun usianya agar karet bisa menjadi sumber yang berkelanjutan.

Penjelasan dari pemateri tentang agroforestri karet. Foto dok. Yayasan Palung
Penjelasan dari pemateri tentang agroforestri karet. Foto dok. Yayasan Palung

Setiap kegiatan pelatihan di tiga tempat yang diperuntukan untuk 5 desa tersebut pemateri mengajak untuk menyusun rencana tindak lanjut dan berharap ada tindakan nyata dari RTL dari masing-masing Desa yang berkeinginan menanam ragam tanaman di tempat mereka atau juga dilahan desa/hutan desa atau dilahan pekarangan mereka. Adapun dari rencana tindak lanjut, peserta yang terdiri dari petani karet, kelapa, nenas dan tanaman buah-buahan berkeinginan untuk menanam dengan ragam tanaman dan akan menyulam/mencampur tanamanan yang sama-sama mendukung dilahan yang mayoritas lahan gambut.  Sebelum rencana pengadaan bibit, setiap desa hrus juga membuat sket lokasi dan luasan lahan yang akan ditanam dan membuat tujuan jangka pendek, menengah dan jangka panjang. Dalam rencana pengadaan bibit dan pembibitan, peserta berharap pengadaan bibit berasal dari mereka ataupun juga menginginkan bantuan bibit dari para pihak, dinas terkait dan dari Yayasan Palung.

Harapan petani karet. Foto dok. Yayasan Palung
Harapan petani karet. Foto dok. Yayasan Palung

 “Berharap dengan adanya pelatihan ini ada tindakan nyata yang benar-benar terwujud salah satunya para petani dapat terus menanam dan menjadi sumber penghasilan masyarakat secara berkelanjutan, serta dapat merestorasi lahan  dan dapat mengurangi ancaman kebakaran”, demikian dikatakan F. Wendi Tamariska selaku koordinator kegiatan dari Yayasan Palung, saat menutup rangkaian kegiatan berbasis lahan di 5 desa di Simpang Hilir.

Peserta dari 5 desa yang ikut pelatihan saat berfoto bersama setelah kegiatan selesai. Foto dok. Yayasan Palung
Peserta dari 5 desa yang ikut pelatihan saat berfoto bersama setelah kegiatan selesai. Foto dok. Yayasan Palung

Kegiatan atau pelatihan yang berlangsung selama sepekan di tiga desa untuk 5 desa tersebut berjalan sesuai dengan harapan dan mendapat sambutan baik dari peserta dan pihak desa, kepala desa  dimana kegiatan tersebut kami lakukan. Dari setiap peserta pelatihan, masing-masing desa mengirimkan 5 utusannya dari desa ataupun dari lembaga pengelola hutan desa (LPHD) berdasarkan pekerjaan mereka  sebagai petani. Setelah kegiatan selesai, peserta diajak untuk berfoto bersama.

Petrus Kanisius- Yayasan Palung 


Petrus Kanisius

/pit_kanisius

TERVERIFIKASI

Belajar menulis dan suka membaca tentang fakta dan realita
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana