Fenomena Alay dan Ababil: Refleksi Kehancuran Generasi Muda

23 Oktober 2012 08:41:55 Diperbarui: 24 Juni 2015 22:29:48 Dibaca : Komentar : Nilai : Durasi Baca :
Fenomena Alay dan Ababil: Refleksi Kehancuran Generasi Muda
1350981492635991802

Alay, anak layangan Nongkrong pinggir jalan sama teman-teman Biar kelihatan anak pergaulan Yang doyan kelayapan Alay… Gaya kayak artis, sok selebritis Norak-norak abis Dilihatnya najis aduh begitu narsis Alay jangan lebay plis Alay kalo ngomong lebay Dasar anak jablai, dilihatnya jijay Alay orang bilang anak layangan Kampungan gayanya sok-sok’an Mendengar beberapa bait lagu diatas, mengingatkan saya pada sesuatu yang menggemaskan sekaligus menyebalkan. Betapa tidak, lagu ini membuat nalarku berpikir bahwa fenomena alay-isme di negeri kita sudah sangat memprihatinkan, bahkan sudah bagaikan virus yang menjangkit (sebagian) kaula muda, khususnya remaja wanita (rentang umur 14-19 tahun). Pada awal kemunculannya, tidak dapat dipungkiri bahwa alay-isme memang lucu dan menggemaskan. Tetapi, merebaknya alay-isme beberapa tahun terakhir ini justru sudah sangat mengganggu (bagi saya dan mungkin masyarakat juga mengalami hal yang sama). Jika dilihat dari historical-nya, istilah alay (anak lebay/anak layangan) muncul ditujukan terhadap anak-anak remaja yang norak, kampungan dan lebay. Tetapi belakangan, kosakata alay mengalami perluasan makna. Bukan hanya anak-anak remaja yang gayanya kampungan, norak dan lebay saja, kata alay kini sudah melebar ke arah fashion, bahasa (tulisan) dan juga pose saat berfoto (narsisme). Ya mungkin ini merupakan metode baru bagi kalangan ABG untuk selalu eksis (khususnya di media sosial, ex:facebook) Coba kita tengok beberapa kutipan dari akun facebook para ABG (yang telah saya ambil secara diam-diam hehehe): Nnenk Claluingiinbersamamu Kª♍υ hebatt yy Ъќ zmz'n sama Åк̲̮̲̅͡ů Ƭƌƥι malah zmz'n sama Чάπƍ laiin (•͡˘˛˘ •͡)"" hmm ◦°◦ºº ◦°◦ºº Ppie Checueiianqks'llukhecuppiandt ,biar.lh q simppan smpai nnti aq kn add dsanna ,knanglh diri mu dlm kedmaian inqat.lh cnt q kau tak terlhat lgg. Agensatu Iermakireii Bogohkasaha . .pulan9 kerjaA LAngsung nga0sS. Misstdevil Ciinouna Cheonsa .emang diri loe udah bener appa .. .cuuiihh' .klo gue ladenin , gue sama gila y lagii .. Uii Scremoloveuntildeathofthedark oh dia.a udah punya cinta SEJATI toh :(( cukup tau aja , sabar aja we lah :) Zhandtzhandt Chi Nenxrhieuweuhc Clalu Mw lgu vidi aldianonya dong kak eanq lupakan mntan ..lgunya special bngt'z bwtt sseoranq d_sana ...mksih jgn lpa d_play Normalkah? Wajarkah gejala seperti ini? Mari kita lihat beberapa analisis dari pakar yang telah saya kutip dari sumbernya masing-masing. Menurut Koentjara Ningrat: “Alay adalah gejala yang dialami pemuda-pemudi Indonesia, yang ingin diakui statusnya diantara teman-temannya. Gejala ini akan mengubah gaya tulisan, dan gaya berpakain, sekaligus meningkatkan kenarsisan, yang cukup mengganggu masyarakat dunia maya. Diharapkan Sifat ini segera hilang, jika tidak akan mengganggu masyarakat sekitar” Menurut Selo Soemaridjan: “Alay adalah perilaku remaja Indonesia, yang membuat dirinya merasa