Petrus Kanisius (Pit)
Petrus Kanisius (Pit) karyawan swasta

Belajar menulis

Selanjutnya

Tutup

Hijau highlight

Benarkah Alam (Hutan) tidak Bersahabat?

7 Juni 2017   15:46 Diperbarui: 9 Juni 2017   19:38 7 2 0
Benarkah Alam (Hutan) tidak Bersahabat?
Pohon yang rebah, tumbang. foto dok. Ahmad Arif, Kompas


Sering muncul perkataan bila terjadi bencana. Kata-kata yang acap kali muncul ataupun terdengar adalah alam sudah semakin tidak bersahabat. Benarkah hutan/alam tidak bersahabat dengan kita?. Mereka (alam/hutan/satwa) tidak merasa  bersahabat atau tidak dengan kita. Tetapi satu kesatuan yang tidak terpisahkan.  Bukankah, kita yang sering kali memutus satu kesatuan tersebut?.

Tanda-tandanya tidak bisa disangkal hutan sering dikorbankan oleh manusia dan berimbas kepada nasib satwa atau sebaliknya manusia menerima dampaknya.

Tidak sedikit bukti tentang hal ini, manusia jika boleh dikata sebagai biang (baik itu penyelamat ataupun pemusnah). Bila dikata penyelamat sudah pasti hutan, alam dan satwa bisa hidup harmoni dan tidak dalam derai tangis derita.

Mungkin manusia boleh dikata sangat sulit bertahan hidup jika tidak ada hutan. Setidaknya adanya masih tersedia sumber air, gratisnya udara yang boleh dihirup secara Cuma-cuma. Adanya hutan dan satwa menjadi satu kesatuan yang sejatinya tidak terpisahkan dan saling keterkaitan satu dengan yang lainnya.

Hutan membutuhkan satwa sebagai pelestari keberlanjutan hidupnya. Satwa tanpa hutan tidak ada tempat hidup. Walau terkadang mereka (satwa) hidup dalam keterpaksaan baik yang ada dihabitatnya atau pun yang terpaksa hidup karena dipelihara.

Manusia tanpa hutan apa jadinya?. Sering terlihat, tergambar dan tersiar kabar yang menampilkan akibat hilangnya sebagian besar luasan tutupan hutan. Ingat banjir di musim penghujan, ingat longsor, ingat kekeringan sulitnya mendapatkan sumber air sewaktu kemarau.

Satwa kian merana di habitat hidupnya. Sumber pakan (makanan) sudah semakin sulit untuk didapat. Adanya satwa seperti orangutan, kelempiau atau pun satwa lainnya tidak terkecuali burung yang memiliki peranan sebagai penanam pohon sejati tanpa henti menabur benih untuk makhluk hidup yang hidup berdampingan dengannya (alam semesta/hutan).

Memang, pembahasan terkait  hal ini semua orang pasti tahu. Tetapi, setidaknya setelah terjadi barulah mengadu, mengaduh, gaduh sampai gaduh. Gaduh sampai mengaduh ketika dampak terjadi, terantuk barulah tengadah. Hutan kini semakin menipis, manusia sering menangis, satwa semakin sulit dan sempit di habitat hidupnya. Paling parahnya lagi, tidak jarang kita manusia menyebut alam tidak bersahabat. Alam selalu disalahkan karena menimbulkan dampak/akibat, padahal yang terjadi selama ini manusia (kita) lah yang menjadi sumber dari segala sumber penyebab dampak tersebut. 

Contoh nyata, semakin banyak luasan tutupan hutan yang dikorbankan itu salah satu sebab datangnya banjir dan sebab musabab lainnya. Lalu, alam/ hutan yang disalahkan?. Sang Pencipta menciptakan alam semesta raya sudah pasti memiliki tujuan dan manfaat bagi semua serta baik adanya untuk saling menghargai satu dengan yang lainnya pula. 

Satu kesatuan sejatinya jangan sampai tercerai berai, satu kesatuan tumbuh untuk harmoni hingga nanti jika kita manusia berharap hutan masih boleh tetap ada sebagai titipan Ilahi. Hutan, manusia dan satwa harus bisa berlanjut hingga nanti.  

Jadi jika ditanya, hutan/alam sejatinya sangat bersahabat dengan makhluk yang berdiam disekitarnya. Sebab, Pencipta menitipkan semesta raya agar selalu harmoni dan baik adanya jika satu dengan yang lainnya bersatu tanpa menyakiti. Mari kita bersahabat dengan alam/hutan dan mari menjaga, merawat, menanam selagi bisa.

Karena hutan sudah semestinya harus tetap ada, dengan syarat manusia bisa menjaga harmoni dan kesatuan ini agar mereka tetap terjaga dan lestari. Demikian juga, satwa/hewan ataupun juga makhluk hidup lainnya sayang jika terpisahkan satu dengan yang lainnya pula. Semoga hutan masih boleh tumbuh dengan demikian manusia bisa bergembira ria hingga nanti.  

Petrus Kanisius (Pit)- Yayasan Palung