lebih keren, cantik, hebat diantara yang lain. Hal ini bertentangan dengan sifat Rakyat Indonesia yang sopan, santun, dan ramah. Faktor yang menyebabkan bisa melalui media TV (sinetron), dan musisi dengan dandanan seperti itu.” Menurut pakar psikologi Septiani Sanusi, fenomena alay yang terjadi di kalangan ABG sekarang adalah sesuatu yang normatif dalam sudut pandang psikologi. “Usia praremaja dan remaja adalah usia di mana mereka sedang senang-senangnya bereksperimen dengan banyak hal baru, terutama yang bisa dianggap lucu, aneh, mengagumkan, membingungkan, serta memiliki rahasia yang hanya dipahami kelompoknya. Mereka (ABG) masih dalam proses pencarian jati diri, dan mereka secara alamiah akan berubah dengan sendirinya ketika mereka telah dewasa,” ujarnya. Sedangkan menurut Erin Myers (psikolog Universitas Western Carolina University), “Spesies alay adalah kumpulan anak-anak yang memiliki ciri khas di luar kebiasaan orang normal. Gaya busana pun serampangan, sehingga acap kali bertabrakan dari baju dan celana. Tak hanya itu, komunitas alay pun identik dengan foto-foto dari sisi yang tak jelas.” Tapi tahukah Anda, ternyata orang narsis sebenarnya menyembunyikan perasaan keinferioran mereka? Berdasarkan penelitian terbarunya Erin Myers (melalui detektor kebohongan) menuturkan bahwa, orang-orang narsis tersebut berbohong manakala mengakui bila mereka bangga akan dirinya sendiri. Kepada para psikolog, mereka mengakui sebenarnya mereka memiliki kepercayaan diri yang rendah dan tindakan narsis untuk menutupi rendahnya kepercayaan diri yang mereka miliki. “Ini menunjukkan bahwa individu-individu yang tingkat narsismenya tinggi mungkin tengah membesar-besarkan kepercayaan dirinya. Dengan kata lain, individu-individu narsis sebenarnya tidak mempercayai diri mereka sehebat apa yang mereka gembar-gemborkan,” lanjutnya. Nampaknya ada benarnya juga ya beberapa analisis diatas, tetapi menurut saya, ada beberapa hal ganjil yang sampai saat ini belum saya temukan jawabannya. Mengapa beberapa orang yang telah dewasa secara umur (bahkan melebihi usia saya) kok ikut-ikut terbawa arus alay-isme? Bahkan ada beberapa ekor mahasiswa (yang terkenal menyandang gelar agent of change) juga terjangkit alay-isme, mengapa? Coba kita lihat betapa memalukannya mereka yang secara umur sudah dewasa tetapi masih saja alay seperti anak ABG. Kalau anak ABG mungkin masih terlihat lucu dan bisa tertolerir. Akan tetapi saya harus mengatakan “Tidak” untuk ABG Tua (khususnya pria) alay. Karena bukan rasa gemas yang muncul dalam benak saya, tetapi rasa mual. Terlepas dari itu semua, jujur (secara radikal) saya tetap tidak nyaman melihat alay-isme disekitar saya. Mata saya seperti diselipi pasir satu truk melihat tragedi ini. Sepengetahuan saya, ketika saya muda dulu (sadar akan umur yang sudah renta), saya tidak menemukan teman-teman yang berada disekitar saya (baik lelaki maupun perempuan) terjangkit virus seperti ini. Kita terlihat biasa-biasa saja dan tumbuh secara alamiah sesuai umurnya. Agar anda bisa mengkalibrasi diri, berikut saya berikan ciri-ciri alay-isme (menurut perspektif saya):

  • Jika menulis sms, anak alay akan membuat huruf dan simbol-simbol yang aneh.

Contoh: “4k03h lUph3 cMa kM03h” (membingungkan bukan? Hehehe).

  • Dalam media sosial seperti facebook, alay membuat akun facebok dengan nama samaran dan terkesan menggunakan nama yang mengagungkan diri, pacar atau idolanya.

Contoh: Princeess BLue Luphdheaadtviker, Uzma Cii'virginitysejatii, Misstdevil Ciinouna Cheonsa, Andiencicee Unyu-unyu TaYanqmamah, Leey c'Angel Vodkabilly, Tikcacubycubilophe Lophenua Bambang dan masih banyak lagi.

  • Foto anak alay hampir semuanya bergaya narsis (mulut monyong, jari telunjuk menutupi mulut, bergaya imut, selalu mengambil foto wajahnya dari atas) dan terkadang menggunakan accessories (khas alay) yang berlebihan.
  • Selalu eksis dan update status tidak penting (di facebook) setiap waktu.
  • Selalu mengekspose hubungan(cinta)nya di media sosial untuk mendapatkan simpati dan kebanggaan tersendiri.

Saya agak khawatir terhadap semuai ini. Saya merasa gelisah, bahwa fenomena ini akan memiliki ekses negatif dikemudian hari. Dan menurut analisis saya, degradasi ini sudah mulai nampak. Salah satu ekses negatif dari alay adalah munculnya akronim ababil (ABG Labil). Istilah ababil mulai populer belakangan ini. Indikator dari ke-ababil-an adalah terjadinya kegalauan atau kegelisahan yang terlalu berlebih. Dan yang lebih kritis, ke-ababil-an yang mereka alami justru mereka tumpahkan di dunia maya (baca: facebook or twitter) secara membabi buta. Tiap hari, tiap jam bahkan tiap menit, aktivitas ke-ababil-an tak henti-hentinya mereka ekspose. Jujur, kedua bola mata saya cukup terganggu dengan ke-ababil-an yang mereka lakukan tersebut. Dan masyarakat dunia maya (yang tidak alay dan tidak ababil) pun pasti terkena imbas. Ingin rasanya tangan saya men-delete atau me-remove account mereka. Aaahhhh tetapi saya masih memiliki etika untuk tidak melakukan hal tersebut. Untuk saat ini, rasanya intelektualitas saya masih bisa mentolerir mereka. Terkadang, saya menegur atau berkomentar di facebook (kaum alay dan ababil) untuk sekadar mengingatkannya. Ya, walaupun terkadang mereka malah mengeluarkan umpatan kasar dan tidak sepantasnya dilontarkan oleh seorang remaja. Dan terkadang (apabila emosi sudah menggebu) saya akan melayani mereka dengan perdebatan tidak sengit. Kekhawatiran saya tidak cukup sampai disini, bahaya laten alay-isme dan ababil-isme menurut hemat dan boros saya akan lebih meluas. Dengan adanya kedua paham diatas, saya takut budaya menulis di negeri ini akan benar-benar punah. Alay-isme membuat tata bahasa (lisan dan tulisan) menjadi ruwet sedangkan ababil-isme membuat kenyamanan publik terganggu. Saya sangat menyangsikan bahwa generasi (alay dan ababil) ini bisa menjadi penerus bagi generasi lawas dimasa depan. Bayangkan saja jika sebuah artikel ditulis menggunakan bahasa alay? Pasti akan terjadi ambiguitas massal dan menyebabkan beberapa efek samping tidak wajar seperti mata juling, kaki dikepala dan kepala dikaki bagi siapa saja yang membaca artikel tersebut. Dan yang lebih ekstrim adalah mungkin artikel tersebut hanya akan menjadi bungkus gorengan. Oleh karena itu, fenomena alay-isme dan ababil-isme harus segera diakhiri jika kita tidak ingin bangsa ini hancur. Karena mata fisik, mata logika dan mata bathin saya sudah sepet melihat semua pembodohan atas nama alay-isme dan ababil-isme. Note:

  • Bagi generasi alay dan ababil, hentikanlah perilaku alay dan ababil kalian saat ini juga. Perilaku tersebut sungguh meresahkan pengguna dunia maya. Karena jika tidak mengakhirinya, perilaku tersebut akan terbawa sampai kalian tumbuh menjadi tua. Dan kalian akan merasakan dampak(negatif)nya bagi diri kalian sendiri.
  • Kalian berhak membagi kegalauan dan kegelisahan kalian, tetapi tidak untuk dipublikasikan di media sosial (khususnya masalah percintaan yang tidak penting). Kalian bisa membagi kegalauan kalian dengan teman terdekat via telepon atau sms.

Created By: Ilham Permana Santana @Gubuk Usang Tercinta, 23 Maret 2012 (pukul 00.40 WIB)

Permana Santana

/permanasantana

We born alone, live alone and die alone..
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana